You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Karena Aku Mencintaimu dan Anak Kita


__ADS_3

Addan menatap Kana yang tergantung setinggi 12 meter dengan perasaan cemas dan sedih, Kana yang terlihat pucat, pandangannya hanya lurus kedepan. Addan yang melihat istrinya yang seperti itu, hatinya terasa amat sakit.


Addan menutup kedua matanya dengan penutup mata, ia pun menggenggam pistol.


"Huffhh..."Dengan tangan sedikit gemetar Addan mengarahkan pistolnya ke arah Kana dan patung yang tergantung.


DORR!!


“KYAAAA...!!”Kana teriak histeris mendengar suara tembakan dan refleks memejamkan kedua matanya. Tubuhnya pun bergetar hebat.


Dengan tangan gemetar, Addan membuka penutup matanya dengan pelan-pelan sambil menyebut nama Allah dalam hati, lalu sedikit mendongakkan kepalanya ke atas, melihat apakah Kana baik-baik saja.


“Hiks hiks Mas.... "Kana yang ketakutan.


“Syukurlah....Kamu tidak terluka sedikitpun.” Addan merasa lega setelah melihat Kana yang baik-baik saja, meskipun wajahnya terlihat pucat karena ketakutan. "Sabar ya sayang, sebentar lagi kamu pasti akan turun dari atas sana."Ucapnya lagi menenangkan sang istri.


Prok! prok! prok!


"Benar-benar sangat hebat, Tuan Addan ini dapat mengetahui dimana posisi istrinya. Dan dengan tepat membidik bagian kepala patung itu. Sungguh seorang prajurit yang sangat handal dalam bidang tembak menembak."Puji Mr.Gone, kemudian melirik Jane yang terlihat sedang menahan amarah.


Jane yang begitu berharap Addan menembak istrinya sendiri. Namun yang terjadi malah sebaliknya, tembakan Addan sangat tepat mengenai kepala patung.


Sial! Dia tidak boleh dibiarkan berhasil menyelesaikan permainan ini, sebelum istrinya mati, batin Jane sambil berpikir.


"Mungkin sebaiknya kita lepaskan saja istri Tuan Addan ini, saya merasa sudah puas akan permainan ini. Bagaimana menurutmu Nona Jane? "Ujar Mr. Gone. Sebenarnya tujuannya berkata seperti itu ingin memanas-manasi Jane.


Jane kaget mendengar penuturan Mr.Gone. "Apa? Tidak, tidak bisa Mister. Anda bilang akan menyelesaikan permainan ini, diatas troli masih tersisa tiga kotak lagi." Saut Jane yang tak Terima Addan dan Kana dilepaskan begitu saja.


Mr. Gone tersenyum sinis dibalik topeng"Oh iya ya. Maaf Tuan Addan, permainan tetap berlanjut. Silahkan pilih satu diantara tiga kotak yang tersisa.”


Addan mengepalkan tangannya karena merasa dipermainkan oleh Mr. Gone. Dia kembali menatap Kana yang masih terikat, mereka saling pandang. Kana menatapnya dengan tatapan sayu, menandakan bahwa ia sangat berharap Addan dapat menyelamatkannya, terutama janin didalam perutnya yang masih berumur 4 bulan itu.


“Berdoalah Tuan, semoga kotak yang anda pilih bisa mengakhiri permainan ini.”Bisik Rafael.“ Silahkan dipilih kotaknya Tuan…waktu sudah berjalan, tinggal 8 detik lagi.”Ucapnya lagi.


Addan mengalihkan tatapannya ke ketiga kota yang masih tersisa dihadapannya. Sambil menghela nafas dan memejamkan mata, ia memegang kotak bewarna merah.


Rafael membuka kotak tersebut yang ternyata isinya adalah sebuah pisau tajam yang bergagang kayu, digagang pisau tersebut terukir sebuah tulisan yang bertuliskan '5 Kali Sayatan'


“Lima sayatan. Tuan, kali ini anda tidak beruntung, anda harus rela wajah dan tubuh anda disayat. Atau…anda ingin istri anda yang menggantikan? Dalam aturan kali ini diperbolehkan saja, Hahahaha.”Ucap Mr.Gone sambil tertawa, ia merasa sangat senang melihat ekpresi Addan yang tegang.


“Tidak! Biar aku saja yang menerima tantangan itu.”Tegasnya dan tanpa pikir panjang langsung membuka kemejanya sehingga ia bertelanjang dada.


“Mas…”Kana yang cemas dan khawatir, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa Addan tidak boleh menerima tantangan itu.


Gerakan bibir Addan tanpa bersuara “Mas baik-baik saja.Jangan khawatir.”Ia meyakinkan Kana bahwa ia akan baik-baik saja.


Aku tidak mungkin membiarkan dirimu terluka Kana, karena itu sama saja aku melukai diriku sendiri secara tak langsung. Biarlah aku menerimanya karena hanya akulah yang akan merasakan sakitnya, Addan membatin sambil menatap Kana yang juga menatapnya.


Salah satu pria berbadan besar nan kekar yang berdiri di belakangnya maju kedepan, kemudian mengambil alih pisau ditangan Rafael. Tanpa babibu, Pria itu langsung melayangkan sebuah pisau kedada Addan


Sret....(sayatan pertama)


Sret.....(sayatan kedua)


"Shhhhh...." Sambil memejam mata, Addan menahan rasa perih didadanya. Sayatan dua kali di dadanya yang diberikan pria itu sangat panjang dan lumayan dalam. Darah Addan pun menyucur lumayan banyak hingga membasahi celana dasar yang ia kenakan.


Sret....(sayatan ketiga)

__ADS_1


"Akhhh....shhhh...."Addan merasakan amat sakit dibagian betisnya. Sayatan dibetisnya sangatlah dalam hingga menembus ke tulang, ia pun terduduk karena tak sanggup berdiri dan menahan nyeri dikakinya yang sebelah kanan.


"Mas... hiks hiks hiks" Pekik Kana dan menangis sesenggukan menyaksikan itu. Karena tidak kuat melihat Addan yang dilukai hingga bersimbah darah, Kana pun memicingkan kedua matanya rapat-rapat. Air matanya tidak berhenti mengalir mendengar suara rintihan kesakitan sang suami.


Berlanjut kepada sayatan keempat dan kelima di bagian pipi dan punggungnya. Addan berusaha menahan rasa sakit dibagian punggung dan pipi dengan menggigit bibirnya, supaya suara rintihan tidak keluar dari mulutnya.


Jane yang menyaksikan itu tersenyum senang, ia tidak merasa empati ataupun merasa kasihan sama sekali. Rasa cintanya kepada Addan sudah musnah semenjak kedua orangtuanya meninggal dunia, kini yang tersisa darinya untuk Addan hanya rasa benci dan dendam.


Aku sangat senang melihat kau seperti ini, tapi aku belum merasa puas. Karena orang yang paling kau cintai belum lenyap dari muka bumi. Kau harus merasakan kehilangan orang yang kau cintai seperti diriku kehilangan Papa dan Mamaku, batin Jane.


"Apa anda sanggup untuk bangun Tuan Addan?"Tanya Mr. Gone yang pura-pura prihatin melihat keadaan Addan.


Addan menatap tajam Mr.Gone,


"Tentu saja masih...sang...gup!"Sautnya dengan suara sedikit gemetar. Kemudian ia berusaha berdiri dalam kondisi tubuh bergetar menahan nyeri diseluruh bagian tubuh yang terkena sayatan pisau.


"Saya salut dengan kegigihan anda.Tapi sayangnya mungkin anda akan mati sebelum permainan ini selesai karena kehilangan banyak darah. Jika anda mati, maka itu sama saja kalau anda tidak berhasil menyelamatkan istri anda."Ujar Mr. Gone.


"Saya tidak akan mati!"Balas Addan dan menatap tajam Mr. Gone.


"Hahahahaha...saya suka dengan orang yang penuh percaya diri seperti anda."Ucap Mr. Gone dan terkekeh.


"Silahkan dipilih kotak terakhirnya Tuan Addan, waktunya sudah berjalan."Ucapnya lagi.


Addan memejam matanya sejenak, kemudian mengarahkan tangannya ke kotak bewarna hijau.


Entah darimana keyakinannya datang, ia memilih kotak bewarna hijau, ia yakin jika memilih kotak itu maka permainan pun berakhir.


Ternyata isi dari kotak itu sesuai dengan keinginan, Addan merasa lega akhirnya Kana dan bayinya bisa terselamatkan.


Mr. Gone tersenyum miring dibalik topeng.


Permainan ini memang sudah berakhir, tapi sebentar lagi permainan baru yang lebih seru akan segera dimulai, batin Mr. Gone. Ia pun tersenyum senang sambil membayangkan seperti apa kekacauan yang akan terjadi selanjutnya. Melihat ekpresi Jane yang tidak terima, kalau kedua pasangan suami istri itu dibebaskan begitu saja.


"Turunkan Istri Tuan Addan dan lepaskan, lalu biarkan mereka pergi."Ujar Mr. Gone. Ia berkata seperti itu tidaklah sungguh-sungguh, hanya akal-akalannya saja untuk memancing emosi Jane.


"Baik Bos!"Saut serempak ketiga pria yang memegang kendali tali yang mengikat Kana. Mereka secara perlahan-lahan menurunkan kana.


Tidak...tidak... mereka tidak boleh lolos begitu saja, teriak batin Jane tidak terima.


Ia pun memberontak. "Tidak! Kau tidak boleh pergi dari sini, sebelum istrimu mati."Ucap Jane menggila sambil mengacungkan pistol kearah Kana yang masih tergantung dengan ketinggian empat meter.


DORR! DORR!


"KANA!!"Teriak Addan


Jane dua kali melepaskan tembakan kearah Kana.


Ptass... bunyi tali putus, ternyata tembakan Jane meleset, yang ia tembak bukan kepala Kana melainkan seutas tali yang menggantung Kana. Sehingga tali itupun terputus, Kana pun terjatuh dari ketinggian empat meter.


Addan mendorong kasar semua orang yang menghalangi jalannya termasuk Mr. Gone. Addan berlari dalam keadaan kaki yang pincang, ia tidak mempedulikan kakinya yang sakit dan mengeluarkan banyak darah. Yang terpenting baginya, ia bisa menangkap Kana agar tidak terjatuh menyentuh tanah.


"KYAAA...!!"Kana berteriak ketakutan.


Sebelum Kana menyentuh tanah, Addan dengan sigap menangkapnya.


"Shhh...ah!"Addan merasakan betis sangat sakit akibat berlari yang dipaksakan.

__ADS_1


Kana yang mendengar suara Addan, ia pun membuka membuka matanya


"Mas..."Panggil Kana dan menangis berlinang air mata.


"Heuhhh....Tidak boleh, kau tidak boleh hidup."Teriak Jane, ia kembali menodongkan pistol yang ia pegang kearah Kana yang berada dipangkuan Addan.


DORR!!


Refleks Addan membalikkan badannya, sehingga ialah yang tertembak.


"Ahhh..."Pekik Kana sambil memeluk erat Addan dan memejamkan mata.


Tes...Tes...Tes. Tetesan darah yang berasal dari punggung Addan, Addan terduduk bersimpuh.


"Soka! masuk dan keluarkan istriku dari sini."Ucap Addan yang memberikan sinyal suara melalui kancing bajunya.


"Mas...hiks hiks hiks, Ke...kenapa, kenapa ka..kamu melakukan ini?"Ucap Kana dan menangis sesenggukan sambil memeluk erat tubuh Addan.


"Kana..."Addan mengelus kepala Kana dengan sayang, kesadarannya pun mulai menghilang, kepalanya terasa berkunang-kunang.


"Mas...hiks hiks, buka matamu. Jawab aku, kenapa?"Tanya Kana sambil menguncang pelan tubuh Addan.


"Karena....Aku...karena aku... mencintaimu dan anak kita."Itulah ucapan terakhir Addan sebelum akhirnya ia ambruk dan tak sadarkan diri.


"Hiks hiks hiks Mas..."Kana menangis sambil memeluk Addan yang terlentang di lantai.


Tiba-tiba gerombolan pria berpakaian serba hitam datang, dan disusul oleh Soka, Ghani, dan Sasha di belakang mereka.


"Bunuh mereka semua tanpa terkecuali, sisakan wanita jalang itu."Perintah Soka.


Semua gerombolan pria berpakaian serba hitam itu membasmi semua orang suruhan Mr. Gone dan Jane dengan menggorok semua leher mereka.


"Bos!!"Teriak Soka sambil berlari ke arah Addan.


"Maafkan saya terlambat datang, seharusnya saya tidak meninggalkan anda."Sesal Soka dengan raut muka sedih.


"Kak Soka! Cepat bawa Mas Addan kerumah sakit...hiks hiks hiks."


"Bang Addan..."Ghani yang kaget melihat begitu banyak luka di tubuh Addan, ia pun juga ikut meneteskan air mata karena orang yang paling peduli padanya sekarang terbaring lemah.


"Baik Nyonya..."


Soka dan 3 bawahannya membopong Addan kedalam mobil. Dan Sasha membantu Kana berdiri lalu menuntun Kana keluar dari gedung tua itu.


~~


Dalam perjalanan kerumah sakit, Kana memangku tubuh Addan dan menggenggam erat tangannya.


"Mas...jangan tinggalkan kami...hiks hiks hiks, kami membutuhkanmu."Lirih Kana sambil menangis sesenggukan dan mencium tangan Addan.


Sasha dan Soka yang melihatnya, juga ikut bersedih.


"Percayalah! Bos, pasti baik-baik saja Kana." Ucap Sasha yang duduk disamping Soka dibangku bagian depan.


"Iya..."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2