You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
Pernikahan (2)


__ADS_3

Dengan lembut Addan memangku bahu Kana, kemudian mendudukkan Kana di bangku pelaminan.


“Lebih baik kamu duduk, biar aku saja yang menyalami tamu.” Ucap Addan lembut dan diangguki oleh Kana.


Addan yang sedang menyalami tamu undangan, sesekali melirik Kana yang sedang duduk disampingnya.


Addan yang melihat Kana semakin pucat, langsung menghentikan acara salam-salaman dengan tamu undangan dan memanggil Lani untuk menghampirinya.


“Ada apa Dan? Panggilnya pakai kode segala.” Ucap Lani menghampiri Addan.


“Kak, aku ngak bisa menyalami para tamu lagi. Kana terlihat pucat, aku harus segera membawanya kekamar pengantin untuk istirahat. Jadi aku minta kakak yang menyambut tamu undangan.” Ucap Addan


“Lah? Kalau tamunya nanya dimana pengantinnya bagaimana dong. Aku aja yang bawa Kana ke kamar.” Alasan Lani yang sebenarnya enggan menyambut para tamu.


“Pokoknya aku ngak mau tau, kakak yang handle.” Ucap addan yang ngak mau dibantah sehingga Lani yang skak matt ngak dapat berkutip lagi.


“Yaudah deh……… cepat bawa Kana kekamar sana! tapi jangan diapa-apain ya” Gurau Lani.


Addan yang mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Lani langsung menatap tajam kesumber suara. Kana yang mendengar perdebatan kedua saudara tersebut tak menanggapi karena seluruh badannya benar-benar lemas tak bertenaga.


“Na, Lebih baik kita kekamar ya ? muka kamu pucat sekali. Ayo!”Ucap addan lembut kepada sang istri yang baru beberapa menit lalu menjadi istrinya.


Kana benar-benar tak bisa membuka mulutnya untuk saat ini, karena tak ada tenaga lagi, yang bisa ia lakukan hanya menganggukkan kepala sebagai tanda untuk menujui ucapan dari sang suami.


Tiba-tiba Kana terkejut karena Addan menggendongnya ala bridal style, seluruh tamu melihat kearah mereka.


Kana tak dapat lagi menyembunyikan rasa malunya, tapi ia tak dapat bergerak untuk turun dari gendongan addan, kali ini Kana benar-benar pasrah.


Addan langsung berjalan ke arah lif sambil menggendong Kana, ia masuk ke dalam lif lalu menekan tombol lantai 12 yang merupakan tingkatan gedung hotel teratas.


Setibannya dikamar, Addan langsung meletakkan Kana kekasur yang berukuran king size. Kamar pengantin tersebut dihiasi begitu cantik dan terdapat banyak taburan kelopak bunga mawar yang berbentuk hati. Sebelum meletakkan Kana ke kasur, Addan sempat menyingkirkan kelopak bunga mawar itu.


“Kamu kenapa masih disini? Pergilah sambut rekan bisnismu, aku tidak perlu kamu urus” Ucap kana dengan nada sedikit ketus.


"Aku ngak bisa meninggalkan kamu sendiri Na, aku khawatir sama kamu. Aku mohon, jangan berbicara seperti itu padaku." Ucap Addan lembut dengan ekpresi sedih.


"Dan Aku juga mohon sama kamu. Kalau kamu khawatir, lebih baik panggil Raya saja kemari." Ucap Kana, tanpa memandang wajah lawan bicaranya.


'Segitu bencikah kamu kepadaku Na? Ku mohon maafkan aku' Ucap Addan membatin, menatap Kana sendu.


Dengan terpaksa Addan menuruti permintaan Kana


"Baiklah, aku akan keluar." Ucap Addan menatap Kana dengan raut sedih.


"Hmmm...” Balas Kana jutek tanpa melihat Addan, tapi malah memunggunginya.


Addan pun hanya menghela napas melihat Kana yang acuh padanya.


“Yaudah, nanti aku minta tolong sama Raya buat nemanin kamu. Kalau begitu selamat beristirahat, soal tamu biar aku yang nyambut.” Ucap addan lembut sambil mengusap kepala Kana dengan sayang.


“Hmmm” jawab Kana sambil menepis tangan Addan di kepalanya.

__ADS_1


Addan pun keluar dari kamar dan pergi turun ke lantai 4 untuk bertemu dan berbincang dengan kolega bisnisnya.


Tak lama setelah Addan pergi, Raya pun datang masuk kekamar pengantin untuk menemani Kana yang sedang rebahan dia atas kasur.


“Kakak lagi pusing ya? Ini aku bawakan minyak kayu putih nih, agar rasa pusing kakak berkurang.”Ucap Raya lalu duduk di samping Kana berbaring.


“Biar aku olesan aja ya, kakak tetaplah berbaring.” Ucap Raya lagi dan diangguki Kana tanda setuju.


Raya yang sedang mengoleskan minyak kayu putih ke pelipis dan ke leher Kana, seketika terkejut karena suara decitan dan dentuman pintu, yang menandakan ada orang yang datang masuk kekamar. Ternyata yang datang adalah Nena dan Lani.


“Bisa ngak kalian buka pintu dan menutup pintu dengan hati-hati? Bikin jantungan saja tau.” Saut Raya kesal


Kedua orang itu, malah nyenyir saja sambil garuk kepala yang tak gatal


“Sorry, aku tadi khawatir banyet sama kak Kana , jadi aku langsung aja lari kesini dengan tergesa-gesa.”Ucap Nena


Mereka berdua langsung menghampiri Kana yang sedang berbaring diatas kasur.


“kakak masih pusingkah?”


“apakah merasa mual-mual?”


“Apa kakak udah minum obat?”


“Kakak udah makan?”


Tanya Nena beruntun yang membuat Kana tambah pusing dibuatnya.


“Kamu, tanyanya satu-satu dong Nena. Semua pertanyaan yang kamu lontarkan bikin kakak tambah pusing tau?” kesal Kana, Nena hanya nyenyir kuda dan kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Na, kalau kamu masih merasa pusing. Lebih baik kita ke rumah sakit saja ya?" Tanya Lani yang khawatir.


"Ah tidak apa-apa kok, sekarang kepala ku tidak sesakit tadi."


"Kakak udah makan kah?" Tanya Nena.


"Belum Na, kakak ngak lapar..."Saut Kana dengan suara lemah.


Lani yang mendengar ucapan Kana, langsung berjalan ke arah pintu masuk kamar. Lalu memencet tombol bewarna merah dan mendekatkan wajahnya ke dekat tombol itu.


"Tolong kirimkan makanan buat nyonya Kana ke kamar pengantin VVIP lantai teratas, kamar khusus presdir kalian.Cepat!" Ucap Lani sedikit teriak.


"Eh? Lani ngak usah...aku ngak laper." Saut Kana.


"Itu alasan kamu saja, dan ingat keponakanku butuh nutrisi, jadi mau tak mau kamu harus makan."Ucap Lani yang tidak mau di bantah.


Dengan terpaksa, Kana menganggukkan kepalanya .


~~


Malam harinya, Addan memasuki kamar pengantinnya. Disana terlihat Kana yang berbaring diatas kasur, Addan pun langsung menghampiri Kana yang masih mengenakan gaun pengantin.

__ADS_1


Addan mengusap pelan kepala Kana dengan sayang dan juga mengelus pipi Kana, sehingga si empunya pun terbangun. Kana langsung terkejut dan langsung menepis tangan addan yang berada diwajahnya dan langsung duduk sambil bersandar pada kepala ranjang.


“Acaranya udah selesai para tamu sudah pulang, keluarga kita lagi berkumpul di restoran yang terletak di lantai dasar untuk makan malam bersama. Ayo kita turun!” Ucap addan lembut.


“Tidak, aku dikamar saja, kepalaku masih pusing.” Ucap Kana sambil memalingkan wajahnya agar tak bertatapan dengan addan.


"Baiklah, nanti aku akan membawa makanan kemari, kita akan makan berdua disini. Lebih baik kamu mandi dulu, setelah itu kita makan.”


“Mmmm…”Ucap Kana sambil berusaha bangkit tapi kepalanya masih terasa berputar sehingga jalannya agak sempoyongan.


Addan yang melihatnya, langsung memegang Kana untuk memapah Kana kekamar mandi.


“Ngak usah, aku bisa sendiri.” Ucap Kana agak ketus dan menepis tangan Addan yang bertengger di bahunya.


Namun addan tak mengubris apa yang dikatakan Kana, ia malah mengendong Kana ke kamar mandi.


“Apa yang kamu lakukan Addan, turunkan aku.” Ucap Kana meronta


“Diamlah, jangan keras kepala Kana, apa kamu mau sekalian aku mandikan?” Ucap Addan sambil menatap Kana tajam, kana yang ditatap Addan langsung bungkam.


Setiba dikamar mandi, Addan langsung meletakkan Kana dalam bathtub.


“Apa kamu bisa membuka resleting gaunnya?” Tanya Addan dengan nada lembut.


“Aku bisa sendiri"Ucap Kana ketus dan langsung menggapai resleting gaun yang terletak di bagian belakang, tapi tak sampai.


Addan yang hendak membantu langsung terhenti, karena mendengar perkataan dari Kana.


“Ngapain kamu masih disini? Lebih baik kamu keluar aku mau mandi.” Ucap Kana dengan nada malas.


Lagi-lagi Kana kesulitan membuka resletingnya, Addan yang melihatnya langsung memegang pinggang Kana dari belakang dan memegang resleting Kana.


Kana awalnya berontak, tapi sekarang pasrah karena memang jenuh susah membukanya.


Addan yang tengah membuka gaun Kana, tampak sedang menelan ludah melihat punggung putih nan mulus Kana yang terpampang jelas, dengan susah payah addan menahan hasratnya dengan berkali-kali menelan ludah.


Setelah terbuka resleting gaun Kana, kana pun angkat bicara


“Terima kasih, sekarang kamu keluar aku mau mandi.” Ucap Kana, seketika Addan pun langsung tersadar dari lamunannya.


“Tunggu dulu! biar aku membantumu untuk mengisi bathtubnya dengan air setengah panas agar saat berendam dapat merilekskanmu dan dapat mengurangi rasa pusing.” Ucap addan lembut menatap Kana dengan tatapan hangat.


Kana yang ditatap pun langsung memerah wajahnya bak kepiting rebus, dan tanpa sadar Addan mengangkat tubuh Kana keluar dari bathtub.


Kana tercengang dan mematung atas perlakuan lembut addan padanya, sambil menatap addan yang sibuk mengisi bathtub dengan air yang dicampuri dengan sedikit air panas. Setelah terisi penuh addan mengambil kelopak bunga mawar lalu memasukkannya kedalam bathtub.


“Sekarang berendamlah, aku menunggumu di kamar, jika ada apa-apa panggil Mas ya sayang.” Ucap Addan tersenyum pada Kana dan langsung berjalan keluar dari Kamar mandi, Kana masih mematung dan mencerna kata addan tadi, dan seketika wajahnya memerah lagi.


“Apa katanya tadi ‘Mas’ , apa aku harus panggil mas pada bocah itu. Ogah aku.” Gumam Kana.


Kana merosotkan gaunnya kelantai dan menanggalkan bra dan ****** ******** dan langsung masuk ke bathtub untuk beredam sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


“Ahhhh…… benar- benar nyaman, rasa pusing seketika hilang dan rasa pegal pun berangsur-angsur lenyap. Aduhhh nyamannya.” Gumam Kana sambil tersenyum senang.


Bersambung....


__ADS_2