
Setibanya di Rumah Sakit, Kana langsung dibawa keruang IGD dan mendapat penanganan dari dokter Sammy dan tim medis.
Para perawat yang mengetahui bahwa istri dari pemilik Rumah Sakit mengalami kecelakaan, menyebarkan berita. Jadi tak ada satupun penghuni Rumah Sakit yang tidak mengetahui kabar kecelakaan yang Kana alami.
Tak berselang lama, Addan dan Soka tiba di Rumah Sakit. Dengan tergesa-gesa, Addan masuk tanpa menghiraukan sapaan beberapa tenaga medis yang menyapanya.
"Diruang mana istriku dirawat?"tanya Addan pada salah satu perawat yang berpapasan dengannya dilorong Rumah Sakit.
Sebelum menjawab pertanyaan Addan, perawat itu sempat membungkuk hormat.
"Tu-tuan. Nyonya Kana... masih dalam penanganan di IGD Tuan, tim medis juga sedang menunggu persetujuan dari Anda untuk melakukan tindak operasi karena Nyonya kehilangan banyak darah."
"Antarkan saya kesana!"
"Baik, mari ikuti saya Tuan."
......................
Setelah menandatangi surat persetujuan operasi, kini Addan dengan setia menunggu didepan pintu ruang operasi. Tatapannya kosong seakan nyawa hampir saja berpisah dari raganya. Disana ia ditemani oleh Hobby, Soka, Lano, Ghani, Nena dan Raya.
Ceklek!
Mereka semua serempak menoleh kesumber suara, terlihat dokter Sammy yang baru saja keluar dari ruang operasi. Addan pun langsung bangkit dan menghampirinya.
“Gimana Sam? Gimana keadaan istriku?”serbu Addan dengan mata yang memerah. Pria itu pasti terlalu sering menangis, karena jejak air mata yang membekas dipipinya terlihat jelas.
Dokter Sammy menghembuskan nafas pelan dan menatap sendu kearah Addan. Dirinya begitu berat memberitahukan kenyataan, tetapi ia tidak mungkin menutupi semuanya kepada orang yang berhak mengetahuinya.
“Operasi berhasil, tipe darah yang dimiliki Nyonya tidaklah langka dan stok darah yang tersedia cukup banyak. Sementara luka dibagian kepala dan betisnya sudah dijahit. Mungkin membutuhkan waktu sekitar 2 atau 3 bulan, lukanya baru benar-benar sembuh. Tapi…”
“Tapi…”Addan mengulang kata terakhir dokter Sammy seraya menatapnya penuh harap, bahwa kalimat selanjutnya yang dilontarkan oleh dokter itu tidak mengecewakannya.
“…Tapi ada kabar yang lebih buruk.__Benturan beberapa kali yang dialami oleh bayi Anda dan Nyonya menyebabkan bagian tulang kepala, punggung dan panggulnya retak, Tuan. Dan… “Dokter Sammy menjedanya sementara, dilihatnya raut wajah Addan yang bertambah pias.
dan beberapa menit yang lalu...bayi Anda dan Nyonya dinyatakan telah meninggal dunia didalam kandungan. Demi keselamatan Nyonya, sebaiknya kita kembali melakukan tindakan operasi untuk pengangkatan janin yang telah tiada.”Lanjutnya.
Sekujur tubuh addan lemas, tungkainya terasa tak bertulang sehingga dirinya merosot kelantai.
Tidak!
__ADS_1
Tidak!
Berkali-kali hati Addan berteriak tidak, menolak keras pernyataan dokter Sammy yang berhasil menambah luka besar dihatinya.
“Dan…”Panggil Hobby.
Addan menoleh kearah Hobby, setelah beberapa saat terdiam.
“Katakan padaku, Hob! Ini tidak nyata. Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini…”Addan menggoyang-goyangkan lengan Hobby dengan berurai air mata.
“Dan tenanglah...”
“Aku gagal Hob, aku gagal menjaga mereka. Suami dan ayah macam apa aku ini…”Ujarnya seraya menjambak rambutnya frustasi.
Sangat sulit baginya menerima kenyataan bahwa anaknya sudah tiada. Lalu bagaimana dengan Kana? Apa istrinya itu bisa menerima kenyataan itu setelah ia siuman nanti. Addan tak yakin Kana tidak akan histeris mendengarnya, mengingat wanita itu amat sangat menyayangi anaknya.
Semua yang ada didepan pintu operasi menatap sendu Addan.
“Kubilang tenanglah!”Bentak Hobby. Ia tidak tau lagi bagaimana cara menenangkan sahabatnya itu.
Mata Addan menyorot nyalang kearah Hobby. Apa dia bilang, tenanglah? Untuk ukuran seseorang yang belum berkeluarga seperti Hobby, ia tidak akan mengerti betapa sakitnya ditinggal pergi oleh seorang anak yang berbulan-bulan dinantikan kelahirannya.
Hobby terdiam mendengar bentakan Addan. Sadar akan tindakannya, perlahan-lahan Addan melepaskan cengkramannya pada kerah Hobby.
Addan tertunduk dan kembali menangis. Bahkan ia menutup wajahnya, menahan agar suara isakan tangisnya tak terdengar.
"…Kamu harus kuat dan menerima takdir yang sudah digariskan Tuhan, ikhlaskan dia. Anak kalian diatas sana, pasti sangat sedih melihat kau rapuh seperti ini...“Ucap Lano sambil merangkul bahu sang adik yang bergetar akibat menangis terisak.
...****************...
Di Pemakaman
Addan menatap sendu batu nisan yang bertuliskan nama 'Camelia Nicolas'. Ya bayi itu berjenis kelamin perempuan. Bayi merah yang sempat Addan pangku dan ia cium, sekarang sudah bersemayam didalam gundukan tanah yang baru saja ditimbun.
Tidak banyak orang yang ikut menghadiri proses pemakaman, hanya segelintir orang terdekat saja.
"...Selama enam bulan kami menantikan kehadirannya. Tapi kini ia lebih dulu pergi, aku bahkan belum mendengar suara tangisannya...Hiks..."ucapnya lirih. Tangannya terkepal kuat.
"Sabar Dan. Semuanya akan indah pada waktunya, jadi tetaplah kuat atas kepergiannya. Gadis kecilmu nan mungil itu pasti akan sedih jika melihat Papanya terus bersedih."Hibur Hobby seraya menepuk-nepuk kecil pundak sang sahabat.
__ADS_1
Ingat...!Kana membutuhkan kau sekarang. Kalau kau lemah, siapa yang akan menghiburnya nanti?"Tambahnya.
Addan tersenyum tipis. "Terimakasih Hob."
Setelah selesai memanjatkan do'a, satu-persatu orang dipemakaman undur diri. Addan menghela nafas berat, merasa tidak rela berpaling lalu pergi meninggalkan putrinya seorang diri didalam tanah yang pastinya gelap, tanpa sedikitpun cahaya yang masuk.
Namun ia tidak mungkin berlama-lama disana, karena Kana membutuhkan kehadirannya saat ini.
"Maafkan Papa, Nak. Papa lalai menjagamu dan Mamamu...Maafkan Papa..."
Dengan berat hati, Addan membalikkan tubuhnya. Dan perlahan-lahan, melangkahkan kaki menjauh dari area makam sang anak.
......................
Sementara di Rumah Sakit.
Kana tiba-tiba mengalami kejang-kejang hebat, ************ Kana yang sebelumnya sudah berhenti pendarahan, kini kembali mengalir. Sontak semua tenaga medis yang menanganinya panik.
Nena dan Raya yang telah diminta oleh perawat untuk menunggu diluar, juga ikut panik.
"Apa yang terjadi pada Kak Kana...kenapa dia kejang-kejang seperti itu?"tanya Raya pada Nena dan mulai menangis.
"Aku tidak tau, Ray...Kita do'akan saja semoga Kak Kana baik-baik saja."Ucap Nena sembari memeluk Raya dan menatap nanar pintu ruangan yang ditempati oleh kakaknya.
Belum cukup satu menit Raya dan Nena merasakan sedikit kelegaan, tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh seruan salah satu perawat.
"Panggil dokter Sammy sekarang!...kondisi pasien semakin gawat!"Seru seorang perawat pada rekannya, lalu ia kembali masuk keruang rawat Kana.
"Ya Allah Kak...aku takut....Cepat hubungi Kak Addan atau yang lainnya, Kak! Mereka harus kembali ke Rumah Sakit sekarang. "Ucap Raya. Tangannya saling mengamit dan meremas kuat.
Nena mengangguk cepat kemudian menghubungi Lano, suaminya.
Bersambung...
_
_
~Tadi malam sih seharusnya dah update, tapi episodenya tak sengaja kehapus ama author, Astagfirullahaladzim. 😱 Jadi ya...terpaksa deh ngulang lagi...
__ADS_1
Maaf ya Readersku...🙏😢