
Belinda menatap satu persatu empat buah foto ditangannya, foto tersebut merupakan potret orang yang pernah bekerja sama dengannya dan orang yang pernah ia hasut. Demi membalaskan dendam rasa sakit di hatinya atas penolakan dan penghinaan yang telah Addan lakukan kepadanya lima tahun yang lalu, ia tega menjadikan orang-orang itu sebagai kambing hitam.
"Jane, Marco, Rafael. Dan sebentar lagi Fen Han Lee, si wanita Tionghoa. Segera menyusul mereka."gumamnya.
"...Aku tidak peduli kepada mereka. Kematian mereka bukan salahku, tapi karena itu kebodohan mereka sendiri. Yang mau saja ditipu oleh diriku."sambungnya.
Tok tok tok
Belinda mengeram kesal sambil mengalihkan tatapannya ke pintu kamarnya."Ya, ada apa."teriaknya.
"Maaf mengganggu Anda, Nona. Nyonya besar tadi berpesan, beliau meminta Nona untuk segera menemuinya ditaman belakang."ucap Bi Murni dari balik pintu.
Belinda menghempaskan kasar keempat foto ditangannya ke atas kasur.
"Si tua bangka ini, mengganggu saja! Pagi-pagi buta begini malah ngajak ketaman, udaranya dingin lagi."gerutunya kesal.
"Nona?"
"Ck! Bilang ke Nenek, kalau saya bentar lagi akan kesana."ujarnya ketus dengan nada tinggi.
"Baik Nona, kalau begitu saya permisi dulu."pamit Bi Murni, kemudian pergi meninggalkan pintu kamar yang ditempati Belinda.
"Hm"
Belinda menuruni anak tangga sambil memperhatikan sekitar. "Dimana wanita bunting itu? apa dia masih tidur?"gumamnya, mencari keberadaan Kana, "Heh, ngapain gue cari dia, ngak penting!"sambungnya dengan raut wajah kesal.
Tiba-tiba Belinda merasakan ada sesuatu yang mengawasinya, tapi dia tetap bersikap acuh tak acuh, seakan-akan tidak mengetahuinya. Disudut ruangan, terdapat sebuah benda kecil, benda yang mirip dengan CCTV. Bibir Belinda sedikit tertarik ke atas, sekarang dia tau kalau kediaman Nicolas dikelilingi oleh banyak kamera mini yang berfungsi untuk mengintai semua kegiatan orang dirumah itu.
"Aku tidak boleh gegabah. Harus bermain rapi, kalau tidak, aku sendiri yang akan celaka."gumamnya, tanpa melirik kamera kecil yang terpasang diseluruh sudut ruangan, ia terus berjalan hingga tiba ditempat tujuan, yaitu taman belakang.
Setibanya ditaman belakang, ia melihat Nenek Suci tengah duduk dikursi santai sambil menikmati secangkir teh hangat dan temani beberapa potong sandwich.
"Waktunya akting. Belinda. Smile...."Belinda memasang wajah seceria mungkin didepan Nenek Suci.
Merasakan kehadiran Belinda, Nenek Suci menoleh kebelakang."Sini sayang...Nenek punya sesuatu untuk kamu."Ia memperlihatkan sebuah kotak perhiasan.
"Apa itu Nek?"tanyanya, Belinda tau itu kotak perhiasan. Yang menjadi pertanyaannya adalah apa isinya gelang warisan keluarga atau perhiasan biasa?
Tentu ia sangat berharap, kalau kotak itu berisi gelang waris. Karena dengan adanya gelang itu, ia bisa membanggakan dirinya kepada siapapun, bahwa dirinya adalah menantu keluarga Nicolas yang sebenarnya. Tidak peduli Kana tengah mengandung anak dari pria idamannya, ia yakin semua orang pasti akan percaya kepadanya.
Setelah Nenek Suci membuka kotak perhiasan itu, ternyata isinya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Belinda. Dalam hati, ingin sekali rasanya Belinda menertawakan kebodohan wanita tua itu.
Dan tentunya, Belinda tidak akan menampakkan raut wajah gembiranya dihadapan Nenek Suci, ia sebisa mungkin menutupinya.
"Gelang ini merupakan gelang dari mendiang Ibunya Kakek, suaminya Nenek. Tidak ada satupun orang didunia yang memiliki gelang yang sama persis dengan gelang ini. Harganya pun sangat selangit, bahkan harganya tidak sepadan dengan sepuluh buah rumah ini. Gelang ini didesain oleh ayahnya Kakek, untuk istrinya yang tercinta."Jelas Nenek Suci, lalu mengangkat dan mengelus gelang emas putih yang dikelilingi banyak permata itu.
"Waw...harganya tidak sepadan dengan harga sepuluh rumah mewah ini. Aku yakin, rumah besar ini harganya triliunan, berarti harga gelang itu sepuluh kali lipat dari harga rumah ini. Kalau di jual, aku pasti menjadi wanita terkaya se- Asia."gumam Belinda disertai senyum jahat.
"Gelang ini sudah berpuluh tahun lamanya bersama Nenek. Sekarang waktunya mencari tuan baru."ujar Si Nenek sambil menatap Belinda, menantu idamannya itu.
"...Kenapa gelang itu tidak berada ditangan Mamanya Addan?Bukankah gelang ini diwariskan kepada istri dari penerus Nicolas Visa's Star Group, Nek?"tanya Belinda.
Wajah Nenek Suci memerah mendengar mendiang Ibunda Addan disebutkan oleh Belinda. "Cih! Jangan sebut wanita itu lagi, setiap mendengar namanya. Nenek merasa sangat muak."Ucapnya ketus, lalu memalingkan wajahnya dari hadapan Belinda.
"Kalau boleh tau kenapa Nenek tidak menyukai Ibunya Addan?"tanya Belinda hati-hati.
Lumayan lama Nenek Suci terdiam, hingga ia memutuskan untuk menceritakan semua masa lalunya bersama mendiang Ibunya Addan.
...----------------...
Flasback On
__ADS_1
POV Nenek Suci
Tiga puluh tujuh tahun yang lalu, Gadis muda bernama Andin dibawa pulang oleh suamiku. Aku sangat kaget dan kecewa kepada suamiku pada saat itu, aku mengira suamiku membawa simpanannya pulang dan berniat menikahinya. Namun dugaanku salah, ternyata gadis itu adalah putrinya dengan wanita yang pernah dia cintai.
Bukannya emosiku mereda setelah mendengar pengakuan dari suamiku itu , aku malah makin emosi dan murka. Aku mengumpati suamiku, sumpah serapahku tak lupa menjadi wejangan untuknya, karena tega membawa anaknya bersama wanita lain pulang.
Beberapa hari kemudian, setelah terjadi percekcokan yang berkepanjangan. Akhirnya dihari kedua belas gadis itu berada dikediamanku, aku dan suamiku memutuskan untuk berpisah, atau lebih tepatnya aku diceraikan oleh suamiku karena tidak menerima kehadiran putrinya.
Kecewa? Tentu saja aku sangat kecewa. Marah? Bukan hanya marah tapi aku juga murka.
Enam tahun usia pernikahan kami, selama itu pula aku rela meninggalkan segalanya hanya demi hidup bersama pria miskin itu. Tapi, apa balasan yang aku terima? Aku dikhianati, separuh hartaku dibawa dan dibagi untuk wanita simpanannya bersama anaknya, aku pun dihina karena tidak jua memberikannya keturunan.
Beberapa tahun setelah kejadian itu, aku sudah berhasil menata hati. Trauma menikah dengan pria yang memiliki status dibawahku, dalam artian menengah- kebawah. Sehingga aku memutuskan menerima lamaran seorang duda beranak satu yang beranama Baldovino Nicolas, walaupun pada saat itu aku sama sekali tidak mencintainya.
Tanpa diduga, dalam waktu yang relatif singkat. Aku dan Putra dari suamiku yang kedua ini, menjadi sangat dekat, layaknya ibu dan anak kandung. Kau tau?...pemuda berusia 20 tahun itu bernama Antoni, dialah ayahnya Addan.
Singkat cerita, delapan tahun kemudian. Antoni jatuh cinta kepada seorang gadis, dia membawa gadis itu pulang untuk meminta restu kepadaku dan suamiku. Awalnya aku bahagia melihat raut wajah bahagia anak tiriku.Tetapi dalam sekejap, raut wajahku berubah seketika, setelah melihat gadis yang berdiri disampingnya. Gadis itu, gadis yang dibawa pulang oleh suami pertamaku. Sekarang berdiri dihadapanku. Hati ini terasa panas, aku tidak terima dan tidak sudi gadis itu menjadi menantuku.
Namun, aku tak kuasa menolak permintaan anak tiriku yang sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. Akhirnya mereka menikah, tanpa kehadiranku disana. Pada saat itu aku beralasan sedang tidak enak badan, namun nyatanya aku sehat-sehat saja. Aku sangat enggan melihat wajah putri dari mantan suamiku yang bernama Andin itu.
Beberapa tahun usia pernikahan mereka, hingga mereka dikaruniai tiga orang anak. Aku tak pernah sekalipun berbincang hangat dengan menantuku. Hingga pada suatu hari aku mengetahui sebuah fakta yang menyejutkan dari orang lain, bahwa Melano dan Melani bukanlah darah dagingnya Antoni.
Aku pun lekas memberi tahu perihal itu kepada suamiku dan Antoni. Namun, mereka sama sekali tidak percaya akan semua perkataanku, Antoni yang dulunya sangat patuh kepadaku, pertama kalinya membentakku demi wanita itu.
Aku yang tidak terima, melakukan segala cara untuk menghancurkan wanita itu. Hingga tidak ada satupun yang percaya bahkan berpihak kepadanya.
....
Flasback Off
...****************...
Ckiiiit....
Abang ojol mengeremkan motornya secara mendadak, ketika mendengar suara nyaring dari penumpangnya.
"Disini Mbak?"Tanya Si Abang ojol dengan penuh kesabaran. Pengen mengumpat, tapi takut bintangnya dikurangi.
Mbak mbok mbak mbok. Panggil Nona! ...Mentang-mentang penampilan gue cupu begini, malah dipanggil mbak. Sialan... batin Feni kesal.
"Iya! kalau saya minta berhenti disini, berarti ya disini tujuan saya. Gimana sih Bang?!"Sahut Feni dengan nada kesal.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Feni langsung pergi. Namun tak lama kemudian, ia balik lagi karena lupa menanggalkan helm dikepalanya.
"Nih bang helmnya. Saya lupa!"ujarnya ketus sambil menyodorkan helmnya, "besok-besok kasih parfum ya helmnya, karena aroma helmnya Abang amis banget hiii.... Kalau mau narik itu, perhatikan keselamatan penumpang. Gimana kalau setelah mencium aroma helm Abang, ada yang mati mendadak. Untung saya bisa nahan..." sambungnya yang berpura-pura jijik. Kemudian ia benar-benar berlalu meninggalkan Bang ojol yang masih bengong.
"Busyet...songong amat sih lu. Gua gamprat juga muke lu tu."unek-unek bang ojol yang sedari tadi ditahan akhirnya keluar juga.
......................
"Wihh....Megah dan besar banget nih rumah. Aku pikir rumahnya ngak berbeda jauh dari rumahnya Quan."
Pak Lolo (satpam) menghampiri Feni yang celingak- celinguk dibalik pagar besi.
"Ada keperluan apa Anda datang kemari?"tanyanya.
Merasa seseorang bertanya kepadanya, Feni menoleh kearah Pak Lolo.
"...Bu Kana nya ada Pak?"tanyanya dengan nada suara yang dilembut-lembutkan, agar terlihat seperti orang yang baik dan ramah.
Pak Lolo mengangkat sebelah alisnya, ia menatap Feni dengan tatapan aneh.
__ADS_1
Gayanya cupu, tapi orangnya centil. Jaman sekarang, penampilan benar-benar bisa benget menipu, batin Pak Lolo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lemah. Suara lembut Feni terdengar seperti orang yang sedang mendesah dan nafsuan, bagi Pak Lolo. Karena istrinya Pak Lolo, kalau minta jatah, ya seperti itu nada bicaranya.
"Pak..."Feni membuyarkan lamunan Pak Lolo, sambil melambai-lambikan tangannya ke wajah pria paruh baya itu.
Gue tau, gue cantik. Tapi gue ngak tertarik sama daun tua dan layu, batin Feni yang percaya diri.
"Ada hal penting apa Anda mencari Nyonya muda?"tanya Pak Lolo dengan tegas.
"Saya Feni Pak, saya diberi pekerjaan sebagai pembantu oleh Bu Kana kemaren, Pak. Jadi saya datang kemari untuk bekerja."jelasnya.
"Oh...Anda yang bernama Feni. Silahkan masuk! Nyonya dan Tuan muda menunggu Anda didalam."
"Baik, terimakasih Pak."ujarnya yang berusaha sesopan mungkin.
Bersambung...
_
_
_
VISUAL PEMAIN PENDUKUNG
HOBBY GENIO BAXTER
BELINDA HOPPER
FEN HAN LEE
SANTA DONNA (Yang kerab dipanggil NENEK SUCI)
Santa Donna\= Wanita Suci
Dah, itu aja dulu visual pemeran pendukungnya ya.
HAPPY READING GAYS...🥰
__ADS_1