You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Sandiwara Tiga Bersaudara


__ADS_3

Menunggu itu sangat membosankan dan bikin jenuh, tapi kenapa menunggumu tidak terasa demikian. Apakah aku sudah terkena panah asmaramu? ~ Kana


Sudah empat hari Addan dirawat di rumah sakit, namun belum juga siuman. Dan Kana tetap setia disisinya, menunggunya sampai membuka mata. Walaupun Kana sering dilarang Lani dan Lano menjaga Addan, ia tetap saja kekeh menjaga dan menunggu Addan sadar, karena ia ingin orang pertama yang Addan lihat ketika bangun adalah dirinya.


Kana sempat merasa bingung apa yang telah terjadi padanya. Semenjak kejadian empat hari yang lalu, ada yang berbeda dari dirinya, ia merasa tidak mampu jauh dari Addan. Tapi ia tidak ambil pusing akan perubahan drastis pada dirinya, kenapa? karena ia beranggapan bahwa kalau seorang ibu hamil yang takut jauh dari suaminya, maka itu pengaruh dari bayi yang ada dalam perutnya.


“Mas…Aku mohon kamu bangun, aku tau kamu pasti mendengar suaraku.”Lirih Kana sambil menggenggam erat tangan Addan.


“Mas…dalam dua hari ini, aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku tidak akan menghindar ataupun berusaha membencimu. Aku ingin hidup bersamamu, walaupun aku belum sepenuhnya memberikan hatiku untukmu.”


Kana memindahkan tangan Addan yang tadi ia genggam ke perutnya yang buncit, ia ingin bayinya merasakan sentuhan dari Addan.


“Ah! Dia bergerak Mas, bayi kita bergerak lincah.”Ucap Kana girang, ia tidak menyangka bayinya merespon sentuhan tangan Addan.


Kana menggerak-gerakkan tangan Addan diatas perutnya.


“Shhhh…Sakit sayang…senang ya dielus-elus papa?" Kana meringis, merasakan gerakan bayi dalam perutnya sedikit kencang. "Kok umur empat bulan sudah kencang tendangannya ya?”Ujarnya bingung.


Kriett…


Terdengar bunyi pintu terbuka, tapi Kana tidak mendengar dan menyadari bahwa ada seseorang yang masuk. Kana masih saja asik mengajak mengobrol Addan yang belum siuman sambil menggengam tangan Addan.


Orang itu memperhatikan interaksi Kana sambil berkacak pinggang dan tersenyum.


“Ehemmm…”Dehemennya.


Kana pun menolehkan kepalanya, ia hanya terdiam memandang orang itu sejenak hingga akhirnya rona merah muncul dikedua pipinya setelah sadar bahwa dari tadi orang itu melihat interaksinya.


“Apa ada respon? Kayaknya asik banget ngobrolnya.”Ucap Lani dan tersenyum.


Lani berjalan menghampiri ranjang Addan, Ia pun menaruh buah-buahan dan sebungkus nasi serta minuman diatas nakas yang terletak samping ranjang.


“Tadi aku mampir keruang Dokter Sammy, beliau bilang kalau Addan tak lama lagi akan sadar. “Ucap Lani lagi.


“Syukurlah…”Kana yang lega mendengarnya.


“Kamu belum makan kan? Itu, diatas nakas ada buah-buahan dan nasi padang. Makanlah…”


“Makasih…Tau aja kakak ipar, kalau aku lapar.“Ucapnya dan sedikit bercanda.“Kalau kamu sudah makan Kakak ipar?”Tanyanya dan menatap Lani yang sedang mengupas buah-buahan.


“Hishhh....Kok aku geli banget dengar kamu panggil aku kakak ipar (pura-pura bergidik). Sudah...aku sudah makan nasi padang tadi sama Lano dan Nena sebelum kesini”Ucap Lani dan terkekeh pelan.


"Kan memang kamu kakak ipar aku, mulai sekarang biasakan..."Ucap Kana santai.


"Cieee...udah mulai kesemsem ya sama Addan...Tuh kan...bilangnya ngak akan pernah mencintai Addan, eh nyatanya makan taik sendiri."


"Makan omongan sendiri! bukan makan taik sendiri."Kesalnya."Upss...Kak Lano sama Nena mana?"Tanya Kana dengan berbisik, setelah sadar kalau sekarang mereka lagi berada diruang pasien.


"Mereka tunggu diluar. Kamu kenapa sih, bisik-bisik gitu ngomongnya?"Ucap Lani sambil berkacak pinggang dan menatap aneh Kana.


"Kamu sadar ngak sih? kita sekarang lagi berada dimana, nanti istirahat Mas Addan terganggu."Bisiknya.


"Upss....Maaf-maaf...Astagfirullah Adikku....Kakak lupa..."Ucap Lani sambil mengelus-ngelus kepala Addan.


Tak lama kemudian masuklah Lano dan Nena bersama Dokter Sammy dan seorang suster.

__ADS_1


"Sudah ada Nyonya muda Nicolas rupanya, bagaimana keadaan tuan muda kecil didalam sana? " Ucap Dokter Sammy dan tersenyum ramah kearah Kana.


"Alhamdulillah, baik-baik saja dokter." Balas Kana dan tersenyum, Dokter Sammy merespon perkataan Kana dengan mengangguk-angguk kepala.


"Jangan lupa banyak istirahat ya Nyonya? banyak-banyak konsumsi buah-buahan dan sayuran. Ingat! Jangan begadang, tadi malam saya lihat anda begadang menjaga Tuan Nicolas, lain kali jangan dilakukan lagi ya Nyonya? Bisa berdampak buruk terhadap bayi anda loh!" Saran dan nasihat Dokter Sammy.


"Baik dokter, saya pasti akan lebih memperhatikannya lagi. Terimakasih banyak atas saran dan nasihatnya." Saut Kana.


"Sama-sama Nyonya."


Dokter berjalan keranjang Addan, ia memeriksa bagaimana perkembangan Addan selama empat hari ini.


Dokter Sammy menoleh sekilas ke arah Lani dan Lano. Jelas-jelas sudah sadar 7 jam yang lalu, tapi masih saja berpura-pura. Kalau bukan demi dipromosikan sebagai dokter terhandal, aku ngak bakal mau ngikutin rencana mereka bertiga, batin Dokter Sammy sambil menggeleng- gelengkan kepala.


"Bagaimana dokter? Mas Addan bentar lagi akan siumankan dok?" Tanya Kana khawatir.


"Iya Nyonya, anda tidak perlu khawatir. beberapa jam lagi Tuan pasti akan siuman."


"Syukurlah...Hmmm kira-kira berapa lama Mas Addan akan dirawat dirumah sakit ya dok?"


Sebelum menjawab, Dokter Sammy melirik Lano sekilas yang sedang tersenyum kepadanya.


Senyumanmu bikin saya merinding Tuan Lano, batin Dokter Sammy.


"Sekitar dua bulanan Nyonya, karena luka sayatannya dalam dan panjang. Jadi harus dirawat dirumah sakit selama dua bulan lamanya, nantinya perban yang menutupi luka Tuan harus diganti 3 kali sehari. Untuk sayatan bagian betis mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama, sekitar 6 bulanan lah, baru lukanya akan sembuh. Dan dalam enam bulan itu, Tuan Addan akan memakai tongkat untuk membantunya berjalan." Jelas Dokter Sammy.


Sebenarnya hanya selama 2 bulan Tuan Addan membutuhkan tongkat untuk membantunya berjalan, Mengingat lukanya dibagian dada yang begitu cepat mengering, batin Dokter Sammy yang berkeringat dingin. Dalam hidupnya baru kali ini ia membohongi istri dari pasiennya.


"Aduhh...terus siapa dong yang rawat Addan..., aku juga harus pergi ke Jepang atas permintaan Nenek Rumi."Alasan Lani.


~Nenek Rumi adalah ibu kandung dari Mamanya Lani, Lano dan Nena.


"Mas..kan ada aku...."Ucap Nena tertahan.


Lano meletakkan jari telunjuknya dibibir Nena "Syut.....", kemudian berbisik "Tolonglah kerjasamanya sayang...Ini demi mendekatkan Addan dan Kana loh."bisik Lano ketelinga Nena.


Nena yang mendengar ucapan suaminya, seketika sebuah senyuman terbit dari bibir mungilnya."Ok" bisiknya balik ketelinga Lano.


"Kan ada aku, sebagai istri akulah yang berkewajiban menjaga dan merawat Mas Addan. jadi Kak Lano dan Lani tidak usah khawatir."Ucap Kana tanpa menaruh rasa curiga sekalipun kepada dua bersaudara itu.


Yes, sorak batin Lano dan Lani senang.


"Tapi Kakak kan...."Ucapan Nena terhenti lagi karena kali ini Lani yang nyelonong, ia tidak akan membiarkan adik iparnya yang satu ini menggagalkan rencana mereka.


"Dok! Kana bolehkan tidur seranjang dengan Addan diatas ranjang pasien ini? Lagi pula kan ranjang pasiennya ukuran triple bed..."Ucap Lani sambil melototi Dokter Sammy dan tersenyum yang tampak dipaksakan.


Mendengar ucapan Lani wajah Kana memerah menahan malu.


"Lani..!"Protes Kana, namun tak dihiraukannya.


"Heee...hehehe...Itu...itu..." Lani semakin melototi Dokter Sammy."Ya tidak apa-apa Nyonya..."Ucap Dokter Sammy yang akhirnya pasrah karena dipelototi oleh Lani terus.


“Jangan bercanda Lani! Mas Addan sedang sakit, dia pun belum juga siuman, dan luka ditubuhnya belum kering dan sembuh. Kalau aku tidur disini, bagaimana kalau lukanya Mas Addan tersenggol olehku saat tidur? Aku tidurnya ngak bisa diem loh" Protes Kana dan beralasan.


"Ngak bakal...ya ngak dok?"Ucap Lani sambil melirik Dokter Sammy yang sudah berkeringat dingin.

__ADS_1


"Tenang....tenang Nyonya, nanti pembatas akan kami kasih supaya ketika tidur, bagian tubuh anda tidak masuk kewilayah Tuan Addan."Ujar Dokter Sammy yang sembarang memberi alasan karena sudah merasa lelah dipelototi oleh kedua saudara kembar itu.


Kok aku merasa tingkah Lani dan dokter ini aneh ya, batin Kana.


“Aku…tidurnya disofa itu saja, tidak apa-apa kok.”


“Eh…Mana boleh! Kamu ngak boleh tidur disofa, kamu itu harus tidur ditempat yang nyaman. Wanita hamil ngak boleh tidur di sofa, ya ngak dok?”Ucap Lani kemudian melirik tajam Dokter Sammy.


Iya, iyain aja dah…resah rasanya kalau dipelototi terus, batin Dokter Sammy.


“Iya Nyonya, anda tidak boleh tidur disofa. Sebab tidur disofa akan memicu pegal pada bagian punggung anda, nah.. cedera yang tak sengaja itu dapat menekan bagian tulang punggung anda sehingga menyebabkan sakit dalam waktu yang cukup lama. Dan juga... tidur disofa itu membuat tidur anda tidak berkualitas, maksudnya adalah ketika tidur pasti ada saja gangguan yang anda alami seperti anda yang tidur nyenyak tiba-tiba bangun ditengah malam, digigit nyamuk. Hmm…Bahkan… anda yang tidurnya sering mengubah posisi berdampak lebih buruk lagi seperti anda yang terjatuh dari Sofa dalam keadaan telungkup. Anda tidak mau kan terjadi sesuatu kepada tuan muda kecil?”Jelas Dokter Sammy panjang lebar.


“Iya…saya tidak mau tejadi sesuatu kepada bayi saya. Baiklah, saya akan tidur disamping Mas Addan.”Ucap Kana yang akhirnya pasrah.


Setelah menjelaskan semua itu Dokter Sammy menghembuskan nafas lega. Pintar pula kau ya Sam…Memang pantas disebut sebagai dokter handal, batin Dokter sambil tersenyum bangga.


Lani yang senang dengan alasan Dokter Sammy yang masuk akal, mengacungkan dua jempol seraya berbisik “Gaji kau bentar lagi naik Sam…plus bonus.”Bisik Lani. Seketika senyum terbit dari bibir Sammy.


Yes…, teriak batin Dokter Sammy dengan girangnya.


Kana yang melihat interaksi Dokter Sammy dan Lani, mengerutkan dahi. Apa yang mereka berdua bisikan ya, sampai dokternya senyum-senyum gitu?, batin Kana.


Kriet...


Pintu terbuka, ternyata yang membuka pintu tersebut ialah Papa Addan, Antoni. Dia masuk kemudian disusul oleh istri mudanya beserta Kakek dan Nenek Addan yang merupakan orangtua dari Antoni.


Sejenak mereka terdiam, karena melihat begitu banyak orang didalam ruang pasien, hingga akhirnya sang nenek angkat bicara.


“Kok banyak yang masuk keruang pasien, bukannya itu mengganggu istirahat pasien namanya?”Ketus Nenek Addan yang bernama Suci.


Ini nenek lampir baru datang langsung nyerocos aja, batin Lani dan menatap tak suka Neneknya itu.


“Hmm…Maaf Nyonya besar.”Ucap Dokter Sammy sambil membungkukkan badan.


“Mohon maaf…bagi yang sudah lama berada disini keluar dulu, biarkan Tuan besar dan Nyonya besar yang melihat Tuan Addan.”Ucap Dokter Sammy lagi.


Lani, Lano, Nena, dan Kana keluar dari ruang inap Addan. Sebelum keluar Nenek Suci menatap sinis dan tajam kearah Kana, sedangkan Kana yang ditatap hanya menundukkan kepala.


Diluar Ruang Pasien...


"Kamu kenapa? nunduk aja dari tadi. Apa karena pembicaraan kita yang tadi?" Tanya Lani yang melihat Kana murung setelah keluar dari ruang pasien.


Kana menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menatap mata Lani.


"Yang tadi itu Nenek sama Kakek kamu Lan?" Tanya Kana.


"Ya..."Jawab Lani malas, ia sebenarnya malas sekali membahas Nenek Suci.


"Lan, sepertinya Nenek kalian tidak suka padaku..." Ujar Kana sedih dengan nada suara rendah.


Lani menatap Kana yang terlihat sedih. Ia tau kalau Neneknya pasti tidak akan suka kepada Kana, karena Neneknya itu ingin punya cucu mantu yang memiliki status keluarga yang sederajat dengan keluarganya.


"Jangan khawatir, Nenek pasti akan suka padamu nantinya."Hibur Lani sambil menepuk-nepuk pelan pundak Kana, kemudian mengalihkan pandangannya kearah pintu ruang inap Addan.


Tapi aku tidak begitu yakin. Biasanya kalau sekali Nenek berkata tidak suka maka akan tetap begitu, dan tidak akan berubah menjadi suka, batin Lani.

__ADS_1


"Iya..."Balas Kana dan tersenyum.


Bersambung...


__ADS_2