You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
#Y A M P L~ Si Licik Feni


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu tragedi penculikan itu, dan saat ini tentu saja Sasha dalam keadaan sehat wal'afiat. Dia bersama sang suami sudah pindah ke sebuah apartmenen yang letaknya tidak jauh dari kediaman Nicolas. Sedangkan rumah yang ia tempati sebelumya, terpaksa dijual ke orang lain.


Sasha dan Soka menjalani rutinitas mereka seperti biasa.


Namun, bukan berarti masalah sudah selesai, masih banyak lagi masalah yang harus dihadapi dan diatasi. Salah satunya kasus obat penggugur kandungan yang dicampur kedalam makan malam Kana. Dan saat ini, di kediaman Nicolas ricuh, membahas masalah itu.


Semua asisten rumah tangga dikumpulkan lalu interogasi satu- persatu oleh Addan. Karena yang memasak seluruh makanan adalah asisten rumah tangga, sedangkan para koki sudah Addan pindah tugaskan ke restoran milik Lano. Jadi berkemungkinan besar pelakunya salah satu dari mereka.


“Siapa yang memasak makan malam, dua hari yang lalu?”tanya Addan sambil menatap tajam wajah pucat mereka bergantian.


"JAWAB!!! Kenapa kalian diam saja hah?!" suara lantang Addan yang dipenuhi amarah, menggelegar memenuhi rumah besar yang bak istana itu, membuat semua penghuni terperanjat kaget.


Kemudian ia berdiri seraya menyilangkan tangannya didepan dada. Tatapan matanya lebih mengintimidasi dari sebelumnya ke arah semua asisten rumah tangga yang duduk bersimpuh dilantai.


”I-i-itu..Tuan Muda__yang memasak makan malam selama seminggu ini adalah M-mbak Murni.”jawab Bi Isah. Badannya bergetar ketakutan, butiran keringat menetes dari pelipisnya tatkala bertatapan dengan sepasang mata elang milik sang majikan.


Kana yang tidak tega melihat wajah semua asisten rumah tangga yang ketakutan, ia pun berniat membujuk sang suami.


"Mas..."Kana memeluk lengan suaminya itu dan sesekali mengusapnya lembut, agar emosi sang suami melunak.


Addan melirik Kana yang matanya tampak berkaca-kaca, Addan menggengam tangan istrinya itu dan meremasnya dengan lembut, ia mengisyaratkan kepada istrinya untuk tidak usah khawatir.


Matanya menelisik, memperhatikan keberadaan Bi Murni diantara para ART itu,”dimana Bi Murni sekarang?”tanyanya, kali ini suaranya agak melunak.


“A-anu Tuan. Beliau pergi kepasar,”


Addan menghela nafas panjang, meredakan amarah dan suasana hatinya yang kusut. Kemudian ia merogoh handphonenya dalam saku celananya, dan menghubungi Soka, sang asisten pribadinya.


Panggilan masuk.


"..."


"Datang saja kemari, aku ada tugas khusus untukmu."


"..."


"Ya kutunggu,"


Tut...tut...tut...


Setelah menutup pangggilan, Addan kembali mengalihkan tatapannya kearah para asisten rumah tangga.


“Kalian kembali bekerja. Kalau Bi Murni sudah kembali, suruh dia menemui saya diruang kerja saya.”


“Baik Tuan.”Balas mereka sambil menunduk hormat. Mereka pun satu persatu undur diri.


Kini yang tersisa diruang tamu hanya Addan dan Kana.


"Mas...Aku dan anak kita sudah tidak apa-apa kok Mas. Jadi...maafkan saja, ya?"


"Tidak bisa Dek! kejadian itu tidak hanya akan sekali itu saja terjadi. Kalau dibiarkan begitu saja, nantinya si pelaku bertindak lebih leluasa lagi. Mas tidak mau kalian berdua terluka lagi..."ujar Addan memberi pengertian kepada istrinya itu. Kemudian ia membawa Kana kedalam pelukannya dan melabuhkan kecupan singkat di dahi Kana yang tertutupi beberapa helai rambut.


Kana membalas pelukan Addan, "Iya Mas...aku juga akan berusaha melindungi anak kita..."


......................


Dua jam kemudian…


Bi Murni kini sudah berdiri dihadapan Addan dengan perasaan cemas dan takut, ia tidak tau kenapa tuan mudanya itu memanggilnya. Aura yang dipancarkan oleh Addan, membuat seluruh ruangan terasa dingin dan gelap.


“Apa Bibi tau, alasan saya memanggil Anda kemari?”tanya Addan dingin, dan dibalas gelengan lemah oleh Bi Murni.


Addan menyerahkan selembar kertas yang berisi hasil uji makanan dilaboratium ke tangan Bi Murni.


“I-ini…apa ya Tuan?”tanyanya bingung, seraya menerima selembar kertas itu.


“Itu hasil uji laboratorium atas makanan yang Bibi masak dua hari yang lalu. Katakan pada saya yang sejujurnya, apa Bibi yang memasukkan obat penggugur kandungan kedalam makanan istri saya?”

__ADS_1


Bi Murni membekap mulutnya karena kaget.


“Astagfirullah….Demi Tuhan! saya tidak ada mencampurkan obat itu kedalam makanan Nyonya muda, Tuan…”


Addan berdiri, lalu membalikkan badannya menghadap ke jendela, sehingga posisinya saat ini membelakangi Bi Murni.


“Lalu kenapa obat tersebut ada didalam makanan istri saya?”


“Sungguh saya tidak tahu tuan…saya_”


Kriett...


“Bohong Tuan! jangan percaya dengan kata-kata Bi Murni barusan.”potong Feni yang tiba-tiba menerobos masuk, tanpa mengetuk pintu.


Sontak Addan dan Bi Murni membalikkan tubuhnya kesumber suara.


“Bibi jangan berbohong lagi, didalam handphone ini terdapat bukti kejahatan yang telah Bibi lakukan.”lanjutnya.


“Kau. Siapa yang menyuruhmu masuk seenaknya kedalam ruangan saya?”timpal Addan, matanya menatap Feni tajam.


Feni membungkuk hormat dihadapan Addan.“Maaf Tuan, atas kelancangan saya. Maksud kedatangan saya kemari ingin menyerahkan bukti kejahatan Bi Murni kepada Anda, Tuan…”ujar Feni sambil menyerahkan ponsel bewarna silver ketangan Addan.


Pupil mata Bi Murni membesar, ketika melihat handphone miliknya berada ditangan Feni.


"Feni! lancangnya kamu mengambil gawai saya, tanpa ijin dari saya."Bentaknya, dan berjalan cepat ke arah Feni dan berusaha merebut handphonennya dari tangan Feni. Namun sebelum ia berhasil menggapainya , handphonennya itu sudah berpindah ke tangan Addan.


“Ini handphone Bibi?”tanya Addan dan diangguki oleh Bi Murni.


“Tuan. Buktinya ada pada whatsaap, disitu ada percakapan antara Bi Murni dengan Nyonya Besar.”ujar Feni, lalu menatap Bi Murni yang juga menatapnya. Bibirnya tertarik keatas, menertawakan nasib Bi Murni dalam hati.


Feni, Wanita ular ini. Pasti dia yang telah melakukannya, batin Bi Murni sambil melirik tajam Feni.


Addan menuruti perkataan Feni, ia membuka aplikasi whatsaap dihandphone Bi Murni, kemudian membuka riwayat obrolannya dengan Nenek Suci.


Setelah Addan membaca pesan singkat antara Bi Murni dengan Neneknya. Addan terdiam, kemudian ia menatap Bi Murni cukup lama dengan tatapan tak percaya,"Bi...i-ini..."


"Ini apa maksudnya Bi? Ternyata Bibi yang memasukan obat itu kedalam makanan istri saya"


"Tu..tua..mud_"


"Kenapa Bi?!"bentak Addan, dadanya naik turun, hatinya terasa dibakar api yang amat panas. Ternyata orang yang berniat membunuh anaknya adalah orang terdekatnya sendiri.


"Tu-tuan muda__Saya bersumpah, demi Tuhan saya tidak pernah berkirim pesan dengan Nyonya Besar seperti itu."Mata Bi Murni berkaca-kaca, suaranya terdengar serak seperti mau menangis.


Addan menghiraukan ucapan Bi Murni, ia begitu enggan melihat ibu asuhnya itu.


Soka yang sedari tadi duduk dipojok ruangan, dengan ditemani laptop dipangkuannya. Tiba-tiba mendapat pesan dari nomor yang tak dikenal, pesan itu berisikan sebuah video dan juga foto Nenek Suci bersama Belinda, disebuah restoran Perancis. Dan juga ada rekaman CCTV percakapan antara Nenek Suci dengan Kana ketika dikantin Rumah Sakit, beberapa hari lalu.


Soka lekas berdiri lalu menghampiri atasannya itu.


“Bos. Saya tiba-tiba mendapat pesan dari nomor yang tak dikenal. Tapi tolong Anda lihat dulu, baru setelah itu saya selidiki siapa pengirimnya.”ujar Soka seraya memperlihatkan layar laptopnya kehadapan Addan.


Dahi Addan berkerut saat melihat video yang semuanya merupakan foto dan video neneknya,


"Nenek?"gumamnya.


“Ok, putar videonya”Addan menopang dagunya dengan tangan kirinya sambil menunggu diputarnya video .


Soka pun memutar salah satu video.


Video percakapan Nenek Suci dengan Belinda:


“Nenek sudah tidak tahan lagi melihat wanita itu tinggal dikediaman Nicolas. Dia seperti benalu yang terus-terusan menempel disisi Addan. Sungguh Nenek tidak menyukainya.”


“Nenek…sepertinya kesempatanku untuk menikahi Addan, tidak ada lagi. Sebaiknya aku kembali saja ke Negaraku.”


“Tidak! Tidak boleh. Nenek maunya, cuman kamu seorang yang menjadi istri Addan.”

__ADS_1


“Nenek...tidak ada cara lagi. Aku…”


“Ada! Tentu saja ada.”Potong Nenek Suci,” Asalkan anak yang didalam perut wanita itu mati, maka kesempatan kamu masih ada.”


“Jangan bilang Nenek…nenek akan…mencelakainya?”


“Kita lihat saja nanti”


“Ba-bagaimanapun, anak yang dikandung Kana adalah cucu nenek.”


“Tidak! Anak itu bukanlah cucuku. Aku tidak mau memiliki cucu yang lahir dari rahim seorang wanita miskin seperti dirinya.”tegasnya.


Brak!


Addan memukul meja kerjanya dengan kuat, lalu mendorong berkas berkas-berkasnya hingga berceceran dilantai.


"Bos!"


"Tak menyangka, orang terdekat yang mengkhianatiku."


"...Tuan muda...saya__"


"Apalagi Bi? Dengan adanya bukti-bukti ini, apa Bibi tetap saja mengelak?"


“Tolong percaya kepada saya Tuan. Saya tidak pernah memiliki niat untuk mencelakai Nyonya muda. Saya menyayanginya seperti putri kandung saya sendiri"jelasnya, mencoba meyakinkan tuan mudanya itu.


“Lalu siapa yang mengirim pesan ini, kalau bukan Bibi? apakah Hantu?!"


"Tuan muda...saya mohon...percaya kepada saya..."ujar Bi Murni dan bersimpuh di kaki Addan.


"Untuk kali ini Bibi saya maafkan. T-tapi dengan syarat....Bibi keluar dari rumah ini, tidak usah lagi mengabdi kepada keluarga Nicolas."ujar Addan dengan suara yang sedikit bergetar, hatinya terasa perih mengucapkan kalimat itu.


Sangat berat rasanya mengusir Bi Murni yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri, wanita paruh baya yang sudah mengasuhnya sedari ia kecil. Namun, sungguh ia tidak bisa membiarkan orang yang hampir melukai anak dan istrinya, untuk tetap tinggal dikediamannya.


"Tu-tuan muda...hiks hiks..."Karena tak kuasa menahan air matanya lagi, Bi Murni pun bergegas pergi dari hadapan Addan dengan perasaan penuh akan kekecewaan.


Satu penghambat sudah diatasi. Tinggal satu lagi, dan setelah itu misiku akan berjalan dengan lancar. Kau benar-benar jenius Feni, batin Feni sambil tersenyum bangga.


FLASH BACK


"Belinda. Beri aku waktu lagi...Begitu sulit bagiku mencari celah-celah dalam melaksanakan misi ini. Coba kau perhatikan, wanita itu terus di awasi kemanapun dia pergi..."


"Dalam perjanjian waktumu cuman tiga minggu, tidak boleh lebih. Sekarang waktumu tersisa delapan hari lagi."tolak Belinda dengan tegas.


"Hufhh...Baiklah..."Feni menghela nafas kecewa.


Beberapa detik kemudian...


"Uhm...Bel, "panggilnya.


"Hm?"sahut Belinda malas.


"Kau pernah bilang, kalau kakak laki-lakimu merupakan tangan kanan dari Clan Soul Breaker."


Belinda mengerutkan alisnya,"hm lalu, Kau mau apa?"tanyanya.


"Minta bantuan Kakakmu itu, aku memiliki rencana cemerlang...Aku yakin dengan bantuannya, kali ini pasti berhasil."


"Rencana seperti apa yang kau pakai?"tanyanya lagi, ia menatap Feni dengan tatapan remeh. Wanita itu selama ini mana ada punya rencana, yang ia pikirkan hanya uang, uang, dan uang saja, pikir Belinda.


"Kita culik si bodyguard itu, dan secara bersamaan aku akan menaruh obat aborsi kedalam makanan Kana. Bagaimana, bagus tidak?"


Sejenak Belinda terdiam. Kalau dipikir-pikir ulang rencana Feni lumayan bagus, namun sesaat kemudian ia meragukan keberhasilannya.


"Kau tidak takut ketahuan, dan dikuliti hidup-hidup heh? Disemua sudut ruang dikediaman Nicolas, terpasang CCTV."


"Tenang saja...Itu masalah gampang bagiku__kau tinggal menikmati hasilnya saja, Nona..."balas Feni dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2