
Seorang pria sedang bersandar pada sebuah pohon besar yang terletak beberapa meter dari kediaman Nicolas. Sambil memantau kediaman Nicolas, ia menerima sebuah panggilan dari atasannya.
"Bagaimana perkembangannya? Apa kau sudah bertindak?" Tanya wanita di balik sambungan ponsel.
"Maaf Bos! wanita itu jarang sekali keluar rumah, di tambah lagi banyak bodyguard yang mengelilingi kediaman Nicolas."Saut seorang pria yang berjaket kulit bewarna hitam itu.
"Aishhh....kapan selesainya, kalau terus seperti ini? Sudah satu bulan, kau tetap saja terus menunda."Teriak wanita itu kesal, saking kerasnya dengan refleks pria berjaket hitam itu menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Sekali lagi saya minta maaf Bos. Saya akan berusaha mencari jalan keluarnya."
"Pokoknya! aku tidak mau tau kau harus cepat melenyapkan wanita itu. Kalau perlu ledakkan saja kediaman Nicolas itu, biar mampus semuanya tanpa sisa."Ucap wanita itu lagi dengan kejamnya.
"Bos! bagaimana kalau kita gunakan cara yang kedua. Kita kan mempunyai rencana cadangan."Ucap pria itu memberi solusi.
Beberapa menit kemudian, akhirnya wanita itu menjawab.
"Ok! Ku serahkan padamu. Carikan wanita jalang itu sekarang juga, untuk melancarkan misi balas dendamku. Jangan lupa imingi dia dengan uang, karena aku tau dia sangat takhluk kalau masalah uang."Ucap wanita itu dan terkekeh.
"Siap Bos!"Saut pria itu dengan semangat.
~~
Kana yang sedang merajuk, tidak menghiraukan Addan selama 2 hari ini. Tapi Kana tetap menyediakan pakaian kerja untuk Addan.
Addan yang di hiraukan tentu saja bertambah frustasi. Addan berharap hubungannya akan lebih baik, tapi ia malah tanpa sengaja menghancurkan kesempatan.
Kana yang merasa sangat bosan di rumah, pergi ke toko kue miliknya, tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Addan.Sesampainya di toko kue, mata Kana berbinar karena melihat begitu banyak pengunjung yang datang untuk membeli kue.
Kana menghampiri Raya yang kesulitan melayani pembeli. Saking ramenya pembeli, ruangan dalam toko penuh dan hanya menyisakan sedikit celah.
Kana menepuk pelan bahu Raya.
"Ray...kamu istirahat dulu, biar kakak yang melayani pembeli."Ucap Kana menawari bantuan.
"Eh...jangan Kak, nanti malah kakak yang kecapean. Kakak kan lagi hamil, lebih baik kakak istirahat di kamar kakak."Ucap Raya.
"Aku kesini tujuannya untuk membantu kamu di toko, bukan untuk istirahat Raya..."Protes Kana.
Raya melirik Kana sekilas.
"Tunggu sebentar ya Pak."Ucap Raya ramah kepada salah satu pembeli, dan diangguki oleh Bapak itu.
Raya menghadap ke arah Kana, lalu memutar balik badan Kana dan menuntunnya ke arah Sofa yang terletak di pojok toko kue.
"Eh...Raya! Kita mau kemana sih? Pembeli masih menunggu itu."Ucap Kana bingung karena di bawa pergi.
"Aku mengantar Kakak se sofa yang di pojok."
"Ngapain?" Tanya Kana.
Raya tidak menjawab pertanyaan Kana, ia terus menuntun Kana kemudian mendudukkan Kana di Sofa.
"Kakak duduk disini saja, tidak perlu membantu. Nanti, setelah pembeli sudah tidak rame lagi, kita akan mengobrol."Ucap Raya, lalu pergi meninggalkan Kana yang cemberut.
Kana yang tengah asik membaca majalah, tiba-tiba dikejutkan dengan suara gaduh yang berasal dari luar toko.
Kana yang penasaran, buru-buru melihat keluar, begitu pun Raya dan semua pembeli kue di toko juga ikut melihat kondisi di luar toko.
__ADS_1
Setibanya di luar toko, Kana begitu kaget melihat seorang pria menyiksa seorang wanita di hadapan orang banyak.
Wanita itu meraung-raung karena kesakitan, tetapi orang-orang disana cuman menyaksikan, tidak ada satupun di antara mereka yang mau membantunya.
"Ah! Sakit...ampun Mas..., aku benar-benar tidak punya uang saat ini."Wanita itu memohon, menangis dan bersujud di kaki pria yang menyiksanya itu.
"Alasan kau saja tidak punya uang, kemaren untuk membeli mesin cuci kau ada uang, tapi sekarang kau bilang tidak punya!"Teriak pria itu sambil menjambak rambut sang wanita dengan kasar.
"Ah....Sakit!!!"Teriak wanita itu yang kesakitan sambil memegang kedua tangan pria itu yang menjambak rambutnya.
Kana yang tidak tahan melihat perlakuan kasar si pria kepada istrinya, memberanikan diri menegur pria itu.
"Hei Tuan...Lepaskan dia!"Ucap Kana dengan nada agak tinggi.
Raya yang melihat aksi berani Kana, merasa cemas. Ia menghampiri lalu menarik lengan Kana dan meminta Kana untuk tidak ikut campur, tapi Kana tidak menghiraukan larangan dari Raya.
Pria itu mendorong kepala wanita yang rambutnya ia jambak, lalu menatap Kana dengan tajam.
"Diam Kau!Emangnya kau siapa sampai ikut campur urusanku?"Pria itu menatap Kana dengan tatapan tajam, lalu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya.
Kana yang melihat pria itu mengeluarkan pisau, merasa takut. Tapi ia berusaha tenang.
"Aku sangat benci dengan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Sepertinya kau ingin sekali merasakan sayatan dari pisau kecilku yang tajam ini, kalau begitu kemarilah."Ucap pria itu dengan sinis, sambil memainkan pisau kecil di tangannya.
"Kak!"Raya yang cemas dan memegang lengan Kana dengan erat.
"Tenang Raya, dia tidak akan berani melakukan itu di depan orang banyak."Bisik Kana meyakinkan Raya.
"Apa kau takut sekarang, Nona?"Ucap pria itu dan tersenyum sinis.
Pria itu sangat geram, atas ucapan dari Kana. Ia berjalan cepat ke arah Kana, membuat semua orang yang ada disana panik.
"Hari ini adalah hari kematianmu, Nona!"Ucap Pria itu dan tersenyum jahat, lalu menodongkan pisau kecilnya ke arah perut Kana.
Tubuh Kana bergetar, ia tidak menyangka ternyata pria itu sangat nekat. Kana menutupi perutnya dengan kedua tangannya dan memajam mata.
"Ya Allah...lindungilah kami."doa Kana dalam hati.
Belum sampai pisau itu menyentuh perut Kana, pisau yang di tangan pria itu terlempar jauh. Ternyata Sasha menendang tangan pria itu, namun tidak sampai disitu saja, dengan brutal Sasha menghajar lelaki itu yang berani melukai Nyonya mudanya.
Pria itu sudah tersungkur tak berdaya, tapi kaki Sasha tidak berhenti menendang ke seluruh bagian tubuh pria itu, hingga pria itu mengerang kesakitan dan memohon ampun baru Sasha berhenti.
Semua orang merasa ngeri melihat cara Sasha menghajar pria itu.
Sasha menjentikkan jarinya, kemudian datanglah empat pria berpakain hitam menghampirinya.
"Bawa pria ini ke markas.Katakan pada Soka, ada mangsa empuk yang enak untuk santapan Tigris, tidak perlu membeli daging lagi."Ucap Sasha lalu melirik tajam pria yang ia hajar tadi, sehingga tubuh pria itu bergetar hebat karena takut.
"Baik Bos"Saut keempat bawahan Sasha secara bersamaan, kemudian mereka menarik paksa pria yang tak berdaya itu menjauh dari kerumunan.
"Ampun....jangan bunuh saya!"Teriak pria itu memohon ampun, namun Sasha tidak menghiraukannya.
Sasha membalikkan badannya menghadap Kana, kemudian tersenyum dan membungkuk hormat.
"Nyonya! Apa anda terluka?" Tanya Sasha setelah menegakkan badannya.
"Mmmm?"Kana yang masih dilanda bingung.
__ADS_1
Tapi tak lama kemudian, ia merasakan perih pada punggung tangannya yang tergores pisau."Shhhhh...."
"Astaga! mari Nyonya, saya obati." Sasha yang khawatir melihat Kana terluka, menarik pelan lengan Kana dan membawanya ke sebuah mobil sedan bewarna hitam.
Kana menatap punggung Sasha yang menariknya dengan perasaan takut dan cemas. Sedangkan Raya hanya melihat Kana yang di tarik Sasha tanpa menegurnya, karena ia berpikir bahwa Sasha adalah teman Kana.
"A, anda...siapa ya?"Tanya Kana dengan nada gugup disertai keringat dingin ketika sudah berada di dalam mobil.
"Saya Bodyguard yang diperintahkan Tuan muda untuk melindungi anda, Nyonya."Ucap Sasha kemudian membungkukkan punggungnya sebagai tanda hormat.
"Bo..bodyguard?"Kana yang gugup.
"Iya Nyonya, saya bodyguard anda. Saya memantau kegiatan anda dari kejauhan."
"Se..sejak kapan?"
"Sudah tujuh tahun lamanya saya di tugaskan oleh Tuan muda, menjadi bodyguard anda. Dan ini pertama kalinya saya menampakkan diri di hadapan anda."
Di dalam mobil sedan bewarna hitam, Sasha dan Kana tanpa henti mengobrol, bahkan mereka sudah terlihat akrab saja padahal baru beberapa menit lalu bertatap muka.
"Yasudah terimakasih karena sudah menyelamatkan dan mengobati lukaku, Sasha. Kalau begitu aku masuk ke dalam toko dulu."
"Apa anda tidak pulang saja Nyonya? Biar anda bisa istirahat dengan tenang di rumah."
"Tidak usah! Aku bisa istirahat nanti di toko."Tolak Kana.
"Tapi luka anda...."
"Tidak apa-apa, cuma luka sedikit. Tidak masalah, nanti lukanya pasti sudah mengering."
"Baiklah! Jika itu keinginan Nyonya, Saya akan tetap berada disini hingga anda pulang nanti."
Kana dan Sasha masuk ke dalam toko kue, lalu mereka berdua duduk di sebuah kursi couple.
"Ok...Hmmm....Apa kamu mau secangkir teh atau kopi?"Tawar Kana dan menampakkan senyumannya yang manis.
"Hmmmm itu, Nyonya. Saya...kalau haus, biar saya saja yang membuatnya sendiri."Ucap Sasha yang canggung dan segan jika majikannya yang membuatkannya minuman, walau ia merasa haus.
"Ah! Tidak apa-apa, jangan sungkan. Ayo! Mau kopi atau Teh?"Ucap Kana yang bersikeras.
"Hmmm itu...terserah Nyonya saja."Ucap Sasha yang tak enak, tapi apa mau di kata kerongkongannya sudah terasa kering.
Setelah meminum air teh yang di seduhkan oleh Kana, Sasha merasakan lega karena kerongkongannya sudah di basahi dengan air minum.
Kana dan Sasha melanjutkan obrolannya, dan tentu saja si Raya yang cerewet ikut nimbrung. Entah apa yang mereka obrolkan, hanya mereka saja yang tau.
Sedangkan seorang wanita di balik jendela toko, terlihat kesal dan mengepalkan tangannya.
"Sial!"Ucap wanita itu kesal.
Bersambung...
_
_
Hy Guys, jangan lupa LIKE, FAVORIT and VOTE nya ya. Agar author lebih semangat lagi update nya.🥰 Dada...see you next time 👋 Assalammu'alaikum.
__ADS_1