You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Interogasi


__ADS_3

_Assalammu'alaikum Readersku...Kita jumpa lagi 😁🙏


_HAPPY READING🥰


_


“Lepas! Mau kalian bawa kemana saya hah..?”Pekik Feni dan memberontak ketika dua orang pria berbadan kekar menyergap dan mencengkram kuat pergelangan tangannya.


“Diam kau!”Bentak salah satu pria itu.


“Kubilang lepas..atau aku akan berteriak…!”Feni semakin memberontak, kakinya bergerak lincah kesana-kemari walaupun tingkahnya itu tak membuahkan hasil.


Plak!


Sebuah tamparan dari anak buah Soka itu, mendarat dipipinya hingga membuat Feni terdiam sejenak.


“Diam kau, kalau tak mau mati sekarang juga!”Bentaknya.


Bukannya diam dan menurut, Feni malah tambah menggila, ucapan si pria hanya ia anggap angin lalu saja. Bahkan ia dengan sengaja membenturkan kepalanya ke dagu si pria sehingga pria itu mengaduh kesakitan dan spontan melepaskan cengkramannya pada lengan Feni.


“Ck!”Soka mendecih kesal. Sedari tadi tingkah Feni membuatnya kesal hingga kesabarannya habis. Ia pun maju mendekati wanita itu dari belakang, lalu…


Bugh!


Memukul tengkuk leher Feni hingga membuatnya pingsan. Setelah membuat Feni pingsan, Soka menyuruh anak buahnya membopong tubuh wanita itu dan dimuat kedalam mobil.


“Bawa dia ke markas, nanti akan kususul kalian.”


“Baik Bos!”sahut mereka.


Soka yang hendak membuka pintu mobilnya dan pergi, tiba-tiba teringkat akan sesuatu.


“Oh ya, wanita ini jangan kalian apa-apakan dulu sebelum aku dan Bos Addan tiba”


Soka sangat mengenal sifat anak buahnya, mereka pasti akan langsung menyiksa wanita itu jika tak diberi peringatan. Jadi, sebelum mendapat pengakuan dari Feni, Soka harus melarang anak buahnya menyentuh wanita itu.


“Baik Bos”


......................


Didalam ruang yang minim cahaya, Feni didudukkan diatas kursi dengan tangan dan kaki yang terikat serta mulut yang diberi lakban.


Bulu matanya yang lentik mulai bergerak-gerak karena merasakan cahaya yang semakin lama semakian menusuk matanya.


“Bos, dia sudah bangun.”Ujar salah satu bodyguard, ditangannya terdapat sebuah lentera yang mengarah kewajah Feni.


“Ok, kita mulai saja introgasinya.”


Feni samar-samar mendengar suara pria yang amat dikenalnya, dibukanya mata lebar-lebar, hal pertama yang dia lihat adalah sosok Addan yang tengah duduk berhadapan dengannya.

__ADS_1


“Mmmmm…mmmm?”Feni seketika panik, iapun meronta-ronta. Belum juga misi kedua terlaksana, dirinya sudah lebih dulu tertangkap.


“Kau takut sekali melihatku, padahal aku belum melakukan apapun padamu. Biasanya seseorang yang memiliki ekpresi ketakutan seperti ekpresimu yang sekarang, apabila dia melakukan suatu kesalahan.”Ucap Addan penuh penekanan, tatapannya yang tajam membuat nyali Feni semakin ciut.


Feni menggeleng keras, menyangkal perkataan Addan.”Mmmmm…mmm”


Addan memijit pelipisnya, dia baru ingat, mulut wanita itu dilakban, mana bisalah dia buka suara.


“Buka lakban dimulutnya!”Perintahnya pada salah satu anak buahnya.


“Auuch…sakit brengsek!”Umpat Feni pada anak buah Addan. Lakban yang dimulutnya dicabut secara kasar akibatnya, bibirnya terasa perih dan panas.


“Diam…”ucap Addan dingin yang sontak membuat isi ruangan senyap.


“Mengakulah, maka hukumanmu akan kuringankan, dari hukuman mati dariku menjadi hukuman penjara seumur hidup.”


“Ma-maksud Tuan a-a-apa..? saya tidak mengerti.” Elak Feni dan berusaha setenang mungkin.


“Jangan berpura-pura lagi…kau kan, yang mencelakai Nyonya?”Timpal Soka dengan nada tinggi sambil mengayunkan sebilah pisau tajam keleher wanita itu.


“Bu-bu-bukan…Tuan, sa-saya ti-tidak tau apa-apa…”Feni semakin risau, wajahnya mulai dibanjiri keringat dingin, tubuhnya bergetar hebat, dan dengan susah payah menelan saliva. Pisau itu sedikit menggores kulit lehernya.


P-pria ini…lebih kejam daripada Addan…, teriak batin Feni ketakutan.


Soka terus mendesaknya, pisau ditangannya pun semakin ia rapatkan keleher wanita itu. Sedangkan Addan hanya diam menonton aksinya.


Tidak mungkinkan... anakmu yang belum genap berusia lima tahun itu yang melakukannya…”


Ucapan Soka tidaklah terdengar seperti pertanyaan namun lebih tepat disebut sebuah paksaan yang hanya boleh dijawab dengan kata ‘iya’ agar pria itu bebas, bebas dalam artian menyiksa perempuan itu tanpa belas kasihan.


“Ti-tidak…Tuan, bukan, bukan aku yang mendorong Nyonya, bukan aku pelakunya...”Ucap Feni gelagapan tanpa ia sadari tatapan seseorang didalam ruangan itu seakan-akan ingin mencabiknya hidup-hidup.


Addan berdiri. “Kau bilang, bukan kau yang mendorong istriku hingga jatuh dari tangga, kan…?


Feni mengangguk mantap.


Sejenak Addan dan Soka saling melempar pandangan, kemudian kembali menatap wajah kusut Feni.


"Darimana kau mengetahuinya?Apa sebelumnya kami pernah mengatakan kalau ia jatuh dari dari tangga karena ada yang mendorongnya?”lanjutnya.


DEG!


Feni menggigit bibir bawahnya. Matilah…betapa bodohnya aku…


...****************...


D tempat lain dan diwaktu yang bersamaan.


Plak!

__ADS_1


“Apa-apan kau Mian!”Pekik Belinda tak terima, baru pulang ia sudah disuguhkan sebuah tamparan dari kakak tirinya.


“Itu adalah hukuman yang pantas kau terima, j**ang*! Sudah kubilang, jangan sampai rencana yang kau buat melukainya!”


Plak! kembali pria itu melayangkan tamparannya ke pipi gadis itu.


Rasa kesalnya menjadi-jadi pada Belinda ketika teringat kondisi Kana yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Yang mana itu semua adalah ulah sang adik tiri.


“Brengs*** kau, berani-bera__.” Belum selesai Belinda menyelesaikan kalimatnya, dirinya sudah lebih dulu kena jambakan sang kakak tiri.


“Kyaa…!!! Sakit…sakiit brengs*** lepassshh...”Gadis itu memukul-mukul lengan pria itu supaya melepaskan rambutnya.


“Ternyata kau bisa juga merasakan sakit heh…? Apa kau tau, rasa sakitmu ini tidaklah sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh kekasihku?!” Sinisnya seraya menyeret Belinda keluar rumah.


“Shhh…bukannya kau yang menyetujui rencanaku hehh…kenapa kau hanya menyalahkanku? Sialan….”


“Ya. Tapi kupikir kau menyuruh wanita suruhanmu itu hanya memasukkan obat penggugur kandungan saja kedalam makanan Kana. Tak kusangka ia malah menggunakan kekerasan...”


“Seharusnya sedari awal aku tak usah bekerjasama denganmu.


Pergi! Pergi kau dari sini! sebelum aku benar-benar ingin membunuhmu.” Pria itu mendorong tubuh Belinda hingga gadis itu terduduk bersimpuh diteras.


“Kau pikir siapa kau?...Berani-beraninya kau mengusirku! Aku ini anak dari istri sahnya Daddy!”Tekannya agar pria itu tau siapa yang lebih berkuasa.


Namun itu semua hanya lelucon bagi pria itu.


“Pffftt…Ini rumahku yang dihadiahkan si Pak Tua, kalau kau lupa…adikku sayang...”Ujarnya seraya menekankan kata 'adikku sayang' dan tersenyum smirk, “kembalilah kepangkuan Daddymu,,,”


“Grrr…k-kau…”Geram Belinda.


“Ajudan!”Teriaknya.


“Iya Bos?”Sahut bodyguard.


“Seret wanita ini, dan jangan biarkan dia memasuki kediamanku lagi!”


“Baik Bos.”


“Sialan kau Dam! Suatu hari nanti akan kubalas perbuatanmu ini!”


"Kutunggu!"Tantangnya dan tersenyum remeh.


“Percuma, percuma kau membela wanita itu, dia tidak akan pernah berpaling padamu hahaha…dasar pria bucin yang idiot!”Sorak Belinda yang mulai menggila dari pintu gerbang.


"Cepat bawa dia pergi!"Teriak pria itu pada bodyguardnya.


"Heh! Seperti kau saja yang tidak bucin idiot..."Gumamnya setelah Belinda benar-benar menghilang dari pandangannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2