You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
Terpaksa Memutuskan Menikah


__ADS_3

“Pergi!” Teriak Kana dengan keadaan mata yang sudah berkaca- kaca sambil berjalan mundur masuk kedalam rumah.


"Tenang Na, kita bicarakan baik-baik ya?" Ucap Lani menenangkan Kana.


"Suruh dia pergi! aku tidak mau melihat wajahnya." Ucap Kana sedikit berteriak.


Dengan sigap pria tersebut menarik Kana, sehingga mereka berhadapan, jarak mereka hanya selangkah.


“Aku kesini menjemputmu, lusa kita akan menikah!” Tegas Addan menatap Kana yang ketakutan sambil meremas tangan mungil Kana digenggamannya.


Ya pria tersebut adalah Addan, ia tak akan pernah melepaskan Kana karena Kana telah mengisi penuh pikiran dan hatinya.


“Aku tidak mau……pergi kamu dari sini!" Teriak Kana, sambil berusaha melepaskan tangannya yang di genggam Addan


"Mau, tidak mau. Aku akan tetap menikahimu, aku tidak terima kata penolakan." Ucap Addan yang tidak mau dibantah.


"Kamu pikir pernikahan yang didasarkan paksaan dan tidak ada cinta, akan bertahan lama?"Ucap Kana ketus, lalu menghempaskan tangan Addan yang menggenggam tangannya hingga terlepas.


Kana yang lembut, kini sudah berbicara kasar. Kana yang selalu tersenyum padanya dulu, kini sudah menatapnya dengan penuh kebencian~batin Addan sedih.


"Aku cinta kamu Na, dan suatu saat nanti kamu akan cinta juga sama aku."Ucap Addan dan menatap Kana sendu.


"Sudahlah Dan...lupakan aku." Ucap Kana santai, lalu membalikkan badannya membelakangi Addan.


Kana hendak masuk ke rumah, di cegah lagi oleh tangan Addan yang kini memegang erat lengannya.


"Melupakanmu? Tidak Na, tidak! Aku sudah berbuat sejauh ini, dan sekarang kamu malah memintaku melupakanmu? Tidak akan pernah!"Ucap Addan yang geram akan ucapan Kana.


"Ingat! Kamu sedang mengandung anakku, tolong pikirkan lagi." Ucap Addan lagi dengan suara agak keras.


"Kamu sudah punya tunangan dan akan segera menikah , aku tak mau menjadi penghalang dalam hubungan kalian. Aku bisa membesarkan anak ini sendiri.” Ucap Kana dengan suara sedikit gemetar, ia berusaha bersikap santai. Tapi tidak bisa, karena entah kenapa ia merasakan rasa sakit yang menjalar dihatinya setelah melontarkan kata itu.


“Kamu salah paham! Aku dan wanita itu bukanlah tunangan sungguhan. Wanita yang ingin kunikahi adalah dirimu seorang dan tak akan ada wanita lain.”Saut Addan menatap Kana dalam, lalu meletakkan telapak tangan Kana ke dadanya.


Lani, Lano, Nena dan Raya. Mereka hanya diam melihat percakapan keduanya, mereka tidak ingin terlalu ikut campur urusan keduanya.


“Aku tak percaya padamu, kamu dan laki-laki yang pernah kukenal tak ada satupun yang tulus. Aku tak akan pernah termakan ucapan manismu itu. Sekarang enyahlah dari hadapanku. Sudah cukup kamu menghancurkan hidupku, jadi kumohon jangan lagi” Ucap Kana yang sudah meneteskan air mata, lalu mendorong Addan untuk menjauh.


Addan pun terbawa emosi mendengar ucapan Kana, ia pun dengan sigap langsung mengendong Kana ala bridal style.


Semua orang yang ada disana tak dapat berkutip, karena mereka yakin Addan tak akan melukai Kana.


”Turunkan aku brengsek……… turun kan aku” Teriak Kana dan meronta- ronta sambil memukul dada Addan.


Addan tak menghiraukan kicauan Kana ia tetap menggendong Kana dan memasukkan Kana kedalam mobilnya.


Didalam mobil.


”Lusa kita akan menikah. Lebih baik kamu menurut saja, pikirkan masa depan anak kita” Ucap Addan lalu mencium kening Kana.


Kana yang sudah berada dalam mobil hanya memalingkan wajah ke arah jendela mobil dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


”Aku tidak mau menikah denganmu, dasar pemaksa. Aku tak mencintai...”Ucapan Kana pun terhenti karena Addan memutar kepalanya hingga mereka berhadapan,kemudian dengan secepat kilat Addan langsung menyambar bibir ranum Kana.


”Mmmmmm.. mmm” Kana meronta sambil memukul dada Addan.


Tak lama kemudian Addan pun melepaskan ciumannya.


” Aku tak peduli jika kamu menolak atau tidak. Sekarang kamu pikirkan anak yang kamu kandung, apa kamu tega membiarkan anak itu tidak memiliki keluarga yang utuh?” Ucap Addan yang terdengar marah dan langsung melajukan mobilnya untuk pulang kekediaman Nicolas, mobil Lano pun juga ikut menyusul.


Dalam mobil, tak ada satupun yang memulai pembicaraan, hening.


Setelah 2 jam lebih lamanya menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di kediaman Nicolas.


Addan pun keluar dari mobil lalu berjalan ke arah pintu mobil samping Kana dan langsung membukakan pintu mobil untuk Kana, namun Kana tak mau keluar ia malah enggan untuk keluar, kembali ke kediaman Nicolas.


Addan yang melihat tingkah Kana, tak ambil pusing, ia pun langsung menggendong Kana ala bridal style, awalnya Kana memberontak namun lama kelamaan pasrah hingga tak sadar mengalungkan tangan ke leher Addan yang kokoh karena takut terjatuh.


Lano, Lani, Nena, dan Raya juga ikut menyusul turun dari mobil Lano dan pergi masuk ke kediaman Nicolas nan megah bak istana itu.


Dalam perjalanan masuk kedalam rumah, Kana tak sadar telah memandang wajah tampan Addan dan tanpa sadar menyentuh tonjolan di leher Addan yaitu jakunnya.


”Ekhmmm…. Apa aku tampan? sentuhlah, itu semua milikmu, tapi sekarang jangan menggodaku sayang, aku tak sungkan jika memakanmu disini!” Ucap addan menggoda Kana dalam gendongannya.


Kana yang mendengar ucapan Addan, langsung melepaskan tangannya dari leher Addan dan berhenti menatap wajah tampan Addan, Pipi Kana bersemu merah karena malu dengan apa yang ia lakukan dan perkataan mesum Addan tadi.


"Dasar bocah narsis dan mesum." Ucap Kana pelan.


Meski pelan ucapannya itu, Addan masih bisa mendengarnya. Addan hanya tersenyum menanggapi ucapan Kana.


Setiba di ruang tamu Addan langsung mendudukkan Kana di sofa.


Nena pun memulai pembicaraan


”Kak… aku tau ini egois dan tak memikirkan perasaanmu, tapi kami melakukan ini demi kamu dan bayi yang kamu kandung. Kami tak mau ada rumor buruk tentang kamu. Pikirkan baik baik ya?” bujuk Nena pada kakaknya.


”Kak , awalnya aku tak setuju kakak nikah sama dia( tunjuk Kana kearah Addan) tapi, aku yakin ia bisa membuat Kakak bahagia. Untuk saat ini pikirkan anak kakak, soal cinta nantinya pasti akan berangsur ada, seiring berjalannya waktu. Oke?” Bujuk Raya meyakinkan Kana.


Kana pun menjadi ragu, ia berpikir mungkin ada benarnya dengan apa yang dikatakan kedua adiknya.


”Tapi…..” Ucapan Kana terputus oleh ucapan Lano.


'”Kamu tenang saja, jika Addan berani menyakitimu. kami tak akan tinggal diam, Kami selalu ada untukmu, mendukungmu. kami semua dipihakmu.” Ucap Lano sekali lagi meyakinkan Kana.


Addan yang mendengarkan ucapan saudaranya hanya diam, ia hanya menatap Kana menunggu jawaban.


“Na percayalah padaku, aku tak akan menyakitimu aku akan membahagiakanmu dan juga anak-anak kita kelak. Itulah janjiku padamu. Mereka berdua( lano dan Lani) tau sifatku, jika berjanji aku tidak pernah mengingkarinya." Ucap Addan menatap Kana serius.


Kana yang mendengar tuturan Addan hanya menunduk, ia bingung untuk mengambil keputusan.


" Na?" Ucap Lano.


Setelah lumayan lama bergelut dengan pikirannya, akhirnya Kana pun angkat bicara.

__ADS_1


”Ba...baiklah” Ucap Kana lalu meneteskan air mata, entah karena bahagia atau sedih ia tak tau perasaannya saat ini.


”Maksudnya?” Ucap Addan mencari keseriusan dimata Kana yang sudah berkaca-kaca.


”Aku mau menikah denganmu” ucap Kana dengan sekali tarik napas, lalu menundukkan kepalanya lagi.


Addan tak dapat berkutip lagi, ia benar-benar bahagia inilah moment yg selama ini ia tunggu-tunggu yaitu diterima pujaan hatinya meskipun dengan cara memaksa, Addan tersenyum senang lalu memeluk Kana erat.


Ia benar-benar gila dibuatnya setelah mendengar ucapan Kana yang mau menikah dengannya, ini terasa mimpi baginya. Cinta benar- benar membuatnya gila.


"Tapi bisakah di tunda satu bulan lagi? Aku tidak bisa menikah lusa, itu terlalu cepat" Ucap Kana lagi.


Mendengar Ucapan Kana, Addan pun membantahnya.


"Kamu ingin menikah satu bulan lagi?Ingat Na!Jika kita menunda pernikahan kita, orang-orang akan tau bahwa kamu hamil di luar nikah dan orang akan memandang buruk dirimu. Usia pernikahan kita baru 6 bulan, tapi kamu sudah melahirkan. Dan itu pasti menimbulkan pertanyaan dari masyarakat Na, apalagi aku ini banyak di wawancara reporter dan sering masuk TV." Ucap Addan.


"Kalau pun kita menikah lusa, itu sama saja. Karena sekarang usia kandunganku sudah masuk minggu ke tujuh."


Addan yang mendengar ucapan Kana, langsung terdiam. Ia benar-benar sudah kalah berdebat dengan Kana.


"Na, apakah harus menunggu selama itu?Lebih baik kamu menikah saja lusa, jangan tunda lagi. Satu bulan kemudian, pasti perutmu sudah agak membesar. Jadi mumpung perutmu masih kecil, lebih baik kamu menikah saja lusa." Ucap Lani angkat bicara.


Mendengar ucapan Lani, dengan terpaksa Kana mengiyakan. Karena apa yang dikatakan Lani benar menurutnya.


Semua yang ada disana lega mendengarnya, Lani segera menghubungi pemilik butik gaun pernikahan dan jas untuk Addan sedangkan Lano menghubungi pemilik pelaminan. Kalau masalah tempat melaksanakan pernikahan, Keluarga Nicolas memiliki hotel mewah sendiri. Mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan, tidak butuh waktu yang lama bagi Lano dan Lani mempersiapkan itu semua.


~


Kana sedang termenung di depan kolam renang di halaman belakang kediaman Nicolas, ia memikirkan keputusannya tadi, apa keputusannya itu tepat untuk menikah dengan Addan.


Tiba –tiba ada sebuah tangan yang menepuk bahunya sehingga membuat Kana terkejut, lalu ia pun menolehkan kepalanya ke belakang yang ternyata itu adalah Raya.


”Raya kamu mengagetkan saja, bagaimana kalau bayi Kakak syok.” Ucap Kana sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.


”Aku tau apa yang sedang kakak pikirkan, apa yang kakak putuskan itu sangatlah benar. Percayalah pada kami Kak Addan pasti akan membuatmu bahagia, aku dan kak Nena tak mungkin memberikan keputusan yang buruk untukmu.”


“Kenapa kamu sangat yakin dengannya( Addan)?” Tanya Kana.


”Ya...karena aku melihat ketulusannya padamu. Caranya dia memandangmu, dan tuturan katanya yang lembut padamu. Sedangkan pada kami ataupun orang lain, caranya berbicara itu terkesan datar.” Ucap Raya penuh keyakinan.


"Itu sih pikiran kamu, belum tentu seperti itu dalam pikirannya." Ucap Kana membantah.


"Kak, jangan menganggap semua laki-laki itu sama. Hanya karena kamu dikhianati dua kali, aku yakin Kak Addan itu ngak sama seperti mereka."


"Kenapa sih, Kamu belain dia? Dia tu udah menyakitiku, dia sudah merenggut paksa sesuatu yang paling berharga bagiku." Ucap Kana yang sudah mulai marah.


”Kak, kamu tau. Kamu bukan lagi seperti kakak Kana yang lembut dan pemalu yang aku kenal, kamu sekarang kesannya seperti orang yang mudah emosi kayak Kak Addan."


"Ck! jangan samakan aku dengan dia." Ucap Kana yang sudah mulai malas mengobrol dengan Raya.


"Jangan benci amat sama ayah janin Kakak, nanti bisa cinta mati dan ngak bisa jauh dari Kak Addan.” Ucap Raya yang kemudian beranjak pergi dari pinggir kolam tersebut dan meninggalkan Kana yang sedang memikirkan perkatannya.

__ADS_1


”Terserah kamu bilang apa, Ray.” Ucap Kana kemudian mengelus perutnya dengan sayang sambil tersenyum.


Bersambung...


__ADS_2