You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Aku Akan Mencoba Menerimamu, Mas


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian, di panti asuhan.


"Kakak cantik! Beneran ada dedek bayi disini ya?" Tanya salah satu anak panti asuhan yang bernama Rosa dengan wajah ceria sambil mengelus-ngelus perut Kana yang sedikit buncit.


"Iya sayang..."Jawab Kana dan mengelus sayang kepala Rossa.


"Laki-laki atau perempuan ya Kak?" Tanya gadis dengan wajah polosnya.


"Kakak juga ngak tau sayang...,Kamu sukanya laki-laki atau perempuan? Tanya Kana dan tersenyum.


"Hmmm...Aku sukanya perempuan Kak."Ucap Rosa semangat.


"Kenapa?" Tanya Kana sambil menyubit pipi temben gadis itu dengan gemas.


"Karena kalau perempuan, bisa aku ajak main masak-masakan bersama."


"Doakan saja ya sayang, semoga kakak melahirkan anak perempuan."Ucap Kana lalu mengelus kembali kepala gadis itu.


~


Di kamar Ibu Sofi


"Ibu..."Sapa Kana yang melihat Bu Sofi yang sedang menjahit baju anak-anak panti.


"Ah! Nak. Kamu sudah selesai mengobrol dengan Rosa di kamarnya, ayok sini duduk."Ucap Bu Sofi dengan raut bahagia sambil menepuk-nepuk kursi disebelahnya.


Kana pun duduk disamping Bu Sofi yang sedang menjahit.


"Lagi banyak kegiatan ya Bu? Ada yang bisa Kana bantu?"Tawar Kana lalu memegang salah satu baju anak panti yang akan dijahit.


"Iya Nak. Ibu tidak usah kamu bantu, sebentar lagi selesai. Lebih baik kamu duduk saja dengan tenang sambil lihat ibu menjahit."Tolak Bu Sofi dan tersenyum.


"Yasudah, baiklah Bu."Ucapnya pasrah lalu meletakkan pakaian anak panti yang ia pegang.


"Kamu kesini sendiri lagi?" Tanya Bu Sofi tanpa berhenti menjahit.


"Tidak Bu, Kana kesini dengan bodyguard yang diperintahkan oleh Mas Addan untuk mengikuti kemana pun Kana pergi."


"Oh begitu...Ternyata dia sangat menjaga kamu ya Nak. Sepertinya hubunganmu dengan suamimu sudah berkembang, mendengar kamu sudah mengubah panggilanmu untuknya."Ucap Bu Sofi dan tersenyum bahagia menatap Kana.


"Mmmm..itu...aku."Ucap Kana gugup.


"Ada apa nak?Kalian sedang bertengkar?"Tanya Bu Sofi yang khawatir melihat ekpresi Kana.


Kana yang bingung mau jawab apa, terpaksa diam.


Bu Sofi yang melihat kebungkaman Kana, menghentikan kegiatan menjahit dan fokus pada Kana yang duduk disampingnya.


"Nak! Apa begitu susah menerimanya? Padahal kemaren-kemaren itu kamu sudah..."Tanya Bu Sofi dan menggenggam tangan Kana dengan erat.


"Aku takut ibu...aku takut dikecewakan lagi. Sudah tiga kali aku menjalin hubungan, tapi semuanya tidak ada yang tulus cinta sama aku."Ucap Kana memotong ucapan Bu Sofi dengan raut wajah sedih.


"Kan sudah ibu katakan beberapa hari yang lalu. Bahwa tidak semua pria sama seperti mereka. Ibu yakin kalau nak Addan tidak akan berbuat hal yang sama, terlihat jelas kalau dia itu tulus padamu. Tapi, Ibu tidak akan memaksamu untuk menerima Addan dihatimu. Ibu cuman minta kamu untuk bertingkah sebagaimana istri pada umumnya, mengantar suami sampai depan pintu ketika ia akan berangkat kerja, menyambut suami ketika ia pulang kerja dan menyiapkan semua kebutuhannya."


"Ibu...apa itu harus dilakukan? Sepertinya Kana tidak bisa bu."Keluh Kana yang merasa itu semua terlalu berlebihan.


"Jangan dulu mengatakan tidak bisa, kalau tidak dicoba sayang. Lakukan karena janin yang kamu kandung, maka semuanya tidak akan sulit nak "


"Aku akan berusaha Ibu."

__ADS_1


Sudah tiga jam Kana berada di panti asuhan, ia pun memutuskan pulang kerumah. Tapi sebelum itu tentu ia tidak lupa pamit terlebih dahulu kepada Bu Sofi dan anak-anak panti.


Sasha yang menunggu Kana di luar panti, ketika melihat Kana berjalan ke arahnya, dengan sigap Sasha membukakan pintu mobil untuk Kana.


"Silahkan Nyonya."Ucap Sasha mempersilahkan Kana masuk.


"Terimakasih."Kana tersenyum lalu masuk kedalam mobil.


Dalam perjalanan pulang, Kana hanya diam memandang ke arah luar jendela mobil sambil melamunkan ucapan Bu Sofi tadi.


"Nyonya? Nyonya?"Sasha sedikit berteriak menyadarkan Kana yang larut dengan lamunannya.


Sedari tadi Sasha berbicara dengan Kana, tapi tidak ada respon.


"Ah! iya Sa?" Saut Kana yang kaget kemudian mengalihkan pandangannya ke arah bangku depan.


"Nyonya kenapa? Dari tadi saya ajak bicara tapi Nyonya tidak menyaut sama sekali."Ucap Sasha yang tetap fokus pada kemudinya.


"Ah! Maaf Sa, aku tadi lagi asiknya sama pikiran sendiri, jadi ngak terdengar apa yang kamu katakan."Ucapnya dan terkekeh.


"Tidak apa-apa Nyonya. Jangan terlalu larut dalam pikiran nanti kesurupan." Canda Sasha dan terkekeh.


"Hahaha...ada-ada saja kamu Sa. Ya sudah fokus nyetirnya, jangan sering-sering menghadapkan kepala ke belakang nanti terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan."


"Baik Nyonya."Ucap Sasha sambil menganggukkan kepalanya kemudian memfokus diri menyetir mobil.


~


Malam harinya, Kana menunggu kepulangan Addan. Ia akan mempratekkan seperti apa yang ibu Sofi katakan untuk menyambut suaminya pulang.


Tak lama kemudian suara mesin mobil Addan terdengar dari luar. Kana membuka pintu besar kediaman Nicolas, dan menunggu Addan disana.


Addan yang sudah memasukkan mobilnya kedalam garasi, keluar dari mobil kemudian berjalan ke arah pintu masuk rumah.


Kemudian, Ia pun teringat bahwasanya saat ini Kana tengah mengandung, dengan cepat melangkahkan kaki mendekati Kana yang terlihat sedang menggesek-gesek kedua tangannya karena udara malam yang dingin.


"Kana. Kenapa kamu berdiri di depan pintu malam-malam begini, udaranya dingin loh.”Ucap Addan yang khawatir, ia pun melepaskan jasnya lalu mengenakannya ketubuh Kana.


"Ayo masuk, nanti kamu masuk angin."Ucapnya lagi dan menggandeng tangan Kana untuk masuk kedalam rumah.


"Tunggu Mas!"Ucap Kana menghentikan langkah Addan.Tanpa pikir panjang Kana menarik tangan Addan lalu mencium bagian pungung tangannya.


Addan yang melihat tingkah Kana yang tak terduga dan tiba-tiba, hanya diam mematung memandang wajah cantik Kana yang bersemu merah. Kana yang ditatap addan seperti itu menjadi salah tingkah.


“Mmmas?Mas?!!”Kana yang sedikit berteriak sehingga membuyarkan lamunan Addan.


“Ah Ya!”Saut addan yang terkejut.


“Mas kenapa?Kurang enak badan kah?”Tanya Kana dan memandang Addan dari atas hingga bawah.


“Tidak! Mas baik-baik saja Dek.”Ucap Addan dan tersenyum, Kana hanya menganggukan kepalanya.


Addan merasa sangat bahagia atas perlakuan Kana, tak henti-hentinya ia memandang wajah cantik Kana.


“ Itu apa ya Mas?”Tanya Kana ketika sadar dengan apa yang di pegang Addan. Kana menunjuk sebuah plastik bewarna hitam di tangan Addan.


“Oh iya, Mas lupa kasih ke Adek. Ini tahu brontak kesukaan adek, Mas yakin adek setiap malam pasti lapar terus.”Ucap Addan lalu memberikan plastik yang berisi tahu brontak itu kepada Kana. Dan Kana pun menerimanya dengan senang hati, tapi senyumannya ia tahan.


“Tahu brontak?”

__ADS_1


“Mas yakin Adek setiap malam pasti lapar terus, jadi mas beliin kamu makanan untuk pengganjal perut ketika lapar di tengah malam.”


“Tapi ini banyak banget loh Mas.”Ucapnya.


“Mas sengaja membelinya banyak, agar Adek ngak susah buat makanan ditengah malam. Nanti, kalau lapar sekitar pukul 12 hingga 3 dini hari, Adek bisa panaskan tahu brontaknya."Ucap Addan dengan nada lembut.


Tiba-tiba Kana teringat dengan makanan yang selama ini selalu tersedia di dalam kulkas dan diatas meja makan setiap malam.


“Apa Mas yang setiap malam membelikan makanan, kemudian menaruhnya di atas meja makan dan di kulkas?”Tanya Kana.


“Iya, kenapa?Adek tidak suka dengan makanan yang Mas belikan?”Tanya Addan.


“Tidak. Adek suka kok Mas.”Kana tersenyum ketika melihat ekpresi Addan yang terlihat begitu antusias padanya.


“Syukurlah kalau kamu suka.”Ucap Addan lega.”Yasudah, ayo dimakan tahu brontaknya nanti keburu dingin.”Ucapnya lagi.


“Iya Mas.”


Kana meletakkan tahu brontak yang dibelikan Addan tadi kedalam piring, lalu membawanya ke meja makan.


Addan pun ikut menemani Kana menyantapi tahu brontak, ia tidak akan membiarkan istrinya sendirian di meja makan.


Kana makan dengan lahap hingga lupa menawarkan tahu brontak itu kepada Addan. Addan yang melihat cara makan Kana yang tergesa-gesa, ia hanya tersenyum sambil menggigit ujung bibirnya karena saking gemasnya melihat tingkah Kana yang tidak ada malu-malunya ketika makan dengan cara seperti orang rakus itu.


Addan yang teringat akan pertanyaannya yang sedari tadi mengganjal di pikirannya pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya sebab, Ia merasa aneh atas perubahan sikap Kana yang tiba-tiba itu.


"Dek."


"Hemm...?"Saut Kana yang masih dalam keadaan mengunyah tahu brontak.


"Sebenarnya kamu kenapa? Kok tiba-tiba sikapmu terhadap Mas berubah secara tiba-tiba?"Tanya Addan yang heran.


Kana menghentikan acara mengunyahnya dan menelannya dengan dibantu dengan meneguk segelas air.


"Mas ngak suka, aku bersikap seperti ini?"Tanya Kana balik.


"Tidak! Bukan Mas tidak suka, malah Mas sangat senang, tapi Mas cuman kaget atas perubahan kamu secara tiba-tiba."Kana hanya diam mendengar perkataan Addan.


Tak lama kemudian Kana pun bersuara setelah lumayan lama bergelut dengan pikirannya.


"Aku akan mencoba untuk menerima kamu Mas sebagai suamiku."Ucap Kana dengan suara yang terdengar sangat pelan.


Addan mendengar samar-samar ucapan dari Kana, tersenyum.


"Ap...Appa? Coba kamu ulangi lagi!" Untuk memastikan Addan mendekatkan telinganya ke arah Kana.


Kana yang kesal akan tingkah Addan, mendorong tubuh Addan agar sedikit menjauh. Addan pun tergeser hingga beberapa centi meter, namun senyumannya tak luntur, ia tetap menunggu Kana mengucapkan kalimat itu lagi.


"Ayo sayang...Tolong kamu katakan lagi."Ucap Addan yang membuat Kana merinding mendengar kata sayang yang diucapkannya.


Addan yang melihat Kana yang bungkam, tanpa izin menggengam erat sebelah tangan Kana yang terletak dia atas meja.


"Hishh....Aku bilang, aku akan mencoba menerimamu sebagai Suami!"Ucap Kana kesal dengan sedikit berteriak ke wajah Addan sambil menyingkirkan tangan Addan yang bertengger di tangannya.


"Benarkah?"Addan dengan wajah berseri-seri.


"Mmmm..."Kana mengganggukkan kepalanya.


"Baguslah...Terimakasih sayang...Mas janji akan membahagiakanmu."Ucap Addan dan tersenyum senang lalu memeluk Kana yang duduk berhadapan dengannya. Ia merasa sangat bahagia, akhirnya Kana mulai mau menerimanya.

__ADS_1


Kana yang di peluk oleh Addan hanya diam membeku, tubuhnya tidak menolak pelukan Addan, tapi justru pelukan Addan terasa nyaman baginya.


Bersambung...


__ADS_2