
Sudah 1 minggu usia pernikahan Addan dan Kana, namun belum juga ada kemajuan hubungan antara keduanya.
Kana yang terkesan tak acuh kepada Addan, ia pun juga memilih pisah ranjang, karena ia masih merasakan trauma akan kejadian ketika Addan melecehkannya.
Awalnya Addan menolak keras keputusan Kana untuk pisah ranjang, tapi Lano menasehati Addan untuk menuruti permintaan Kana. Kalau Kana sudah tenang dan bisa menerima kehadiran Addan sebagai suaminya, baru Addan dan Kana tidur seranjang. Sehingga dengan terpaksa Addan menujui permintaan itu yang menurutnya menyiksa batinnya.
Meskipun Kana bersikap seperti itu terhadapnya, Addan tak pernah menyerah memberikan perhatian kepada Kana, setiap pagi sebelum berangkat ke kantor Addan selalu menyempatkan diri membuatkan susu hangat Ibu hamil untuk Kana.
Rasa cintanya kepada sang istri, membuat Addan selalu extra sabar menghadapi kebungkaman Kana terhadapnya. Semua sikap yang di tunjukkan Kana kepadanya selalu ia maklumi, karena Kana bersikap seperti itu berasal dari ulahnya.
Sebelum menikah, Addan biasanya pulang jam sepuluh malam, sekarang telah rajin pulang lebih awal yakni jam setengah enam sore.
Itu ia lakukan agar ada waktu bersama sang istri, kalau dia pulang seperti biasa, pasti tidak akan bertemu dengan Kana karena mereka tidur tidak sekamar dan juga ia sengaja cepat pulang karena ingin menjadi suami dan ayah yang siap siaga.
"Bi, Nanti kalau istri saya sudah bangun. Minta dia untuk minum susu ibu hamil yang saya buat tadi ya, lalu masakkan makanan sehat untuknya"Ucap Addan dan diangguki Bi Murni.
"Baik Tuan muda."
Setelah mengatakan itu, Addan pun pergi ke kantornya dengan di temani Soka yang sedari tadi menunggunya di dalam mobil sport milik Addan.
~~
Jam 10.45 Kana bangun dari tidurnya sambil menguap lebar dan mengucek kedua matanya secara bergantian. Lalu mengarahkan bola matanya ke arah jam dinding kamarnya.
"Astagfirullah...dasar kebo kamu ya Na, jam sepuluh lewat baru bangun?"gerutu Kana pada dirinya sendiri lalu menepuk dahinya pelan.
Kana menyibakkan selimutnya kemudian turun dari ranjangnya, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
30 menit kemudian, setelah mandi dan berpakaian. Kana pun turun ke bawah menuju ruang makan karena perutnya terasa sangat lapar.
Di meja makan, tidak ada satupun orang yang terlihat disana, melihat hal itu Kana pun menghela nafas panjang.
"Tentu saja sudah tidak ada lagi yang sarapan. Hari aja sudah hampir siang."Ucap Kana lalu menepuk jidatnya lagi dengan pelan sambil tersenyum lemah.
Bibi Murni yang melihat nyonya mudanya sudah bangun, langsung menghampirinya.
"Nak...Eh nyonya muda maksudnya! Nyonya, ayo duduk dulu terus minum susu yang diatas meja itu ya?" Ucap Bi Murni dan tersenyum ke arah Kana.
"Susu? Addan lagi yang buat ya Bi?"Tanya Kana memastikan, karena selama seminggu ini, Addanlah yang selalu membuatkan susu hamil untuknya.
"Ya siapa lagi nyonya, kalau bukan tuan Addan. Kami kan dilarang buat susu untuk nyonya kecuali Tuan Addan lupa. Tuan juga bilang kalau yang buat susu hamil untuk nyonya, itu merupakan pekerjaannya.
__ADS_1
"Hmm ya sudah Bi. Oh iya Bi! Apakah ada yang bisa aku makan hari ini? perutku lapar banget bi.." Ucap Kana dengan manja sambil mengusap pelan perutnya yang sedikit menonjol itu, lalu memamerkan deretan giginya yang putih kepada Bi Murni.
"Ada Nyonya! Tunggu Ya, Bibi ambilkan dulu makanannya ya Nyonya."Seru Bi Murni, lalu berjalan ke dapur mengambil makanan yang sudah ia masak khusus untuk Kana beberapa menit yang lalu. Tapi sebelum meletakkan makanan itu di meja makan, tentu saja ia panaskan terlebih dahulu.
Bi Murni menyusun beberapa macam makanan sehat khusus ibu hamil di hadapan Kana. Kana memperhatikan gerak -gerik tangan Bi Murni, lalu berkata.
"Bibi berapa kali aku bilang, jangan panggil aku nyonya dong. Panggil aku seperti biasa Bibi manggil aku Ya?." Pinta Kana sambil cemberut.
"Maaf nyonya muda yang cantik dan manisku. Itu semua sudah aturan dari keluarga Nicolas secara turun temurun, siapapun yang bekerja di kediaman Nicolas ,ia wajib memanggil istri majikannya dengan sebutan Nyonya." Ucap Bi Murni sambil tersenyum kearah Kana.
"Hmmm yasudah terserah Bibi aja deh...Tapi kita tetap bersikap seperti biasakan?" Ucap Kana pasrah.
"Tentu saja tidak seperti dulu lagi Nyonya, sekarang kamu adalah majikan Bibi." Ucap Bi Murni.
Mendengar Ucapan Bi Murni, Kana bertambah cemberut.
"Tapi bagi Bibi.Nyonya tetaplah Bibi anggap sebagai anak sendiri, Bibi Sayang....banget sama Nyonya."Ucap Bi Murni kemudian tersenyum dan menatap Kana sayang seperti seorang Ibu yang menyayangi anaknya.
Mendengar Ucapan Bi Murni, Kana tersenyum bahagia.
~~
Sekitar pukul setengah dua siang, Addan pulang kerumah, karena ia merasa tak enak badan dan kepalanya pun terasa pusing, semua pekerjaan di perusahaan di hundle oleh Soka.
Dirinya pun juga merasa rindu kepada sang istri, padahal baru beberapa jam yang lalu ia berjauhan darinya.
Setibanya di kediaman Nicolas. Addan langsung berjalan ke kamarnya, karena kepalanya terasa semakin berat, semua pelayan dan pembantu rumah heran melihat majikannya yang tumben pulang ketika waktu makan siang, biasanya Addan pulang paling cepat jam setengah enam sore.
Di kediaman Nicolas, selain pelayan dan pembantu, disana hanya ada Kana sang nyonya muda yang sedang membuat kue di dapur, tanpa di bantu oleh pembantu, bahkan koki keluarga Nicolas.
Bi Isah yang melihat muka pucat Tuan mudanya itu, langsung melangkah cepat ke arah dapur menghampiri Kana yang sedang membuat kue.
“Permisi Nyonya muda” Ucap Bi Isah dengan raut muka cemas.
"Ya ada apa ya Bi?" Tanya Kana yang masih sibuk mengaduk adonan kuenya tanpa mengalihkan pandangannya
“Tuan muda sudah pulang, tadi saya lihat tuan dalam keadaan pucat sepertinya tuan muda sakit Nyonya.”Ucap Bi isah dengan khawatir.
Mendengar ucapan Bi Isah, Kana langsung menghentikan aktifitasnya lalu mengalihkan pandangan ke arah Bi Isah yang terlihat khawatir.
“Beneran Bi? sekarang Addan dimana?”Tanya Kana yang sedikit khawatir.
__ADS_1
“Beneran nyonya. Tuan muda sekarang berada dikamar, mungkin lagi istirahat. Silahkan Nyonya muda lihat keadaaan Tuan muda."
"Oh Baik Bi" Saut Kana lalu mencuci tangannya yang terkena adonan kue.
"Kalau begitu saya permisi dulu karena saya mau buang sampah ini dulu, Nyonya muda.” Ucap Bi Isah dan membungkukkan badan tanda hormat kemudian pergi ke arah pintu belakang membuang sampah.
Kana dengan segera meninggalkan pekerjaannya dan meminta salah satu koki untuk melanjutkan proses pembuatan kue. Koki- koki di kediaman Nicolas baru beberapa hari ini di perkerjakan oleh Addan demi sang istri tercinta.
Kana segera pergi kekamar yang ditempati oleh Addan, karena dirinya dengan Addan tidur secara terpisah.Setelah masuk kedalam kamar, disana ia melihat Addan yang tengah tidur telentang sambil tangan kanannya berada diatas kepala.
Addan tertidur dengan masih menggunakan kemeja dan jas serta masih menggunakan sepatu.
Kana yang melihat keadaannya seperti itu merasa kasihan, tanpa ragu Kana menghampiri Addan dan membantu melepaskan sepatu dan kaus kaki yang dikenakan Addan.
Kana menyingkirkan tangan Addan, kemudian memegang kening Addan yang ternyata panas, dan entah kenapa ia menjadi khawatir pada suaminya itu.
"Ya Allah, Addan...kepala kamu panas banget..." Ucap Kana kahawatir dengan nada lembut sambil memegang kening Addan.
Addan yang sudah tertidur tidak mendengar apa yang Kana ucapkan.
Baju yang dikenakan Addan pun di penuhi dengan keringat, dengan terpaksa Kana mengganti baju yang dikenakan Addan.
Dengan ragu-ragu, Kana melepaskan kancing kemeja Addan satu persatu. Setelah semuanya terlepas, mata Kana terbelalak seketika. Karena ia melihat badan dan perut kotak-kotak milik Addan, dengan susah payah Kana menelan salivanya.
"Ish! Kana, jangan malu-maluin dong. Masak kamu jadi orang mesum sekarang, lemah amat imanmu, padahal kan pernah melihat itu sebelumnya." gumam Kana pelan dengan malu-malu sambil menepuk-nepuk kedua pipinya pelan.
Setelah melepas pakaian bagian atas tubuh Addan, kini mata Kana beralih ke arah celana dasar yang di kenakan Addan.
"Ya Allah...apakah harus aku membukanya? Bagaimana jika dia bangun, terus aku di katain mesum." Ucap Kana berkeluh kesah dalam hati sambil menghadapkan kepalanya ke loteng kamar.
"Ah bodo amat dah...Kan niatku baik" Ucap Kana, setelah lumayan lama berpikir.
Kana menanggalkan celana dasar yang di kenakan Addan secara perlahan hingga terlepas, tapi sebelum itu, tentu Kana membuka ikat pinggangnya terlebih dahulu.
Sekarang yang melekat di tubuh Addan hanya sebuah ****** ***** bewarna abu-abu. Wajah Kana memerah padam karena tanpa sengaja melihat sesuatu yang menonjol yang lumayan besar dari ****** ***** Addan itu.
"Astagfirullah...mataku ternodai, menyesal rasanya melepaskan celananya."Gerutu Kana kesal pada dirinya sendiri.
Kemudian Kana memakaikan pakaian kaos bewarnya hitam ke tubuh Addan, tapi tidak dengan memakai celana untuk Addan. Karena jika memakaikan celana rumahan untuk Addan, pasti Kana akan melihat benda milik Addan, yang menurutnya mengerikan itu.
Setelah mengganti pakaian Addan, Kanapun langsung mengompres kening Addan yang terasa panas.
__ADS_1
Beberapa jam lamanya Kana menjaga Addan, hingga melewatkan jam makan malamnya, ia pun tak sengaja tertidur di samping Addan hingga menjelang esok hari.
Bersambung....