
Sehabis dari rumah sakit, pasangan suami istri itu tidak langsung kembali keVila. Mereka terlebih dahulu mampir disalah satu pedagang kaki lima dipinggir jalan.
Kana yang tiba-tiba merengek minta dibelikan ketoprak, mau tak mau Addan pun harus menuruti keinginan istrinya itu walaupun ia tidak yakin akan kehigienisan makanan dipinggir jalan.
"Dek...mending kita makan direstoran saja ya? Disana pasti ada yang jual ketoprak, martabak telor pun juga ada. Apapun yang kamu mau, semuanya ada disana."Bujuk Addan. Saat melihat gerobak pedagang ketoprak itu yang tampak kucel, hampir saja membuat selera makannya hilang.
"Ngak mau! Aku maunya makan ketoprak disitu."Tolak Kana tegas sambil menunjuk gerobak pedagang ketoprak.
Addan merangkul pundak istrinya seraya mendekatkan bibirnya ketelinga sang istri. "Lihat tuh Dek, gerobaknya kotor..."bisiknya.
"Memangnya gerobaknya yang bakal kumakan, Mas? Ngak kan...? jadi ayo makan disitu."Kana menepis tangan Addan yang bertengger dipundaknya.
"Dek..."
"Ini keinginan anak kita loh, Mas..."Rengeknya dengan memasang tampang memelas sembari mengusap-ngusap perutnya sendiri. "Apa kamu ngak kasihan...?"
"Hufhh...baiklah..."ujar Addan pasrah. Untuk kali ini ia biarkan istrinya itu memakan makanan pinggir jalan. Namun untuk kedepannya tidak ada lagi ceritanya.
Pasangan suami istri itu menghampiri pedagang.
"Bang...! pesan tiga piring ya..."ucap Kana penuh semangat pada pedagang ketoprak, dan diiyakan oleh pedagang itu.
A-apa tiga piring?!!, teriak batin Addan kaget.
"Dek...memangnya kamu sanggup menghabiskan tiga piring ketoprak?"
"Sanggup....Tenang aja kamu Mas."Kana mengacungkan jempolnya kehadapan Addan.
Kamu pesan juga ya? Enak loh Mas ketoprak disini, yang direstoran mah...kalah..."Sambungnya.
Addan menganggukkan kepalanya lemah, dirinya terlalu sulit menolak keinginan istrinya itu.
"....Bang saya pesan satu ya, ngak usah pake cabe rawit."Ucap Addan pada pedagang ketoprak.
"Ehh... bukannya sudah dipesanin Mbaknya ya Mas?"
"Bukan Bang, tiga piring tadi cuman untuk saya seorang."Timpal Kana.
"Hehehe...lagi ngidam ya Mbak?"tanya pedagang ketoprak yang baru sadar kalau Kana lagi hamil.
"Ya...bisa dibilang gitulah Bang."
"Ok siap Mbak. Silahkan duduk dulu Mbak dan Masnya....Nanti kaki Mbaknya kram kalau berdiri lama-lama..."Pedagang ketoprak menunjuk meja dan kursi plastik dibelakangnya, yang memang sudah tersedia untuk pembeli.
"Iya Bang, makasih"balas Kana sopan, kemudian duduk ditempat yang ditunjuk oleh pedagang tadi.
"Eh...kok kamu masih berdiri, duduk dong Mas..."Kana menepuk-nepuk kursi plastik disampingnya.
Addan pun langsung duduk disamping Kana sambil sesekali memperhatikan pedagang ketoprak meracik bumbu ketoprak.
Tak lama kemudian pesanan ketopraknya pun sudah siap.
"Ini Mbak, Mas, ketopraknya. Selamat menikmati..."Ucap pedagang ketoprak sambil menempatkan tiga piring ketoprak didepan Kana dan sepiring didepan Addan.
"Makasih Bang..."Balas Kana dan tersenyum ke pedagang ketoprak. Sementara Addan hanya menganggukkan kepalanya, sudut bibirnya terasa kaku untuk tersenyum pada orang lain.
"Iya...sama-sama..."Pedagang itupun balik ketempatnya, melayani pembeli lainnya.
"Dek...i-ini...kamu yakin bisa memghabiskannya?"tunjuk Addan pada ketiga ketoprak didepan istrinya dengan ekspresi tak yakin.
"Umm..."Kana dengan mantap menganggukkan kepalanya. Dan mulai memasukkan ketoprak kedalam mulutnya.
Addan menatap lekat Kana, bibirnya tersungging. Istrinya itu sangat menggemaskan saat melahap ketoprak, padahal dimata orang lain mungkin saat itu cara makan Kana seperti orang yang belum makan seharian.
"Lah...kok Mas belum mulai nyantap ketopraknya?"tanya Kana bingung sambil ngelap saus kacang dipinggir bibirnya.
__ADS_1
Nanti digerubingi lalat loh...cepat habiskan!" sambungnya.
Addan tersentak.
"Eh i-iya dek...ini Mas mau makan."Addan mulai menyendokkan ketopraknya kedalam mulutnya.
"Gimana? enakkan...?"tanya Kana disela-sela makan.
Addan mengangguk kecil sambil terus menyendokkan ketoprak kemulutnya. Ia tidak menyangka ternyata makanan dipinggir jalan tidak kalah lezatnya dibanding makanan direstoran.
Beberapa menit kemudian Kana menyudahi acara santap-menyantap ketopraknya.
"Ah...alhamdulillah kenyang..."ucapnya seraya mengelus-ngelus perutnya.
"Sayang...ketoprak yang dua piringnya lagi ngak kamu makan?"tanya Addan saat mendapati dua piring ketoprak yang belum tersentuh.
"Ngak ah, buat Mas aja."
"Mana kuat Mas menghabiskannya Dek.....Ketoprak Mas aja belum habis!"
"Yaudah bungkus aja Mas, kita bawa pulang!" Balasnya acuh tak acuh.
Addan meraup wajahnya agak kasar seraya menghela nafas panjang. Dasar bumil! Mending satu piring saja pesan dari awal, kalau ujung-ujungnya sisanya dibawa pulang.
"Ok deh..."
Addan menghampiri pedagang ketoprak, namun saat hendak membayar ternyata dompetnya ketinggalan didalam mobilnya.
"Bang, tunggu dulu ya? dompet saya ketinggalan didalam mobil."
"Oh i-iya Mas..."
Addan menoleh kearah istrinya.
"Mau kemana Mas...?"
"Dompet Mas ketinggalan didalam mobil. Mas ambil dulu ya...? Jangan kemana-mana."Addan mencium kening Kana sebelum beranjak pergi, yang membuat istrinya itu bersemu merah.
"I-iya...Mas."sahut Kana malu-malu.
Sepeninggalan Addan, datanglah dua orang wanita, yang satu duduk berhadapan dengan Kana dan yang satunya lagi duduk disisi kirinya.
"Cowok yang berpapasan dengan kita tadi, ganteng banget ya...?"ucap wanita (1)
"Cowok bule yang pake kemeja biru laut tadi ya?"
Cowok bule pake kemeja biru?...Mas Addan kan pake kemeja biru ... batin Kana.
Kana yang tadinya acuh tak acuh pada dua wanita itu, kini terpancing mendengarkan obrolan mereka. Sebab, suaminya yang menjadi topiknya.
"Hu'um..."Wanita (1) menganggukkkan kepalanya semangat,"ganteng banget....Kalau gue nikah sama dia, pasti anak kami lucu-lucu..."
"Heleh...imajinasimu ketinggian...Pria itu belum tentu mau sama kamu..."Cibir wanita (2) sambil mendorong ringan bahu temannya. Kemudian mereka tertawa cekikikan.
"Ya mana tauan kan? Gue cantik, jadi ya...pasti cocoklah sama tuh cowok."Ucapnya percaya diri.
Brak!..Kana tanpa sadar menggebrak meja, hatinya terasa terbakar mendengar haluan wanita itu. Saat itu ia tidak menyadari bahwa dirinya tengah cemburu.
"Apa-apaan sih Mbak? Bikin kami kaget aja..."bentak wanita (1).
"Iya...Apasih masalahmu, Mbak?"sambung wanita (2)
"Eh...apa yang barusan saja kulakukan? Aduh....malu banget aku...."ucapnya dalam hati, sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.
"Dek...Yuk kita pulang sayang..."Ajak Addan yang baru balik dari mobil.
__ADS_1
"Woah...! itu dia...Tapi siapa yang dipanggilnya 'sayang'?"Bisik wanita (1) pada temannya.
"Aku mungkin..."ucap wanita (2) memanasi temannya. Hingga akhirnya timbullah sedikit pertengkaran antara keduanya.
Percuma kalian bertengkar, orang yang dipanggil sayang, bukanlah salah satu diantara kalian...batin Kana sambil menatap jengah kedua wanita itu.
Kana berdiri, lalu berjalan kearah Addan dan langsung memeluk lengan suaminya itu posesif. Tentu hal itu membuat Addan kaget sekaligus bingung bercampur senang.
"A-ada apa Dek?" tanya Addan gugup.
"Ayuk suamiku!"ucapnya manja dan melirik sinis kedua wanita tadi yang juga tengah menatapnya.
"A-apa dia bilang, suamiku?"Hati Addan berbunga-bunga, matanya tak lepas memandang istrinya.
Mendengar kata 'suamiku' dari mulut Kana, membuat kedua wanita itu terperangah. Ternyata pria yang mereka kagumi sudah beristri.
Kana menangkap jelas raut kecewa mereka, iapun tersenyum bangga.
"Kena mental kan...? Mangkanya jangan sembarangan ngomong. Dia itu suamiku tau! "Ucapnya dalam hati. Mana berani dirinya mengucapkan kata-kata itu secara langsung pada kedua wanita itu.
Kana menghampiri pedagang ketoprak dengan masih mengamit lengan Addan, karena takut kalau salah satu wanita tadi nekat mendekati suaminya.
"Terimakasih Bang, ketopraknya enak banget..."Pujinya seraya mengacungkan jempolnya.
"Terimakasih kembali Mbak...Kapan-kapan mampir lagi ya Mbak?"
"Sipp...Kalau begitu kami permisi ya Bang..."Pamit Kana ke pedagang ketoprak. Kemudian menarik Addan menjauhi pedagang ketoprak itu, lebih tepatnya menjauhkan suaminya dari kedua wanita tadi.
"Iya Mbak...hati-hati dijalan Mbak, Mas..."Balas pedagang itu dan tersenyum ramah.
Pasangan suami istripun berlalu dari tempat pedagang ketoprak tersebut. Dan melanjutkan perjalanan mereka pulang ke Vila.
...****************...
Keesokan harinya...
Hobby menatap jengah Ghani yang sedari tadi bergerak-gerak gelisah ditempat duduknya, bahkan pemuda itu sesekali berdiri sambil menggigit jari.
“Apa pantatmu berbisul, sehingga kau duduk dalam kegelisahan?”
Ghani melirik Hobby sekilas.”Bisa diam ngak bang? Pikiranku lagi kacau nih.”
"Gimana bisa gue diam. Melihat kelakuan lo kayak gini, bikin gue pusing tau!!"
Kalau ingin bersama Raya, maka dekati dulu orang terdekatnya. Misalnya Kana...”Lanjutnya.
“Bercanda ya? Kak Kana kan selalu mengangapku musuhnya. Mana mau dia membantuku.”ujar Ghani lesu.
“Mangkanya…jangan selalu menjahilinya. Kau taulah…bumil itu sensitive banget, ngak boleh disinggung. Untung pawangnya ngak ngamuk, kalau iya kan kau tambah dibuatnya tak berdaya.”
“Pawang Kak Kana?...Si-siapa?”
“Ya…Addanlah…siapa lagi memangnya?”
Ghani mencibir. “Ngak kebalik tuh? Yang seharusnya jadi pawang kan Kak Kana, Bang Addan kan tipe suami takut istri…hahaha…”ujarnya dan diakhiri dengan tawa.
Hobby hanya tertawa sumbang, sebab ia melihat sosok yang berdiri menyeramkan dibelakang Ghani.
“Lebih baik kau tutup mulutmu sekarang deh Ghan.”
“Ternyata dibelakangku, kau berani menggunjingi dan menertawakanku ya, Ghan.”
Suara bariton itu berhasil membuat Ghani terdiam seribu bahasa. Dengan takut-takut ia menoleh kebelakang, ternyata sosok yang dibicarakannya sudah berdiri tepat dibelakangnya.
Bersambung...
__ADS_1