You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 10


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, secerah rona wajah Dara yang tampak ceria. Gadis itu terburu-buru mengenakan sepatu hak nya. Bergegas ia keluar kamar. Melangkah cepat keluar rumah, menuju mobilnya yang terparkir di depan teras rumah.


Mama Maya yang kebetulan sedang menyapu teras rumah pagi itu, terkejut melihat putri semata wayangnya tampak rapi dalam balutan busana formal. Bahkan rambut panjangnya terkuncir rapi.


"Dara?" Sapa Mama Maya. Membuat Dara menghentikan langkahnya sejenak.


"Tumben, pagi-pagi begini sudah rapi? Emang, kerja di kafe begini tampilannya ya?" Mama Maya mengamati tampilan Dara dari ujung kaki hingga ke ujung kepala dengan dahi mengerut.


"Siapa yang kerja di kafe? Aku ini sekarang adalah Asisten Dosen Universitas Pelita Bangsa." Dara sedikit menyombongkan diri. Dengan penuh percaya diri ia memberitahukan pekerjaan yang baru akan digelutinya saat ini.


Mama Maya tersenyum lebar.


"Kamu nggak kesambet kan Dar?" Sembari menempelkan punggung jemarinya ke dahi putrinya.


"Atau mungkin kamu lagi demam." Tambahnya sok-sok bertampang cemas. Yang sebenarnya ia ingin meledek putrinya.


Dara kesal dan menghempas kasar tangan mama nya.


"Mama kebangetan deh. Aku serius Ma. Bu Nadia, dosen ku waktu kuliah dulu, dia menawariku jadi Asdos nya untuk sementara ini. Kebetulan sekarang dia sudah jadi Dekan. Karena kesibukannya sebagai Dekan itulah makanya dia butuh asisten untuk mengisi jam mata kuliah nya." Terang Dara panjang lebar dengan wajah masam.


Mama Maya pun tersenyum lembut. Ia tahu dulu Dara pernah menjadi Asdos Bu Nadia. Jadi, jika sekarang Dara mengaku Bu Nadia menawarinya menjadi Asdos lagi, ia percaya. Hanya saja ia iseng, ingin mengerjai putrinya itu.


"Ya udah Ma. Aku berangkat dulu. Takut telat. Doakan aku ya Ma, semoga aku bisa menyelesaikan tugas ku dengan baik." Dara pun bergegas ke mobilnya setelah menyalimi mama nya.


"Hati-hati ya Dar. Jangan ngebut. Mama akan terus mendoakan kamu. Semoga hari mu menyenangkan." Seru Mama Maya setengah berteriak. Sebab Dara telah lebih dulu naik ke mobilnya. Sejurus kemudian, mobil Dara mulai bergerak keluar dari halaman rumah.


Mama Maya melambaikan tangannya mengiringi kepergian putrinya.


.


.


Universitas Pelita Bangsa.


Kaivan melangkah panjang menyusuri koridor kampus untuk sampai ke kelas, tempat ia akan menyampaikan materinya hari ini sesuai dengan jadwal nya.


Sampai pada kelas yang ia tuju, Kai menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu kelas itu. Dari dalam terdengar suara gaduh. Begitu Kai memasuki kelas itu, seketika kegaduhan itu pun terhenti.


"Selamat pagi." Sapa Kai tegas penuh wibawa.


Serentak, para mahasiswa dan mahasiswi membalas sapaan Kai.


"Selamat pagi, Pak."


"Sebelum kita mulai kelas hari ini, sebelumnya ijinkan saya memperkenalkan diri." Ujar Kai sembari menyapukan pandangannya ke seisi ruangan. Memandangi mahasiswa dan mahasiswi satu per satu.


Diantara nya, salah satu nya ada Yuli. Adik Yola, sahabat Dara. Bukan hanya Yuli, semua mahasiswi dalam kelas itu begitu terpesona melihat Kai.


"Perkenalkan, saya Kaivan Arsenio. Dosen Bahasa Inggris yang baru." Ujar Kai.


"Pak, boleh nanya nggak?" Tanya seorang mahasiswi sambil mengacungkan tangan kanannya.


"Boleh. Silahkan." Jawab Kai.


"Bapak sudah punya pasangan nggak sih?" Tanya mahasiswi itu tak tahu malu.


Kai menyunggingkan senyum tipisnya. Membuat para mahasiswi semakin terpesona.

__ADS_1


"Menurut kamu?" Kai malah mengalihkan pertanyaan itu kembali.


"Bapak bikin penasaran aja deh."


Kai hanya tersenyum. Diliriknya arloji yang melingkari pergelangan tangan kiri nya.


"Kalau begitu, mari kita mulai saja kelasnya. Setelah ini, akan ada sesi tanya jawab. Silahkan bertanya apapun yang ingin kalian tanyakan. Tapi setelah materi ini selesai." Ujar Kai tak menghiraukan lagi, meski ada mahasiswi lain yang mengacungkan jarinya. Ingin memberikan pertanyaan pada Kai.


Kai pun segera membuka materi pagi itu. Kelas tampak mulai tenang.


.


.


Sementara di lain tempat. Sebelumnya Dara mampir sebentar ke toko bunga yang pernah ia singgahi tempo hari. Ia begitu ingin membeli sebuah buket bunga untuk ia berikan kepada Bu Nadia. Sebagai ucapan terima kasihnya. Karena telah menariknya keluar dari kubangan keputusasaan. Lantaran telah kehilangan arah dan tak tahu mesti berbuat apa lagi.


Bu Nadia datang sebagai penolongnya disaat yang tepat. Untuk itu ia merasa sangat berterima kasih.


Dara menyapukan pandangannya. Mencari bunga yang paling cantik diantara yang tercantik. Ia sedikit kebingungan harus memilih yang mana. Lantaran bunga-bunga itu begitu cantiknya.


Seorang karyawan pun datang menghampirinya.


"Maaf, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang karyawan wanita.


Dara tersentak. "Eh, iya. Saya mau memesan buket bunga. Tapi saya bingung harus memilih bunga yang mana. Masalahnya bunga-bunga nya cantik-cantik semua. Saya jadi bingung."


"Bunganya mau diberikan untuk siapa?"


"Untuk atasan saya."


"Perempuan. Kira-kira buket bunga seperti apa yang cocok ya?" Dara tampak berpikir sejenak.


"Kalau soal itu, Mbak tidak perlu cemas. Majikan saya ahlinya. Biar dia yang bantu memilih bunganya untuk Mbak."


"Oh, boleh,boleh."


"Saya panggilkan majikan saya dulu."


Belum sempat karyawan itu melangkahkan kakinya, seorang wanita cantik datang menghampiri. Wanita cantik itu sedang menggendong seorang anak kecil yang berusia sekitar satu tahun.


"Ada apa ini? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu santun.


"Ini Bu Joanna. Mbak ini kebingungan memilih bunga yang cocok untuk diberikan kepada atasannya." Jawab karyawan itu.


Dara mengangguk sembari mengurai senyumnya.


"Oooh ... Mau saya yang pilihkan?" Tawar wanita cantik itu yang dipanggil Joanna.


"Boleh, boleh. Buket bunga nya hanya sebagai ucapan terima kasih saja." Sahut Dara cepat.


Wanita yang bernama Joanna menyerahkan anak kecil dalam gendongannya kepada karyawan wanita itu. Lalu mulai memilih-milih bunga untuk ia jadikan sebuah buket bunga.


"Atasan kamu suka nya bunga jenis apa?" Tanya Joanna.


"Saya kurang tau."


"Orangnya seperti apa?"

__ADS_1


"Orangnya baik, ramah, dan ..." Dara tampak berpikir sejenak. Mengingat-ingat seperti apa seorang Bu Nadia yang ia kenal.


Joanna tersenyum. Lalu mengambil beberapa tangkai bunga tulip berwarna putih.


.


.


Dara melangkah panjang menyusuri koridor Fakultas Bahasa dan Sastra untuk sampai ke ruangan Dekan. Ditangannya ada sebuah buket bunga yang cantik untuk ia berikan kepada Dekan.


Namun, saat melewati sebuah ruang kelas, mendadak langkahnya terhenti. Sebab indera pendengarannya menangkap suara yang tak asing lagi.


Perlahan Dara melangkah lebih mendekati pintu ruangan itu. Memilih mengintip dari balik pintu. Netra nya menangkap sesosok pria yang tampak tak asing lagi tengah berdiri di depan dengan wajah tersenyum.


Pria itu, Kai yang tengah menerima berbagai pertanyaan nyeleneh dari mahasiswa sedang tersenyum-senyum.


"Pak, Bapak tau nggak. Chris Evans kan jadi Kapten Amerika. Nah, kalau Bapak jadi kapten di hati aku aja Pak." Ujar seorang mahasiswi menggombali Kai tanpa malu-malu.


Kai hanya tersenyum mendengar gombalan receh itu. Sedangkan di balik pintu, Dara justru tersenyum kecut. Ia masih kesal jika mengingat perlakuan Kai kemarin di kafe.


"Kapten Amerika? Nggak salah? Yang ada kamu itu kapten rusuh. Nyebelin, ngeselin. Pokoknya kamu itu makhluk paling menyeramkan sedunia." Geram Dara lirih.


Mulut Dara komat-kamit sendiri saking jengkel nya. Sampai-sampai ia tak menyadari ada seorang mahasiswa yang tanpa sengaja melihatnya berdiri di pintu ruangan. Dengan posisi seperti orang yang sedang mengintip.


"Maaf Pak Kai. Sepertinya ada mahasiswa yang terlambat." Ujar salah seorang mahasiswa sambil menunjuk ke arah pintu.


"Oh ya?" Kai mengerutkan dahinya. Lalu memalingkan wajahnya, memandang ke arah pintu.


Tampak ada kepala yang terlihat dari balik pintu yang sedikit terbuka itu. Kai lupa menutup pintu itu rapat. Hingga menyisakan sedikit cela untuk seseorang bisa mengintip dari balik pintu itu.


"Siapa di situ?" Tanya Kai sembari membawa langkahnya perlahan mendekati pintu itu. Begitu dekat, Kai langsung membuka daun pintu itu lebar-lebar.


Dara yang panik lantaran aksi ngintip nya ketahuan, bergegas memutar tubuhnya hendak melarikan diri. Akan tetapi, entah kenapa tiba-tiba saja dahinya malah terantuk dinding. Bunyi benturan keras pun terdengar jelas. Hingga Dara kesakitan.


BUGH


"Aww!" Pekik Dara kencang sambil mengelus dahinya yang terasa sakit. Dara meringis, sambil berusaha menyembunyikan wajahnya.


Kai berusaha menahan tawanya menyaksikan hal itu.


Sementara kelas heboh. Semua yang ada dalam kelas itu tertawa terpingkal-pingkal. Merasa lucu akan insiden yang tak terduga itu.


"Kamu mahasiswi? Kenapa terlambat?" Tanya Kai.


Dara tak menggubris pertanyaan Kai. Ia malah semakin menyembunyikan wajahnya dibalik buket bunga yang ia pegang.


Merasa penasaran, Kai pun dengan berani membawa tangannya menyingkirkan buket bunga itu dari wajah Dara.


"Kucing betina?" Kai terkejut mendapati sosok yang dikenalnya. Berdiri dengan wajah tertunduk masam di depannya.


Dara pun perlahan mengangkat wajahnya. Menatap Kai kesal sekaligus malu. Lantaran ketahuan mengintip. Alhasil ia pun jadi bahan tertawaan seisi kelas.


"Aku bukan mahasiswi." Ujar Dara tegas. Kai pun mengernyit.


"Oh ya? Trus kamu ini apa?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2