
Dara berusaha meminimalisir degup jantungnya yang mendadak berpacu saat Riko lebih mendekat. Semakin mengikis jarak diantara mereka. Belum lagi, jemari kekarnya tiba-tiba meraih dagunya. Menekannya pelan, membuatnya mendongak, hingga akhirnya bibir Riko menyapu lembut permukaan bibirnya.
Dara harus berbuat apa sekarang?
Membalas ciuman itu?
Baru beberapa jam lalu ia melewati hari menegangkan bersama Kai. Dan sekarang ada Riko, yang jelas telah diselimuti gairah. Sangat kentara dari sorot matanya.
Lalu bagaimana jika Riko menginginkan lebih?
Haruskah ia memasrahkan diri?
Salahnya juga mengapa lebih dulu memberinya jalan. Salahnya juga mengapa lebih dulu memancing hasrat pria itu.
Lalu sekarang, malah ia sendiri yang dibuat bingung. Bahkan tak tahu mesti berbuat apa.
Melayaninya? Tidak mungkin. Serasa dirinya adalah wanita murahan. Yang mampu melayani dua pria dalam sehari.
Menolaknya? Ia hanya takut membuat Riko kecewa. Terlebih, hubungan kedua orang tua yang telah terbina apik, tak ingin ia merusaknya.
Dokter Rudi sudah bersikap terbuka terhadapnya. Menerima keadaannya, yang belum tentu semua orang tua di dunia mau melakukan hal yang sama.
Dan lagipula, Riko adalah pria yang baik, juga tampan. Tak ada yang salah, ia lah yang salah. Sebab hati nya menginginkan yang lain.
Riko semakin mencumbunya rakus. Menggiringnya perlahan mendekati tempat tidur. Serta jemarinya mulai nakal menjelajahi setiap lekuk tubuhnya.
Lalu ia harus bagaimana? Jika dibiarkan, Riko akan semakin terseret arus gelombang dahsyat yang menggelora di jiwanya. Jika ia diam saja, ia takut ikut terbawa suasana. Yang pada akhirnya malah menikmati sentuhan Riko.
Tidak bisa!
Ia harus bisa menguasai keadaan. Ia harus bisa mengendalikan singa lapar yang tengah menerkam saat ini. Jika tidak, bisa dipastikan ia akan terseret arus ombak tanpa sadar.
Beruntung akal sehatnya masih berfungsi.
Beruntung, otaknya masih berada pada tempatnya.
"Dokter." Satu tangan Dara mendorong pelan tubuh kekar itu. Membuat si empunya menarik wajah dari ceruk lehernya.
Hasrat yang sudah mencapai ubun-ubun mendadak melorot jatuh, lalu menguap entah kemana. Belum lagi, Dara menarik diri dari rangkulan, membuat hasrat itu benar-benar hilang, lenyap tak bersisa. Malah berganti sesal hingga kecurigaan ikut menyusul.
Sekarang, bukan hanya menolak, tetapi Dara terkesan mulai menjauhinya.
"Kenapa?" tanyanya dengan semburat kekecewaan di paras rupawan itu.
Dara mengatur napas sejenak, demi menormalkan kembali detak jantungnya yang berpacu. Lantaran tak ingin terseret arus suasana yang menyesatkan. Dalam keadaan seperti ini, ia justru teringat Kai. Yang diam-diam tak ingin ia mengkhianati.
"Ma ... Maaf, aku capek pengen istirahat." Dara mulai berkilah sekarang.
Riko menarik napas dalam-dalam. Sedalam ia ingin menyelami sorot mata Dara. Mencari-cari alasan kenapa Dara menghindarinya. Kendati Dara sudah menerima lamarannya. Bahkan kemarin, dengan berani Dara memancing membangunkan sisi dirinya yang lain yang terjaga apik selama lima tahun ini.
Lalu mengapa ia merasa ada yang berubah dengan Dara sekarang?
"Dara, kamu yakin dengan keputusan yang kamu ambil?" tanya Riko penasaran dengan perubahan sikap Dara tiba-tiba. Meski sebelum-sebelumnya, Dara sering menolaknya. Tetapi ini yang teraneh menurutnya. Lantaran dibarengi gelagat Dara yang sama anehnya.
Apakah Dara ...
__ADS_1
Tidak, tidak!
Ia tak ingin berpikiran macam-macam tentang Dara. Ia tak ingin berasumsi sembarangan tentang wanita yang ia kagumi.
"Maksud kamu?" Dara tahu maksud pertanyaan Riko. Ia hanya berpura-pura saja.
"Dara kamu tau aku mencintai mu. Aku menyukai mu sejak pertama melihat mu. Apakah kamu juga punya perasaan yang sama denganku? Aku tau kamu belum bisa move on dari masa lalu kamu. Tapi, haruskah selama ini aku menunggu balasan cinta mu?"
Dara harus menjawab apa sekarang? Harus menanggapinya bagaimana?
"Dokter ini bicara apa sih?" Hanya itu yang terpikir olehnya. Entah mengapa mendadak suasana terasa canggung. Rasa-rasanya ia ingin menghilang saja detik itu juga. Sebab keadaan tak lagi seperti dulu.
Kini ada Kai. Yang hadir kembali dalam hidupnya. Yang jelas membuatnya mengambil jarak seketika.
"Kenapa sekarang kamu aneh? Bukannya kamu sudah menerima lamaranku? Lalu kenapa sekarang kamu terkesan menjauhiku?"
Astaga.
Dara harus menjawab apa untuk pertanyaan Riko yang satu itu?
"Em ... Maaf, aku cuma lelah saja. La-lain kali aja ya?" Mengapa sekarang ia malah menawar-nawarkan?
Ah, Dara. mengapa begitu susahnya jujur. Bila di hatinya telah ada yang lain.
Dara tak bisa menyembunyikan keresahannya manakala Riko kembali mendekat. Mulai mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut wajahnya. Jempolnya bergerak lembut menyapu permukaan bibirnya.
Riko menatapnya sendu dan penuh ... Ehem ... Gairah mungkin. Sangat kentara dari sorot matanya, napasnya yang mulai terasa berat. Bahkan ia bisa merasakan hawa di sekitarnya mulai memanas.
Oh astaga. Hal yang sebisa mungkin ia hindari. Kini berada di depan mata. Bagai ujung tombak yang siap menghunus jantung. Membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.
"Lima tahun aku memendam perasaanku padamu Dara. Berharap suatu hari nanti kamu bisa menerimaku. Aku sayang sama kamu dan Ken. Kalian berdua sudah menjadi bagian dalam hidupku. Dan aku nggak mau kehilangan kamu dan Ken." Bersungguh-sungguh dari hati terdalam mengungkap isi hatinya. Tak peduli Dara menanggapinya seperti apa. Yang ia tahu perasaannya tulus.
"Dok ..." Dara mulai gemetaran saat perlahan Riko kembali menunduk, mengikis jarak diantara mereka. Namun Dara memekik manakala bibir Riko hampir saja menyentuh bibirnya.
Penolakan Dara tak urung membuat Riko kecewa. Sakit hati pun mungkin. Sebab ini, entah untuk yang keberapa kalinya Dara menolaknya.
Beruntung, ponsel Dara berdering nyaring. Hingga ia memiliki alasan menolak kehadiran Riko.
"Maaf, Dok. Aku jawab telepon dulu." Bergegas ia mendekati nakas. Menyambar ponsel yang menampilkan Kai Calling ...
"Siapa?"
Tiba-tiba saja Riko sudah berdiri di belakangnya. Mengagetkannya, membuatnya refleks menyembunyikan layar ponsel di dada. Agar nama yang tertera tak terbaca oleh Riko.
"Oh, mahasiswa. Mungkin mau nanya soal tugas yang aku kasih tadi," kilahnya demi melunturkan kecurigaan Riko. Mungkin saja pria itu mulai curiga lantaran perubahan gelagatnya. Tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa-biasa saja. Agar tak menimbulkan kecurigaan berlebih.
Mengapa ia malah main kucing-kucingan sekarang? Ah, rasanya dirinya seperti istri yang sedang mendua saja. Ia layaknya istri pendusta. Padahal, diantara mereka belum ada ikatan.
Tetapi mengapa ia malah merasa bersalah?
"Ya sudah. Silahkan dijawab. Aku keluar dulu."
Huft
Akhirnya Dara bisa bernapas lega setelah Riko menghilang dibalik pintu kamarnya yang menutup.
__ADS_1
.
Kai merebahkan diri di tempat tidur berukuran kecil. Hanya muat untuknya seorang. Rumah yang ia kontrak tidak terlalu besar. Rumah yang terletak di kompleks perumahan itu cukup strategis. Tidak terlalu jauh dari kampus. Dengan ia menumpang ojek pun bisa sampai hanya dalam waktu beberapa menit saja.
Namun karena kebutuhan, terpaksa ia membeli mobil baru dengan uang tabungannya yang ia kumpulkan beberapa tahun ini. Setelah masa kontraknya habis, mobil itu bisa ia jual kembali.
Kai melakukan panggilan video call dengan Dara.
"Hai, Dear (hai sayang)," sapa Kai dengan senyum menggoda.
"Lagi ngapain? Kok belum tidur?" tanyanya.
"Dimana suami kamu?" Belum juga Dara menjawab satu pertanyaan, pertanyaan yang lain sudah menyusul. Rupanya Kai begitu penasaran dengan kehidupan baru Dara.
Dara membuang napas kasar sembari menatap kesal ke layar ponselnya.
Dan Kai malah tertawa-tawa melihat ekspresi wajah Dara. Ingin rasanya mencubitinya gemas dan menciuminya bertubi-tubi.
"Dia bukan suami ku. Udah aku bilang kan sama kamu?" Dara mencebik sebal.
"Tapi dia lumayan tampan. Dokter pula. Yakin kamu bisa jaga hati kamu untukku?" Sekarang Kai malah menggodanya. Mencoba membuatnya bimbang berada diantara dua pilihan sulit. Namun tak sesulit itu baginya. Sebab hatinya telah terkunci untuk satu nama.
"Coba buka," titahnya kemudian.
"Buka apanya?" Kening Dara mengerut dengan wajah memenuhi layar ponsel.
"Itu, kancing baju kamu."
"Ish, buat apa? Kamu udah mulai jorok ya?"
"Nggak, cuma kangen aja. Pengen berada diantara dua benda itu," rayunya semakin berani dan tak beretika.
"Ih, nakal. Nggak mau ah."
"Dara, please," rengeknya manja. Tapi rengekan berikutnya terhenti lantaran terdengar suara seorang anak kecil memanggil.
"Mommy ..."
Suara yang tengah memanggil itu disertai suara ketukan pintu.
Mendengarnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Serta aliran darahnya berdesir.
"Ken, my boy (putraku)?" gumam Kai dengan hati berdebar-debar.
TBC
Readers tersayang ...
Maafkan othor gak bisa up banyak🤧
Othor punya bayi usia 2 bulan. Nyempatin nulis di sela-sela kesibukan. Mudah²an othor bisa menyelesaikan cerita ini sampai ending.
Jangan lupa jejaknya ya biar othor makin semangat🤗
Salam hangat
__ADS_1
Othor Kawe