
Rona wajah Dara pun mendadak memucat. Titik-titik peluh bahkan mulai tampak di dahinya.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Kai memperhatikan wajah Dara.
Dara masih terkejut. Mungkin ia tak salah mengingat. Nama kakak kandung Kai pernah ia dengar sebelumnya. Setahun yang lalu. Tetapi mungkin saja ia keliru. Sebab Kai tidak memberitahu, di mana tepatnya keluarganya mengalami kecelakaan hebat yang merenggut nyawa keluarga Arsenio sekaligus.
"Dara ... Kamu nggak apa-apa kan? Kalau kamu sakit, mendingan kita ke dokter. Aku temani kamu ke dokter. Ya?" tawar Kai.
Dara menggeleng pelan. Lalu menarik diri menjauhi Kai. Yang otomatis mengurai rangkulan Kai di pinggangnya.
"Dar ... Dara," panggil Kai menyusul langkah Dara mengekor di belakangnya.
Dara mengambil duduk di sofa. Ia mulai merasa gugup. Bahkan saat Kai mengambil duduk di sampingnya, ia mulai gemetaran. Keringat dingin pun mulai mengucur dari pelipisnya.
"Dara ... Kamu kenapa? Kamu sakit kan?" tanya Kai lagi sembari membawa jemari menyentuh dahi Dara. Sekadar memastikan, gadis itu tidak demam.
Kai hanya cemas. Lantaran rona wajah Dara yang mendadak memucat. Ditambah lagi Dara mulai berkeringat dingin.
"Hey dear, are you okay (hey sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Kai meraih jemari Dara ke dalam genggamannya.
Sembari menatap sayu, Kai berharap Dara baik-baik saja.
Dara pun akhirnya menyunggingkan senyum manis menatap Kai sayu.
"Aku nggak apa-apa." Dara berharap, ini tak seperti perkiraannya. Ia sungguh berharap, apa yang menimpanya setahun yang lalu, tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Arsenio. Mungkin saja ada keluarga Arsenio yang lain. Keluarga yang ia tak mengenal.
"Really (benarkah)?"
Dara kembali menyunggingkan senyum menatap Kai. Kemudian membenamkan diri ke dalam pelukan Kai. Dara membawa kedua tangannya melingkari pinggang Kai. Menyandarkan kepala di dada bidang pria itu.
"Kai," lirih Dara memanggil.
"Hm."
"Apa kamu tau penyebab kecelakaan keluarga kamu?"
"Iya, aku tau."
Dalam pelukan, Dara tampak semakin tegang akan jawaban Kai atas pertanyaannya sendiri.
"Apa aku boleh tau penyebabnya?"
"Penyebabnya adalah seorang pria yang terkena serangan jantung mendadak saat sedang menyetir."
Dara menelan saliva dalam-dalam begitu mendengarnya. Ternyata ia tak keliru.
__ADS_1
Ya.
Ingatannya tidak salah. Dan dugaannya pun tak keliru. Keluarga Arsenio ini adalah keluarga yang ia kenal. Setahun lalu saat kecelakaan itu terjadi.
Dara mulai gemetaran. Bermacam kemungkinan buruk pun mulai membuatnya tak tenang. Bagaimana kalau suatu hari nanti, jika Kai mengetahui yang sebenarnya, apakah pria itu masih mencintainya seperti saat ini?
"Kai. Apa kamu membenci orang yang menyebabkan keluarga kamu kecelakaan?" tanya Dara lagi.
Kai menghela napas sejenak.
"Nggak mau munafik, sebenarnya aku masih marah. Aku juga masih benci orang itu. Orang yang sudah membuatku menderita. Kehilangan keluarga sekaligus itu sangat menyakitkan. Andai orang itu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat itu. Bahkan sampai detik ini, jujur, aku masih nggak bisa menerima."
Ucapan Kai membuat Dara makin tak tenang. Jujur, ia ketakutan saat ini. Rangkulannya di pinggang Kai terasa semakin erat. Ia takut, suatu hari nanti Kai akan pergi meninggalkannya.
"Lalu kenapa kamu nggak menuntut orang itu?"
"Aku hanya kasihan. Apalagi saat melihat kondisi putrinya saat itu. Nggak ada satu orang pun yang mau kecelakaan itu terjadi. Tapi mau gimana lagi jika Tuhan sudah menakdirkan."
"Jadi, kamu sudah melihat putrinya?" Dara mencoba bersikap santai. Meski sejujurnya saat ini ia sangat tegang dan ketakutan.
"Waktu aku menjenguknya di rumah sakit."
"Terus, kamu sudah melihat wajahnya?"
"Nggak. Waktu itu, hampir seluruh tubuhnya diperban. Gimana aku bisa lihat wajah putrinya kalau banyak perban kagak gitu."
"Emm ... Mungkin saja aku akan menghindarinya. Karena aku nggak mau teringat lagi kecelakaan itu. Karena jujur aku masih marah. Walaupun aku sudah memberi maaf. Tapi aku tetap nggak akan pernah bisa lupa."
"Jika seandainya putrinya itu adalah aku, gimana? Apa yang akan kamu lakukan?"
"Dara ... Kamu ini ngomong apa sih?" Kai tersentak lantaran pertanyaan Dara yang tak masuk akal. Nyeleneh.
Kai lantas mengurai pelukan. Meraih pundak Dara, menariknya perlahan dari pelukan, dari posisi bersandarnya.
"Kenapa kita jadi bahas soal ini sih?" protes Kai.
"I ... Iya juga ya?" Dara salah tingkah bahkan gugup. Lantaran tatapan Kai yang terasa begitu menelisik.
"Udahan kita bahas soal ini. Lagian juga nggak ada sangkut pautnya sama kamu kan?" Sembari membawa jemarinya mengusap wajah Dara.
"Ya sudah, sekarang kita sarapan dulu. Kamu mau sarapan apa? Yang simpel-simpel aja ya, soalnya nggak sempat lagi masak yang ribet-ribet," sambungnya.
Dara tersenyum. "Apa aja. Yang penting kamu yang masak."
"Nggak ada niat buat bantuin?"
__ADS_1
Dara semakin tersenyum lebar, lalu menggeleng.
"Ya ampun. Jadi benar, kamu emang nggak bisa masak. Ya Tuhan ..."
Dara kini tertawa-tawa melihat ekspresi Kai. Yang pasrah akan kekurangannya.
"Oke lah kalau gitu." Kai lantas bangun, segera beranjak ke dapur. Setelah memberi satu kecupan hangat di kening Dara.
.
.
Setelah sarapan, Dara langsung pamit pulang.
Dara menghempas tubuh ke tempat tidur. Membuka jaket Kai yang ia kenakan. Kemudian menguncir rambut panjangnya.
Dara mengambil ponsel dari tas kecilnya. Menghidupkannya dan mulai berselancar di dunia maya. Mencari-cari berita lama, berita kecelakaan yang menimpa keluarga Arsenio setahun yang lalu. Yang masih tersemat jelas dalam otaknya.
Tangannya kini mulai gemetaran saat berita lama itu terbuka di depan mata. Diikuti lelehan air bening yang mengalir bebas di wajahnya.
Tak seperti yang Kai ketahui, penyebab kecelakaan itu bukan Yuda Aditama. Melainkan ia sendiri, putri semata wayang Yuda Aditama. Yang saat itu belum mahir dalam mengemudi. Tetapi sudah memberanikan diri terjun ke jalanan, bahkan dengan berani ke jalan tol.
Bahkan saat itu Dara melaju dengan kecepatan tinggi. Sudah berulang kali, Papa Yuda memperingatkannya, yang saat itu pun berada satu mobil dengannya. Menemaninya, lantaran takut terjadi sesuatu padanya jika dibiarkan sendiri.
Namun Dara tak menghiraukan, ia masih saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga saat Dara tiba-tiba tak mampu mengendalikan laju mobilnya, dan disaat bersamaan, rem mendadak blong.
Menyadari situasi saat itu, Papa Yuda cepat meraih kemudi. Membantu Dara mengendalikan arah mobil.
"Injak remnya Dara!" pekik Papa Yuda saat itu.
"Udah Pa. Udah aku injak berulang kali," balas Dara setengah membentak.
Situasi semakin panik saat itu. Berulang kali Dara menginjak rem, membunyikan klakson agar mobil di depan menyingkir, memberi mereka jalan.
Akan tetapi, usaha mereka tak membuahkan hasil. Terlambat bagi mereka untuk menepikan mobil yang saat itu tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Alhasil, mobil yang berada di depan mereka pun, menjadi sasaran. Dan kecelakaan itu pun tak dapat dihindari.
Saat tersadar, Dara sudah berada di rumah sakit. Berita mengenai kecelakaan itu dan siapa korbannya, ia dapat dari berita yang beredar di berbagai media. Dan yang menjadi pertanyaannya saat itu adalah kenapa malah papanya yang menjadi penyebabnya.
Dara pun akhirnya mengetahui yang sebenarnya terjadi dari papanya. Termasuk keluarga korban kecelakaan itu.
Dara terkejut bukan kepalang. Dengan tangan gemetar, ia membekap mulutnya sendiri. Menahan isak tangis agar tak terdengar dan semakin menjadi.
Dara tak menyangka korban kecelakaan itu adalah keluarga Kai. Pria yang ia cintai. Sejenak ia teringat kembali ucapan Kai beberapa jam yang lalu.
"Aku mungkin memberi maaf, tapi aku nggak akan pernah lupa. Dan aku masih belum bisa menerimanya."
__ADS_1
Air mata Dara semakin tertumpah ruah saat mengingat nya. Isak tangisnya pun semakin menjadi. Namun ia berusaha menahannya, membekap mulut semakin kuat. Agar isak tangis itu tak terdengar.
TBC