You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 60


__ADS_3

Dara melangkah penuh percaya diri menyusuri koridor rumah sakit. Kedatanganya ke rumah sakit Sinar Kasih sudah bukan rahasia lagi. Wajahnya pun sudah tak asing lagi bagi para penghuni rumah sakit tersebut.


Banyak orang mengenalnya sebagai istri Dokter Riko Pradana. Dokter anak yang berparas rupawan itu banyak memikat hati suster-suster cantik, bahkan dokter-dokter muda yang masih berstatus single.


Namun sayangnya, Dokter yang menjadi incaran banyak wanita itu sudah berstatus suami orang. Tak sedikit para suster yang memandang iri terhadap Dara. Bukan tanpa alasan, Dara yang terlihat sangat cuek terhadap sang dokter justru mendapat perhatian lebih dari sang dokter.


Banyak dari para pengagum Riko yang merasa Dara sangat beruntung bisa mendapatkan sang dokter rupawan dan baik hati tersebut.


Pasalnya, Riko yang kesehariannya selalu disibukkan melayani pasien, masih sempat-sempatnya menjaga seorang anak kecil bahkan meluangkan waktu untuk mengajak anak kecil itu bermain.


Masih ada waktu satu jam lagi sebelum Riko kembali menerima kunjungan pasien. Waktu satu jam itu ia manfaatkan untuk menemani Ken bermain pesawat remote kontrolnya di taman rumah sakit.


Riko melambaikan tangannya saat melihat sosok Dara berjalan menghampiri dengan senyum manis terukir di bibirnya.


"Katanya hari ini sibuk," ujar Riko saat langkah Dara terhenti tepat di hadapannya.


"Ada perubahan jadwal."


"Mommy ... Lihat, Daddy beliin Ken mainan baru," seru Ken dengan gembira memamerkan mainan baru yang dibelikan Riko untuknya. Walaupun bukan ayah kandung Ken, Riko tetap menyayangi Ken seperti anaknya sendiri. Hal itu membuat Dara sangat berhutang budi pada Riko.


"Bilang apa sama Daddy?"


"Thankyou Daddy (terima kasih Papa)," seru Ken melempar senyum kepada Riko.


"Sama-sama, sayang."


"Ken sudah punya banyak mainan di rumah, kenapa malah kamu belikan lagi?" protes Dara halus.


Riko tersenyum, kemudian beranjak menghampiri bangku panjang di taman itu, lalu duduk. Disusul oleh Dara yang mengambil duduk di samping Riko.


"Hanya Ken yang mau menerima pemberianku," sahut Riko kemudian.


"Maksud kamu?"


Riko menoleh, menatap Dara lekat-lekat.


"Kalau aku memberi kamu sesuatu, apa kamu mau menerimanya?" Alih-alih menjawab pertanyaan Dara, Riko malah balik bertanya.


"Bukan gitu, masalahnya kamu itu udah terlalu banyak membantuku. Aku hanya nggak mau menyusahkan kamu lagi. Udah terlalu banyak yang kamu kasih buat aku. Bukan hanya materi, tapi juga waktu dan perhatian kamu."


"Aku membantu kamu itu ikhlas."


"Aku tau. Untuk itu aku sangat berterima kasih sama kamu. Aku merasa sangat berhutang budi sama kamu."


"Hutang budi?" Riko semakin menatap lekat sepasang mata indah Dara. Mencoba menelisik dalam perasaan Dara melalui sorot matanya.

__ADS_1


Namun sorot mata itu, masih sama. Waktu lima tahun bersama tetap tak bisa mengubah perasaan Dara. Hal itulah yang membuat Riko masih setia memendam perasaannya. Tak sanggup untuk mengungkapnya.


"Seandainya aku meminta kamu jadi istriku, apa kamu mau? Setidaknya demi balas budi."


Ucapan Riko membuat Dara terdiam. Terpaku di tempatnya menatap lekat sepasang mata Riko yang menatapnya sendu. Terasa teduh dan menenangkan.


Namun kalimat itu justru sukses mengusik ketenangan jiwanya. Lalu entah kenapa, malah membuat hati berdebar-debar.


"Apa kamu mencintainya?" Pertanyaan Kai beberapa saat lalu terngiang di telinganya.


Sejujurnya, Dara bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tahu, pria itu serius setiap kali menyinggung hal tersebut. Hanya saja ia yang tak tahu harus menjawab apa. Alhasil, ia hanya mampu menanggapinya dengan candaan. 


Dara menelan saliva dalam-dalam. Lidahnya serasa kelu, tak mampu lagi berucap. Sungguh ia tak tahu harus menjawab apa.


"Apa Pak Dokter ini nggak punya lelucon lain? Garing ah!" Dan lagi-lagi Dara malah menganggap Riko bercanda. Sembari memaksakan tawa, Dara memukul-mukul pelan pundak Riko.


"Dara, aku serius."


"Emang kamu bisa serius? Udah ah!" Dara masih tertawa-tawa menanggapi ucapan Riko.


Riko mendesah pelan, meminimalisir kekecewaan atas sikap dan tanggapan Dara tentang perasaannya.


Sejauh ini, Riko sudah sering memberi sinyal. Tetapi sayangnya, Dara malah tak memahaminya. Dan terkesan acuh tak acuh.


"Jadi dong. Hanya kita berdua tapi."


"Trus Ken gimana?" Dara melempar pandangan pada Ken yang asik memainkan mainan pesawatnya.


"Hari ini Bibi pulang dari kampung. Kita bisa titip Ken ke Bibi."


"Tapi gimana kalau Ken..." Dara sebetulnya cemas jika harus meninggalkan Ken pada pembantu rumah tangga. Masalahnya keadaan sekarang tak lagi sama. Jika kemarin ia bisa menitipkan anak itu pada Bibi di rumah tanpa beban, sekarang ia malah merasa cemas. Semua dikarenakan kehadiran Kai.


"Ya udah deh." Dan akhirnya Dara malah tak enak hati menolak ajakan makan malam itu.


Sudah terbilang cukup lama, semenjak Ken lahir, mereka jarang, bahkan tak pernah lagi makan malam di luar berdua. Meski hanya sebagai teman.


Wajar jika kini Dara merasa tak enak hati menolak. Ia hanya tak mau membuat Riko kecewa.


.


.


Di lain tempat.


Setelah Dara memutuskan pergi meninggalkannya seorang diri di jalanan ramai, Kai memutuskan kembali ke kampus. Dan kini ia tengah berada di depan meja kerja Dekan. Duduk sopan dengan niat yang sempat terbersit dalam benaknya baru-baru ini.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu Pak Kai?" tanya Dekan bertubuh gempal dan berkepala setengah botak itu.


"Maaf jika saya terkesan menyalahi aturan. Tapi saya butuh bantuan Bapak."


"Saya siap membantu jika Pak Kai memang butuh bantuan saya. Kira-kira, apa yang bisa saya bantu?"


"Apakah saya boleh meminta alamat rumah Bu Andara dan juga nomor ponselnya?" Inilah maksud Kai. Ia nekat mencaritahu tentang Dara.


"Sebenarnya, Bu Andara sudah pernah meminta agar saya tidak memberitahu alamat rumah ataupun nomor ponselnya pada sembarang orang. Jadi, maaf. Saya tidak bisa kalau untuk yang satu itu."


"Sebenarnya saya ini adalah teman lamanya. Saya hanya ingin bersilaturahmi. Itu saja, tidak lebih," kilah Kai. Yang sebenarnya ia begitu penasaran dengan kehidupan baru Dara. Tak apalah kali ini ia menjadi seorang penguntit.


"Tapi Bu Andara jarang di rumah. Dia lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit, tempat suaminya bekerja."


"Suami?" Kai mengernyit.


"Iya, suami. Katanya Pak Kai teman lamanya Bu Andara. Kok Pak Kai malah tidak tahu kalau Bu Andara itu sudah menikah dan punya anak."


"Soal itu saya memang tidak tahu. Maaf, Bapak bilang tadi Bu Andara sudah punya anak?" Kai ingin memastikan sesuatu yang tiba-tiba saja melintas di benaknya.


Dara sempat berkata, bahwa wanita itu pernah mengalami keguguran. Jika sekarang dia punya anak, itu mungkin adalah anaknya bersama dokter itu. Akan tetapi, jika kecurigaannya benar, yang berarti anak itu adalah ...


Kai tak bisa lagi membendung rasa penasarannya tentang anak itu.


"Iya. Sejak menjadi mahasiswa di kampus ini, Bu Andara memang sudah punya anak."


"Kalau boleh tahu, kira-kira berapa usia anak itu sekarang?"


"Usia anak itu kira-kira sekitar empat tahun."


Kai terhenyak. Degup jantungnya mendadak berpacu kencang. Jadi kecurigaannya memang benar. Kai tak bisa lagi menahan sejuta rasa yang seketika mendera.


Dara begitu tega pergi meninggalkannya dengan membawa buah cintanya. Dan sekarang, anak itu malah tumbuh sebagai anak dari orang lain.


Astaga!


Darahnya bahkan berdesir-desir nyeri saat membayangkan apa yang seharusnya menjadi miliknya, kini malah menjadi milik orang lain.


Kai hanya bisa menumpahkan tangis di dalam mobilnya. Setelah menemui Dekan, ia bermaksud mengunjungi sebuah alamat yang baru saja susah payah ia dapatkan dari Dekan. Setelah membujuk rayu dengan segala bualannya.


Bahkan nomor ponsel Dara kini berada di tangannya.


"Dara, aku pastikan, kalian berdua akan kembali ke tempat yang seharusnya. Kalian berdua adalah milikku. Hanya milikku." Kai bergumam dengan derai air mata penyesalannya. Jemarinya mengepal kuat menahan sakit di dada.


TBC

__ADS_1


__ADS_2