You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 31


__ADS_3

"Seorang gadis?" Kai mengernyit.


"Kamu nggak tau?"


"Tapi, bukannya ..." Kai tak melanjutkan kalimatnya. Ia berpaling muka sejenak. Mengingat-ingat kembali musibah yang menimpa keluarganya setahun yang lalu.


Dimana, yang ia tahu, kecelakaan itu diakibatkan oleh seorang pria paruh baya yang tiba-tiba saja terkena serangan jantung saat sedang menyetir.


Bukannya Kai tak menyayangi keluarganya. Siapa pun tidak ada yang mau mengalami hal seperti ini. Hanya saja ia tak ingin berlarut-larut dan memperkeruh keadaan. Yang jelas-jelas banyak media yang memberitakan saat itu, bahwa ada seorang pria paruh baya terkena serangan jantung ringan mendadak saat sedang menyetir. Hingga pria itu tak mampu mengendalikan mobil yang dikendarainya.


"Apa yang diberitakan itu nggak benar." Joanna membuyarkan lamunan Kai.


"Penyebab kecelakaan itu adalah seorang gadis. Dan pria paruh baya yang sedang bersamanya itu adalah ayahnya." Tambahnya.


"Kamu tau dari mana?"


Joanna diam sejenak. Ia mengingat kembali, saat tak sengaja ia mendengar ucapan ayah gadis itu, yang berkata akan melakukan apa saja demi putrinya.


Saat itu semua korban dilarikan ke rumah sakit. Termasuk ayah dan anak itu, yang mengalami luka-luka cukup parah. Saat tak sengaja melewati ruang rawat pria itu, samar-samar Joanna mendengar percakapan pria itu dengan seorang dokter. Sementara di luar ruangan ada beberapa wartawan yang hendak meminta keterangan dari pria itu.


Joanna langsung bisa menyimpulkan bahwa pria itu juga terlibat dalam kecelakaan hebat di jalan tol. Yang ikut merenggut nyawa Revan dan kedua mertuanya. Meski samar, Joanna masih bisa mengingat wajah pria paruh baya itu.


Di jaman serba canggih seperti sekarang ini, berita online lebih cepat menyebar ketimbang berita cetak. Rekam digital pun sudah pasti masih tersimpan apik. Akan tetapi, Joanna tak ingin melihatnya lagi. Karena akan membuatnya teringat kembali kejadian itu.


"Sudahlah. Lagian, kejadiannya udah lama. Dan udah nggak terlalu penting lagi buat kamu kan?"


"Joanna."


"Kai. Sorry, aku harus pergi. Aku nggak bisa ninggalin Ziyo terlalu lama. Permisi." Joanna pamit setelah menerima pesan dari karyawannya. Yang mengabarkan bahwa badan Ziyo panas. Dan Ziyo menangis terus memanggil-manggil mamanya.


Joanna sengaja tak memberitahu hal itu pada Kai dan lebih memilih bergegas pergi. Sebab ia tak ingin melibatkan pria itu ke dalam kehidupannya lagi.


Kai hanya bisa memandang pasrah kepergian Joanna. Sebetulnya, sejak tadi ia ingin menanyakan tentang pria yang bersama Joanna di kafe tadi. Pria yang pernah Joanna kenalkan padanya beberapa hari lalu di toko bunganya.


Akan tetapi keinginan itu urung bersama kepergian Joanna. Ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Joanna tak lebih dari bagian masa lalunya. Yang harus ia jaga privasinya. Ia tentu tak bisa berbuat seenaknya.


.


.

__ADS_1


"Papa ini gimana sih? Kok bisa asam lambungnya naik lagi." Dara kesal terhadap papanya yang belakangan ini jarang lagi peduli pada kesehatannya sendiri. Meski mamanya sudah berkali-kali mengingatkannya untuk tidak telat makan.


Lantaran panik, cemas yang teramat, Dara pun bergegas membawa Papa Yuda ke rumah sakit terdekat bersama Mama Maya.


"Papa mu sih ... Ngeyel banget kalau dibilangin. Sebel deh Mama sama kelakuan papa mu ini." Mama Maya pun ikut-ikutan menggerutu. Kesal akan ketidakpedulian suaminya itu.


Mereka baru saja memeriksakan kondisi Papa Yuda. Dan tengah bersiap untuk pulang.


"Maaf. Lain kali Papa akan lebih memperhatikan kesehatan Papa lagi," ujar Papa Yuda demi mengurangi kecemasan istri dan putrinya itu.


"Jangan cuma ngomong aja Pah. Tapi dilakukan dan dibuktikan," tandas Mama Maya jengkel.


Jika di rumah, meski sudah berulang kali Mama Maya mengingatkan, namun Papa Yuda masih saja acuh tak acuh. Pria paruh baya itu telah dibuat asik oleh kegiatan barunya. Yaitu berkebun di halaman belakang rumah yang cukup luas.


"Iya, iya. Istri Papa ini cerewetnya minta ampun. Sampe mau pecah rasanya kepala Papa ini," keluh Papa Yuda gemas.


Dara terkekeh melihat kedua orangtuanya yang tak pernah benar-benar bertengkar itu. Selalu akur dan mesra, meski seringkali pertengkaran kecil terjadi. Namun untuk akur kembali tak butuh waktu lama.


Dara menggamit manja lengan Papa Yuda. Sambil mereka berjalan bersama menuju tempat parkir.


Di lobby, seorang wanita tampak panik memanggil-manggil suster sambil menggendong anaknya.


"Anak saya demam Sus," ucap Joanna panik.


"Mari ikut saya, Bu. Kita ke tempat dokter anak," ajak suster itu menuju ke ruangan dokter anak.


Joanna pun mengikuti suster itu. Kening Joanna mengerut saat tiba-tiba netra nya menangkap sosok pria paruh baya yang pernah ia lihat setahun yang lalu. Pria itu berjalan didampingi seorang wanita baya dan seorang gadis yang tengah menggelayut manja di lengannya.


Joanna berpapasan dengan ketiga orang itu, yang tidak lain adalah Papa Yuda, Mama Maya, dan Dara saat ia hendak menuju ruang dokter anak.


Melihat mereka tertawa-tawa bahagia membuat hati Joanna bagai diremas. Sudah setahun lamanya, namun Joanna masih hafal wajah pria baya itu. Jika ia tidak salah mengingat.


Papa Yuda, Mama Maya, dan Dara sudah di tempat parkir. Saat tiba-tiba seseorang terdengar menyapa. Seorang dokter yang baru saja turun dari mobilnya yang terparkir tepat di sebelah mobil Dara.


"Yuda?" sapa dokter itu dengan dahi mengerut berusaha mengenali.


"Dokter Rudi?" balas Papa Yuda pun dengan mode yang sama.


Namun detik berikutnya, keduanya tertawa-tawa. Baru kemudian bersalaman.

__ADS_1


"Sudah lama ya kita jarang bertemu," ucap dokter Rudi.


"Gimana mau ketemu, lah kamu sibuk dengan pasien kamu itu," seloroh Papa Yuda seraya terkekeh.


"Oh ya, ini istri dan putriku," tambahnya memperkenalkan.


Mama Maya dan Dara mengukir senyum memandangi dokter Rudi. Teman lama Papa Yuda. Dokter Rudi pun balas tersenyum.


"Ngomong-ngomong, sedang apa kamu di sini? Bukan kena serangan jantung lagi kan?" seloroh dokter Rudi.


Papa Yuda tertawa kecil mendengarnya.


"Enggak lah Rud. Maag ku mendadak kambuh. Padahal tinggal minum obat aja udah pasti sembuh. Tapi istri dan putri ku ini paniknya luar biasa. Dan di sinilah aku sekarang."


"Makanya jangan sering telat makan. Kamu itu harusnya bersyukur punya istri dan anak yang perhatian sama kamu."


"Kamu masih di rumah sakit ini? Aku dengar kamu sudah pindah."


"Pindah ke mana memangnya? Lagipula, sudah lama aku bekerja di rumah sakit ini."


"Aku pikir kamu di pindahkan gara-gara aku."


"Enggak lah. Soal itu, nggak ada orang lain yang tau selain kita berdua. Kalau aku pindah, atau mungkin di pecat, rumah sakit ini akan kehilangan dokter spesialis jantung terbaik nantinya." Dokter Rudi malah berseloroh sembari tertawa kecil.


Papa Yuda menarik lengan dokter Rudi menjauh dari istri dan putrinya sejenak. Seolah tak ingin istri dan putrinya itu mendengar obrolan mereka selanjutnya.


"Rud, aku mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan kamu waktu itu. Berkat kamu, aku dan putriku nggak terkena tuntutan lebih. Kalau nggak, aku nggak tau seperti apa nasib putriku nanti, "ujar Papa Yuda mengingat kembali jasa dokter Rudi yang telah membantunya tanpa pamrih setahun yang lalu.


"Kita ini berteman sudah lama. Dulu, kamu juga pernah membantuku. Sudah sewajarnya jika aku juga membantumu selagi aku bisa."


"Tapi apa yang kamu lakukan padaku itu resikonya tinggi. Bisa-bisa kamu kehilangan nama baikmu dan ijin praktekmu. Karena apa yang kamu lakukan itu adalah pembohongan publik. Mungkin kata terima kasih saja nggak cukup untuk kebaikan hati kamu itu, Rud."


"Sudahlah Yuda. Yang terpenting bagiku, kamu dan putrimu baik-baik saja. Itu saja sudah cukup. Oh ya, ngomong-ngomong, putrimu cantik." Sembari memandangi Dara di seberang. Sebelum gadis itu masuk ke mobilnya.


"Siapa dulu ayahnya."


Kedua pria baya itu pun kembali tergelak.


TBC

__ADS_1


__ADS_2