You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 66


__ADS_3

"Mommy, Ken senang ada Kakek Dokter di sini," seru Ken antusias. Kemudian meminta diturunkan dari gendongan Dokter Rudi. Ia mengayunkan langkah setengah berlari, menghambur ke dalam pelukan sang mama.


"Mommy dari mana aja? Kasihan Daddy dari tadi nungguin," ucapnya begitu sang mama berdiri, membawanya ke dalam gendongan sang mama.


Dara mulai gelisah. Hati berdebar-debar tak tahu sebabnya. Entah apa pula maksud kedatangan mama papanya. Juga Dokter Rudi.


Yang ia tahu, ia sama sekali tidak memberitahu perihal kehamilannya dulu pada Dokter Rudi. Sehingga dengan mudahnya ia mendapat ijin ikut bersama Riko. Dengan harapan, ia bisa membuka hati untuk Riko.


Dari raut wajah yang terlihat, seperti ada kekecewaan. Dokter Rudi tampak menghela napas panjang, kemudian mengambil duduk di sofa. Diikuti Papa Yuda, menyusul Riko.


"Dara ... Sini sayang. Ada hal penting yang akan kita bicarakan malam ini," seru sang mama menghampiri. Mengajaknya duduk di sofa. Sambil memangku Ken.


"Ini ada apa ya?" tanya Dara gelisah, juga penasaran.


Mama papanya tidak mengabarkan sebelumnya akan datang berkunjung. Lalu mengapa tiba-tiba mereka datang. Bersama Dokter Rudi pula?


Hal penting apa yang mau mereka bicarakan, hingga terkesan mendadak?


"Mohon maaf sebelumnya Nak Dara," ucap Dokter Rudi memulai. Pria paruh baya itu tampak berpikir sejenak.


Dara mengedarkan pandangan, memandangi satu per satu yang hadir. Mulai dari Dokter Rudi sendiri, Riko, Papanya, kemudian Mamanya. Yang tampak tersenyum tipis.


Dara semakin penasaran.


"Sebenarnya, saya sudah mendengar semua tentang kamu dari orang tua kamu. Jujur, saya sedikit kecewa. Kamu nggak jujur sebelumnya," sambungnya. Dengan wajah temaram.


Dara harap-harap cemas juga gelisah. Ia masih tak tahu maksud kedatangan orang tuanya tiba-tiba. Dan mungkin, maksud ucapan Dokter Rudi adalah perihal Ken. Ia memang menyembunyikan soal kehamilannya dulu.


"Tadi, saya sempat mampir ke rumah sakit. Saya juga sempat mendengar kabar, bahwa kalian berdua ini ..." Dokter Rudi melempar pandangan ke arah Dara. Lalu bergulir pada Riko yang duduk di sebelahnya.


"Di kota ini, banyak orang mengenal kalian sebagai suami istri. Kenapa hal itu bisa terjadi, ya wajar, karena kalian tinggal seatap. Suatu hari nanti, keadaan ini akan membawa masalah dan dampak buruk. Nggak hanya pada kalian berdua, Ken, tapi juga akan berdampak pada nama baik keluarga. Jadi, yang mau saya sampaikan, adalah ... Kenapa kalian nggak nikah beneran aja," pungkasnya langsung.


Penuturan panjang lebar Dokter Rudi, otomatis menerbitkan senyum di wajah Riko, juga papa mamanya. Tetapi tidak di wajahnya. Ekspresi Dara bahkan terlihat biasa-biasa saja. Bukan suatu kabar baik ataupun menyenangkan. Justru ini adalah kabar buruk untuknya.


"Gimana, Nak Dara?" Dokter Rudi melempar pertanyaan kepadanya.


Dara memanggil pembantu rumah tangga, agar membawa Ken ke kamarnya. Ia tak ingin Ken mengetahui kebenaran Daddy dan Mommy nya. Yang statusnya palsu di mata banyak orang.


Anak kecil itu menurut saja. Ia turun dari pangkuan Mommy nya, lalu berjalan mengikuti pembantu rumah tangga pergi ke kamarnya di lantai dua.


"Dara, Dokter Rudi nanya tuh. Gimana pendapat kamu?" tanya Mama Maya mencolek bahu Dara.


"Saya masih bingung, maksud Dokter apa ya?" Dara berpura-pura tak memahami arah obrolan.


"Dara, Dokter Rudi sudah menjelaskannya panjang lebar. Masa kamu masih nggak ngerti juga," ucap Papa Yuda menghunus tatapan tajamnya ke arah Dara.


"Riko sudah cerita. Katanya dia sudah melamar kamu. Dan kamu menerima lamarannya. Jadi, saya dan orang tua kamu sudah sepakat untuk menikahkan kalian dalam waktu cepat. Kalian nggak akan menikah di sini," tutur Dokter Rudi.


Astaga.


Kenapa Dara bisa lupa soal yang satu itu?


Pertemuannya kembali dengan Kai membuatnya lupa segalanya. Bahkan untuk soal yang satu itu. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia menjilat kembali ludahnya sendiri?


"Ta ... Tapi, saya ..." Sungguh, Dara tak tahu harus berkata apa. Dipandanginya Riko yang melempar senyum ke arahnya.


Terlihat begitu jelasnya, Riko senang dengan perjodohan ini.


Perjodohan?

__ADS_1


Haruskah ia mengartikan ini sebagai perjodohan?


Lalu bagaimana dengan Kai? Baru beberapa jam lalu ia berjanji akan kembali ke pelukan pria itu. Ia berjanji akan membangun keluarga kecil bersama pria itu. Pria yang ia cintai.


.


.


"Mama sama Papa kenapa nggak bilang-bilang dulu kalau mau datang kemari?" tanya Dara saat menemui orang tuanya yang hendak beristirahat di kamar tamu.


Mama papa nya duduk di tepian tempat tidur. Ia menarik bangku kecil di depan meja rias untuk ia duduki.


"Awalnya memang nggak ada niat. Tapi karena ajakan Dokter Rudi nggak bisa kami tolak," jawab Mama Maya lembut.


"Ajakan?" Dara mengernyit. Belum memahami betul situasi yang ia hadapi beberapa saat lalu. Yang membuatnya bungkam, hingga akhirnya tak bisa berbuat apa-apa. Saat orang tuanya menyetujui perjodohan itu.


Iya.


Perjodohan. Karena sekarang, ia tak ingin lagi menikahi Riko. Yang awalnya ia terima pinangan pria itu begitu saja, tanpa berpikir panjang. Namun akhirnya ia menyesali.


"Iya. Dokter Rudi yang menawari Mama sama Papa untuk datang menjenguk kalian. Karena katanya, Riko sudah melamar kamu. Dan kamu terima lamarannya. Mama dan Papa jelas nggak bisa menolak dong. Mereka itu sudah terlalu banyak membantu kamu," Mama Maya terlalu antusias jika menyangkut Riko. Tipikal menantu idaman. Tidak terkecuali mamanya.


Dara hanya bisa menghembuskan napas panjang. Ingin memberontak, rasanya kurang beretika. Terlebih disaat sekarang. Saat ia telah terikat oleh balas budi.


.


.


"Sebenarnya, Papa kecewa. Kenapa nggak dari awal kamu cerita soal Dara ke Papa," ujar Dokter Rudi saat Riko menemuinya.


Malam ini, papanya tidur di kamarnya. Sementara ia sendiri, memilih akan tidur di sofa.


"Apa kamu yakin mau menikahinya?" Seolah sang papa meragukan perasaannya. Atau sebenarnya ragu dengan Dara. Sebab keadaan Dara, yang terlanjur memiliki anak di luar nikah.


Sebetulnya keadaan Dara merupakan aib bagi keluarga. Tetapi untuk masalah hati, sang papa tak pernah mau ikut campur.


Riko mengangguk pelan. "Aku yakin. Karena aku mencintainya."


"Yakin dia mencintai kamu?" Sekarang entah mengapa papanya malah meragukan Dara. Apa karena tak ada ekspresi bahagia di raut wajah Dara saat berbincang di ruang tamu tadi, perihal pernikahan mereka?


Lalu ada pula dengan ekspresi wajah Dara?


Bukankah Dara sudah menerima lamarannya?


Lalu kenapa sekarang seolah Dara tidak menginginkannya?


.


.


Pertanyaan sang Papa terus terngiang di telinga. Membawa langkahnya hendak menemui Dara di kamarnya. Membuatnya penasaran akan ekspresi wajah Dara yang mendadak di luar ekspektasinya.


Riko hendak memutar handel pintu saat indera pendengarannya menangkap suara Dara di kamar sebelah. Di kamar Ken yang sedikit terbuka daun pintunya.


Mengikuti keinginan hati, Riko menyusul ke kamar Ken. Dilihatnya Dara tengah menidurkan Ken. Anak kecil itu tampak tengah bercanda dengan mamanya.


Melihat kedatangannya, Ken memanggil. Memintanya menghampiri.


"Daddy ... Sini, Ken mau ngomong sama Daddy dan Mommy."

__ADS_1


Riko mengulum senyum. Anak kecil itu lagaknya betul-betul mirip orang dewasa.


"Jagoan kecil Daddy mau ngomong apa sih?" sembari mengambil duduk di tepian tempat tidur sebelah kiri. Sebelah kanannya sudah ada Dara.


Belum menjawab pertanyaannya, Ken malah meraih jemarinya juga jemari Dara. Menaruhnya bertumpuk diatas perutnya yang kecil.


"Daddy sama Mommy janji ya?" pintanya.


"Janji? Janji apa?" Dara merasa aneh dengan sikap Ken kali ini. Anak kecil itu terlalu keseringan menonton TV. Mungkin sekarang ia tengah meniru adegan yang pernah ia tonton.


"Janji nggak akan pernah pisah. Yang kata orang dewasa, cerai."


Astaga!


Dara termangu dengan mulut membulat tak percaya bila Ken akan berkata seperti itu.


"Ken tau itu dari mana?" tanyanya penasaran. Dara sungguh tak menyangka hal yang tak seharusnya terucap dari mulut seorang anak kecil itu justru terlontar dari mulut anaknya sendiri.


"Di sekolah, ada teman Ken yang Mommy Daddy nya pisah. Mereka udah nggak serumah lagi. Teman Ken sangat sedih. Dia nggak berhenti menangis karena nggak bisa main bersama Daddy nya lagi. Ken nggak mau seperti itu. Ken nggak mau Daddy pisah sama Mommy."


Ya Tuhan!


Apa Dara harus terkejut untuk omongan anak kecil yang hampir setara orang dewasa itu?


Salahnya, Ken kini terlanjur terikat batin dengan Riko.


Salahnya bila Ken mengira Riko adalah ayah kandungnya.


Lalu bagaimana dengan janjinya akan mempertemukan Ken dengan Kai, ayah kandungnya?


Sudikah Ken menuruti permintaannya nanti?


Sudikah Ken menemui Kai?


Lalu bagaimana reaksi Ken bilamana mengetahui kebenarannya nanti?


Sungguh Dara mulai didera frustasi.


"Ken, Daddy janji nggak akan membuat Ken sedih. Ken selalu bisa bermain bersama Daddy. Karena Daddy akan selalu bersama Ken dan Mommy." Riko akhirnya bisa menanggulangi apa yang tak bisa ia lakukan. Karena sejujurnya, ingin sekali ia kembali ke pelukan Kai secepatnya.


Dara mendesah berat. Pikirannya kacau. Belum lagi, ia tak menolak perjodohan itu. Lalu sekarang ia harus bagaimana?


Berharap bisa bertemu Doraemon agar bisa meminjaminya pintu ajaib untuk kembali ke masa lalu?


Tidak mungkin!


.


.


"Dara." Panggilan Riko, menghentikan langkahnya dan mencegah tangannya memutar handel pintu kamarnya.


"Ada apa?"


"Kita perlu bicara sebentar." Riko lah yang pada akhirnya memutar handel pintu kamarnya. Mengajaknya masuk, lalu mengunci pintunya rapat


Klek.


TBC

__ADS_1


__ADS_2