
"Ya Tuhan, lama-lama aku bisa gila."
"Apa?" Kai terkejut mendengar ucapan Dara tanpa sadar.
Dara pun semakin salah tingkah dibuatnya. Cepat ia menarik diri dari dekapan Kai.
"Kamu bilang apa tadi?" Tanya Kai penasaran. Meski samar, ia sempat mendengar gumaman lirih Dara.
Dara yang salah tingkah pun mencoba mencoba menghindari tatapan Kai. Yang membuatnya jadi serba salah dan makin salah tingkah. Entah kenapa tingkahnya justru jadi terlihat aneh. Apa orang yang lagi jatuh cinta seperti ini tingkahnya ya?
Came on Dara. Secepat itukah kamu jatuh cinta?
"Nggak, aku nggak ngomong apa-apa." Kilah Dara.
"Tapi kayaknya tadi kamu ngomong sesuatu deh."
"Ah enggak kok. Kamu pasti salah dengar. Aku nggak ngomong apa-apa tadi."
"Oh ya?"
Dara mengangguk cepat. Ia tak ingin ketahuan. Bagaimana jika Kai salah mengartikannya nanti. Gengsi dong jika ketahuan ia mengagumi pria itu. Yang sebelumnya ia kesal setengah mati. Bahkan ingin balas dendam.
"Emm ... Kai, kalau gitu aku balik dulu ya. Makasih banyak loh atas bantuan kamu hari ini. Mungkin ucapan terima kasih ku nggak akan cukup membalas kebaikan kamu." Ujar Dara pamit.
Kai tersenyum. "Lebih dari cukup kok. Oh ya, besok kamu ada jadwal?"
"Ada. Kenapa?"
"Nggak, aku cuma nanya aja. Besok aku juga ada jadwal. Tapi di kampus lain. Jadi kemungkinan kita nggak akan bertemu."
"Oooh ..." Dara sedikit kecewa mendengar ucapan Kai. Dalam hatinya ia sangat berharap bisa bertemu lagi.
"Ya sudah, kalau begitu. Hati-hati di jalan ya? Ingat, ini sudah malam. Jangan ngebut." Ujar Kai kemudian.
Dara pun terhenyak dari kekecewaannya dan harapan kosongnya. Lantaran tak akan bisa bertemu Kai esok hari.
"Silahkan. Hati-hati ya?" Kai mempersilahkan Dara menuju ke mobilnya.
Meski rasanya berat, Dara harus membawa langkahnya menuju ke mobil. Lalu membuka pintu mobil dan mengambil tempat di depan setir.
Entah kenapa, rasanya enggan untuk berpisah dari Kai. Hati kecilnya selalu saja berkata lain. Jika dulu ia pernah berkata tak ingin melihat Kai lagi, akan tetapi kini justru ia ingin selalu melihat Kai berada dalam pandangannya dimanapun.
Apakah ia benar-benar telah jatuh hati?
Sikap dan pembawaan Kai yang tenang, begitu menawan hatinya. Dan mampu membuatnya terpikat. Tidak salah jika perasaan aneh yang ia rasakan saat ini adalah cinta.
Karena hanya cinta yang mampu membolak-balikkan perasaan seseorang. Dari benci menjadi cinta. Dari kesal menjadi nyaman. Dan hanya cinta pula yang mampu menghilangkan akal sehat. Dari waras menjadi gila.
__ADS_1
Mungkin seperi itulah yang dirasakan Dara saat ini. Cinta telah membolak-balikkan perasaannya. Hingga sedikit menghilangkan akal sehatnya.
Dara memalingkan wajahnya sesaat. Memandangi Kai yang melambaikan tangan padanya sambil tersenyum manis.
"Be careful (hati-hati)." Ujar Kai sekali lagi mengiringi kepergian Dara. Yang mulai memacu mobilnya pelan meninggalkan area parkir kafe itu.
.
.
Dara menghempas tubuhnya di tempat tidur empuknya. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Menghela napas sejenak. Sebelum akhirnya memejamkan mata.
Namun, disaat mata terpejam, yang muncul dalam kegelapan, hanyalah bayang wajah Kai. Yang tersenyum lembut dengan sorot mata teduh nan menenangkan. Hingga tanpa sadar, Dara tersenyum-senyum sendiri dengan hati berbunga-bunga.
Sungguh ia telah dibuat gila oleh pesona Kai. Belum pernah ia merasa seperti ini sebelumnya. Perasaan ini sungguh membuatnya hilang akal. Sepanjang membayangkan Kai, sepanjang itu pula ia tersenyum-senyum sendiri dengan hati yang kian berdebar-debar.
Sementara di lain tempat, Kai menghentikan mobil yang dikendarainya di seberang jalan. Tak jauh dari sebuah toko bunga yang bertuliskan Joanna's Flower.
Dari balik kaca jendela mobil, Kai mengamati keadaan toko bunga itu. Yang tampak mulai sepi. Dari dalam toko itu seorang wanita cantik keluar bersama seorang wanita lainnya yang mengenakan seragam bertuliskan Joanna's Flower.
Kai senantiasa mengawasi wanita cantik itu. Yang tidak lain adalah Joanna, pemilik toko bunga tersebut. Netra nya tak pernah lepas dari wanita itu.
Joanna melambaikan tangannya setelah karyawannya berpamitan. Sambil mengulas senyum manisnya. Detik berikutnya, senyum manis itu memudar. Saat pandangannya terhenti pada sesosok pria yang baru saja turun dari mobilnya.
Pria itu, Kaivan, berdiri tak jauh sambil melayangkan pandangannya pada Joanna.
Joanna tampak membuang napasnya panjang. Menatap lurus Kaivan yang juga menatapnya.
.
Setelah menaruh secangkir teh hangat itu, Joanna lantas menarik satu kursi di depa Kai dan mendudukkan diri di sana. Ditatapnya Kai yang menatap kosong cangkir teh di depannya.
"Apa kabar Ziyo?" Tanya Kai ingin tahu keadaan Ziyo. Putra kecil Joanna dan Revan Arsenio. Kakak kandung Kai. Pria yang dipilih Joanna menjadi pendamping hidupnya. Akan tetapi nasib naas menimpa Revan setelah Joanna melahirkan putra mereka.
"Ziyo baik-baik saja." Jawab Joanna.
"Kabar kamu sendiri?"
Joanna tak langsung menjawab pertanyaan yang satu itu. Ia kembali menghela napas yang mulai terasa berat. Jujur saja, ia tidak sedang baik-baik saja saat ini. Rasa kehilangan yang teramat dalam masih membebani hatinya hingga detik ini.
"Maaf. Aku nggak bermaksud membuat mu teringat_"
"Aku baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat." Sela Joanna cepat sebelum Kai menyelesaikan kalimatnya. Sembari mengulas senyum tipisnya.
"Oh ya, silahkan diminum dulu. Nanti keburu dingin." Tambahnya mempersilahkan.
Kai pun meraih cangkir teh itu. Dan menyeruput teh nya sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Kembali ia letakkan cangkir teh itu setelah beberapa kali menyeruputnya. Lalu dipandanginya Joanna yang tengah menundukkan wajahnya.
"Pasti berat buat kamu." Ujar Kai kemudian.
Joanna tampak menghela napas panjang. Detik berikutnya ia kembali mengangkat wajahnya. Menatap Kai dengan seksama.
"Lumayan berat. Rindu ini yang terasa begitu menyiksa. Aku hanya nggak menyangka, Revan akan pergi secepat ini." Ucap Joanna lirih dengan wajah sedih.
"Andai saja aku tau hal ini akan terjadi." Tambahnya lalu kembali menghela napas panjang. Seakan ada penyesalan dalam kalimat itu.
"Takdir seseorang nggak ada yang tau. Apa yang sudah Tuhan gariskan dalam hidup kita, kita nggak akan bisa merubahnya."
"Kamu benar. Nggak ada gunanya lagi kita mengungkit masa lalu. Oh ya, kamu sendiri, apa kabar mu. Kapan kamu kembali?" Joanna mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Seminggu yang lalu."
"Kamu akan menetap di kota ini lagi?"
"Mungkin. Aku kembali ke luar negeri pun nggak akan ada gunanya. Semua kenangan yang aku punya, ada di sini." Ujar Kai sembari menatap Joanna dalam-dalam. Hingga membuat Joanna salah tingkah. Sontak Joanna pun memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Kai yang kian terasa menusuk kalbunya.
Hubungan yang pernah terjalin diantara keduanya, masih sulit bagi Kai untuk melupakannya. Bahkan rasa sakit di hati Kai terkadang datang mengiris kalbu. Membawa pedih dan menyisakan perih. Hingga membuatnya trauma untuk kembali membuka hati dan menjalin hubungan dengan wanita lain.
Bagaimana tidak, Revan, kakak kandung Kai sendiri telah menjadi duri dalam hubungan asmaranya. Revan telah menjadi jurang pemisah diantara ia dan Joanna.
Tiada angin tiada hujan. Tiba-tiba saja saat itu Joanna memutuskan hubungan mereka tanpa sebab dan alasan yang pasti. Hingga suatu hari, Kai mengetahui alasan dibalik berakhirnya hubungannya dengan Joanna adalah Revan, kakak kandungnya sendiri.
Bagai petir menyambar di siang bolong, suatu hari, Joanna mendatanginya hanya untuk memberitahu tentang rencana pernikahannya dengan Revan. Kai yang datang berkunjung, di sela-sela kesibukannya menyelesaikan studinya di luar negeri kala itu, begitu terpukul mendengar kabar itu.
Entah siapa yang lebih dulu, tetapi itulah kenyataannya. Kai tak tahu, entah sudah berapa lama Joanna menjalin kasih dengan Revan. Yang ia tahu, ini teramat mengejutkan baginya.
Namun Kai tak mampu berbuat apa-apa. Kai sadar, mungkin ini sudah resiko atas hubungan jarak jauh yang ia jalani bersama Joanna. Meski saling mencintai, namun tak menjamin kelanggengan suatu hubungan.
Akan tetapi, kenapa harus Revan yang dipilih Joanna?
"Jo ... Can i be honest with you (boleh aku jujur sama kamu)?" Tanya Kai.
"What about (tentang apa)?"
"I miss you (aku rindu kamu)."
TBC
**Sorry slow update. Gak janji bisa update banyak, tapi akan diusahakan up setiap hari.
Otor baru aja lahiran, tapi jempol dan otak suka gak sinkron. Pengen hiatus, tapi kangen reader dan otak ini gak bisa berhenti ngehallu☺️☺️
So, semoga tulisan amburadul dan cerita recehan ini masih bisa menghibur☺️
__ADS_1
Salam hallu🙏
Othor Kawe**