
"Oh gosh (astaga)!" Beno memekik kencang saat mata nya melihat dengan jelas sahabatnya tidur bersama seorang wanita.
Dara dan Kai yang berada dalam posisi tak wajar itu pun gelagapan. Lantas dengan cepat turun dari tempat tidur dan membenahi tampilan keduanya yang berantakan. Wajar setiap bangun tidur, penampilan sudah pasti berantakan.
"Ben? Ngapain kamu ke sini? Lain kali ketok pintu dulu dong." Kai berjalan menghampiri Beno yang masih berdiri di ambang pintu.
Beno yang masih dalam mode tercengang, menggeleng tak percaya menyaksikan pemandangan yang tersaji saat ini.
Terlebih lagi saat melihat Dara. Ia semakin terkejut dibuatnya.
"Dara?" Beno melempar pandangan pada Dara yang masih berdiri di sisi ranjang.
Gadis itu meringis malu. Salah tingkah, bahkan tak tahu harus berbuat apa saat ini.
"Sejak kapan kalian..."
"Jangan salah paham dulu. Ini nggak seperti yang kamu lihat." Sela Kai cepat.
"Salah paham? Yang benar saja Bro." Beno lantas mendekatkan wajahnya, setengah berbisik ia kembali berkata, "aku justru senang kamu bisa dekat dengan Dara."
"Jangan ngawur. Oh ya, ada apa kamu datang kemari?" sembari mengayunkan kaki keluar kamar. Diikuti oleh Beno. Dan menyusul Dara.
Beno dan Kai mengambil duduk di meja makan. Terkecuali Dara. Gadis itu beranjak ke ruang tengah mengambil tas dan ponselnya yang sejak tadi berdering. Alarm yang ia setel kencang, berbunyi nyaring memenuhi seisi ruangan.
"Duuuh ... Sial banget. Kenapa aku bisa tidur di kamar Kai sih? Apa aku tidur sambil jalan? Atau aku jalan sambil tidur? Aaaahhh ... Sial, sial, sial. Dasar sial!" Dara mengetuk-ngetuk kepala. Merutuki kecerobohannya sendiri. Bagaimana bisa ia yang semalam tidur di sofa, bisa pindah ke kamar Kai.
Apa mungkin Kai yang memindahkannya, lalu berpura-pura tak tahu?
Ikh, Dara Ge er. Terlalu percaya diri.
"Nggak, nggak mungkin. Dara ... Sadar dong. Kamu yakin, Kai juga suka sama kamu?"
Dara lantas memeriksa pesan yang masuk. Yang sebagian besar dari Mama Maya.
Sementara di meja makan, Beno terus saja menggoda Kai. Betapa senangnya Beno melihat Kai sedang bersama Dara. Itu artinya, perlahan Kai sudah mulai move on dari masa lalunya.
"Ehem ... Ehem ..." Beno berdehem sejenak. "Kai ... Aku boleh nanya nggak nih?"
"Nanyanya jangan yang aneh-aneh. Nggak bakalan aku jawab," ketus Kai menatap kesal.
"Kamu kok bisa ..." Beno mengetuk-ngetukkan dua jari telunjuknya sambil mengerucutkan bibirnya. Sebagai isyarat orang yang berciuman.
"Apaan itu maksudnya?"
"Apa kalian juga sudah ... Beno hendak memperagakan dua orang yang sudah tidur bersama. Tapi Kai menyelanya cepat.
"Sialan kamu. Itu nggak seperti yang kamu lihat Ben. Kamu salah paham."
"Tapi kalian ..."
"Sejak kemarin aku sakit. Dan Dara, dia datang untuk mengembalikan barangku. Dan dia juga yang sudah merawatku semalaman."
__ADS_1
"Kamu sakit Bro?" Beno terkejut. Biasanya Kai akan mengabarinya jika dia sakit.
"Kamu pikir?"
"Kenapa kamu nggak kasih tau aku? Aku kan sahabatmu Kai. Atau kamu udah mulai nggak percaya lagi nih?"
"Sorry, aku lupa."
"Jelas lah kamu lupa. Sekarang kan sudah ada Dara."
Tatapan Kai menajam. Membuat Beno salah tingkah.
"Eh, tapi benar Bro. Aku senang jika kamu bisa lebih dekat lagi dengan Dara. Aku akan mendukung sepenuhnya hubungan kalian. Bahkan sampai titik darah penghabisan," ujar Beno bersemangat dengan dada membusung. Menunjukkan kesungguhan hatinya.
Kai menggeleng. Kemudian memijit keningnya. Ia masih bertanya-tanya dalam hati, kenapa ia bisa tidur bersama Dara.
Untuk kebaikan Dara yang sudah merawatnya semalaman, ia sungguh berterima kasih. Tetapi, hal itu cukup mengganggunya. Tidur seranjang bersama gadis itu, sungguh Kai tak mengira.
Kai adalah pria dewasa yang normal. Ia hanya tak ingin lupa diri dan kehilangan kendali. Gadis itu mampu membuatnya tergoda. Meski ia masih dibuat bingung akan perasaannya sendiri.
"Oh ya, apa kalian sudah sarapan?" tanya Beno kemudian.
"Itu baru pertanyaan yang benar. Belum."
"Ya udah, kebetulan hari ini kafe ku tutup. Jadi aku pesan kan makanan aja." Beno mengambil ponsel dari saku lalu mulai memesan makanan lewat aplikasi.
"Oh ya, ngomong-ngomong ada apa kamu datang kemari?" tanya Kai mengalihkan pembicaraan.
"Kebiasaan kamu. Kemana lagi kali ini?"
"Maksudnya?"
"Bukannya kamu mau ngajak jalan?"
Tebakan Kai tidak salah. Beno memang ingin mengajak jalan Kai. Kebetulan juga hari minggu. Akan tetapi, setelah menyaksikan kejadian tadi, mendadak timbul satu ide di kepalanya.
"Oooh itu, aku mau ... Mau ..." Beno berpikir sejenak.
"Mau apa?"
"Permisi..." Dara datang disaat yang tepat. Membuat ide cemerlang Beno semakin jelas di benaknya.
Beno kemudian bangun dari duduknya. "Oh ya, sorry Bro. Aku harus pulang sekarang. Makanannya udah aku pesan dan bentar lagi sampe. Kalian nikmati saja sarapan kalian dengan tenang. Oke?" ujar Beno.
"Kenapa buru-buru sih Ben?" tanya Kai.
"Aku harus menyiapkan keperluan buat pesta nanti malam."
"Kamu nggak ikut sarapan?" tanya Dara.
"Enggak. Kebetulan, aku udah sarapan dari rumah. Oh ya, Dara, aku mengundang kamu untuk pesta kecil-kecilan di rumahku nanti malam. Jangan lupa datang ya? Kamu juga Kai. Datanglah tepat waktu."
__ADS_1
"Pesta? Pesta apaan sih?" Kai mengernyit heran. Tak biasanya sahabatnya itu mengadakan pesta seperti ini.
"Ada deh ... Pokoknya datang saja. Nanti juga kamu akan tau sendiri."
"Oke? Kalau gitu aku pamit pulang dulu. Oh ya Dar, alamatnya nanti aku share location ke Yola. Kamu datang saja bareng dia ya? Aku permisi. Selamat menikmati waktu kalian," tambah Beno antusias. Lalu beranjak meninggalkan Kai dan Dara berdua.
Seperginya Beno, giliran Dara yang menghampiri Kai, hendak pamit pulang. Kai lantas bangun dari duduknya.
"Sorry ... Aku nggak bisa nemenin kamu sarapan. Aku harus pulang sekarang," ucap Dara dengan wajah tertunduk malu. Tak berani menatap Kai.
"Beno sudah memesan untuk dua orang. Sarapan aja dulu, baru kamu boleh pulang."
"Tapi ..." Dara bukannya tidak mau sarapan berdua dengan Kai. Hanya saja berbagai pikiran dan prasangka buruk berkecamuk dalam benak saat ini.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau. Nggak apa-apa."
"Aku mau. Aku mau kok." Dara akhirnya mengangkat wajah. Memberanikan diri menatap Kai.
Kai mengulas senyum tipis. "Makasih."
Dara membalas senyum Kai. Sembari menatap lekat Kai yang juga menatapnya lekat. Tatapan yang saling bertaut itu menimbulkan debaran aneh di hati keduanya. Yang membuat keduanya semakin larut dalam suasana. Menatap semakin dalam. Begitu lekatnya seakan tak ingin terlepas.
"Kenapa kamu bisa tidur di kamarku?" tanya Kai kemudian. Membuat Dara terhenyak. Membuyarkan lamunan indahnya yang mulai membuai.
"Oooh ... I ... Itu ... Aku hanya ingin memastikan keadaan kamu saja. Semalaman kamu terus memanggil-manggil nama Jo. Aku hanya takut demam kamu makin parah aja. Jadi aku memutuskan menemani kamu. Eh, nggak taunya aku malah ketiduran," terang Dara tentang kejadian semalam. Saat ia akhirnya tertidur di kamar Kai.
Dara yang saat itu hendak menyelami mimpi indahnya di sofa ruang tengah, tiba-tiba mendengar suara Kai yang memanggil-manggil nama Jo. Dara lantas beranjak ke kamar Kai.
Cemas akan demam Kai yang kian bertambah suhu badannya, Dara pun memutuskan untuk menjaganya sepanjang malam. Mengompresnya berulang kali. Sampai akhirnya ia tertidur lantaran tak bisa menahan kantuk.
"Kalau boleh tau, Jo itu siapa sih?" tanyanya kemudian.
Kai menghela napas sejenak. "Bukan siapa-siapa. Hanya seorang teman."
"Jo itu laki-laki atau perempuan?" Duh, kenapa Dara malah bertanya lebih jauh.
"Menurut kamu?"
Dara meringis malu sambil menggaruk tengkuknya.
"Mana aku tau." Dara memang tak tahu. Tetapi tak mengurangi rasa penasarannya. Semula ia tak ingin tahu dan tak peduli. Tetapi, mendengar Kai terus memanggil namanya semalam, membuatnya penasaran pada akhirnya.
"Kalau Jo itu perempuan, kenapa?" tanya Kai semakin menatap lekat Dara.
"Ya ... Aku cemburu lah," sahut Dara jujur.
"Ups!" Tetapi kemudian Dara menyadari, lantas membekap mulutnya sendiri.
Dan Kai, mengurai senyumnya sambil terus menatap Dara. Membuat jantungnya berdebar tiba-tiba.
TBC
__ADS_1