You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 42


__ADS_3

Air mata Dara semakin tertumpah ruah saat mengingat nya. Isak tangisnya pun semakin menjadi. Namun ia berusaha menahannya, membekap mulut semakin kuat. Agar isak tangis itu tak terdengar.


Apa yang harus ia lakukan jika suatu hari nanti Kai mengetahui kebenarannya?


Lantas bagaimana ia harus bersikap sekarang jika bertemu dengan Kai. Haruskah ia berpura-pura tah tahu apa pun?


Ya.


Ia hanya harus bersikap seperti itu. Toh, Kai tidak tahu yang sebenarnya. Dan ia harus menyembunyikan rapat-rapat kebenaran itu.


Ia sungguh tak ingin kehilangan pria yang ia cintai. Pria yang telah ia serahkan seluruh jiwa dan raganya.


Kai tak boleh tahu yang sebenarnya.


Dara bertekad dalam hati.


.


.


Sembari membalas pesan chat dari Kai, Dara melangkah pelan keluar dari kamar. Saat Mama Maya datang menghampirinya.


"Dara," panggil Mama Maya.


Dara tersentak. Menghentikan langkahnya, lalu menoleh.


"Akhir-akhir ini kamu kok jadi sering nginap di rumahnya Yola?" selidik Mama Maya penuh curiga.


"Emang kenapa, Mah?"


"Ya nggak apa-apa sih. Asal kamu nggak bohongin Mama aja. Mama nggak masalah kamu sering nginap di rumah Yola. Tapi Mama nggak mau kalau sampe kamu menyembunyikan sesuatu dari Mama."


"Iya Mah. Kalau ada masalah, nanti bakal aku cerita sama Mama. Sekarang aku lagi buru-buru nih, Mah. Dah Mama ..." Dara pun berlalu. Setelah mengecup pipi Mama Maya.


Dara bergegas naik taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya. Hari ini, sengaja ia tidak membawa mobil. Sebab ia tahu, hari ini Kai juga punya mata kuliah. Jadi ia bermaksud ingin pulang bersama Kai.


Mama Maya yang keheranan sekaligus bertanya-tanya akan perubahan tingkah putrinya belakangan ini, dikagetkan dengan kehadiran Papa Yuda. Yang tiba-tiba saja datang dan menepuk pundaknya, membuatnya tersentak.


"Mah!" seru Papa Yuda mengagetkan Mama Maya.


"Si Papa bikin kaget aja deh Pah." Mama Maya langsung memasang tampang cemberutnya. Sedangkan Papa Yuda malah tertawa geli.


"Udah tua masih aja cemberut. Makin tua nanti kalau mukanya keseringan di tekuk begitu." Bukannya membujuk dengan rayuan, Papa Yuda malah meledek. Membuat sang istri semakin menekuk wajah berlipat-lipat.


Dan Papa Yuda justru tergelak dengan ekspresi menggemaskan sang istri.


"Biarin. Yang tua juga Mama, bukan Papa kan?"


"Ceileh ... Dah tua malah makin merajuk aja. Oh ya, Dara mana Mah? Dari kemarin Papa belum melihat anak itu. Apa semalam dia nggak pulang lagi?"


"Dia nginap di rumah Yola."


"Lagi?"

__ADS_1


Mama Maya mengangguk. "Tuh, dia baru aja pergi. Padahal dia baru nyampe rumah. Eh, malah udah pergi lagi. Udah gitu, dia nggak bawa mobil. Malah naik taksi."


"Oh ya?"


"Mama kok belakangan ini merasa ada yang aneh dengan Dara. Apa sekarang ini dia sedang dekat dengan seseorang?" Mama Maya tampak berpikir. Menerka-nerka tentang putrinya.


"Menurut Mama begitu?"


"Iya Pah. Mungkin saja kan? Soalnya, akhir-akhir ini, tingkah Dara tuh aneh Pah. Berbeda dari biasanya. Mama jadi curiga deh."


"Nggak baik Mah mencurigai anak sendiri. Mendingan kita tanyakan saja langsung pada Dara. Biar nanti Papa aja yang nanya saat dia pulang nanti."


"Ya udah deh, Pah. Nanti Papa ajak Dara ngobrol ya Pah? Kalau perlu, Papa minta dia buat ngenalin pacarnya. Biar kita tau, laki-laki seperti apa yang dekat dengan putri kita."


"Iya," sahut Papa Yuda singkat. Kemudian berlalu.


.


.


Padahal ada begitu banyak toko bunga dengan kualitas yang sama bagusnya. Tetapi entah kenapa, Joanna's Flower lah yang menjadi pilihan Kai.


Sebelum ke kampus, Kai menyempatkan diri ke toko bunga itu. Bukan untuk bertemu Joanna, melainkan untuk membeli buket bunga mawar merah untuk seseorang yang teristimewa di hati.


"Kamu mau bunga jenis apa?" tanya Joanna saat melayani Kai sebagai pelanggan kali ini.


Kai mengedarkan pandangan sejenak, dan terhenti pada setumpuk bunga mawar merah yang bermekaran.


Senyum tipis pun tercetak di bibirnya. "Bunga mawar merah," ucapnya.


"Someone special (seseorang yang spesial)," sahutnya singkat dengan binar-binar cinta di matanya. Membuat hati Joanna tersentil seketika. Membuat darahnya berdesir nyeri tanpa ia tahu sebabnya.


"Who is she (siapa dia)?" Kembali menoleh. Mendongak, menatap Kai. Entah kenapa, ia seakan tak suka mendengar kalimat itu. Terlebih, jika maksud kalimat itu adalah wanita lain.


Kai kini mengulum senyum manisnya. "Should i tell you (haruskah aku memberitahumu)?"


Joanna terdiam sejenak. Kemudian mengangguk.


"Untuk apa?" Kini tatapan berbinar itu berubah menjadi tatapan yang terasa kian tajam menusuk.


Mendadak Joanna pun salah tingkah dibuatnya. Cepat ia berpaling muka, menghindari tatapan Kai yang terasa semakin menyelidik jauh perasaannya saat ini. Ia hanya tak ingin Kai berpikir macam-macam tentangnya nanti.


Tetapi kemudian Joanna menemukan alasannya. "Tentu saja. Aku harus tau nama yang akan menerima bunga itu. Karena nama itu akan aku tulis dalam kartu ucapan."


Kai mengangguk santai. "Oke. Namanya adalah Dara."


"Your girlfriend (pacar kamu)?"


"Menurut kamu?" Kai malah melempar pertanyaan itu kembali. Membuat Joanna semakin salah tingkah.


"Seseorang yang spesial itu sudah pasti adalah..." Joanna seakan enggan menuntaskan kalimatnya. Entah kenapa, ada rasa sakit saat mengetahui Kai mencintai wanita lain.


Rasa sakit itu terasa menusuk kalbu. Menikam dalam,  membawa perih yang menyiksa. Akankah ia cemburu?

__ADS_1


Tidak!


Joanna berusaha memungkiri perasaannya. Rasa cemburu yang datang menerjang, sangat kentara dari raut wajahnya saat ini.


Kai tahu betul gelagat itu. Tetapi sekarang, Kai sudah tak peduli lagi. Sebab seluruh ruang di hati, telah ada yang mengisi.


"Do you love her (kamu mencintainya)?" tanya Joanna tiba-tiba. Terlontar begitu saja dari bibirnya.


Kai diam sejenak, menatap lekat Joanna. Yang menatapnya dengan tatapan berbeda. Sorot mata Joanna menampakkan api cemburu. Tetapi wanita itu, berusaha menutupi seelok mungkin. Agar tak kentara dan terbaca oleh Kai.


"So much (sangat)." Singkat dan jelas jawaban Kai. Namun mampu membuat hati Joanna serasa di remas, dan perih bersamaan.


Ternyata Joanna telah salah menduga. Semula ia mengira Kai tak akan mampu berpaling darinya. Hingga ia sempat berpikir, akan memberi Kai kesempatan untuk kedua kali.


Bukan tanpa alasan ia akhirnya berpikiran demikian. Sebab, ada sesuatu yang harus ia perjuangkan. Yaitu, masa depan Ziyo. Bukankah Ziyo harus tahu, siapa ayah kandungnya?


"Semudah itu kamu mencintai wanita lain?" tanya Joanna dengan bibir bergetar. Sakit menahan perih. Menyesal kenapa ia sering menghindari pria itu. Yang jelas-jelas masih mengisi ruang di hatinya?


Kai mengernyit. Merasa aneh dengan pertanyaan Joanna kali ini.


"Secepat itu kamu menggantikan aku dengan orang lain?" Joanna menggigit bibir saat perih itu semakin menusuk. Berusaha sekuat tenaga agar tak menumpahkan air mata.


"Lalu, untuk apa aku harus bertahan dengan masa lalu yang membuat aku menderita?" tandas Kai tajam.


"Sakit juga butuh obatnya, Jo. Nggak akan sembuh dengan sendirinya. Kamu ngerti kan?" sambungnya, menatap tajam Joanna.


Joanna mengerti maksud ucapan Kai. Ia hanya tak menyangka secepat ini Kai menemukan penggantinya. Yang semula ia mengira Kai cinta mati kepadanya. Dan tak akan mungkin bisa mencintai wanita lain.


Namun, agaknya, Joanna telah salah mengira. Kai kini telah berpaling. Rasa sesal pun tak dapat ia hindari.


"Ziyo rindu kamu, Kai," ucap Joanna akhirnya. Demi meraih kembali perhatian Kai melalui anak kecil itu.


"Sampaikan saja salam ku untuk Ziyo."


"Ziyo pengen ketemu kamu."


"Aku pasti akan menemui Ziyo kalau aku punya waktu luang."


"Ada sesuatu tentang Ziyo yang harus kamu tau."


Kai terhenyak. Darahnya berdesir mendengar kalimat itu. Rasa cemas pun melanda seketika itu juga.


"Ziyo kenapa? Ziyo baik-baik saja kan?" tanyanya cemas.


"Ziyo baik-baik saja."


"Syukurlah."


"Kai." Joanna tampak serius ingin mengatakan sesuatu kali ini.


"Apa kamu tau, kalau Ziyo itu, sebenarnya ..." Joanna menghela napas sejenak.


Dan Kai menunggu Joanna menuntaskan kalimatnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2