You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 22


__ADS_3

Langit malam ini begitu indah. Dihiasi bulan dan bintang yang berkilauan dari atas sana. Kerlip bintang di langit bagai hati Dara malam ini. Yang begitu senangnya bisa berkunjung ke rumah Kai.


Kai meminta Dara datang ke rumahnya untuk membahas materi perkuliahan esok hari. Kai memilih pertemuan di rumahnya sendiri, sebab tidak ada tempat lain yang lebih cocok selain di rumah. Keamanan dan kenyamanannya terjamin.


Tetapi, apakah menjamin untuk dua anak manusia yang sudah sama-sama dewasa?


Siapa yang tahu jika setan usil akan ada diantara mereka berdua. Yang selalu siap menggoda dan menjerumuskan anak manusia untuk jatuh ke lembah dosa.


Kita lihat saja nanti.


Dara mengatur napas nya, menghilangkan rasa gugup yang mulai mendera. Sembari ia merapikan rambut dan pakaiannya yang bahkan sudah terlihat rapi. Tingkah Dara tak ubahnya anak kemarin sore yang sedang jatuh cinta.


Perlahan, dengan tangan gemetar, Dara menekan bel pintu. Selang beberapa menit, pintu rumah Kai terbuka lebar. Kai berdiri di ambang pintu dengan tangan kanan yang masih memegangi handel pintu.


"Nggak susah kan nyari alamatnya?" Tanya Kai sembari tersenyum.


"Enggak kok. Nggak susah." Jawab Dara meringis malu. Namun batin mendesis.


"Nggak susah sih, tapi lumayan bikin pusing. Sampe-sampe aku salah masuk gang berkali-kali. Tapi demi kamu, nggak apa-apa. Aku rela." Batin Dara menggerutu. Sebab perjalanannya mencari alamat rumah Kai, berkali-kali membuatnya salah masuk gang, salah masuk lorong. Padahal alamat yang Kai beri sudah sangat jelas.


Apa mungkin ini dikarenakan Dara yang diserang panik mendadak lantaran untuk pertamakalinya berkunjung ke rumah seseorang yang begitu istimewa di hatinya. Hingga Dara kurang berkonsentrasi.


"Maaf ya udah nyusahin kamu."


"Ah nggak apa-apa kok."


"Oh ya, sampai lupa. Mari, silahkan masuk."


Kai memiringkan tubuhnya, mempersilahkan Dara masuk.


Dengan hati berdebar-debar Dara pun membawa langkahnya masuk. Diikuti oleh Kai setelah menutup pintu rumahnya.


Kai mengajak Dara ke ruang tengah. Dimana ia telah menyiapkan minuman hangat dan aneka cemilan.


"Waaah ... Cemilannya banyak. Kamu yang menyiapkan semua ini?" Tingkah Dara seperti anak kecil yang baru melihat cemilan saja. Hingga membuat Kai tersenyum-senyum.


"Iya. Lumayan buat ngilangin bosan dan lelah."


"Kalau sama kamu aku nggak bakalan bosan kok."


"Oh really (benarkah)?"


"Ups!" Lagi-lagi Dara keceplosan. Membuatnya malu setengah mati. Dan hanya bisa tersenyum-senyum kikuk.


"Silahkan duduk." Ucap Kai.


Dara pun lantas mengambil duduk di sofa. Di susul oleh Kai, mengambil duduk di sofa sebelah.


"Materinya kali ini cukup sulit. Tapi semoga kamu bisa menyimak dengan baik." Ucap Kai sembari membuka laptopnya yang sejak tadi tergeletak di meja sofa itu. Lantas menghidupkannya.


"Asal nggak sesulit mendapatkan hati kamu aja." Ucap Dara tanpa sadar. Hingga Kai pun sontak menoleh dan menatap Dara intens.

__ADS_1


"Kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Kai dengan kernyitan di dahinya. Jelas terdengar di telinganya ucapan Dara.


Dara pun terhenyak. Dan baru menyadari mulutnya yang selalu saja keceplosan.


Sedikit panik, Dara bingung harus menjawab apa.


"Hah? Kamu nanya apa tadi?" Dara malah berpura-pura tak mendengar pertanyaan Kai. Sembari meringis malu dan menggaruk tengkuk yang entah kapan mulai terasa gatal. Sekilas tingkah Dara mirip gadis bego.


Astaga.


Bukan hanya otak Dara saja yang sudah tidak waras dibuatnya, bahkan mulutnya tak terkontrol lagi. Sering ngelantur. Sungguh cinta itu memang gila. Segila perasaan Dara saat ini.


"Kamu tadi ngomong apa?" Tanya Kai sekali lagi.


"Nggak." Sembari menggeleng, "nggak ngomong apa-apa kok."


"Tapi tadi aku dengar sendiri. Kamu mengatakan sesuatu."


"Ah ... Kamu salah dengar kali. Aku nggak ngomong apa-apa kok. Iya, beneran, nggak ngomong apa-apa." Dara mulai salah tingkah. Sebab Kai menatapnya dengan senyum menghiasi wajahnya.


Entah kenapa, tingkah Dara selalu saja membuat Kai gemas. Namun tak berani mengatakannya langsung. Sebab mungkin suasana akan terasa canggung jika Kai jujur jika ia merasa senang bisa kenal dan berteman dengan Dara.


Hanya teman. Tidak lebih.


Andai Dara tahu tentang itu, mungkin Dara akan sangat kecewa. Bukan mungkin, tetapi sudah pasti Dara akan sangat kecewa. Sebab hatinya telah terlanjur terpaut pada pria itu.


"Mungkin memang aku yang salah dengar. Sorry." Ucap Kai kemudian.


"Oke. Kalau gitu, kita mulai saja materinya ya. Maaf, tolong duduknya pindah ke sini." Kai menepuk tempat kosong di sebelahnya, di sofa panjang itu.


Dara bangun dari duduknya dan berpindah ke sebelah Kai.


KaiĀ  pun mulai mencari materi yang sudah ia susun sebelumnya. Lalu mulai menjelaskannya.


Sementara Dara, sepanjang Kai menerangkan materi, bukannya menyimak penjelasan Kai, ia malah asik memperhatikan wajah Kai dengan seksama. Sambil tersenyum-senyum sendiri.


Merasa ada yang aneh, Kai pun menoleh. Dan mendapati Dara tengah menatapnya sambil tersenyum-senyum.


"Dara?" Panggil Kai demi menyadarkan Dara yang asik memandanginya.


"Hm?" Gumam Dara menyahuti Kai.


"Hei, Dara." Kai melambaikan tangannya di depan wajah Dara yang masih belum menyadari.


"So interesting (sangat menarik)." Gumam Dara tanpa sadar. Masih dengan mode memandangi Kai sambil tersenyum.


"What's interesting (apanya yang menarik)?" Kai dibuat bingung sekaligus merasa aneh dengan tingkah Dara.


"Your smile (senyum mu)." Dara masih belum juga menyadari setiap kalimat yang terucap tanpa sadar dari bibirnya.


Sementara Kai kian mengernyit. Merasa tingkah Dara sangat aneh. Bahkan Kai kebingungan menyahuti ucapan Dara yang terkesan nyeleneh.

__ADS_1


Astaga.


Saking terpikat oleh pesona Kai, Dara semakin dibuat hilang akal. Jatuh cinta itu memang aneh. Seaneh tingkah Dara malam ini. Bahkan gadis itu tergila-gila.


"What about my smile (kenapa dengan senyumku)?"


"Drive me crazy (membuatku tergila-gila)."


Kai terkekeh. Kembali ia melambaikan tangannya di depan wajah Dara. Lalu menjentikkan jarinya.


Namun Dara masih belum juga kembali akal sehatnya. Gadis itu benar-benar telah dibuat terpesona.


Malam ini Kai begitu menarik di matanya. So seksi. Pria itu tampil santai dengan celana jeans serta t'shirt putih agak ketat. Hingga menampakkan bentuk tubuh atletisnya.


Selain itu, pembawaan Kai yang ramah serta wajah yang selalu dihiasi senyum manis, membuat Dara serasa terbang melayang saat menatapnya. Pesona pria itu mampu membuat angannya melambung jauh.


"Dara." Akhirnya Kai memberanikan Diri menepuk pelan pundak Dara. Hingga Dara pun tersentak.


Bagai tersihir, akal sehat serta kesadarannya kembali ke tempatnya dalam sekejap. Dara salah tingkah. Lagi-lagi mulutnya tak mampu ia kendalikan. Hingga membuatnya malu untuk kesekian kalinya.


Kai kembali terkekeh melihat tingkah gelagapan Dara. Bahkan Dara mulai gugup. Dan mendadak ia merasa canggung.


"Kamu sedang melamun?" Tanya Kai.


Dara menggeleng. "Nggak. Maaf, boleh tolong diulangi lagi? Aku akan menyimak dengan baik." Pintanya kemudian.


"Kalau kamu masih banyak pikiran, kita lanjutkan nanti. Atau kamu mau ngemil dulu, minum dulu, atau kamu mau aku buatkan sesuatu? Kamu udah makan?"


"Hah?" Ya ampun, Dara malah seperti orang bego.


"Aku pikir kamu belum makan. Makanya kamu kurang konsen."


"Oh enggak. Aku udah makan kok. Udah kenyang banget malah. Aku mau ke toilet sebentar. Toilet nya di mana ya?"


"Di ujung situ." Kai menunjuk pojok ruangan.


"Maaf, aku permisi sebentar."


Sedikit gemetaran lantaran gugup yang mendera, Dara bangun dari duduknya. Entah Dara memang kurang berkonsentrasi atau memang ia gugup setengah mati, hingga ia tak mampu melangkah dengan benar.


Alhasil, ia pun terjatuh dan menimpa tubuh Kai. Keduanya jatuh terbaring di sofa panjang itu. Dengan posisi Dara berada diatas tubuh Kai.


Detik itu juga, keduanya saling menatap. Dalam jarak yang begitu dekat, hingga napas hangat keduanya terasa menerpa kulit.


Dara menelan saliva dalam-dalam. Saat matanya menatap sorot mata Kai yang menatapnya lekat.


Tatapan Kai membuat jantung Dara berdegup kencang. Mulai tak berirama.


Sama hal nya dengan Kai. Entah kenapa, mendadak jantungnya pun berdegup kencang saat menatap Dara dalam jarak yang begitu dekat. Bahkan teramat dekat. Paras manis Dara membuatnya tak mampu berpaling muka. Seakan menyihir untuk terus menatapnya.


"I think i'm in love (kurasa aku jatuh cinta)." Ucap Dara lirih.

__ADS_1


TBC


__ADS_2