
Sepanjang mereka sarapan, hening menguasai. Hanya bunyi denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar. Baik Dara maupun Kai, masih membisu. Menikmati sarapan dengan khidmat.
Sesekali keduanya tampak saling melirik satu sama lain. Bahkan kadang lirikan keduanya saling bertemu. Kemudian saling melempar senyum.
Tak ada yang tau, bagaimana dan seperti apa nanti hubungan yang mulai terjalin diantara keduanya. Yang perlahan mulai membuka jalan yang tak kasat mata.
Usai sarapan dengan suasana canggung yang mendominasi, Dara kemudian pamit pulang.
Sampai rumah, ia malah kena semprot Mama Maya lantaran tidak pulang semalam. Memang Ditha dan Yola sudah memberitahu Mama Maya, bahwa Dara menginap semalam di rumah Yola. Akan tetapi, Mama Maya ingin mendengarnya dari Dara langsung.
"Dara, kamu ini dari mana aja sih? Bener kamu tidur di rumah Yola? Kamu nggak bohongin Mama kan Dara?" cecar Mama Maya mengekori Dara sampai ke kamarnya.
"Yaelah Ma ... Nggak percayaan banget sih sama anak sendiri." Dara mendaratkan pantat di kasur empuknya. Disusul Mama Maya mendudukkan diri di sampingnya.
"Kamu udah sarapan?"
"Udah, bareng Yola."
"Oh ya Dar, teman kamu itu, siapa namanya?" Mama Maya menyipitkan mata, mengingat-ingat.
"Teman yang mana?"
"Teman kamu yang cakep itu. Yang nganterin kamu pulang waktu itu."
"Oooh ... Kai. Memangnya kenapa Ma?"
"Enggak. Nggak ada apa-apa. Coba sekali-sekali kamu ajak ke rumah. Kenalin sama Papa kamu. Biar Papa mu itu ada temen ngobrolnya."
"Ya ampun. Kan ada Mama. Emang ngobrol sama Mama nggak bisa ya? Lagian dia itu cuma temen Ma, bukan pacar. Malu kali Ma. Masa aku nawar-nawarin dia buat datang ke rumah."
"Nggak pekaan amat sih nih anak. Ya udah, Mama ke belakang dulu, banyak cucian." Mama Maya pun beranjak pergi tanpa banyak bertanya lagi.
Dara lantas menghempas tubuhnya, berbaring terlentang menatap langit-langit kamar sambil tersenyum-senyum, membayangkan kembali kejadian beberapa jam lalu. Saat ia terbangun dari tidur lelapnya dalam pelukan Kai.
Oh salah. Melainkan tengah memeluk Kai. Hati Dara berbunga-bunga, berdebar-debar, dan jantung berdegup kencang.
Sungguh indahnya jatuh cinta. Membuatnya bahagia setiap saat. Membayangkannya saja sudah membuatnya serasa terbang melayang.
Dara menarik guling, memeluknya erat, bahkan mencium guling berulang-ulang kali. Seolah guling itu adalah Kai.
"Kaivan Arsenio ... I love you," ujarnya bahagia. Sambil terus mencium guling.
Astaga.
Jatuh cinta sudah membuatĀ Dara seperti orang tak waras saja.
Sementara di lain tempat, Kai baru saja selesai mandi. Hatinya kembali berdebar-debar melihat kain kompresan dan tempat tidurnya.
Bayangan saat Dara tidur sambil memeluknya, sekilas melintas di benaknya. Membuat senyum di bibirnya mengukir indah.
Kai tak memungkiri, ia memiliki ketertarikan terhadap gadis itu. Gadis yang selalu mampu membuatnya terhibur. Berbeda disaat ia menjalin hubungan dengan Joanna. Terasa hambar. Meski hubungan mereka sejujurnya sempat melangkah jauh melewati batas.
Namun bersama Dara, jiwanya kembali bergairah. Gadis itu membuat dunianya jungkir balik seketika. Seperti malam dihiasi kerlip bintang. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan. Seperti sinar mentari di pagi hari.
__ADS_1
Bertemu Dara, membuatnya kembali bersemangat. Mungkinkah Kai telah jatuh cinta?
.
.
Malam menjelang. Dara tengah mencatut diri di depan cermin. Merias diri secantik mungkin, demi memukau pandangan seseorang yang telah membuatnya tergila-gila.
Kai.
Ya. Siapa lagi jika bukan pria itu. Pria tampan yang menurutnya seksi dan terlalu indah dipandang mata.
Dara tersenyum-senyum melihat pantulan dirinya di cermin. Gaun merah selutut yang menjadi pilihannya kali ini.
Malam ini, ia ingin menjadi diri sendiri. Tampil seperti yang ia mau.
Selesai bersiap, Dara lantas menjemput Yola di rumahnya. Bersama-sama mereka pergi ke alamat yang diberikan Beno beberapa jam lalu kepada Yola.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai. Yang ternyata alamat yang diberikan Beno adalah alamat apartemennya.
Dara menekan bel pintu begitu mereka tiba di unit apartemen Beno. Tak berapa lama, pintu apartemen terbuka lebar. Beno berdiri di ambang pintu dengan senyum terukir di bibirnya.
"Selamat datang nona-nona cantik," sapa Beno.
"Hai ... Maaf, apa kami telat?" tanya Dara.
"Enggak. Justru kalian datang tepat waktu. Oh ya, mari, silahkan masuk nona-nona." Beno menggeser tubuhnya, memberi jalan pada Dara dan Yola masuk.
"Yang lain belum pada datang ya?" tanya Dara sembari mengedarkan pandangan.
"Kok sepi Pak Beno? Katanya ada pesta. Teman-temannya Pak Beno kok belum ada yang datang?" Yola mengernyit memandangi Beno.
Beno menggaruk tengkuknya yang entah sejak kapan mulai terasa gatal. Gelagatnya tampak mencurigakan. Yola pun semakin memicing menatapnya.
"Pak Beno nggak sedang mengerjai kita kan?" Yola semakin mencurigai Beno.
Jika memang Beno sedang mengadakan pesta kecil-kecilan, kenapa keadaan apartemen begitu sepi. Bahkan tak memperlihatkan suasana pesta sama sekali. Bagaimana Yola tak curiga?
"Nggak. Kebetulan undangan pestanya terbatas. Hanya ada empat orang," ujar Beno.
"Empat orang? Siapa?"
"Hanya kamu, Dara, saya sendiri, dan..."
"Ben? Kamu bilang ada pesta, kok nggak ada persiapan apa pun?" Kai keluar dari kamar Beno dan netra nya langsung tertumbuk pada sosok Dara. Yang terlihat cantik malam ini. Membuatnya terkesima.
Gaun merah itu begitu kontras dengan kulit seputih salju Dara. Menimbulkan kesan seksi di mata Kai. Ditambah lagi polesan make up tipis dengan gincu merah, membuat tampilan Dara terlihat elegan.
Kai bahkan tak berkata-kata lagi, saking terpukau melihat kecantikan Dara.
Dara melempar senyum manisnya pada Kai yang menatapnya tak berkedip.
"Nah, ini dia orangnya." Beno menghampiri Kai. Menarik lengannya, menyeretnya menghampiri Dara dan Yola.
__ADS_1
"Jadi, maksud Pak Beno, hanya kita berempat?" tanya Yola.
Beno mengangguk. "Yap. Tepat sekali."
Yola membuang napas kasar. Kesal dengan Beno yang selalu saja mengerjainya.
"Pak Beno tuh iseng apa gimana sih? Kok tega-teganya ngerjain saya sama Dara?" kesal Yola setengah mati. Ia bahkan membuang muka saking jengkelnya.
"Eeeh ... Jangan salah paham dulu dong. Saya nggak bermaksud mengerjai kalian. Pestanya memang hanya untuk kita berempat." Beno kemudian menghampiri Yola.
"Terus, ini apa?"
"Sini, ikut saya." Beno menarik lengan Yola. Henda mengajak gadis itu keluar apartemen.
"Eh, eh, eh. Saya mau di bawa ke mana nih Pak? Awas, jangan macam-macam loh ya? Pak Beno nggak tau kan kalau saya ini jago bela diri?" Yola tak lantas mengikuti Beno. Ia tarik lengannya agar terlepas dari cengkeraman Beno.
"Saya mau jelasin sama kamu, kenapa pesta ini hanya ada kita berempat. Sekalian kita belanja keperluan pestanya. Kebetulan tadi saya sibuk, jadi nggak sempat belanja."
"Tapi ..." Belum sempat Yola membalas, Beno dengan kuat kembali menarik lengannya. Mengajaknya keluar apartemen, meninggalkan Kai dan Dara berdua.
"Hai ..." Dara mencoba menyapa Kai. Seraya mengulas senyum.
"You are so beautiful (kamu sangat cantik)." Kai memuji sambil memasang senyum menawannya. Membuat Dara semakin terpesona.
"Makasih."
"Oh ya, mari, silahkan duduk dulu." Kai tampak salah tingkah mengajak Dara mengambil duduk di sofa panjang sudut ruangan.
Dara mendudukkan diri di sofa. Diikuti oleh Kai. Namun di detik berikutnya, Kai bangun.
"Kamu mau minum apa?" Kai menawarkan. Ia sering datang ke apartemen Beno, jadi ia sudah tau betul seluk beluk apartemen itu. Beno sudah seperti saudaranya sendiri. Jadi Beno tak pernah melarangnya melakukan apapun.
"Apa aja boleh."
Bergegas Kai ke dapur. Tak berapa lama ia kembali dengan dua buah es krim di tangannya.
"Sorry, hanya ada ini di kulkas," ujarnya sembari menyodorkan es krim. Yang disambut Dara dengan senang hati.
"Nggak apa-apa. Kebetulan, aku juga lagi pengen es krim." Dara mulai mencicipi es krimnya.
Mungkin lantaran gugup, atau mungkin salah tingkah, hingga Dara sedikit belepotan memakan es krimnya. Atau mungkin juga Dara memang sengaja. Hingga mengusik Kai.
"Dar, sorry ya, di sebelah situ ada es krim." Kai menunjuk sudut bibir kiri Dara.
"Oh ya?" Dara menaruh es krimnya di meja. Begitu pula Kai.
"Sorry sekali lagi." Kai lantas menyeka es krim di bibir Dara dengan jemarinya. Membuat Dara terkesiap. Terpaku menatap Kai.
Sama hal nya dengan Kai, yang terpaku menatap Dara. Entah hal apa yang mendorongnya melakukan hal itu.
Sejenak keduanya saling menatap lekat sorot mata masing-masing yang kian sendu. Saling menatap dalam, menyelami rasa yang kian syahdu itu dan menggetarkan sukma.
Sungguh jatuh cinta itu berjuta rasanya. Untuk pertama kalinya Dara merasakan jatuh cinta. Ia tak menyangka rasanya akan seindah ini.
__ADS_1
Tanpa sadar, terbawa oleh suasana, Dara perlahan mendekatkan wajahnya. Hendak mengikis jarak yang memisahkan. Tanpa aba-aba, terdorong oleh perasaannya, ia bahkan memberanikan diri mengecup singkat bibir Kai yang begitu menggoda. Sehingga membuat Kai terkesiap seketika.
TBC