You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 81


__ADS_3

Namun seketika ia tertegun. Sesosok pria yang berdiri di pelaminan itu tengah memandanginya dengan senyuman yang selalu membuatnya berdebar-debar. Hingga air mata nya kembali tertumpah ruah.


"Hiks ... Hiks ..." Bahkan isak tangisnya pun kembali terdengar.


Ia hampir tidak percaya dengan penglihatannya. Mungkin lantaran terlalu lama menangis, hingga penglihatannya sedikit kabur. Mengapa pengantin pria yang berdiri di pelaminan itu bukan Riko?


Bermimpikah ia saat ini?


Pria dalam balutan jas pengantin itu tengah memandanginya dengan senyuman merekah. Menunggunya di pelaminan itu.


Ia menoleh menatap Papa Yuda. Tatapannya menuntut jawaban. Sebab hal ini sungguh membuatnya bingung. Apakah benar ia hanya bermimpi.


Papa Yuda tersenyum membalas tatapannya.


"Itu suamimu, Nak. Kamu nggak hadir saat ijab kabul tadi. Jadi kamu melewatkan hal yang paling penting dalam hidupmu," ucap Papanya.


"Ini bukan mimpi?" tanyanya tak percaya.


"Bukan. Ini bukan mimpi. Sekarang pria itu adalah suamimu. Ayo, pergilah. Dia sudah menantikanmu sejak tadi."


Rasanya masih seperti mimpi. Bayangan Kai yang sedang berdiri di pelaminan mulai terlihat kabur, lantaran air mata yang semakin menggenang di pelupuk matanya.


Ada apa ini?


Mengapa pengantin prianya adalah Kai?


Apa ia tidak salah melihat?


"Pergilah Dara. Itu suamimu."


Rongga dadanya mulai kembang kempis. Menahan isak tangis harunya. Di depan sana, di pelaminan itu Kai tengah menantinya dengan seulas senyum termanisnya.


Oh, ia sungguh terharu. Ia sungguh bahagia. Pria yang dicintainya tengah berdiri menunggunya di pelaminan itu.


Terima kasih Tuhan!


Ini adalah hadiah termanis dalam hidupnya. Sungguh ia tak kan pernah melupakan hari ini. Tuhan telah menunjukkan keajaibannya.


Ia semakin terharu. Dadanya mulai terasa sesak lantaran tangis yang ia tahan mulai menyeruak.


Dengan membawa sejuta perasaan haru dan bahagianya, ia mulai melangkahkan kakinya. Tangis yang tertahan itu pun akhirnya terdengar memecah suasana, mengiringi langkah kakinya yang semakin cepat.


Tetapi mengapa seakan pelaminan itu rasanya semakin jauh saja jaraknya? Apa karena ia ingin segera sampai?


Memang Benar.


Sedikit merasa kesulitan, ia lalu melepas heelsnya. Dengan bertelanjang kaki ia membawa langkahnya berlari menuju pelaminan. Menuju pelukan Kai yang tengah menantinya.


Para tamu undangan bahkan mengiringi langkah kakinya dengan tepukan meriah. Menyemangatinya berlari menuju impiannya. Impiannya yang sempat tertunda.


Sampai di pelaminan ia langsung menerjang ke dalam pelukan Kai. Kai bahkan hampir saja terjatuh akibat terjangannya. Ia terhuyung, tetapi masih bisa menahan keseimbangan tubuhnya.


Dalam pelukan pria tercintanya, ia menangis tersedu-sedu. Sungguh ini suatu keajaiban. Keajaiban yang masih sulit ia percaya.


"Pelan-pelan sayang. Nanti kita jatuh," seloroh Kai.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" tanyanya dalam isak tangis bahagianya.


"Berkat seorang pria yang berhati malaikat," sahut Kai.

__ADS_1


Ia mendongak, menatap Kai yang menundukkan pandangannya. Lalu menghujamnya dengan kecupan bertubi-tubi.


"Aku nggak bermimpi kan? Ini kamu kan?" tanyanya masih sulit mempercayai.


"Hey, Dear. This is not a dream. This is reality. Bautiful reality (hei, sayang. Ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Kenyataan yang indah)."


"Kamu adalah suamiku?"


Kai tersenyum. Lalu melabuhkan satu kecupan di keningnya.


"Sekarang kamu adalah istriku. I love you so much."


Kembali Dara menyandarkan kepalanya di dada bidang Kai masih dengan isak tangisnya. Sampai tiba-tiba terdengar suara seorang anak kecil.


"Mommy, kenapa sepatunya malah di lepas? Kan malu kalau Mommy bertelanjang kaki seperti itu." Ken datang membawakan sepatu ber hak tinggi itu. Sepatu itu Ken letakkan di dekat kaki Mommy nya.


Dara lalu mengurai pelukannya. Ia tersenyum sembari menghapus air matanya.


"Mommy kenapa nangis? Mommy jadi mirip anak kecil deh. Ken aja yang masih kecil nggak nangis."


Ia membungkuk, menatap lekat wajah sang putra.


"Mommy senang. Mommy sangat bahagia. Makasih ya sayang." Direngkuhnya anak kecil itu ke dalam pelukannya.


"Sama-sama Mommy."


Detik berikutnya ia melepas pelukannya. Lalu berdiri kembali. Sambil menopang tubuhnya dengan memegangi pundak Kai, ia kenakan kembali sepatu high heelsnya.


Ia lalu mengedarkan pandangannya. Mencari sosok pria yang begitu berjasa dalam hidupnya.


Namun pandangannya malah menangkap sosok kedua sahabatnya yang datang bersama pasangan mereka masing-masing. Mereka tersenyum bahagia memandanginya.


Di sudut pelaminan itu, berdiri mama papa nya, yang memberinya tatapan berbinar bahagia. Sepasang netranya mencari sosok lain. Sosok yang belum terlihat. Baru beberapa saat lalu sosok itu datang menemuinya.


Riko.


Orang yang telah banyak membantunya. Orang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Di manakah pria itu sekarang?


Mengapa disaat ia ingin sekali mengucapkan kata maaf dan berterima kasih, pria itu malah menghilang. Bahkan keluarga pria itu tidak menghadiri pernikahan ini. Yang jelas-jelas mereka yang telah menyiapkannya jauh-jauh hari.


"Dara, selamat ya Nak." Mama Maya menghampirinya, memeluknya hangat.


"Makasih, Ma."


"Selamat ya Nak." Papa Yuda pun ikut memberinya ucapan selamat. Kemudian memberi ucapan yang sama kepada Kai.


Kedua sahabatnya pun datang memberikan ucapan selamat kepadanya.


"Selamat ya Dara." Yola memeluknya manja. Kemudian berganti dengan Ditha. Yang juga memberinya ucapan yang sama.


"Selamat ya Dara."


"Makasih banyak ya Yola, Ditha. Oh ya Yol, sorry banget, aku nggak bisa hadir di pernikahan kalian. Sorry ya Beno," ucap Dara menyesali.


"Nggak apa-apa. Aku paham keadaan kalian saat itu. Tapi, selamat ya. Selamat ya Bro." Beno mengepalkan tinjunya. Yang disambut Kai dengan kepalan tinjunya pula.


Para tamu undangan lain mulai berdatangan memberi selamat kepada kedua mempelai. Sejenak, Dara melupakan pencariannya akan sosok Riko.


Kebahagiaan Dara dan Kai kali ini tidak lepas dari campur tangan Riko. Berkat kebesaran dan keikhlasan hatinya lah Dara dan Kai bisa bersatu untuk selamanya. Dan kini, sosok itu pergi entah ke mana.

__ADS_1


.


.


Setelah semua tamu undangan, kerabat, dan sahabat, telah meninggalkan gedung pernikahan. Barulah Dara menyadari sesuatu hal yang kurang dalam kebahagiannya kali ini.


Ken telah dibawa mama papanya pulang ke rumah. Tinggallah ia dan Kai yang hendak menaiki mobil. Hotel berbintang tempat mereka untuk menghabiskan malam pertama mereka pun Riko yang telah memesannya.


Dalam perjalanan menuju ke hotel, pikirannya masih saja melambung. Memikirkan Riko. Sungguh ia masih belum bisa memahami hal ini. Mengapa mendadak pesta pernikahan yang seharusnya untuknya dan Riko berubah dalam sekejap mata.


"Kai," panggilnya pelan. Lalu menyandarkan kepala di pundak Kai. Mereka ke hotel diantar oleh supir. Papa Yuda yang telah menyiapkan mobilnya.


"Ada apa sayang." Kai menoleh, lalu menciumi puncak kepala Dara.


"Bagaimana bisa semuanya berubah dalam sekejap? Bukankah kamu di tahan di kantor polisi?"


Kai terkekeh mendengar pertanyaan konyol Dara.


"Siapa yang bilang aku ditahan di kantor polisi?"


"Riko."


Kai lalu tersenyum. "Pria itu yang sudah berjasa menyatukan cinta kita. Tadinya aku datang untuk menjemput Ken ..."


Beberapa jam lalu. Sebelum prosesi pernikahannya di mulai.


Kai mendatangi gedung pernikahan bertepatan dengan Riko yang juga baru tiba di gedung itu.


"Tunggu," panggil Kai mencegah Riko sebelum masuk ke dalam gedung saat itu.


Riko menghentikan langkahnya, lalu menoleh. Pria itu terkejut melihat kedatangan Kai.


"Maaf. Ada hal yang harus aku bicarakan." Kai saat itu sudah hampir menyerah. Ia memasrahkan diri segalanya kepada Yang Maha Kuasa. Karena ia tiada berdaya upaya saat itu.


"Maaf sekali, aku nggak punya waktu untuk meladenimu." Riko tak menghiraukan Kai. Ia hendak meninggalkan Kai. Namun Kai dengan cepat mencekal lengannya.


"Lepaskan!" sentak Riko. Tetapi Kai tidak mengindahkannya. Sehingga Riko memberontak.


Dua orang satpam yang sedang berjaga pun menghampiri dan melerai mereka.


"Tolong jangan buat keributan di sini," ujar salah seorang satpam saat itu menahan Kai. Dan hendak mengusirnya.


"Saya tidak bermaksud membuat keributan. Saya hanya ingin membicarakan hal penting dengan orang ini." Kai menunjuk Riko.


"Tolong lepaskan saja dia. Dia adalah teman saya." Tiba-tiba saja Riko membela Kai. Bahkan mengatakan Kai adalah temannya.


Dua orang satpam itu pun melepaskan Kai.


"Ayo, ikut aku." Riko malah mengajak Kai masuk ke dalam gedung itu. Mereka masuk ke salah satu kamar ganti. Beruntung Mama Maya tidak melihat kedatangan mereka.


"Hal penting apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Riko saat telah berada di dalam kamar ganti. Pintunya ia tutup rapat-rapat.


"Aku nggak akan mengganggu pernikahan kalian. Aku akan merelakan Dara. Tapi ijinkan aku membawa Ken ikut bersamaku."


"Jadi kamu nggak sungguh-sungguh mencintai Dara. Hanya seperti itu perjuangan kamu untuk mendapatkan dia? Pengecut kamu."


Entah apa yang terjadi hingga kedua pria itu bisa saling mengerti tiba-tiba. Mungkinkah benar, keajaiban itu memang ada?


"Semua cara sudah aku lakukan. Satu pun nggak ada yang berhasil. Mungkin kami nggak berjodoh. Bukannya aku menyerah. Hanya saja, aku nggak mau membuat keadaan semakin rumit. Aku nggak mau membawa Dara ke dalam kesulitan. Jadi aku memilih merelakannya. Tolong jagalah dia untukku. Bahagiakan dia," ucap Kai dengan mata mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku boleh meminta bantuanmu?" pinta Riko saat itu.


TBC


__ADS_2