
Bunyi denting piring yang saling bersenggolan, terdengar jelas di pantry kafe. Dara dengan kesal, dan raut wajah masam sedang menyelesaikan tugasnya di pantry kafe itu.
"Dasar kucing got sialan. Awas saja kalau ketemu lagi." Gerutu Dara menahan geram.
Wajah Kai terus melintas di benaknya. Ia sungguh kesal luar biasa. Pria itu sudah membuatnya malu. Bahkan tanpa sengaja sudah melukai harga dirinya. Bisa-bisanya pria menyebalkan itu menjebaknya dalam situasi yang tak pernah ia harapkan.
"Hati-hati Dar. Entar jatuh piringnya, pecah, dan malah makin nambah hukuman kamu." Ujar Yola saat mendapati Dara yang mencuci piring ogah-ogahan. Bahkan asal-asalan.
"Kok bisa sih si Chris Evans pesan makanan segitu banyak, Dar. Memangnya dia kelaparan banget ya? Kok malah kamu juga yang bayarin makanannya?" Tanya Yola penasaran.
"Chris Evans apanya ... Bokongnya yang mirip. Ini semua juga gara-gara kamu sih, dari tadi aku tungguin di luar, tapi kamu malah nggak datang-datang." Kesal Dara.
"Kok malah jadi aku yang salah sih. Ya udah, sorry. Tadi emang aku lagi banyak kerjaan. Makanya nggak bisa menemui mu di luar kafe. Kalau aku meninggalkan pekerjaan, entar malah aku yang bakalan dipecat. Emang kamu nggak kasihan apa. Mana aku harus bayar biaya kuliah nya Yuli lagi."
"Sorry. Aku hanya kesal saja."
"Kesal pada ku?"
"Enggak. Pokoknya aku kesal aja."
"Makin aneh aja kamu Dar. Eh, Dara ... Cowok yang tadi cakep banget ya?"
"Cowok yang mana?"
"Yang duduk sama kamu tadi. Yang mirip Chris Evans."
"Yang itu ... Biasa aja."
"Biasa gimana, orang cakep banget begitu, Dar. Mata kamu rabun tuh."
"Kucing got dibilang cakep. Mata kamu tuh yang rabun."
"Terserah deh. Ya udah, kamu selesaikan saja pekerjaan kamu. Aku juga harus menyelesaikan pekerjaan ku." Yola pun bergegas meninggalkan Dara sendirian mencuci piring yang bertumpuk-tumpuk.
Dara semakin kesal. Ia hanya bisa menggerutu, menggeram sendiri. Apalagi yang bisa ia lakukan sekarang selain menerima nasibnya pasrah.
Nasib ya nasib!
.
.
Hari yang teramat berat bagi Dara. Ia pulang ke rumah dalam keadaan lelah yang teramat. Lantaran tak hentinya mencuci piring. Bahkan tangannya sampai pegal karenanya.
Dara menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah. Ia merebahkan diri di sofa itu. Badannya terasa sangat pegal. Lelah luar biasa. Baginya ini sudah sangat keterlaluan.
"Dara, kenapa kamu baru pulang jam segini?" Mama Maya datang dan mengambil duduk di sofa sebelah.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dara keluar rumah sejak pagi. Jelas saja Mama Maya cemas. Bahkan sudah berkali-kali Mama Maya menghubungi ponsel Dara. Tapi tak kunjung ada jawaban.
"Sorry Ma. Aku capek banget hari ini."
"Capek? Memangnya kamu habis ngapain?"
__ADS_1
"Kerja. Aku kerja hari ini."
"Oh ya? Kerja di mana kamu?"
"Di kafe bareng Yola." Kilah Dara.
"Nggak kapok kamu kerja di kafe."
Dara bangun dari posisi berbaringnya dengan malas.
"Daripada dikatain pengangguran terus. Mendingan aku kerja aja di kafe. Lagian gajinya lumayan buat beli skin care. Jadi aku nggak perlu minta lagi sama Mama. Iya kan?" Lantas bangun dan beranjak ke kamarnya. Meninggalkan Mama Maya yang terbengong sendiri di tempatnya.
Memang, selama Dara tidak bekerja, untuk biaya skin care nya saja ia harus meminta dari mama atau papa nya.
Papa Yuda yang hanya seorang pensiunan Pegawai Negeri, mantan Kepala Dinas Pariwisata, masih sanggup membiayai putri semata wayangnya itu. Bahkan disaat ia mengambil pensiun dini, ia menggunakan sisa tabungannya untuk membelikan Dara sebuah mobil di hari ulang tahunnya.
Dara melempar tas kecilnya ke tempat tidur. Disusul dengan ia merebahkan diri. Menghilangkan lelah yang masih terasa.
Mengingat kejadian siang tadi di kafe, jujur Dara masih sakit hati. Bertemu pria menyebalkan itu sungguh sebuah kesialan baginya.
Di tengah kekesalan yang masih mendera, tiba-tiba terdengar dering ponsel. Sontak Dara bangun, lalu meraih tas kecilnya. Dan mengambil ponselnya dari dalam tas itu.
Nama Bu Nadia tertera jelas di layar ponsel itu. Segera Dara menggeser tombol hijau.
"Halo." Sapa Dara lembut.
"Halo, selamat malam Dara. Ini saya, Bu Nadia." Balas Bu Nadia dari seberang.
"Mengenai pembicaraan kita siang tadi. Maaf ya Dar, saya menelpon kamu malam-malam begini. Soalnya mendesak."
"Nggak apa-apa Bu. Kebetulan juga saya lagi nggak ngapa-ngapain."
"Oooh ... Saya pikir saya sudah mengganggu waktu istirahat kamu. Oh ya, Dar. Besok pagi kamu bisa nggak langsung ke kampus?"
"Oh bisa, bisa Bu."
"Kebetulan, saya sudah menyusun jadwal nya. Kamu bisa langsung mulai besok. Untuk materinya, saya kirim lewat email. Kamu pelajari saja. Nanti setelah ini, tolong kamu kirim alamat email kamu ke saya ya?"
"Iya, Bu. Akan saya kirim secepatnya."
"Besok saya tunggu kamu."
"Baik, Bu."
Sambungan telepon pun terputus. Detik itu juga, Dara memekik senang.
"YES! Akhirnya nasib baik berpihak padaku. Se nggak nya, aku nggak bakalan dikatai pengangguran lagi."
Rona bahagia terpancar jelas dari paras cantiknya. Dara kembali merebahkan tubuhnya. Mulai memejamkan matanya perlahan. Dalam sekejap, rasa kesal dan sakit hatinya atas kejadian siang tadi sirna begitu saja. Saat mendapat kabar gembira.
Detik berikutnya, Dara kembali bangun dari pembaringan. Dengan cepat jemarinya mengetik sebuah pesan yang ia kirim ke nomor Bu Nadia.
.
__ADS_1
.
Sementara di satu sudut kota, di sebuah hunian sederhana. Kai tampak sibuk di depan layar laptopnya. Ia tengah menyusun materi yang akan ia bawakan esok hari nanti.
Setelah selesai, diraihnya ponsel yang tergeletak di meja, di sebelah laptopnya. Ia menggulir layar ponsel, mencari nomor yang ingin dihubunginya. Sampai jarinya berhenti menggulir saat terpampang satu nama.
Joanna.
Kai menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan. Ia berpikir sejenak. Sampai akhirnya memberanikan diri memencet tombol hijau.
"Halo?" Terdengar sebuah suara lembut menyapa dari seberang.
Kai tak menjawabnya. Ia masih diam membisu. Terdengar suara lembut itu kembali menyapa.
"Halo?"
Kai masih tak menjawab sapaan itu. Hanya helaan napasnya yang terdengar. Serta degup jantungnya yang mulai tak beraturan.
"Kai?" Terdengar suara lembut itu menyapa. Kali ini dengan sapaan berbeda. Dan terkesan seakan tengah menebak-nebak siapa gerangan yang menghubunginya.
Kai menghela napasnya sejenak. Sebelum akhirnya membalas sapaan itu.
"Jo ... Ini aku, Kai. Apa kabar mu?"
"Aku baik-baik saja. Ada apa Kai? Ada yang bisa aku bantu?"
"Nggak ada apa-apa. Aku hanya ..." Kai terdiam. Mana mungkin ia berkata jujur jika ia merindukan wanita itu. Mantan kekasihnya.
"Oh ya, kapan-kapan kita ketemu yuk. Aku kangen Ziyo." Kilahnya. Meski ia pun merindukan Ziyo, tetapi tak sebesar rindunya pada Joanna.
"Nanti aku hubungi kamu kalau nanti aku punya waktu. Belakangan ini aku makin sibuk. Di toko setiap hari makin ramai. Kamu tau sendiri kan, aku tidak punya banyak karyawan. Hampir semuanya aku kerjakan sendiri."
"Baiklah."
"Sudah dulu ya Kai. Aku mau lihat Ziyo sebentar."
"Jo. Aku ..." Lagi-lagi Kai tak berani berkata jujur. Status Joanna saat ini sejujurnya membuatnya bimbang. Joanna sudah setahun ini menjanda. Sejak kepergian suaminya untuk selama-lamanya.
"Ada apa Kai?"
"Aku hanya ingin mengajakmu bertemu Kak Revan." Kai akhirnya menemukan alasan agar bisa bertemu Joanna.
Di seberang, giliran Joanna yang terdiam. Hanya helaan napasnya yang terdengar.
"Maaf. Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa. Aku bisa kok pergi sendiri." Ujar Kai.
"Baiklah. Hubungi aku nanti ya? Aku akan berusaha meluangkan waktu. Kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya ya?"
Detik berikutnya, sambungan telepon pun terputus. Kai membuang napas nya kasar. Ia letakkan kembali ponsel itu di meja.
Sudah lama sejak mereka putus, saat Joanna lebih memilih Revan. Sejak saat itulah Kai tak pernah lagi menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Entah karena sakit yang ia rasakan, entah karena ia takut kecewa, entah karena ia takut dikhianati, ataukah memang sampai detik ini belum ada satu wanita pun yang mampu mengetuk hatinya. Semua itu, hanya Kai yang tahu.
TBC
__ADS_1