You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 61


__ADS_3

Malam hari di restoran berbintang di kota itu.


Sepasang sejoli melangkah bergandengan tangan memasuki restoran. Bagi banyak pasang mata mereka adalah sepasang suami istri yang terlihat begitu mesra.


Tetapi bagi mereka sendiri, status yang kini melekat, tidak ada satu orang pun tahu, mereka tidak lebih hanyalah teman.


Ya


Teman yang tinggal seatap tapi tidak seranjang. Teman yang bahkan dipanggil Daddy dan Mommy oleh seorang anak kecil.


Dara dan Riko yang tampil memukau hanya untuk sebuah makan malam, kini duduk manis menikmati hidangan yang tersaji setelah memesan pada waiters beberapa menit lalu.


"Bilang aja kalau kamu nggak suka dengan menunya," ujar Riko. Sebab ini kali pertama mereka makan malam di restoran itu. Yang biasanya mereka makan berdua di kantin kampus jika Riko meluangkan waktu menjemput Dara sewaktu masih menimba ilmu.


Dara tersenyum manis. "Aku percaya dengan pilihan kamu. Restonya aja semewah ini. Semua makanannya pasti enak dong."


"Hmmm ... Tuh kan? Aku bener, ini enak. Cobain deh," serunya gembira begitu mencicipi hidangan di hadapan. Sepotong beef steak ia sodorkan ke depan wajah Riko. Yang membuat Riko tertegun sejenak. Sebab baru kali ini Dara menyuapinya seperti ini.


Riko mengangguk setuju begitu sepotong beef steak ia lahap. Entah kenapa, rasanya begitu nyaman saat Dara menyuapinya. Dari yang terlihat, kemesraan mereka layaknya kemesraan sepasang suami istri. Tetapi sayangnya, kemesraan itu bagi Dara hanyalah sebatas teman.


Mungkin hanya Riko seorang yang berharap lebih dari persahabatan mereka. Entah dengan Dara.


Perlahan Riko merogoh kantong celana. Bermaksud mengambil sesuatu dari dalam sana.


Sebuah kotak kecil berbahan beludru merah pun sudah berada di tangan. Tinggal menunggu waktu yang pas untuk memberikannya pada makhluk manis yang membuatnya menggila dalam diam.


Perasaan yang Riko pendam selama lima tahun ini, tak sanggup lagi ia membendungnya. Mungkin sudah saatnya Dara harus tahu.


Dara telah selesai dengan santap malamnya, saat tiba-tiba ia dikagetkan dengan sebuah kotak kecil berwarna merah yang kini berada di depan matanya.


"Apa ini?" tanya Dara gugup. Ia bukanlah remaja kemarin sore yang tak tahu benda seperti itu.


Riko mulai membuka kotak kecil itu. Yang menyimpan sebuah cincin bermata berlian. Kilauannya begitu menyilaukan mata.


Dara yang masih meminimalisir keterkejutannya, malah kembali dibuat terkejut oleh ungkapan hati Riko. Yang sejujurnya, berusaha Dara hindari.


"Dara ... Will you marry me (maukah kamu menikah denganku)?"


Bukan hanya gugup, serasa jantungnya berhenti berdetak detik itu juga. Lalu mendadak hati berdebar kencang. Dara meremas kuat jari jemarinya. Situasi ini terlalu mendadak baginya.


Semula ia berpikir, makan malam kali ini hanya makan malam biasa seperti sebelumnya. Tetapi ternyata, Riko sudah mempersiapkan segalanya.


Bagi sebagian orang, mungkin ini adalah kejutan paling indah. Tetapi bagi Dara, ini adalah kejutan yang membuatnya serasa berhenti bernapas.


"A ... Aku ..." Dara bahkan tergagap saking gugup. Perasaannya yang semula nyaman dan merasa bebas, tergantikan oleh rasa canggung seketika.


Dara bingung, lalu akhirnya tak tahu harus berkata dan bersikap bagaimana. Jika ia boleh jujur, Kai masih mengisi relung hatinya hingga saat ini.


Akan tetapi pertanyaan Riko laksana tombak yang tetiba menghunus jantung. Hingga memaksa jantung itu berhenti berdetak.

__ADS_1


Dara akui, tak bisa ia menampik. Riko teramat sangat berjasa dalam hidupnya. Dimulai saat pria itu menolongnya sewaktu ia jatuh pingsan.


Kemudian berlanjut, saat ia memutuskan ikut bersamanya ke luar kota. Bahkan sewaktu ia dalam keadaan hamil hingga melahirkan Ken, Riko lah orang pertama yang berada di sisinya.


Begitu banyak kebaikan Riko yang Dara terima. Tak bisa terhitung jumlahnya.


Lalu sekarang tiba-tiba pria itu melamarnya. Dara harus menjawab apa? Haruskah ia menerima lamaran itu hanya demi balas budi?


Sekejam itukah ia?


Dara menelan saliva yang entah kenapa mendadak serasa sulit melewati kerongkongan. Terasa sepat bagai menelan sebongkah batu.


"Dara, jujur, aku jatuh hati padamu sejak pertamakali melihatmu," ungkap Riko berterus terang.


Dara masih berusaha menetralisir detak jantungnya yang menggila.


"Aku tau kamu masih belum bisa melupakan pria itu. Tapi sudikah kamu memberiku sedikit tempat di hatimu? Aku sangat mencintai kamu, Dara. Aku sayang sama kamu dan Ken. Kalian berdua sangat berarti bagiku," sambungnya masih memegang kotak kecil itu.


Entah kenapa debaran di dada pun ikut menggila. Segila situasi yang ia hadapi saat ini. Ia tak tahu harus bagaimana. Jika ia menolak, ia tak tega membuat Riko kecewa. Jika ia terima pun, sudah tentu akan membuat Riko kecewa. Karena satu-satunya alasan tidak lain adalah demi balas budi.


Dara menghela napas panjang. Mencoba menguasai waras yang hampir saja hilang dari akal. Lalu entah kenapa, tiba-tiba saja tangannya terulur perlahan. Disertai senyum manis terukir di bibirnya.


Riko terkesima. Menatap Dara lekat. Tak kuasa ia menahan rasa bahagia begitu Dara menyodorkan jemarinya. Yang berarti bahwa lamarannya diterima.


Dengan penuh rasa haru dan hati berdebar-debar, Riko menyematkan cincin itu di jari manis Dara. Lalu ia tersenyum menatap Dara dengan binar-binar cintanya.


Begitulah Dara menanggapi ungkapan cinta Riko. Tak sepatah kata pun sanggup ia ucapkan. Sebab hati tak bisa berbohong, masih ada orang lain hingga ia hanya bisa mengulurkan tangan sebagai jawaban.


.


.


Di malam yang sama. Di pinggiran kota itu, sebuah mobil warna hitam terparkir manis di seberang jalan. Di depan sebuah hunian yang terlihat sepi.


Kai menarik tuas, bermaksud turun dari mobil. Saat tiba-tiba sebuah mobil sedan warna putih terlihat memasuki pekarangan rumah yang tengah ia pantau saat ini.


Dari dalam mobil itu turun seorang wanita anggun dan seorang pria tampan. Yang membuat darahnya berdesir perih. Kai masih setia mengamati saat tiba-tiba pria itu mencegat si wanita begitu turun dari mobil.


Pria dan wanita itu, yang tidak lain adalah Riko dan Dara, tidak menyadari, di luar pagar rumah itu, di seberang jalan, Kai tengah mengawasi.


"Dara," panggil Riko sembari mengitari sisi mobil. Lalu menghentikan langkah begitu berhadapan.


"Hm?" gumam Dara menyunggingkan senyum manisnya.


Riko menghela napas sejenak. "Aku cuma mau bilang makasih," ucapnya lembut.


"Untuk apa?"


"Ayolah, kamu tau untuk apa."

__ADS_1


Dara tertawa kecil melihat wajah Riko bersemu merah karena malu.


"Apa kita tadi makan makanan pedas ya?" tanya Dara.


"Enggak. Kenapa?" Riko kebingungan.


"Apa kamu sakit perut? Atau kamu..." Riko mulai panik. Tak ingin terjadi sesuatu pada Dara.


"Enggak. Aku cuma heran aja, kok muka kamu semerah itu?"


Astaga!


Dara sukses membuat Riko semakin tersipu malu. Jujur, Dara adalah wanita pertama yang membuatnya jatuh cinta.


Dengan wajah tersipu malu, perlahan Riko meraih jemari Dara. Mengusap cincin yang melingkar di jemari itu. Lalu perlahan menunduk, membawa jemari itu untuk dikecupnya.


"I love you so much (aku sangat mencintaimu)," ucapnya lirih nan lembut.


Dara terdiam. Sama diamnya saat Riko mendaratkan bibir, memagut lembut bibirnya tiba-tiba.


Riko semakin terbawa perasaan. Diraihnya tengkuk Dara, menekannya, lalu menahannya agar ia bisa leluasa menciumi wanitanya.


Dara tak menolak, ia biarkan pria itu mengeksplor seluruh bagian mulutnya. Bahkan sesekali ia membalas setiap lum*tan Riko yang semakin lama semakin rakus saja.


Sementara di seberang sana, tak jauh dari tempat mereka berdiri, Kai masih mengamati dengan hati tersiksa menahan geram.


Kai menurunkan kaca jendela mobil, agar penglihatannya semakin jelas. Dan semakin jelas pula guratan amarah di wajahnya.


Rahangnya mengetat, jemarinya mengepal kuat lantaran amarah menggunung yang kian mencuat semakin menyesakkan dada.


Amarahnya tersulut oleh pemandangan di depan mata. Lalu ia membuang muka, tak tahan lagi melihatnya.


Kai kemudian mengambil ponsel dan mulai menghubungi nomor yang diinginkannya.


Riko dan Dara yang masih saling memagut, tiba-tiba saja harus terhenti. Lantaran dering ponsel Dara yang terdengar kencang.


"Siapa?" tanya Riko karena kernyitan di dahi Dara merupakan pertanda Dara tidak mengenal si penelepon.


"Nggak tau. Nomor nggak dikenal."


"Teman kamu mungkin."


"Enggak. Teman-temanku nggak ada yang tau nomorku yang baru."


"Trus siapa?"


Dara mengendik. Entah kenapa, mendadak perasaannya jadi tak enak.


"Mommy ... Daddy ..."

__ADS_1


Terdengar seruan seorang anak kecil yang tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu.


TBC


__ADS_2