
"Kamu mau ke mana?"
Pertanyaan Riko menciutkan keberanian Dara yang hendak keluar menemui Kai. Ia sangat yakin yang membuat keributan di luar sana adalah Kai. Mungkin, hanya inilah satu-satunya opsi tersisa dari rencananya. Setelah gagal menjalankan beberapa rencana kemarin.
Riko menghunuskan tatapan tajam kepadanya. Sehingga ia merasa sedikit ngeri menerima tatapan itu. Tatapan yang tak pernah Riko beri untuknya.
"Nggak kamu jawab pun aku tau kamu mau ke mana," ucap Riko membawa langkahnya lebih mendekat. Tanpa merubah caranya menatap Dara.
Bahkan untuk menelan ludahnya sendiri saja terasa sulit bagi Dara saat ini. Manakala Riko masih menghunusnya dengan tatapan tajam mematikan.
"Laki-laki itu sungguh berani mau membuat keributan. Pihak yang berwajib sudah menanganinya sekarang. Jadi, pesta pernikahan ini akan berlangsung aman dan lancar."
Hal yang ditakutkan Dara pun terjadi. Kai sedang ditangani oleh pihak yang berwajib saat ini. Yang berarti Kai sekarang berada di kantor polisi.
Oh tidak!
Kenapa rasanya Dara ingin menangis sekarang? Apakah itu artinya, sudah tidak ada harapan lagi untuknya?
Haruskah ia pasrah saja menerima hal ini?
"Berdandanlah yang cantik untukku. Bukankah calon suami kamu ini pantas mendapatkannya?" Tatapan yang semula tajam menghunus jantung, mendadak mendayu.
Entah mengapa.
Mungkinkah Riko tengah memperdayanya saat ini?
Namun Dara tak bisa menyembunyikan kerisauan hatinya saat ini. Kecemasan bahkan ketakutan begitu tampak dari raut wajahnya. Semakin jelas terlihat saat matanya mulai berkaca-kaca. Menampakkan kilatan air bening yang mulai menggenang di pelupuk mata.
"Para tamu mulai berdatangan. Aku harus bersiap-siap. Jangan lupa untuk selalu tersenyum," ucap Riko menatap lekat wajah Dara.
"Aku nggak akan menghadiri prosesinya."
"Nggak apa-apa. Kamu nggak ada saat akad nikah pun itu nggak ada masalah. Cukup ada Papa kamu sebagai wali."
Dara tidak menggubris ucapan Riko. Ia diam menundukkan wajahnya. Yang membuat genangan air di pelupuk matanya jebol pada akhirnya.
"Dandani dia secantik mungkin. Persiapkan dia untuk prosesi selanjutnya." Kemudian Riko keluar dari kamar itu tanpa mempedulikan keadaan Dara yang mulai memperdengarkan isak tangisnya.
Sikap dan perilaku Riko mendadak berubah. Perubahan yang sangat signifikan. Berbanding terbalik dengan perilaku pria itu sebelumnya.
Dara hanya bisa menyesali mengapa ia dulu menyusahkan pria itu. Bahkan perubahan perilaku Riko saat ini pun karena ulahnya.
Riko sangat tersakiti. Selama lima tahun penantiannya sia-sia. Apa yang ia harapkan tak kunjung ia dapatkan. Lantas, salahkah jika ia mulai berubah?
"Mommy, kenapa nangis?" tanya Ken menarik-narik ujung baju mommy nya.
Buru-buru Dara menghapus air matanya. Ia tak ingin Ken berpikiran yang bukan-bukan tentangnya. Ini adalah hari bahagianya, tidak seharusnya ia menunjukkan wajah sedihnya seperti itu.
__ADS_1
Ia tersenyum memandangi Ken. "Enggak. Mommy nggak nangis kok. Mata Mommy kelilipan aja," kilahnya.
"Kenapa nggak minta tolong Daddy aja tadi. Sini, biar Ken tiupin."
"Nggak perlu Ken. Mata Mommy udah baikan kok."
"Ken, sini, ikut Oma yuk." Mama Maya tiba-tiba datang dan langsung menggandeng tangan Ken. Hendak mengajaknya keluar kamar.
"Biarkan Mommy siap-siap dulu. Bentar lagi kan acaranya mau di mulai. Jadi Mommy harus bersiap-siap. Biar Mommy Ken tampil cantik. Nggak kalah sama tamu-tamu undangan." Mama Maya yang sudah tampak rapi dengan setelan kebayanya, mengajak Ken keluar kamar. Memberikan kesempatan bagi Dara untuk mempersiapkan diri.
"Ingat ya Dara. Tolong jangan mempermalukan Mama dan Papa," tandas Mama Maya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan kamar itu.
Kalimat itu seakan menodongnya. Mengharuskannya menikahi pria yang tidak ia cintai.
Oh God, please, give one miracle (oh Tuhan, tolong, berilah satu keajaiban)
Ia hanya bisa menjerit dalam batinnya. Meski ia tahu hal itu sia-sia.
Percuma.
Toh, hari yang dinanti telah tiba di depan mata. Hari kematiannya.
"Mbak, mari Mbak. Kita mulai saja proses make up nya," ajak wanita yang sedari tadi bersiap untuk mendandaninya.
Ia lalu mengambil duduk di depan cermin. MUA memakaikan kain penutup dada agar butiran-butiran bedak tidak akan mengotori kebayanya.
Dengan telaten MUA itu mulai mendandaninya. Dimulai dari membersihkan wajahnya dulu menggunakan make up remover untuk mengangkat sisa-sisa debu dan minyak yang menempel di wajahnya agar memudahkan MUA memoles wajahnya dan make up nya bisa bertahan lama.
"Mbak, jangan nangis dong. Saya jadi susah ini memakaikan maskara di bulu mata Mbak. Kalau Mbak nya nangis terus nanti make up nya rusak loh, Mbak. Susah loh makeinnya. Belum lagi akan memakan waktu lama untuk memperbaikinya. Udahan dong Mbak nangisnya." MUA itu tengah membujuknya.
Namun matanya begitu susah diajak kompromi. Bukannya mereda, tangisnya malah semakin menjadi.
"Mbak, please dong Mbak undahan nangisnya. Saya capek loh Mbak kalau harus mengulang make up nya dari awal lagi," rengek MUA yang merasa dirugikan. Bukan hanya dari waktu, bahkan ia rugi dalam produk make up nya.
"Hiks ... Hiks ..." Dara benar-benar tidak bisa menghentikan tangisnya. Tangis pilu itu terdengar menyayat hati.
Bagaimana bisa ia menghancurkan hidupnya seperti ini?
Riko adalah pria yang baik. Tidak ada yang salah dengan pria itu. Yang salah adalah hatinya. Hatinya telah terlanjur mencintai yang lain. Tak bisa ia berpaling begitu saja meski segala keindahan terpampang di depan mata.
Sejak awal hatinya telah memilih Kai. Hati itu telah terikat untuk seorang saja. Sampai kapan pun hanya ada Kai di dalam hatinya.
"Mbak, udahan dong Mbak. Nanti make up nya rusak. Lagian, bukankah seharusnya Mbak itu senang. Karena hari ini adalah hari yang spesial untuk Mbak. Kenapa Mbak nya malah menangis?" MUA itu masih berusaha membujuk Dara.
Tangis Dara masih belum mereda saat Riko kembali datang menghampirinya. Riko telah rapi dengan setelan jas hitamnya.
"Maaf, Pak. Mbak ini nggak mau berhenti menangis. Saya jadi kesulitan menyelesaikan make up nya."
__ADS_1
"Boleh tolong tinggalkan kami sebentar?" pinta Riko yang langsung diangguki setuju oleh wanita MUA itu.
"Dara," panggil Riko dengan nada suara pelan.
Dara menunduk, enggan mengangkat wajahnya. Riko pun akhirnya membawa kedua tangannya menyentuh pundak Dara.
"Akad nikahnya sudah selesai."
Entah berapa lama waktu yang terlewati. Lantaran menangis ia jadi melupakan prosesi akad nikah. Sekarang apa lagi yang bisa ia lakukan. Bahkan menangis sepanjang hari pun tidak akan bisa membantunya.
Sekarang ia telah resmi menjadi istri seorang Riko Pradana.
Sungguh sesak dada ini jika harus mengingat hal itu.
Riko menuntun Dara untuk berdiri berhadapan dengannya. Perlahan jemarinya menyentuh dagu Dara. Membawa wajah Dara yang tengah tertunduk untuk bertatap muka dengannya.
"Sudah aku bilang, tanpa kehadiran kamu pun, akad nikah itu akan tetap berlangsung. Sekarang bersiap-siaplah. Setidaknya, hargailah para tamu undangan yang sudah meluangkan waktunya menghadiri pernikahan kita."
Dara tidak menggubris ucapan Riko. Air mata itu masih menetes di pipinya. Sedikit merusak make up nya.
Riko mengulum senyumnya. "Aku tunggu kamu di pelaminan. Cepatlah datang, jika kamu nggak mau menyesal nanti." Kemudian berlalu meninggalkan Dara yang masih saja tak bisa menghentikan rintikan air matanya.
"Tuh kan Mbak, make up nya jadi rusak. Ayo Mbak, saya benerin lagi. Nanggung ini, saya juga punya janji di tempat lain. Nanti saya bakal dituntut ganti rugi kalau saya datang terlambat." MUA itu tak segan-segan menunjukkan kekesalannya.
Dara akhirnya hanya bisa pasrah. Kembali mengambil duduk di depan cermin. Dipandanginya pantulan dirinya di depan cermin itu dengan hati teriris. Sungguh miris akhir kisah cintanya dengan Kai.
Mau tidak mau ia harus menerima. Mungkin sudah jalan takdirnya seperti ini. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menerimanya dengan ikhlas, meski rasanya sulit.
MUA telah selesai mendandaninya. Dan kini ia telah tampil anggun dan cantik. Seorang wanita paruh baya datang menjemputnya. Hendak membawanya menuju pelaminan. Dimana sang pengantin pria telah menunggu.
Dara masih saja menundukkan pandangannya meski kakinya telah menapaki gelaran karpet merah.
"Mbak Dara, lihat ke depan. Nanti Anda jatuh jika tidak memperhatikan jalan," ujar wanita paruh baya itu.
Dara masih enggan mengangkat wajahnya. Bahkan kakinya terasa berat untuk melangkah menuju pelaminan. Sementara banyak pasang mata tengah tertuju kepadanya saat ini.
"Mbak Dara."
Namun Dara masih saja enggan menuruti ucapan wanita itu. Sampai tiba-tiba ia mendengar suara Papanya yang tiba-tiba saja telah berdiri di sampingnya.
"Dara, lihat ke depan. Di pelaminan itu suamimu sedang menunggu."
Dara masih saja enggan menanggapi. Wajahnya senantiasa tertunduk. Tak ingin melihat pelaminan itu. Yang baginya bagaikan neraka dalam keindahan.
"Dara, jangan bandel. Jangan keras kepala. Lihatlah ke depan." Papa Yuda sedikit menyentak. Sehingga mau tak mau Dara pun akhirnya mengangkat wajahnya.
Namun seketika ia tertegun. Sesosok pria yang berdiri di pelaminan itu tengah memandanginya dengan senyuman yang selalu membuatnya berdebar-debar. Hingga air mata nya kembali tertumpah ruah.
__ADS_1
"Hiks ... Hiks ..." Bahkan isak tangisnya pun kembali terdengar.
TBC