
Di bandara kota itu, Riko baru saja turun dari mobil. Jadwal keberangkatannya 30 menit lagi. Ia sedang terburu-buru, melangkah lebar sambil menggeret koper saat tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memekik memanggil namanya.
"Riko."
Riko menghentikan langkahnya. Sebuah suara yang sudah sangat familiar di telinganya. Detik berikutnya menyusul suara seorang anak kecil.
"Daddy Ko."
Kali ini Riko memutar tubuhnya cepat. Mengarahkan pandangannya pada sumber suara.
Seorang anak kecil yang tampan tengah berlari kencang ke arahnya. Ia lantas berjongkok, membuka kedua lengannya. Menunggu anak kecil itu menghambur ke dalam pelukannya.
Ken, langsung membenamkan diri dalam pelukan hangat Riko begitu berada dekat.
"Daddy mau ke mana?" tanya Ken.
Riko mengurai pelukan. Dipandanginya sekilas Dara dan Kai yang datang mendekat. Pasangan pengantin baru itu berjalan sambil bergandengan tangan. Pemandangan yang lumrah bagi pasangan suami istri itu.
Anehnya, pemandangan itu sudah terlihat biasa-biasa saja bagi Riko. Tak ada lagi rasa sakit seperti dulu. Pemandangan itu justru membuatnya merasa senang. Ia bahkan ikut berbahagia teruntuk dua orang sahabat terbaiknya.
Kini status mereka beralih menjadi sahabat. Dan semua itu berkat keikhlasan hati Riko menerima semuanya. Lalu dengan hati terbuka ia menerima hubungan baru sebagai sahabat.
"Daddy mau berpetualang ke suatu tempat yang sangat jauh. Doakan Daddy ya, biar Daddy secepatnya bisa nyusul Mommy dan Daddy Kai," kelakarnya.
"Tapi Daddy bakal cepat pulang kan? Ken masih pengen main sama Daddy," rajuk anak kecil itu mengerucutkan bibir mungilnya. Wajah cemberutnya sungguh menggemaskan.
"Kan ada Daddy Kai yang bisa menemani Ken main."
"Tapi Ken pengennya ada Daddy Ko sama Daddy Kai. Ken pengen main sama kalian berdua."
"Ken, Daddy Ko ada urusan yang sangat penting. Nggak bisa ditunda sayang." Kai datang menyentuh pundaknya lembut.
Riko bangun dari posisinya. "Selamat ya kawan. Maaf aku nggak bisa hadir di pernikahan kalian. Selamat ya ... Dara." Saat ia beralih menatap Dara, kalimatnya terhenti sejenak sebelum akhirnya menyebut nama Dara lirih.
Riko mengulas senyumnya menatap Dara. Yang dibalas Dara dengan tatapan haru. Ia terharu dengan cinta dan kasih sayang pria itu untuknya. Tak pernah menyangka sebelumnya, pria yang sudah terlalu banyak ia buat susah, masih sudi mengasihinya. Bahkan sanggup berkorban untuknya.
"Riko ..." Dara menghela napas sejenak. Sebelum kembali berkata,
"Aku nggak tahu harus memulainya dari mana. Aku nggak tahu harus mengutarakannya bagaimana. Aku sangat, sangat berterima kasih sekali sama kamu. Jujur, aku nggak tahu harus membalasnya dengan apa. Apa yang kamu lakukan untukku, Ken, dan juga Kai, itu sungguh luar biasa. Yang semua laki-laki belum tentu bisa melakukan hal yang sama. Thankyou so much (terima kasih banyak."
Riko mengurai senyumnya sembari menatap lekat Dara. Ada rasa bahagia di hatinya saat melihat Dara mengekspresikan kebahagiaannya.
"Apa kamu bahagia?" tanya Riko.
Dara mengangguk. Rasa haru yang menyeruak membuat genangan air di pelupuk matanya mulai berjatuhan.
"Cukup dengan kamu bahagia kamu bisa membalas apa yang sudah aku lakukan untukmu. Karena, bila kamu nggak akan bahagia, nggak akan mungkin aku melakukan ini. Kalau kamu memang benar-benar ingin berterima kasih padaku, maka berbahagialah untukku. Dengan melihat kamu bahagia saja itu sudah lebih dari cukup untukku."
Isak tangis Dara malah terdengar. Entah mengapa hatinya sungguh pilu jika mengingat balasan apa yang ia beri untuk pria yang begitu baik terhadapnya selama ini.
Di samping Dara, sembari menggandeng Ken, Kai menyimak. Ia memberi kesempatan kepada Riko untuk berpamitan dengan Dara.
Riko telah mengambil keputusan untuk menerima misi dari rumah sakit tempatnya bekerja. Ia menerima dan bersedia ditugaskan selama dua tahun di desa terpencil. Yang saat ini sedang kekurangan bahkan tidak memiliki dokter anak.
Atas dasar kemanusiaan Riko menerima tugasnya dengan suka rela. Dengan niat ingin membantu sesama.
Dara menyusut hidung berkali-kali. Air mata itu tak bisa ia cegah. Air mata itu justru semakin tertumpah ruah. Kai lantas membawa jemarinya, mengelus lembut pundak Dara.
"Mommy kenapa nangis? Mommy cengeng ah. Ken aja nggak nangis," ledek Ken.
Dara terkekeh, masih dengan linangan air mata.
"Dara ..." panggil Riko.
Dara mengangkat pandangan, menatap Riko yang kembali mengurai senyum menatapnya.
"Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kali?" pinta Riko.
Dara menoleh sejenak, menatap Kai sebagai isyarat meminta ijin Kai. Walau bagaimanapun, Kai sekarang adalah suaminya.
Sebelumnya ia ragu jika Kai mengijinkan. Namun tak disangka, Kai malah memberinya senyuman manis. Sebagai isyarat bahwa Kai memberi ijin.
__ADS_1
Dara pun membawa langkahnya mendekat perlahan. Ada rasa canggung saat Riko menatapnya sayu. Seakan ia bisa merasakan seperti apa perasaan Riko saat ini.
"Untuk terakhir kali sebagai teman," ucap Riko meyakinkan tidak ada maksud lain, selain hanya sebagai ucapan perpisahan.
Dengan perasaan haru Dara mengangguk. Kemudian menghambur memeluk Riko.
Begitu Dara menjatuhkan diri dalam pelukan, Riko mempererat pelukannya. Mencurahkan segenap rasa di jiwanya. Rasa yang dulu pernah hadir di dalam hatinya. Namun tak pernah tergapai.
Biarlah rasa itu terendap di dasar hatinya. Hingga terhapus oleh waktu.
"Aku pamit ya. Jaga diri kalian baik-baik," ucap Riko setelah melepaskan pelukannya. Lalu mengurai senyumannya.
"Hati-hati kawan. Aku doakan yang terbaik untukmu. Semoga Tuhan selalu melindungimu di sana." Kai meraih Riko ke dalam rangkulannya.
Dua pria itu saling memberi semangat.
"Maksih kawan. Doakan juga agar secepatnya aku bisa menyusul kalian," kelakar Riko begitu melepas rangkulan.
"Pasti. Semua doa terbaikku hanya untukmu."
"Daddy cepat pulang ya? Ken akan selalu kangen sama Daddy. Sampai kapanpun Daddy adalah Daddy nya Ken. Ken sayang sama Daddy." Ken menghambur ke dalam pelukan Riko.
"Makasih sayang. Ken sekolah yang rajin ya? Di sekolah baru Ken, Ken nggak boleh nakal. Ken harus menjadi juara."
Ken menarik diri dari pelukan Riko.
"Ken akan belajar yang rajin. Ken akan buktikan, kalau Ken bisa jadi juara."
"Bagus. Itu baru namanya anak Daddy. Oh ya, Daddy boleh minta tolong nggak nih?"
"Boleh dong. Ken selalu siap menolong."
"Tolong jaga Mommy baik-baik. Ken harus mendengarkan apa kata Mommy. Nggak boleh bandel. Janji ya?"
Ken mengangguk penuh percaya diri. "Siap Daddy."
"Tapi Daddy juga harus janji sama Ken. Kalau Daddy pulang nanti, Daddy harus ngasih Ken Mommy yang baru."
Mereka terkejut mendengar permintaan Ken. Entah datang dari mana pemikiran anak kecil itu.
"Ken udah punya dua Daddy, masa Mommy nya cuma satu. Nggak seru ah."
"Astaga."
Mereka tergelak mendengar alasan sederhana Ken. Cukup masuk akal.
"Daddy pikir Ken mau bilang kalau Mommy yang ini galak." Celotehan Kai malah mendapat satu cubitan Dara di pinggangnya.
"Enak aja ngatain aku galak," kesal Dara memasang wajah cemberut.
Mereka kembali tergelak melihat tingkah Dara.
Seperti itulah potret persahabatan yang baru terjalin diantara mereka.
Ternyata, mengikhlaskan sesuatu akan membuahkan sesuatu yang indah. Riko mengikhlaskan hubungannya dengan Dara. Alhasil ia malah mendapatkan dua orang sahabat sekaligus. Serta penyemangatnya yaitu Ken.
Ken masih menganggapnya sebagai Daddy nya, meski kini telah ada Kai.
Setelah melepas kepergian Riko, kini keluarga kecil itu sedang dalam perjalanan pulang.
"Daddy, kita mau ke mana sekarang?" tanya Ken yang duduk di jok kedua.
"Pulang dong sayang," sahut Kai tetap fokus pada jalanan di depannya.
"Memangnya Ken mau ke mana? Apa ada tempat yang ingin Ken datangi? Apa kita ke mall saja? Ken belum pernah kan jalan-jalan di kota ini?" ucap Dara.
"Mommy, teman Ken yang di sekolah baru Ken itu punya adik perempuan yang lucu dan cantik sekali."
"Oh ya? Terus kenapa? Ken udah kenal sama adik temannya Ken itu?"
"Namanya Amora. Cantik. Ken jadi pengen juga punya adik perempuan."
__ADS_1
"Tuh, dengerin keinginan anak kamu itu," kelakar Kai dengan lirikan menggoda.
Dara malah mencubit manja lengan suaminya itu.
"Ken pengennya punya adik berapa?" Kai malah membalas ucapan Ken dengan maksud ingin menggoda Dara.
"Dua. Ken pengen punya adik perempuan biar bisa Ken lindungi. Trus Ken juga pengen punya adik cowok, biar bisa jadi teman main Ken di rumah."
"Ya udah, kalau begitu kita pulang aja sekarang ya? Daddy akan bikinin adik buat Ken."
Kembali Dara mencubit lengan Kai.
"Apaan sih?"
"Bikinnya gampang kok sayang. Nggak lama lagi. Malah enak. Kita bikin begitu sampai di rumah ya?"
"Iiiiiiih kamu itu ya ..." Kali ini bukan hanya mencubit, Dara bahkan memukuli lengan Kai manja. Membuat Kai tergelak.
Ia tahu sikap yang Dara tunjukkan bukan penolakan. Dara hanya malu saja. Apalagi omongan mereka itu adalah sesuatu yang tidak sepantasnya di dengar oleh anak kecil.
Kai menambah kecepatan mobil membelah jalanan ibukota yang semakin dipadati kendaraan untuk segera sampai ke rumah. Agar ia bisa segera memenuhi keinginan Ken. Yaitu memiliki dua orang adik.
Setelah menikah, mereka memilih tinggal di rumah Kai. Dan Kai sudah diterima kembali di Universitas tempatnya mengajar dulu bersama Dara di kotanya.
Begitu sampai di rumah, Kai tak membuang-buang waktu. Meski Dara sempat menolak, tetapi berkat kelihaiannya dalam merayu, Dara pun akhirnya hanya bisa pasrah. Pasrah saat Kai membuatnya babak belur hingga kehabisan tenaga.
.
.
Pesawat yang ditumpangi Riko telah berada pada ketinggian 36.000 kaki. Ia tengah memandang keluar jendela. Memandangi kumpulan awan di bawah sana saat kepala seseorang jatuh di pundaknya tiba-tiba.
Riko menoleh dan mendapati seseorang yang tertidur dengan wajah ditutupi jaket sedang menyandarkan kepala di pundaknya tanpa sadar.
Riko membiarkan, namun hati was-was. Ia tidak tahu siapa orang itu. Entah dia pria atau wanita.
Namun sedetik kemudian ia tak bisa diam saja. Sebab tangan orang itu hampir saja menyentuh juniornya yang sedang tenang di antara kedua pahanya.
Tanpa bermaksud kasar ia mendorong kepala orang itu dengan telunjuknya. Sampai tiba-tiba jaket yang menutupi wajah orang itu melorot jatuh. Hingga menampakkan seraut wajah cantik yang sedang terlelap.
Riko mengernyit, menatap wajah itu. Sembari ingatannya melambung jauh kembali ke masa-masa ia kuliah kedokteran dulu.
Pemilik wajah cantik yang sedang tertidur di sebelah Riko pun akhirnya membuka matanya. Ia mengerjap, lalu menoleh dan mendapati seorang pria berwajah tampan tengah menatapnya dengan dahi mengerut.
"Maaf," ucap wanita cantik itu sembari memperbaiki posisi duduknya.
Namun tiba-tiba saja wanita cantik itu kembali menoleh, menelisik paras Riko dengan kernyitan di dahinya.
"Riko?" sapa wanita itu.
Riko mengangkat alis. "Kamu kenal aku?"
"Ya ampun, ini aku, Claudia. Kamu masih ingat kan? Kita satu fakultas dulu."
"Claudia? Oh, kamu. Claudia yang sering datang telat itu? Yang sering mendapatkan hukuman karena hampir setiap hari datang telat."
"Iya. Itu aku. Oh ya, kamu mau ke mana?"
"Aku ditugaskan di desa ..." Riko menyebut nama desa tempatnya bertugas.
"Sama dong. Aku juga bertugas di sana sebagai ahli nutrisi. Apa kebetulan kita juga ditugaskan di puskesmas yang sama ya? Wah, aku senang kalau ada kamu." Claudia tersenyum malu-malu. Sama hal nya dengan Riko yang tampak salah tingkah.
Pertemuan tak terduga dengan seorang teman lama. Yang mungkin juga akan menjadi teman untuk selamanya.
END
Ucapan terima kasih author buat teman teman yang udah setia ngikutin cerita ini dari awal. Terima kasih yang sebanyak banyaknya. Kalian mood booster author abal absl ini.
See you next time.
Good bye 😘
__ADS_1
Intipin yuk cerita baru aku.
GARA GARA KAMU