
"Tinggalkan Dara. Dia sudah menemukan pria yang tepat," tambahnya. Membuat Kai terhenyak.
Papa Yuda tampak serius dengan ucapannya. Dengan tatapan semakin menajam. Serasa menikam jantung sedalam-dalamnya.
"Pria yang tepat? Dokter itu?" tanya Kai ingin kejelasan.
"Iya. Dara sudah membuka hati untuk pria lain. Dara sudah cerita semuanya. Kamu ternyata sudah punya anak kan?"
Astaga!
Kenapa Kai bisa sampai lupa. Bukan hanya kecelakaan itu saja, bukan hanya Joanna dan menjadi aral bagi hubungannya dengan Dara. Ziyo pun bisa jadi aral terbesar yang akan mempersulit langkahnya.
"Saya sarankan, lebih baik kamu lebih memperhatikan anak kamu sekarang. Bangun keluarga kecil kamu. Daripada kamu terus mengejar-ngejar Dara. Kalian nggak akan mungkin bisa bersama," tambah Papa Yuda.
Apa yang dikatakan Papa Yuda tidak salah. Memang seharusnya ia lebih memprioritaskan Ziyo sekarang. Sebab Ziyo, walau bagaimana pun adalah darah dagingnya. Yang sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Yang membutuhkan sosok seorang ayah dalam hidupnya.
Apalagi anak kecil itu, saban hari, semakin tumbuh besar. Yang kelak, sudah barang tentu, akan bertanya perihal ayah kandungnya.
Joanna sudah membuka jalan, mau menerimanya kembali. Lalu apa lagi yang harus ia pikirkan?
Kai pun akhirnya pulang dengan tangan hampa. Bukan hanya sekali ini Dara menolak bertemu dengannya. Berkali-kali Dara menghindarinya. Kai bahkan sulit menghubungi ponselnya.
Hingga kini beberapa minggu telah berlalu, Kai masih saja sulit menemui Dara. Gadis itu bahkan berhenti dari pekerjaannya. Membuat Kai semakin sulit menemuinya.
Agaknya, Dara benar-benar telah mengunci rapat pintu untuk Kai.
Mungkinkah ini adalah sinyal yang sengaja Dara beri, agar Kai menyadari bahwa hubungan mereka benar-benar telah berakhir? Semudah itukah Dara menghempasnya?
Kai pada akhirnya mulai memikirkan kembali, dan menimbang-nimbang soal tawaran Joanna. Yang mengajaknya untuk membuka kembali lembaran baru.
Haruskah Kai menerima tawaran itu?
Toh hal itu juga demi kebaikan Ziyo. Dan demi masa depan Ziyo, putra kandungnya.
.
.
Beberapa minggu berlalu.
Dara duduk selonjoran di tempat tidur sambil bermain ponsel. Setelah membeli ponsel baru, Dara meminta pada teman-temannya, terlebih kepada Yola, agar tidak memberikan nomor ponselnya yang baru kepada Kai.
Dara benar-benar tak ingin bertemu pria itu lagi. Meski hati kecilnya menolak.
Merasa bosan, Dara pun bangun dari tempat tidur. Keluar kamar sebentar untuk menghilangkan suntuk lantaran seharian ini ia mengurung diri di kamar.
Dara hendak ke dapur saat tiba-tiba ia merasa mual. Aroma makanan yang menyeruak memenuhi indera penciumannya, membuatnya mendadak merasa pusing dan mual.
"Hoek ..." Mual yang Dara rasakan benar-benar tak tertahankan lagi.
Bergegas ia mengayunkan langkah kaki menuju dapur. Dimana Mama Maya sedang memasak makanan favoritnya.
"Hoek ..." Cepat Dara memuntahkan isi perutnya di wastafel dapur.
"Dara, kamu kenapa sayang?" cemas Mama Maya sembari menghampiri. Dielusnya lembut punggung Dara yang masih membungkuk memuntahkan isi perutnya.
"Hoek ... Hoek ..." Dara kembali muntah-muntah. Membuat Mama Maya cemas dan semakin yakin dengan asumsinya.
"Mama masak apa sih? Bikin mual aja deh," gerutu Dara setelah mualnya sedikit mereda.
"Mama masak makanan kesukaan kamu. Memangnya kenapa? Aromanya enak kok malah dibilang bikin mual. Dara ..." Mendadak Mama Maya terlihat serius. Dipandanginya tajam Dara yang menatapnya bingung.
"Kasih tau Mama, apa yang kamu rasakan sekarang?" tanyanya menatap penuh selidik.
__ADS_1
"Aku mual dan pusing. Gara-gara aroma masakannya Mama tuh." Dara mencebik sebal.
"Bukan Dara. Kamu mual dan pusing itu bukan karena aroma masakannya Mama."
"Terus, karena apa dong? Apa jangan-jangan aku masuk angin ya, Mah?"
Mama Maya menggeleng. "Sebaiknya kamu ke dokter."
"Nggak perlu Mah. Istirahat sebentar, pusingnya juga pasti ilang."
"Dara ... Apa kamu telat datang bulan kali ini?"
"Mama kenapa malah nanyain itu sih?" Dara sebal. Tetapi kemudian mendadak ia terhenyak. Ia baru menyadari ucapan mamanya benar.
Astaga!
Dara menatap takut Mama Maya. Jika ia telat datang bulan, bukankah itu artinya ...
Ya Tuhan!
Kenapa Dara baru menyadarinya? Jangan-jangan kecurigaan mamanya benar. Bahwa saat ini ia sedang ...
Tidak!
Tidak mungkin!
Dara menggeleng tak percaya. Sungguh ia ketakutan saat ini. Takut akan nasib buruk yang menimpanya kali ini.
.
.
Dara melangkah lesu keluar dari ruang dokter kandungan di rumah sakit tempo hari ia dirawat. Ia sengaja datang sendiri dan menolak mamanya yang ingin menemaninya. Sebab tak ingin mamanya kecewa saat mengetahui kebenarannya langsung.
Dara kini duduk termenung seorang diri di deretan bangku di koridor rumah sakit. Sambil memandangi secarik kertas hasil USG nya.
Namun, hanya satu kata yang ia mengerti. Yang baru-baru ini diucapkan oleh dokter kandungan yang ia temui beberapa saat lalu.
Hamil!
Mata Dara pun mulai berkabut. Pandangannya redup tertutupi oleh genangan air di pelupuk mata. Yang akhirnya tertumpah ruah membasahi pipi.
Dara menutupi wajahnya malu. Punggungnya naik turun lantaran menahan isak tangis dibalik telapak tangannya.
Hal yang Mama Maya takutkan pun akhirnya terjadi. Dara hamil di luar nikah. Entah bagaimana nasib yang harus ia jalani kini. Kai bahkan tak tahu menahu tentang kehamilannya.
Lantas, haruskah ia memberitahu Kai?
Bagaimana jika Kai menolak untuk bertanggung jawab?
Dara menyusut hidung berkali-kali. Ia hendak menghapus air matanya saat tiba-tiba sebuah tangan kekar menyodorkan sapu tangan di depan wajahnya.
Dara mendongak, menatap seorang pria tampan dengan sapu tangan terulur di tangannya. Pria itu kemudian mengambil duduk di samping Dara, setelah Dara meraih sapu tangannya.
Dara menyimpan kertas kecil itu ke dalam tas kecilnya, lalu menyeka air matanya.
"Nggak malu nangis di tempat umum?" tanya Riko. Dokter tampan yang memberi Dara sapu tangan.
"Air matanya aja yang nggak ijin dulu. Main keluar begitu aja," sahut Dara sembari menundukkan wajah.
"Boleh aku tau kenapa?"
Dara menggeleng pelan.
__ADS_1
Meski Dara tak menjawab pertanyaannya, Riko sebetulnya sudah menebak dari kertas kecil yang ia tahu betul kertas seperti apa itu. Ia seorang dokter, yang tentu saja memahami arti kertas itu.
"Kamu sudah beritahu dia?" tanyanya lagi.
Dara kembali menggeleng pelan.
Riko menghela napas sejenak. "Kamu harus beritahu dia. Walau bagaimanapun, dia harus bertanggung jawab."
"Aku nggak mau."
"Kenapa?"
Dara mengendikkan bahu. Ia sendiri bahkan tak tahu alasannya.
"Sebaiknya cepat kamu beritahu dia. Sebelum terlambat."
"Terlambat apanya?"
"Sebelum dia hilang ingatan dan melupakan kamu."
Dara tertawa kecil mendengarnya. Jangankan memberitahu Kai, untuk bertemu dengan pria itu saja, ia bahkan enggan.
"Oh ya, kamu nggak ada pasien hari ini?" tanya Dara sembari meneliti tampilan Riko yang tanpa mengenakan sneli putih kebanggaannya.
Riko mengulas senyum tipis.
"Aku nggak bertugas di rumah sakit ini lagi."
Dara tersentak kaget. "Oh ya? Kenapa? Apa kamu di pecat?"
"Enggak. Aku dipindahkan ke rumah sakit cabang di luar kota."
"Luar kota? Jauh nggak?"
"Lumayan sih. Kenapa? Mau ikut denganku?"
Dara menggeleng cepat. Lalu berpaling menghindari tatapan Riko. Yang entah kenapa terasa berbeda kali ini.
"Dara ..."
Dara tak menoleh. Ia tundukkan kembali wajahnya. Serasa malu Riko mengetahui keadaannya.
"Beritahu dia secepatnya. Aku sudah pernah beritahu kamu, masalah itu harus dihadapi. Bukan menghindar. Aku akan membantu kamu kalau kamu nggak berani memberitahu dia."
Dara membuang napas panjang. Mencerna ucapan Riko. Yang sebetulnya tidak lah salah. Mungkin benar, Kai harus tahu tentang kehamilannya.
.
.
Termotivasi oleh ucapan Riko beberapa saat lalu, kini Dara tengah berdiri di depan pintu rumah Kai. Berkali-kali ia menekan bel pintu, tetapi tidak ada sahutan dari dalam.
Akhirnya, Dara memutuskan masuk tanpa permisi. Yang kebetulan, pintu rumah Kai tidak terkunci.
Dara melangkah perlahan memasuki rumah itu. Susah payah ia mengumpulkan keberanian diri untuk datang menemui Kai setelah sebulan lamanya ia menghindari pria itu.
Namun langkahnya terhenti di ruang tengah rumah itu. Saat pandangannya tanpa sengaja melihat sepasang sejoli yang tengah bercumbu. Saling memagut mesra, tepat di depan matanya.
Seketika, tubuh Dara gemetaran. Dadanya pun kian bergemuruh lantaran amarah yang mulai merasuk namun tak mampu ia tumpahkan.
"Kai?" panggil Dara dengan mata mulai berkaca-kaca.
Kai yang tengah berciuman mesra dengan Joanna pun terkejut mendengar suara Dara yang memanggil namanya. Cepat ia menoleh. Dan mendapati Dara tengah berdiri dengan raut wajah yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Dara?"
TBC