You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 38


__ADS_3

Berdiri dengan mendekap dada, Kai memandangi seorang gadis yang terbaring lemah dengan perban hampir di sekujur tubuhnya saat itu. Saat ia menemui putri Yuda Aditama di ruang rawat yang bersebelahan dengan kamar sang ayah, setahun silam.


"Saya tidak keberatan jika anda ingin menuntut saya, tapi tolong tunggulah sampai putri saya sadar dulu. Saya tidak bisa melihat putri saya satu-satunya dalam keadaan seperti itu. Saya merasa sangat bersalah sudah membuat putri saya berada dalam bahaya. Saya benar-benar tidak mengira, penyakit jantung saya kambuh saat di perjalanan. Jika saya boleh memilih, lebih baik saya yang mati."


Seperti itu ucapan Yuda yang terngiang di telinga Kai. Hingga Kai pun tak tega. Terlebih saat melihat kondisi pasien yang tengah berbaring lemah di bangsal rumah sakit kala itu. Membuat amarah Kai yang berkobar, padam seketika. Dan lagi saat melihat cinta seorang ayah kepada anaknya, membuatnya tersentuh.


Kondisi gadis itu sungguh membuat Kai merasa iba. Di dunia ini tidak ada seorang pun yang menginginkan hal itu terjadi. Termasuk Kai sendiri.


Akan tetapi, takdir hidup seseorang tidak ada yang tahu. Kai menyadari hal itu. Akan tetapi, takdir yang menimpa keluarganya, sejujurnya masih sulit ia terima.


"Saya akan membayar berapapun yang anda minta. Tapi tolong maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya hanya punya seorang putri. Jika dia bangun nanti dan tidak melihat saya di sampingnya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya nanti. Dia masih sangat labil. Dia adalah putri saya satu-satunya. Kebanggaan saya, seluruh hidup saya."


Panjang lebar Yuda menerangkan saat itu. Dan masih terngiang jelas di telinga Kai. Bahkan hingga kini.


Kai tersentak dari lamunannya saat terdengar bunyi denting ponsel. Yang menampilkan sebuah pesan chat dari Dara.


"Miss you (rindu kamu)."


Kai mengulum senyum membaca pesan Dara yang singkat, namun mampu membuatnya kembali berdebar.


"Miss you too (rindu kamu juga)." Balasan Kai untuk pesan Dara.


"Katanya, gula itu manis. Tapi bagiku, masih lebih manis senyummu. Yang bikin aku selalu rindu."


"Astaga. Gadis ini sungguh menggemaskan." Sambil tertawa kecil Kai kembali membalas pesan Dara yang menggodanya itu.


Seperti itulah kedekatan yang kini terjalin diantara mereka. Sepanjang malam keduanya saling berbalas pesan mesra.


.


.


Hari demi hari hubungan Kai dan Dara kian dekat, kian mesra. Keduanya ibarat kertas dan perangko, selalu nempel. Ibarat sepasang sepatu, kemana-mana selalu berdua.


Usai menyampaikan materi perkuliahan masing-masing, Dara dan Kai menyempatkan diri jalan-jalan berkeliling kota. Sekadar menghabiskan waktu bersama.


Usai jalan-jalan, Kai mengajak Dara ke rumahnya. Kai akan membuat makan malam untuk mereka berdua. Dan Dara pun ikut membantu.


Dara sedang memotong-motong sayuran saat tiba-tiba terdengar suara pekikan nya.


"Aww!" Dara memekik saat tanpa sengaja jarinya teriris pisau.


Pekikan Dara, mengagetkan Kai yang sedang menyiapkan bumbu masakannya. Sontak ia menghampiri Dara, meraih jemarinya yang terluka.

__ADS_1


"Kenapa nggak hati-hati? Jari kamu jadi luka seperti ini kan?" keluh Kai. Lalu melepas celemek. Tak lupa celemek yang dikenakan Dara pun ia lepas. Baru kemudian mengajak Dara ke sofa ruang tengah.


"Tunggu bentar, aku ambil kotak P3K dulu." Kai bergegas ke kamarnya, mengambil kotak P3K yang ia simpan. Kemudian kembali menghampiri Dara yang duduk sambil memegangi jemarinya yang terluka.


Dengan telaten, Kai membersihkan luka sayatan di jari Dara. Mengobatinya lalu memberinya plester luka.


Sepanjang Kai mengobati lukanya, Dara sibuk menatap paras Kai seraya tersenyum. Betapa pria itu telah membuatnya tergila-gila. Yang kata orang, sehari saja tak bertemu rasanya seperti setahun lamanya.


Hingga Kai selesai mengobati lukanya, Dara masih setia menatap mesra.


Kai membuang napas pelan sembari mengulum senyum mendapati pemandangan yang membuatnya berdebar seketika.


"Emang lukanya nggak perih? Kok malah senyum-senyum?" tanya Kai akhirnya.


Dara menggeleng. "Kan kamu yang ngobatin. Udah nggak perih lagi kok." Kembali Dara mengulum senyum manisnya. Membuat Kai semakin terpesona.


Hingga perlahan Kai pun mulai membawa jemarinya menyentuh wajah Dara, mengusapnya lembut. Mungkin benar, Kai telah jatuh hati.


Cinta bisa datang kapan pun tanpa bisa di cegah. Seperti halnya yang terjadi pada Kai. Yang awalnya ia merasa, perasaannya terhadap Dara tak lebih dari sebatas kagum saja. Tak ada yang lebih, tak ada yang istimewa, selain hanya sebatas teman saja.


Perlahan semua itu terganti. Rasa yang dulu tak pasti dan tak tentu arah, kini bermuara pada akhirnya. Kai telah memantapkan hatinya pada Dara. Gadis berparas jelita yang telah berhasil mencuri hatinya. Yang telah mampu membuatnya berpaling.


Kai semakin dalam menatap Dara. Yang senantiasa mendapat balas dengan tatapan berbinar Dara yang teramat jelas menunjukkan sedalam apa perasaan gadis itu terhadapnya.


"Sama seperti sebelumnya. Nggak ada alasan dan aku nggak butuh alasan untuk mencintai kamu. Karena ketulusan hati itu nggak butuh alasan apapun." Dara berucap dengan sorot mata semakin mendalam. Baru kali ini gadis itu tampak tak main-main. Hingga membuat Kai tertegun menatapnya dalam.


"Kamu sendiri? Apa alasan kamu?" Dara melempar kembali pertanyaan yang sama.


Dan Kai menggeleng. "I don't know. I have no reason (aku nggak tau. Aku nggak punya alasan)." Lalu menarik jemari yang menyentuh wajah Dara.


"Nah kan? Kamu aja nggak tau, apalagi aku?" Disertai kekehan geli, Dara membuat Kai semakin gemas saja.


"So cute (imutnya)," gumam Kai melihat tingkah Dara yang  semakin menggemaskan baginya. Dan selalu saja membuatnya tergoda. Hingga angan dan impiannya akan gadis itu pun kian melambung.


Kai menggeleng, saat pikirannya mulai melantur memikirkan hubungannya.


"Kenapa?" tanya Dara cemas melihat Kai mendadak tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Bahkan suasana yang semula terasa mencair kini seakan terasa kaku.


Kai kini merubah posisi duduk. Ia menyamping, yang semula berhadapan. Kai terkesan seakan tengah menghindari sesuatu saat ini.


Entah.


Tetapi Dara, merasa Kai mulai berbeda. Entah apa yang ada dalam benak pria itu saat ini. Dara sungguh ingin tahu. Apa yang membuat pria itu mendadak berubah dalam sepersekian detik.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Dara mengulang pertanyaan. Yang masih saja belum mendapat jawaban.


Kai menghela napas. Pertanyaan Dara untuk kedua kalinya belum juga ia hiraukan. Bukan bermaksud mengabaikan gadis itu, hanya saja gadis itu selalu saja membuatnya tergoda. Ia hanya mencoba menghindari sesuatu hal yang mungkin saja terjadi di luar kendalinya.


Kai adalah pria dewasa, normal. Wajar jika ia tergoda. Terlebih di kondisi yang mendukung. Yang membuat hasratnya kian bergejolak.


"Mungkin ada yang bisa aku bantu?" Memiringkan kepala, usil mengintip wajah Kai yang tertunduk. Kemudian mengulum senyuman manis.


Kai masih tak menggubris. Ia diam sembari menatap Dara. Hingga membuat gadis itu mendadak canggung dan kikuk.


"Mungkin aku aneh ya?" sesalnya lantaran terlalu percaya diri. Yang mungkin saja akan membuat Kai ill feel.


"Oh ya, apa kita bisa melanjutkan la..." Sapuan hangat yang tiba-tiba saja mendarat di bibir, membungkamnya.


Meraih tengkuk Dara dengan cepat, menekannya perlahan dan semakin memperdalam pagutan. Kai tengah menyalurkan segala rasa yang menggelora di jiwanya. Membawa Dara dalam sentuhannya yang membuai.


Dara pun tak berdiam diri. Ia membalas setiap pagutan Kai yang kian rakus. Meski kurang ahli, namun ia berusaha mengimbangi. Bermodal apa yang sering ia lihat melalui drama romansa yang sering digandrungi remaja masa kini. Sedikit banyak ia tahu, bahkan ia layaknya yang sudah berpengalaman saja.


Kai semakin dibuai rasa yang kian memabukkan. Tanpa melepas pagutan, Kai meraih Dara ke atas pangkuan. Mencumbunya semakin rakus bagai lupa diri.


Suara lenguhan lembut pun mulai lolos dari bibir mungil Dara tanpa sadar. Saat sapuan lembut bibir Kai mulai menyusuri leher jenjangnya.


Kai mulai membawa jemarinya membuka tautan kancing baju Dara satu per satu, saat tiba-tiba terdengar bunyi keroncongan yang seketika itu juga menghentikan aktifitas keduanya. Di tengah napas yang masih memburu.


Kai mengakhiri ciuman yang mulai terasa panas. Ditatapnya Dara yang tampak malu-malu menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut yang tergerai.


"Sorry," lirih Dara antara malu dan rasa bersalah. Lantas turun dari pangkuan Kai.


Duh, Dara, memalukan. Kenapa perutnya keroncongan justru disaat seperti ini. Sekarang, apa yang akan dikatakan Kai tentangnya?


"Aku yang harusnya minta maaf. Aku jadi lupa kalau kamu..."


"Nggak kok, aku masih bisa menahannya." Dara menyela dengan cepat.


"Aku tau kamu lapar. Ya udah, kamu tunggu sebentar, aku akan memasak untuk kamu." Beranjak dari tempat duduk, Kai hendak kembali ke dapur.


Namun sempat dengan usilnya berbisik di telinga Dara, "kamu makin pintar. Nggak kaku lagi," bisiknya menggoda. Membuat wajah Dara merona bersemu merah lantaran malu yang teramat.


TBC


Mohon maaf atas keleletan up nya.


Semoga masih bisa menghibur🙏☺️

__ADS_1


__ADS_2