You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 23


__ADS_3

"I think i'm in love (kurasa aku jatuh cinta)." Ucap Dara lirih.


"Kamu bilang apa?" Tanya Kai lirih. Tetap fokus menatap manik mata Dara.


"I like you (aku suka kamu)." Jawab Dara lirih, setengah berbisik.


Kai diam, tak berkata lagi, tak bertanya lagi. Hanya kedua bola matanya liar menelisik paras Dara. Yang diam-diam membuat hatinya berdebar. Entah apa alasannya.


Perlahan, seakan Kai terhipnotis tatapan lembut sepasang mata indah Dara. Tanpa sadar, mengulurkan tangannya. Menyibak sebagian helaian rambut Dara yang menutupi wajahnya. Menyelipkan nya di telinga. Lalu membawa jemarinya mengusap lembut wajah Dara.


Jemari itu pun perlahan turun, menyentuh bibir manis nan merekah yang entah kenapa membuatnya tergoda. Kai mengusapnya lembut.


Perlakuan Kai tanpa sadar itu, membuat detak jantung Dara semakin menggila. Dan hati kian berdebar-debar.


Tak ada yang menyadari, seperti gerak refleks perlahan, jarak mulai terkikis. Sedikit demi sedikit. Jemari Kai yang semula menyentuh bibir Dara, mulai menelusup diantara helaian surai panjang Dara. Meraih tengkuk Dara dan mulai menekannya pelan.


Dara tak melakukan perlawanan. Meski jarak semakin terkikis. Hati seakan menginginkannya, ia pejamkan mata rapat-rapat. Saat sentuhan lembut bibir Kai menyapu permukaan bibirnya.


Kai mulai memberikan lum atan lembut. Yang tanpa terduga bak gayung bersambut. Dara berusaha mengimbangi. Saling berbalas, saling menyesap, saling mencerup dalam.


Bagai hilang akal sehat, entah apa yang memotivasi, hingga keduanya semakin melebur dalam ciuman panas.


Pelan, tanpa melepaskan bibir yang saling bertaut, Kai mendorong tubuh Dara. Sampai posisi berganti. Dara kini berada dibawah kungkungan Kai. Menciuminya semakin rakus.


Helaan napas pun terasa semakin memburu. Baik Kai maupun Dara semakin menggebu. Menuruti hasrat yang kian membuncah, yang lama terpasung, dan tak mampu lagi membendungnya.


Kai adalah pria normal, dewasa. Hal yang wajar jika ia tergoda. Jiwa lelakinya juga tak memungkiri pesona Dara mampu menarik perhatiannya tanpa ia sadari.


Di tengah tautan bibir yang semakin memanas, di tengah gejolak yang kian menggelora, tiba-tiba saja terdengar bunyi dering ponsel. Hingga menyadarkan keduanya dari aktifitas yang diam-diam menjerumuskan. Mengembalikan waras yang sejenak hilang dari akal.


Di sela helaan napas yang masih memburu, Kai pun melepas tautan bibir nya. Didorongnya pelan tubuh Dara menjauh. Tak ingin hal serupa kembali terulang. Sebab tak ada yang spesial dalam hubungan mereka. Sungguh hal itu di luar kendalinya.


"Maaf." Ucap Kai menatap Dara intens.


"Nggak apa-apa." Balas Dara lirih. Lalu memalingkan wajahnya gugup. Serta degup jantung yang kian tak berirama.


"Aku sungguh minta maaf." Ucap Kai sekali lagi. Lalu berpaling. Sama seperti Dara, Kai pun gugup.


Mendadak suasana terasa canggung. Hening pun menyelimuti. Baik Dara maupun Kai diam membisu. Tak ada lagi obrolan. Yang ada hanyalah sikap salah tingkah keduanya. Yang sama-sama merasa malu.


Demi mengatasi rasa gugupnya, Dara mengambil cemilan yang ada di meja itu. Lantas membuka dan memakannya.


"Cemilannya enak." Ucap Dara kikuk. Senyum pun entah kenapa terasa kaku.


Kai tersenyum canggung. "Silahkan dinikmati."


"Bukannya handphone kamu tadi bunyi ya?"

__ADS_1


"Oh, iya. Sampai lupa." Cepat Kai menyambar ponsel yang tergeletak di meja sofa itu. Memeriksa panggilan tak terjawab, yang menampilkan nama Joanna.


"Siapa?" Tanya Dara sambil mengunyah cemilan.


"Teman."


"Pemilik kafe itu?" Maksud Dara adalah Beno.


"Iya."


"Telepon balik aja. Siapa tau penting."


Kai bangun dari duduknya, memilih menjauh dari Dara. Lantas menghubungi Joanna.


"Ada apa Jo?" Tanya Kai.


"Ini tentang Ziyo ..." Sahut Joanna dari seberang.


.


.


"Maaf, aku sudah merepotkan kamu." Ucap Joanna sambil mengikuti langkah Kai menuju kamar Ziyo.


Perlahan Kai membaringkan Ziyo di tempat tidurnya. Anak kecil yang telah terlelap itu, sejak tadi menangis. Entah sebab apa. Dan Joanna sedikit kewalahan mengatasinya.


"Aku sempat berpikir akan membawa Ziyo ke dokter. Aku takut dia kenapa-napa. Dari tadi dia nangis terus. Semua cara sudah aku lakukan untuk membujuk Ziyo. Tapi Ziyo masih saja menangis." Tambah Joanna.


"Yang Ziyo butuhkan saat ini bukan dokter." Ujar Kai menghampiri Joanna yang berdiri di sisi ranjang memandangi putra kecilnya.


"Sudahlah Kai. Aku masih bisa merawat Ziyo sendiri. Tanpa bantuan siapapun."


"Oh ya? Terus, yang tadi itu apa? Kalau kamu nggak butuh bantuan siapapun, lalu kenapa kamu menghubungiku?"


Joanna terdiam. Bingung harus menjawab apa.


"Kamu tahu betul. Yang Ziyo butuhkan saat ini adalah sosok seorang ayah."


Joanna menundukkan pandangan. Menghela napas panjang lalu menghembuskannya pelan. Sejujurnya ia tak memungkiri jika Ziyo butuh kasih sayang seorang ayah. Akan tetapi, ada satu hal yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat dari Kai. Tak ingin Kai tahu hal itu.


"Ziyo bukan orang lain bagiku. Dia anaknya Kak Revan, kakak ku. Ziyo ponakanku, juga darah dagingku." Tambah Kai.


"Aku tau. Makasih atas perhatian kamu." Joanna memberanikan diri menatap Kai.


"Aku hanya nggak mau merepotkan kamu. Aku nggak mau menyusahkan kamu. Aku masih bisa merawat dan membesarkannya sendiri. Aku ibu nya. Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiannya." Tambahnya.


"Apapun?"

__ADS_1


Joanna mengangguk. "Iya. Apapun, demi Ziyo."


"Kalau begitu, beri dia seorang ayah."


"Untuk yang satu itu, aku butuh waktu."


"Butuh waktu? Berapa lama?"


"Aku nggak tau. Nggak akan semudah itu aku melupakan Revan."


"Jika aku ingin menjadi ayahnya Ziyo, kamu butuh waktu berapa lama untuk kasih aku jawaban?"


Joanna tersentak. Mendadak ia diserang gugup. Bukan hanya bingung, ia tak tahu lagi harus menjawab apa. Ia tak ingin tingkah dan gelagatnya terbaca oleh Kai. Untuk itu, ia memilih menjauh.


Joanna melangkah lebar hendak keluar kamar. Namun cekalan kuat di lengannya membuat langkahnya terhenti. Lalu memutar tubuhnya, menatap kesal Kai.


"Kai, tolong. Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda." Ujar Joanna kesal akan sikap Kai.


"I'm not kidding (aku nggak bercanda). Aku serius." Tegas Kai.


"Kai ..." Joanna tak habis pikir dengan jalan pikiran Kai.


"Aku benar-benar serius." Tegas Kai sekali lagi.


Joanna tertegun. Hanya bisa menelan saliva nya susah payah.


Sedangkan Kai menatapnya serius. Menampakkan kesungguhan hatinya. Yang entah hal apa yang memotivasinya.


.


.


Sementara di lain tempat, di malam yang sama.


Pulang dari rumah Kai, Dara tak mampir ke mana-mana lagi.


Setelah menerima telepon dari Joanna, Kai mengakhiri pertemuannya dengan Dara, dan bergegas menemui Joanna. Kai memilih melanjutkan pembahasan materinya via email. Kai akan menjelaskan materinya lewat email nanti. Setelah ia menemui Joanna.


Dan kini Dara tengah menunggu-nunggu email dari Kai. Sejak tadi tatapannya itu tak pernah lepas dari layar laptopnya.


Menunggu email dari orang yang istimewa serasa seperti menunggu surat cinta dari pacar. Hatinya begitu berbunga-bunga. Terlebih, saat membayangkan kembali kekhilafan yang terjadi diantara mereka beberapa saat lalu.


Dara tersenyum-senyum sendiri. Sambil jemarinya mengusap-usap bibir.


"Kai ... Kamu bikin aku malu saja." Gumam Dara lirih. Sambil tersenyum kala teringat ciuman itu. Dara tak memungkiri perasaannya untuk Kai. Ia benar-benar telah jatuh cinta.


"Aku menyukaimu Kai."

__ADS_1


TBC


__ADS_2