
"Aku menyukaimu Kai."
Dara benar-benar telah jatuh hati. Entah pesona apa yang dimiliki pria itu, hingga Dara begitu tergila-gila padanya.
Tak ubahnya bak remaja yang sedang kasmaran, Dara begitu berbunga-bunga. Hanya dengan membayangkannya saja sudah cukup membuat Dara bahagia.
Senyum pun masih senantiasa terukir di wajahnya. Senyum itu kian mengembang tatkala terdengar bunyi notifikasi pesan dari Kai di ponselnya. Yang mengabarkan bahwa materi perkuliahan sudah Kai kirim via email.
Cepat Dara membuka email di laptopnya. Dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
Hanya materi perkuliahan, tetapi tingkah Dara seolah mendapat pesan cinta dari seseorang yang istimewa di hatinya.
Disaat yang bersamaan pula, kembali terdengar bunyi notifikasi pesan di ponselnya.
"Ngumpul yuk. Di tempat biasa." Isi pesan dari Ditha. Yang mengajak Dara ngumpul bareng di coffeshop langganannya.
"Oke!"
Bergegas Dara menuju lemari dan mengganti bajunya. Untuk mempelajari materinya, bisa ia lanjutkan sepulang dari coffeshop nanti.
.
.
Di sudut lain kota. Setelah mengirim email, Kai meraih ponselnya untuk menghubungi Beno.
"Di mana?" Tanya Kai begitu panggilan tersambung.
Detik berikutnya Kai bergegas keluar rumah. Kai memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju alamat coffeshop yang disebutkan Beno.
Sampai di coffeshop, Kai lantas menuju meja dimana Beno tengah menunggunya sedari tadi.
"What's up buddy (ada apa kawan)?" Tanya Beno begitu Kai mengambil duduk di depannya.
"I need your opinion (aku butuh pendapat kamu)." Jawab Kai.
"About what (tentang apa)?"
"Joanna."
"Sial." Beno membuang muka.
"Sudah berapa kali aku bilang, move on Bro. Dia hanya masa lalu kamu." Tambahnya.
Kai menghela napas sejenak. Lalu berkata,
"Aku ingin menikahi Joanna."
Kali ini Beno terperanjat kaget. Dengan ekspresi terkejut bukan kepalang.
__ADS_1
"Apa kamu sudah gila? Kamu serius?"
"Entahlah." Kai seakan tidak yakin dengan pilihan yang diambilnya.
"Kamu sadar kan Bro, seperti apa status kalian. Dia itu mantan kakak ipar kamu. KAKAK IPAR!" Tegas Beno penuh penekanan.
"Aku tau."
"Lah terus? Kenapa kamu malah jadi kayak nggak waras gini sih Kai? Aku nggak ngerti lagi dengan jalan pikiran kamu." Beno kembali membuang muka. Detik berikutnya, dahinya mengerut, senyum pun tercetak di wajahnya. Sebab di seberang, netra nya menangkap tiga orang wanita cantik baru saja memasuki coffeshop dan mengambil duduk tak jauh dari tempat mereka duduk. Dara, Yola, dan Ditha yang baru saja sampai.
"Aku kasih saran sama kamu. Mendingan kamu move on. Aku tau kamu pasti kasihan dengan anaknya kan? Tapi nggak gini juga kali Bro. Banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk membantu. Nggak harus menikahinya Bro." Imbuh Beno. Lalu menoleh, kembali menatap Kai serius.
"But i still love her (tapi aku masih mencintainya."
"It's not love, but obsession (itu bukan cinta, tapi obsesi). Kamu terobsesi karena kegagalan kamu mendapatkannya dulu. Jika kamu menikahinya, itu bukan karena kamu mencintainya. Tapi kamu hanya menuruti ego kamu sendiri. Lagian dia udah nyakitin kamu. Dia udah mengkhianati kamu. Dan siapa yang dia pilih? Revan, kakak kamu sendiri. Kamu sadar nggak sih Bro?"
"Kamu keliru Ben."
"Nggak. Aku benar. Kamu masih terobsesi padanya. Dan itu bukan cinta. Ego mu terluka saat dia lebih memilih Revan. Kamu sendiri pernah bilang dulu, kalau kamu ikhlas dengan pilihannya. Seharusnya sekarang kamu udah bisa move on dong. Aku kasih kamu saran sebagai sahabat kamu." Beno kembali berpaling muka. Memandangi Dara dan teman-temannya yang duduk di meja seberang.
Kai menghembuskan napas berat. Masih menunggu apa yang ingin dikatakan Beno.
"Mendingan kamu coba buka hati kamu untuk wanita lain. Itu jauh lebih baik daripada kamu menuruti ego mu. Aku hanya khawatir, suatu hari nanti kamu nyesal dengan keputusan kamu."
"Di dunia ini ada banyak wanita cantik Bro. Aku yakin akan ada seseorang yang mencintai kamu dengan tulus." Tambah Beno dengan pandangan masih tertuju pada Dara dan teman-temannya.
Mengikuti arah pandang Beno, Kai pun memalingkan wajah. Netra nya langsung menangkap sosok Dara yang tertawa-tawa bersama teman-teman nya. Detik itu juga ia kembali teringat khilaf yang terjadi diantara mereka beberapa jam yang lalu.
Sementara di meja seberang, Dara, Yola, dan Ditha, tengah asik bercanda tawa. Kumpul bareng seperti ini sudah biasa mereka lakukan hampir setiap minggu. Atau jika mereka punya waktu luang.
Di tengah asiknya canda tawa, sepasang netra Yola tanpa sengaja melihat sosok Beno dan Kai yang sedang duduk di meja seberang. Tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Kayaknya aku lihat Pak Beno deh." Ucap Yola. Dengan pandangan masih tertuju ke meja seberang.
"Siapa? Bos kamu di kafe?" Dara memastikan. Sebab jika ada Beno, sudah pasti ada Kai.
"Iya. Sama temennya. Kai."
Sontak, Dara menoleh. Mengikuti arah pandang Yola. Seiring dengan jantung yang kian berdegup kencang disaat bersamaan. Sebab tanpa sengaja bertemu pandang dengan Kai. Yang memandang ke arahnya. Sorot mata yang saling tertumbuk dari kejauhan, membuat keduanya salah tingkah.
"Itu Bos kamu kan Yol?" Tanya Ditha memastikan. Pandangannya pun tertuju ke arah Beno dan Kai.
Beno melempar senyum ke arah mereka sambil melambaikan tangannya.
Terkecuali Yola, Ditha dan Dara membalas lambaian tangan Beno sembari mengulas senyum. Namun detik berikutnya, Ditha malah mengerutkan dahi.
"Kayaknya aku pernah lihat deh." Ucap Ditha memandangi Kai.
"Siapa? Pak Beno? Jelas, pernah kamu lihat sekali. Waktu kamu main ke kafe waktu itu." Ujar Yola.
__ADS_1
"Bukan, yang satu nya. Kalau Bos kamu, aku udah kenal."
"Terus, maksud kamu temennya Pak Beno? Pernah lihat di mana?"
"Cakep ya. Tapi sayang udah punya anak bini."
"Ah. Yang bener kamu. Setahu aku dia single."
"Aku pernah ketemu bini nya. Anaknya cakep loh."
"Ngawur kamu ah Dit. Kata Pak Beno dia single kok."
Dara yang tengah menyimak obrolan Ditha dan Yola jadi dibuat penasaran.
"Serius kamu Dit?" Dara pun tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Iya Dar. Bini nya cantik."
"Kamu salah lihat kali Dit."
"Ya udah deh kalau kalian nggak percaya. Tapi kenapa kalian kayak nggak terima sih kalau pria itu udah berkeluarga? Kalian berdua naksir ya?" Selidik Ditha menatap curiga kedua sahabatnya itu.
"Enak aja." Ucap Yola.
Sama seperti Yola, Dara pun tak yakin dengan ucapan Ditha. Dara berusaha meyakinkan diri, bahwa Ditha mungkin salah mengenali orang. Mana mungkin Kai sudah berkeluarga. Saat ia datang ke rumah Kai, pria itu hanya tinggal seorang diri.
Jadi, fix, Ditha hanya salah mengenali orang.
"Boleh kami ikut bergabung?" Tanya Beno yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah Dara.
Dara, Yola, dan Ditha yang tak menyadari kedatangan Beno pun tersentak. Bersama, mereka mendongak. Memandangi Beno yang menyunggingkan senyum manisnya.
"Boleh nggak? Kalau nggak boleh juga nggak apa-apa." Sekali lagi Beno meminta ijin untuk bergabung.
"Pak Beno nggak malu apa gabung sama perempuan." Celetuk Yola ketus.
"Ngapain malu. Kalian ini kan perempuan-perempuan yang istimewa. Jadi, boleh nggak?"
"Boleh. Silahkan." Ujar Dara.
"Thankyou so much. Oh ya, tunggu sebentar ya. Ajak teman dulu. Kasihan ditinggal sendiri." Beno bergegas menghampiri Kai. Lalu menarik kuat lengan Kai agar beranjak dari tempatnya.
Dengan malas Kai pun menuruti Beno dan mengikuti Beno untuk ikut bergabung bersama Dara dan teman-temannya.
Beno menarik dua kursi kosong di meja sebelah untuk mereka duduk.
Mendadak suasana pun canggung. Bagi Dara dan Kai. Entah bagi yang lain. Dara membisu. Begitu pula Kai. Hanya tatapan keduanya yang seakan saling berkata.
Khilaf yang terjadi, sadar tidak sadar, perlahan mulai membuka jarak diantara keduanya. Baik Dara maupun Kai tak menyadari.
__ADS_1
TBC