You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 37


__ADS_3

Ceklek


Bunyi decitan pintu terbuka itu menghentikan aksi Kai seketika.


Beno dan Yola datang dengan sekantong camilan yang mereka beli di minimarket terdekat. Ekspresi keduanya sama saat melihat Kai dan Dara dalam posisi tak wajar. Sama-sama tercengang.


Namun Beno tersenyum kemudian. Sebab dari posisi itu, ia sudah bisa menebak apa yang telah terjadi beberapa saat lalu. Saat ia meninggalkan mereka berdua.


Melihat kedatangan Beno dan Yola, sontak saja Kai dan Dara bangun dari posisi tak wajar itu. Keduanya gelagapan membenahi pakaian dan rambut yang sedikit berantakan akibat pergumulan yang hampir saja menjerumuskan.


"Kalian berdua ngapain? Kalian nggak berbuat yang aneh-aneh kan?" desis Yola sembari menghampiri. Baru kemudian mengambil duduk di samping Dara setelah Kai bangun dari duduknya dan berpindah ke sofa sebelah.


Dara salah tingkah. "Apaan sih? Ya enggak lah ... Emangnya kamu mengharapkan apa yang terjadi?" elak Dara dengan gelagat mencurigakan.


"Posisi kalian itu loh Dar."


"Emangnya kenapa?"


"Kalian nggak lagi itu kan?" Yola semakin curiga.


"Itu apaan?"


"Itu Dar..." Yola memperagakan dua sejoli yang sedang berciuman dengan jemarinya.


"Hus! Sembarangan!" Wajah Dara kini bersemu merah. Membuat Yola semakin yakin saja dengan asumsinya.


"Sudah, sudah. Mendingan kita ngemil dulu. Nggak usah mikirin yang garing-garing. Mending kita makan yang renyah-renyah," sela Beno sembari menghampiri. Kemudian menaruh kantong plastik yang penuh dengan camilan di meja sofa. Lalu mengambil duduk di sofa sebelah.


"Maaf ya, yang ada hanya camilan ini doang. Nggak sempat beli yang lain," ucap Beno mulai mengeluarkan camilan dari kantong plastik satu per satu. Sembari melirik Yola yang menampakkan raut kesal.


Namun Beno justru tersenyum senang. Sebab pada akhirnya, Yola memberikan jawabannya setelah perdebatan panjang di dalam mobil. Gadis itu akhirnya mau menjadi pacar Beno. Dengan syarat, Beno harus merahasiakan hubungan mereka dari karyawan kafe nya yang lain. Tentu saja Beno menyetujuinya. Tetapi tak mengurangi rasa bahagianya meski harus berhubungan diam-diam.


"Pak Beno tuh emang nggak niat bikin pesta ya. Masa kita cuma makan camilan doang," gerutu Yola sekedar untuk menggoda Beno.


"Ya udah, besok di kafe kamu bebas deh makan apa saja. Terserah kamu dan gratis."


"Yang bener?"


Beno mengangguk. Sembari mengulum senyum.


"Pak Beno serius?"


"Serius. Tapi jangan panggil Pak lagi dong. Kan kita..." kalimat Beno terhenti lantaran Yola memelototinya.


Sontak Kai dan Dara menoleh ke arahnya. Memberinya tatapan penuh tanda tanya.


Beno meringis malu. Mendadak ia salah tingkah.


"Maksud ucapan kamu tadi apa?" tanya Kai pada akhirnya. Lantaran rasa penasaran yang kian membumbung.


"Kan kita apa Ben?" tanya Dara ikut menimpali.

__ADS_1


"Yola, apa kalian merahasiakan sesuatu?" tambahnya menoleh ke arah Yola yang duduk di sampingnya.


"Ehem ... Ehem ..." Yola berdehem. Lalu mengambil camilan di meja dan melahapnya rakus demi meminimalisir rasa gugupnya.


"Yol ..." Dara menuntut jawaban dari Yola. Sebab gelagat Beno dan Yola mencurigakan.


"Ben, aku sahabat kamu. Apa sekarang kamu udah  nggak percaya lagi sama sahabat kamu ini?" Kai pun ikut-ikutan menuntut jawaban dari Beno.


"Ehem ... Ehem ..." Beno berdehem sejenak. Sembari matanya melirik Yola yang mendelik memberi kode agar Beno tetap merahasiakan soal hubungan mereka yang baru saja resmi berstatus pacaran.


Namun Beno, pada akhirnya tak bisa merahasiakan hal itu dari sahabatnya.


"Begini ... Sejujurnya, aku dan Yola ..." Beno berhenti sejenak. Ia menghela napas panjang. Sebelum melanjutkan kembali kalimatnya.


"Aku dan Yola resmi pacaran," tambahnya berterus terang.


"Sudah kuduga," ucap Kai lalu menyandarkan punggung.


Berbeda dengan Dara. Yang justru terkejut bukan kepalang. Dengan ekspresi tercengang plus mata melotot sempurna. Tetapi kemudian ia tertawa geli memandangi Beno dan Yola.


"Ini kabar baik loh, kenapa pake dirahasiain segala sih," ujar Dara senang.


Kai pun tersenyum memandangi sahabatnya di depan. Yang terpisah jarak oleh meja sofa dengannya.


Beno membalas senyuman Kai. "Sorry, aku baru ngasih tau ini ke kalian. Kita jadiannya juga baru aja."


"It's okay (nggak apa-apa). Aku malah senang, akhirnya kamu bisa menemukan tambatan hati mu. Aku saranin sebaiknya pacarannya jangan kelamaan."


"Uhuk, uhuk, uhuk." Mendadak Yola terbatuk-batuk lantaran tersedak camilan yang ia lahap tanpa henti.


"Pelan-pelan makannya dong Yola. Nih, minum dulu." Sembari menyodorkan sebotol air minum ke tangan Yola.


Yola menerimanya dan cepat meneguk air minum itu hingga menyisakan setengahnya saja.


"Pelan-pelan dong Yola sayang. Kalau kamu kenapa napa gimana? Masa aku layu sebelum berkembang," celoteh Beno.


"Maksudnya?" Yola meninggikan alisnya.


"Masa aku udah jadi duda sebelum menikah."


"Ha ha ha ..." Dara dan Kai tergelak mendengar celotehan Beno. Yang malah dihadiahi Yola dengan wajah cemberutnya.


"Oh ya, trus kalian berdua gimana nih? Udah ada kemajuan nggak?" tanya Beno mengalihkan obrolan.


Dara dan Kai pun seketika salah tingkah. Bahkan malu-malu kucing saat saling melempar pandangan.


Pengakuan Dara akan perasaannya terhadap Kai memang belum mendapat jawaban dari Kai secara langsung. Akan tetapi, jika melihat dari sikap dan gelagat Kai, perasaan Dara mungkin tak bertepuk sebelah tangan.


"Aku menyukai Dara." Kai akhirnya mengakui perasaannya jujur.


Dan Dara, tentu saja tertegun mendengarnya. Lalu tersenyum malu dengan sorot mata berbinar-binar bahagia. Yang akhirnya, keinginannya untuk bisa lebih dekat lagi dengan Kai tak lagi sekedar angannya saja. Kini angannya telah terwujud menjadi nyata.

__ADS_1


"Ceileeeh ... Akhirnya sekarang aku bisa bernapas lega. Sahabatku akhirnya sadar juga," ujar Beno.


Yola merangkul Dara yang masih malu-malu kucing dengan wajah bersemu merah.


Sementara Kai menatapnya dalam dengan senyum tipis terukir di bibirnya.


.


.


Kai melangkah gontai memasuki kamarnya. Membuka jaket, melemparnya asal ke tempat tidur. Kaki jenjangnya lantas mengayun menuju lemari pakaian. Mengambil t'shirt dari dalam sana.


Ia tersenyum-senyum melihat t'shirt yang dikembalikan Dara kemarin dulu. T'shirt itu begitu wangi semerbak. Sekilas, bayang wajah Dara pun melintas di benaknya.


Kai sungguh tak menyangka, gadis itu berani mengakui perasaannya lebih dulu. Yang tentu saja membuatnya terkejut, kagum, tersanjung, bahkan jatuh hati disaat bersamaan.


"Dara ... Kamu gadis pemberani. Kamu sungguh menggemaskan," gumam Kai lirih sambil tersenyum-senyum.


Kai hendak menutup kembali lemari pakaian itu, saat netra nya tertuju pada sebuah bingkai foto yang sengaja ia simpan.


Kai lalu meraih bingkai foto itu. Memandanginya sayu. Yang menampilkan gambar keluarga kecilnya. Dimana keluarganya masih utuh.


Ingatan Kai pun seketika mulai menerawang jauh. Ia teringat kembali ucapan Joanna saat berada di makam Revan. Seketika itu pula ingatannya kembali ke saat setahun silam. Dimana ia saat itu menemui seorang pria paruh baya. Yang terbaring lemah di bangsal rumah sakit dalam kondisi luka cukup parah.


"Apakah benar Bapak yang bernama Yuda Aditama?" tanya Kai saat ia menemui pria paruh baya itu di ruang rawatnya.


Yuda Aditama yang baru saja terbangun dari tidurnya, mengangguk lesu.


"Iya, saya orangnya."


Kai menghela napas panjang. "Saya Kaivan Arsenio. Keluarga dari korban kecelakaan itu."


Yuda terkejut mendengarnya. Raut wajahnya seketika panik bahkan ketakutan.


"Sa ... Saya minta maaf. Saya tidak sengaja menyebabkan kecelakaan itu," ucap Yuda dengan bibir bergetar.


Disaat bersamaan, seorang dokter masuk ke ruangan itu. Dan langsung menyela di tengah obrolan mereka.


"Maaf, pasien ini belum bisa di ganggu. Pasien ini terkena serangan jantung mendadak. Untung saja dia cepat dilarikan ke rumah sakit. Kalau tidak, mungkin nyawanya tidak akan terselamatkan," terang dokter panjang lebar.


"Dokter, bagaiman keadaan putri saya?" tanya Yuda.


"Putri anda baik-baik saja. Tidak usah khawatir, dia sudah tertangani dengan baik."


"Maaf, dokter. Apa boleh dokter tinggalkan kami berdua? Saya ingin bicara empat mata dengan Bapak ini." Kai meminta ijin dokter yang merawat Yuda.


"Tapi tolong jangan lama-lama, karena pasien harus beristirahat." Dokter kemudian keluar dari ruangan itu.


Dengan segenap kekuatannya, Yuda berusaha bangun dan bersandar di kepala bangsal. Ia katupkan kedua telapak tangannya di hadapan Kai. Dengan wajah memucat, ekspresi memelas, dan bibir bergetar, Yuda memohon. Disertai buliran air bening yang mulai jatuh membasahi pipinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2