You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 51


__ADS_3

Dara hendak membalas ucapan Papanya saat tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil namanya.


"Dara ..."


Di ambang pintu yang masih terbuka lebar itu, Kai berdiri. Memandanginya sayu sekaligus cemas. Tanpa peduli situasi, Kai menghampiri Dara.


Entah seperti apa perasaan Dara saat ini. Perasaannya campur aduk. Antara senang, cemas, cemburu, bahkan takut melanda sekaligus.


Melihat kedatangan Kai, Papa Yuda dan Mama Maya sebenarnya ingin meminta Kai agar tidak menemui Dara lagi. Sepasang suami istri itu saling berbisik, dan akhirnya sepakat untuk memberi Dara dan Kai kesempatan menyelesaikan masalah mereka sendiri.


"Dara ..." panggil Kai lirih, menatap Dara sayu.


Namun Dara, malah berpaling muka. Tak ingin membalas tatapan itu.


"Pah, bukannya Papa belum sarapan ya. Ayo, kita cari sarapan dulu," ajak Mama Maya demi memberi ruang pada Dara dan Kai menyelesaikan masalah.


Papa Yuda mengerti maksud sang istri. Ia pun mengangguk setuju. Kemudian sepasang suami istri itu pun bergegas keluar dari ruangan.


Sementara Riko, yang juga memahami situasi, hendak keluar dari ruangan itu. Namun dengan cepat, Dara menahan pergelangan tangannya. Hingga langkahnya pun tak sempat mengayun.


Riko menoleh, menatap Dara bingung.


"Dok, untuk pertanyaan Dokter semalam, aku akan menjawabnya," ucap Dara demi menghindari Kai.


Riko mengernyit. Ingin Dara menjelaskan maksud ucapannya.


"Dokter benar. Daripada jadi bidadari surga, lebih baik jadi bidadari di hati seseorang. Aku mau kok, jadi bidadari itu," sambungnya gamblang. Membuat Riko terkesima.


Dara menyunggingkan senyum manisnya kepada Riko. Sedangkan Riko, sesekali melirik Kai yang tampak kesal.


"Oh, soal itu. Aku hanya bercan..." ucapan Riko terputus lantaran Dara menyela dengan cepat.


"Aku mau kok, Dok."


Cara Dara menatap Riko terasa berbeda. Riko pun akhirnya mulai memahami arah kalimat Dara. Ia bisa melihat, mungkin Dara sedang berusaha menghindari pria yang berdiri di sisi brankarnya saat ini. Menatapnya tajam bercampur kesal.


Entah kenapa, hati Dara tergerak melakukan ini. Mungkin lantaran sakit saat mengetahui kenyataan hubungan kai dan Joanna. Yang jika dibandingkan dengan hubungannya, ternyata tidak ada apa-apanya.


Hubungannya dengan Kai masih seumur jagung. Sedangkan dengan Joanna, mereka bahkan sudah memiliki buah dari cinta mereka. Lalu apa lagi yang bisa Dara harapkan dari hubungan ini?


Terlebih lagi, satu kenyataan yang baru saja terkuak. Bukan tidak mungkin, pria itu akan membencinya. Sehingga, sebelum Kai benar-benar membencinya, ia hanya ingin menghindarinya lebih dulu. Agar tak semakin sakit hati.


"Dara, kita harus bicara," ucap Kai meminta.


Namun Dara enggan menanggapi. Ia malah lebih mengeratkan genggaman. Seakan tak ingin Riko meninggalkannya sendiri.


"Maaf, pasien butuh istirahat. Jika ada yang perlu dibicarakan, sebaiknya lain waktu saja," ujar Riko mengerti arti genggaman dan tatapan Dara.


Kai mengangguk pelan. "Oke. Aku ngerti, kamu mungkin nggak mau bertemu denganku lagi."

__ADS_1


Kai menghela napas sejenak. "Tapi aku akan tetap menemui kamu. Banyak hal yang harus kita bicarakan. Karena aku mau, masalah diantara kita secepatnya tuntas," tegasnya bernada kesal. Sembari sesekali melirik Riko dan tangan Dara yang masih memegang pergelangan tangan Riko.


Dara masih saja enggan berpaling. Ia lebih memilih mengarahkan pandangan ke sembarang tempat, asalkan bukan kepada Kai.


Tak ingin memperkeruh suasana, akhirnya Kai memilih meninggalkan ruangan itu. Kedatangannya ke rumah sakit pagi ini adalah untuk menjemput Ziyo. Yang sudah diperbolehkan pulang.


Seperginya Kai, Dara pun bisa bernapas lega.


"Nggak ada niat buat lepasin tangan aku nih?" seloroh Riko melirik pergelangan tangannya yang masih digenggaman Dara.


Sontak, Dara melepas genggamannya.


"Ups, sorry, sorry, Dok."


Riko tersenyum tipis. Kemudian menarik bangku kecil untuk ia duduk di sisi brankar, memandangi Dara dengan seksama. Yang membuat Dara salah tingkah jadinya.


"Emang Dokter nggak ada pasien hari ini?" celetuk Dara. Sebagai sindiran agar Riko meninggalkan ruangannya.


"Ada. Dua jam lagi." Sembari melirik arloji di pergelangan kirinya.


"Ya udah, bukannya Dokter harus siap-siap?"


"Waktunya banyak. Nggak usah cemas. Oh ya, soal yang tadi ..."


"Yang mana?"


"Aku cuma mau memastikan, apa kamu serius dengan omongan kamu."


"Soal kamu mau menjadi bidadari di hati seseorang."


Seketika Dara pun salah tingkah. Sejujurnya ia tidak serius dengan omongannya. Ia melakukannya hanya demi menghindari Kai. Tanpa ia sadari, omongan nyelenehnya itu justru mulai membuka hati seseorang. Yang duduk menatapnya dengan ukiran senyum tipis di bibirnya.


"Oh, soal itu. Aku, aku..." Kenapa Dara malah jadi gugup begini?


"Aku tau kok. Kamu nggak serius. Oh ya, yang tadi itu pacar kamu?"


"Kenapa pertanyaannya jadi aneh begini? Apa Dokter juga harus tau kehidupan pribadi pasiennya?"


"Sorry. Aku nggak bermaksud mencampuri urusan kamu. Tapi sebagai Dokter, aku sarankan, kalau punya masalah lebih baik cepat diselesaikan. Karena lambat laun, hal itu akan berimbas pada hubungan kalian. Banyak hubungan yang kandas karena tidak adanya komunikasi yang baik. Kalau dibiarkan, lama kelamaan bisa merusak hati," terang Riko kemudian bangun dari duduknya.


Mendengar ucapan Riko, Dara terdiam. Sembari mulai berpikir.


"Kalau begitu, aku permisi dulu. Silahkan kamu siap-siap, karena kamu sudah boleh pulang sekarang. Untuk resep obatnya, sudah aku tebus. Jadi kamu nggak perlu repot-repot lagi," tambahnya sembari melirik nakas. Dimana sekantong obat ada di nakas itu. Entah kapan Riko menaruh obat itu.


"Oh ya, apa kamu tau kenapa aku lebih suka Princess Anna daripada Princess Elsa?" tanya Riko kemudian.


Dara mengernyit penasaran. "Kenapa?"


"Karena Anna pemberani. Dia berani menghadapi masalah. Dibanding Elsa, yang lebih memilih lari dari masalah," ujar Riko sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu dengan seulas senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


Dara tertegun mendengarnya. Dipandanginya punggung Riko sampai menghilang dibalik pintu ruangan itu.


Bersamaan dengan itu, Papa Yuda dan Mama Maya datang.


"Dara, sekarang kita siap-siap yuk. Kamu sudah boleh pulang kan?" ujar Mama Maya menghampiri Dara.


Dara mengangguk. Ia pun sejujurnya sudah tidak betah lagi berbaring di rumah sakit. Padahal baru sehari. Tetapi rasanya seperti sudah seminggu.


.


.


Keluarga kecil itu, Papa Yuda, Mama Maya dan Dara, berjalan bersama menuju tempat parkir. Saat tiba-tiba tanpa sengaja bertemu dengan Kai. Yang sedang menggendong Ziyo, dengan Joanna berjalan di sampingnya.


Sekilas, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Membuat langkah Dara terhenti seketika. Sama hal nya dengan Kai.


Kai menghentikan langkahnya. Dipandanginya Dara dengan tatapan sayu namun menuntut. Jika saja situasi memungkinkan saat ini, Kai ingin sekali mengajak Dara ikut bersamanya. Untuk memberi penjelasan kepada Dara tentang situasi yang mereka hadapi saat ini.


Kai hanya ingin Dara tahu, bahwa kehadiran Ziyo dalam hidupnya tidak merubah sedikitpun perasaannya terhadap gadis itu. Hanya saja, untuk persoalan masa lalu, tetaplah harus dibicarakan.


Melihat pemandangan yang membuatnya sakit hati, Dara memilih memutar balik tubuhnya dan bergegas meninggalkan papa dan mamanya.


"Loh, Dara ... Dara kamu mau ke mana sayang?" pekik Mama Maya memanggil.


"Dara, kamu mau ke mana?" pekik Papa Yuda pula.


Dara tak menggubris papa dan mamanya. Ia memilih mempercepat langkahnya. Demi menghindari pemandangan yang membuatnya terluka.


Dara melangkah tergesa-gesa tanpa peduli arah. Sampai tiba-tiba, tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Seorang dokter yang tengah berjalan menuju ke ruangannya.


Riko.


Riko terkejut mendapati Dara terjatuh saat tanpa sengaja menabraknya.


"Maaf, maafkan saya, Dok," ucap Dara setengah panik.


"Dara?" Riko membungkuk, membantu Dara berdiri.


Tak jauh di seberang, Kai memperhatikan. Begitu pula dengan Papa Yuda dan Mama Maya.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Riko.


"Nggak apa-apa, Dok. Makasih." Kemudian melirik ke arah Kai yang masih berdiri sambil menggendong Ziyo.


Entah Joanna sengaja atau tidak, wanita itu menggandeng mesra lengan Kai. Membuat Dara semakin sakit hati dan cemburu.


Hal itu bisa Riko pahami. Hingga, tanpa aba-aba, terdorong oleh keinginannya, diraihnya jemari Dara. Menggenggamnya, membawanya kembali kepada kedua orang tuanya yang sedang menunggu.


Dara tidak menolak. Ia menurut saja. Ia biarkan Riko menggenggam jemarinya, hingga membuat Kai kesal. Menatapnya penuh amarah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2