You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 70


__ADS_3

"Hey, Dear. Udah tidur?" Sembari mengelus kepala Dara yang terbaring di atas dekapannya.


Diatas tempat tidur personal size itu dua anak manusia terbaring. Ukuran tempat tidur yang kecil itu hanya muat untuk satu orang saja. Hingga Dara harus terlelap diatas dekapannya. Menaruh kepala di sandaran dadanya.


Melayani keinginan Kai begitu menguras energi. Tak urung pun membuat Dara kewalahan. Alhasil, seluruh raganya dibuat remuk. Dibuai dan terombang-ambing di lautan asmara Kai yang begitu menggelora. Membuatnya terhanyut terbawa derunya ombak bergulung. Hingga ia terdampar saat raganya dibuat tak berdaya.


"Dara," panggil Kai lirih melabuhkan kecupan di puncak kepalanya.


"Hm?" Berpacu dalam gelombang asmara membuat seluruh raganya remuk. Dan dada bidang Kai lah satu-satunya tempat ternyaman menyandarkan lelah. Terlelap dalam dekapan hangatnya.


"Bangun sayang, kamu harus ke bandara."


"Hm." Dara masih bergeming. Serasa enggan bangun dari dekapan hangat Kai.


"Apa semalam tidurmu kurang nyenyak?"


"Hm."


"Yang bener? Bukannya kamu senang bisa tidur dengannya?"


Celotehan Kai itu malah dibalas dengan satu cubitan Dara di pinggangnya. Dan Kai malah terkekeh. Ia begitu suka mencandai wanitanya. Apalagi jika melihat wanitanya cemberut dan merajuk. Baginya itu sungguh menggemaskan.


"Dara, apa Ken juga ikut ke Bandara?"


"Hm."


"Aku mau bertemu Ken."


Permintaan Kai membuat Dara refleks membuka matanya. Lalu mendongak, menatap lekat mata Kai.


Kali ini ia malah merasa bersalah pada Kai. Kai tidak tahu pernikahannya dengan Riko sedang diatur oleh orang tuanya. Ia hanya tak sanggup menolak. Seakan balas budi mengikatnya erat hingga tak mampu lagi terlepas dari jeratnya.


"Aku boleh kan bertemu dengan anakku?" Pertanyaan Kai begitu membebaninya. Ia bahkan belum memikirkan cara untuk mempertemukan mereka.


Pikiran dan perhatiannya teralih pada perjodohannya dengan Riko. Sepanjang hari, bahkan sepanjang malam ia terus memikirkan bagaimana caranya membatalkan pernikahan itu.


Jika ia beritahu Ken tentang ayah kandungnya, kira-kira akan seperti apa reaksi anak kecil itu?


Sungguh ia belum siap.


"Boleh. Tapi bukan sekarang." Dan akhirnya, sekali lagi, hanya kalimat itu yang terbersit dalam benaknya.


"Terus kapan?" desak Kai tak bisa menahan lagi. Lima tahun lamanya ia terombang-ambing di lautan rindu. Yang bahkan hampir menenggelamkannya.


"Nanti." Ia lantas beranjak dari posisinya. Turun dari tempat tidur, memungut pakaian yang berserakan tak karuan di lantai kamar itu.


"Dara." Kai pun beranjak. Terus mendesak Dara agar memenuhi permintaannya.


"Dara, please. Pertemukan aku dengan Ken. Apa kamu tau bagaimana perasaanku saat mendengar suaranya?" desaknya lagi. Sebab Dara terkesan acuh tak acuh. Seakan tak mau mendengar. Bahkan mungkin tak mau memenuhi permintaannya.


Dara bergegas berpakaian kembali. Bunyi denting ponselnya mengalihkannya sejenak dari desakan Kai.


Sebuah pesan chat dari Riko masuk begitu ia membuka ponsel.


Riko :


Aku sekarang menuju ke bandara bersama Papa, Mama Papa mu, juga Ken. Kamu menyusul atau aku yang jemput kamu di kampus?

__ADS_1


Dara :


Nggak usah. Nanti aku nyusul pake taksi.


"Dara. Kamu dengerin aku nggak sih?" Kai kembali mendesaknya. Bergegas Kai mengenakan kembali pakaiannya. Begitu selesai ia langsung menyusul Dara yang telah lebih dulu keluar kamar. Berjalan tergesa-gesa hendak keluar rumah.


"Dara." Kai mencekal lengan Dara begitu ia menyusul langkahnya. Sikap Dara terkesan mengabaikannya. Ia tak bisa menerima begitu saja. Tak ingin Dara mempermainkannya untuk kesekian kali.


"Aku harus ke bandara. Riko sekarang sudah dalam perjalanan ke bandara." Sejujurnya Dara belum ingin mempertemukan Kai dengan Ken. Ia hanya belum siap melihat reaksi Ken. Yang sudah bisa ia tebak, Ken tidak akan mungkin mau menerima.


Pemikiran anak kecil itu tidak sama dengan anak-anak lain yang seumuran dengannya. Jika boleh dikata, ia sungguh ingin hidup bersama Kai. Membangun dan membina keluarga kecil mereka.


Namun kini, semua jelas akan jauh lebih sulit. Karena tak berpikir panjang, ceroboh dalam mengambil sikap, tanpa sadar ia telah membawa masalah ke tengah-tengah kehidupannya sendiri.


Akan ada banyak hati yang terluka jika ia lebih mengedepankan ego. Terlebih jika ia lebih memilih cintanya.


Ia dilema. Gundah gulana dalam menentukan pilihan. Jika ia memilih cintanya, jelas-jelas ia akan menyakiti banyak orang. Terutama Riko.


Lalu ia harus bagaimana?


Di satu sisi ada Ken, Riko, keluarga Riko, juga keluarganya. Sedangkan di sisi lainnya, hanya ada Kai seorang.


Jika memilih berdasarkan hati, tentu ia lebih memilih Kai.


"Aku antar kamu," tawar Kai sekali lagi. Meski sbelumnya Dara sempat menolaknya.


"Nggak perlu. Aku bisa naik taksi kok."


"Kenapa?" Sembari menatap lekat sorot mata Dara. Mencoba memahami perubahan sikap Dara yang mendadak.


Kai tidak tahu Dara sudah dijodohkan dengan pria lain. Dan tanggal pernikahannya mungkin sedang ditetapkan oleh orang tuanya.


"Baiklah. Aku nggak akan memaksa." Kai pun melepas cekalan tangannya. Akhirnya hanya hati yang bisa memahami.


"Maafkan aku. Nanti akan aku pikirkan caranya. Tapi bukan sekarang. Ya?" Dara memelas, memasang tampang menghiba.


Kai tersenyum getir. Sekali lagi ia harus membendung keinginannya. Bertemu buah hati yang telah lama ia rindukan.


"Apa aku bisa mempercayaimu?"


Dara mengurai senyum manisnya. Lalu mengangguk. Satu kecupan berlabuh cepat di keningnya. Disertai ungkapan hati Kai yang membuat rasa bersalah itu kian membukit.


"Aku percaya, suatu hari nanti Tuhan akan menyatukan kita. Saat hari itu tiba, aku nggak mau ada keraguan lagi. Aku nggak ingin memaksakan sesuatu hal diluar batas kemampuanmu. Tapi aku berharap, kamu meringankan langkahmu datang kepadaku tanpa aku harus meminta. Kamu tahu, sedalam apa perasaanku padamu." Sembari membawa jemari mengusap lembut wajah berparas elok yang selalu memikat hatinya.


Ungkapan hati Kai begitu menohok hati. Serasa menusuk kalbunya. Bagaimana jika apa yang mereka inginkan takkan pernah tercapai? Bagaimana jika impian yang telah mereka bangun perlahan, runtuh, hancur berkeping-keping dan tak bersisa?


Lantas masih adakah harapan yang tersisa? Yang mungkin bisa ia jadikan pegangan untuk meraih angan dan impiannya?


Kembali Dara tersenyum manis. Namun menahan sejuta getir di dada. Sebab mungkin harapan dan impiannya takkan terwujud.


Masihkah mungkin langkahnya tertuju kepada Kai. Sementara saat ini langkahnya justru di paksa dan terpaksa tertuju kepada yang lain.


"Believe me (percayalah padaku). Everything is possible if there is faith (segalanya menjadi mungkin jika ada keyakinan)." Entah keyakinan darimana yang ia dapat. Bermimpi pun kini terasa sulit. Lalu apa yang ia yakini? Manalah mungkin cintanya menyatu.


Harapan itu terpaksa harus ia buang jauh-jauh. Sebab tiada guna lagi. Harapannya telah hancur. Hanya tinggal menunggu waktu saja saat kehancuran itu semakin nyata terlihat.


.

__ADS_1


.


Di bandara kota B.


Dara melangkah tergesa-gesa menghampiri mama papa nya, Dokter Rudi, Riko juga Ken.


Ia datang menggunakan taksi online, setelah menolak tawaran Kai yang ingin mengantarkannya. Dan Kai pun tak memaksa.


"Mommy ..." panggil Ken sembari melambaikan tangannya.


"Hai ... Udah lama?" tanyanya begitu menghentikan langkah.


"Lumayan. Mommy telat. Lihat tuh, muka Daddy jadi kesal begitu." Ken menunjuk wajah Riko yang memang tampak suram.


"Maaf, tadi ada tambahan jam mendadak." Dan lagi-lagi ia malah berkilah.


Riko mengulum senyum. "Nggak apa-apa."


"Dara, Mama sama Papa pulang dulu. Jaga diri kalian baik-baik ya? Calon pengantin itu harus sering meluangkan waktu bersama. Biarpun kalian sama-sama sibuk, senggaknya, sempatkan waktu untuk berdua," ujar Mama Maya memberi petuah.


Dara cukup tersenyum. Sebab tak tahu harus menanggapinya seperti apa.


"Sering-seringlah bepergian berdua. Biar hubungan kalian akan terasa lebih mudah untuk saling menerima. Habiskan waktu berdua. Kalau kalian terganggu dengan adanya Ken, biar Ken dititip sama Papa Mama dulu nggak apa-apa. Apalagi bentar lagi Ken libur kan?" Papa Yuda turut menimpali. Lalu melempar pandangan pada Ken.


Anak kecil itu mengacungkan jempolnya. Seolah ia mengerti ucapan kakeknya.


"Iya. Apa yang dikatakan Papa kamu itu ada benarnya. Kalau Nak Dara merasa nggak leluasa, boleh Ken nya dititip dulu. Kalian kan calon pengantin, sering-seringlah berdua. Biar kalian bisa lebih saling mengenal lagi." Dokter Rudi pun turut menambahkan.


Dara harus bilang apa sekarang?


Mengiyakan?


Atau membantah?


Jelas ia hanya bisa mengurai senyum termanisnya. Namun getir di dada serasa kian mengiris perih.


Tak mampu membantah bahkan tak sanggup menolak. Ia laksana makhluk tak berdaya kini. Hanya bisa memasrahkan keadaan. Lalu berharap suatu hari nanti akan ada keajaiban.


"Papa, Om dan Tante hati-hati. Semoga penerbangannya lancar dan sampai di tujuan dengan selamat," ucap Riko melepas dengan hati gembira.


Ken, memandangi Mommy dan Daddy nya. Lalu kakek neneknya, berikut Dokter Rudi. Mereka terlalu serius dengan obrolannya. Sedari tadi ia menahan ingin buang air kecil.


Tak ingin mengganggu, dan tak ingin merepotkan Mommy dan Daddy nya, Ken pun mengambil inisiatif pergi ke toilet seorang diri.


Anak kecil itu menyapukan pandangannya, mencari-cari toilet. Sembari tangannya berada diantara kedua pahanya.


Sejauh ia berjalan, ia masih belum menemukan toilet. Wajahnya meringis menahan rasa yang tak tertahankan lagi. Lalu tiba-tiba, seseorang datang menghampirinya. Berjongkok di depannya.


Wajah Ken was-was. Sebab Mommy dan Daddy nya sempat memberitahunya agar menjauhi orang asing.


"Sedang mencari toilet?" tanya orang asing di depannya. Ken mengangguk.


"Mau Om temani?"


Ken menggeleng.


"Jangan takut, Om bukan orang jahat." Orang asing itu merayunya sembari memberinya senyum terbaik.

__ADS_1


Hingga akhirnya Ken pun menurut.


TBC


__ADS_2