You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 13


__ADS_3

Dara membawa langkahnya menghampiri mobilnya yang terparkir. Bersama nya Kai mengantar sampai Dara masuk ke mobilnya.


Dara menghidupkan mesin mobilnya, lalu menurunkan kaca jendela. Sementara Kai telah melangkah pergi.


"Sorry ..." Ucap Dara memanggil Kai.


Langkah Kai pun terhenti. Lalu ia memutar tubuhnya dan kembali menghampiri mobi Dara yang sudah jauh beberapa langkah.


"Kamu memangil ku?" Tanya Kai.


"Emm ... Apa aku udah bilang makasih?" Dara malah balik bertanya. Membuat Kai tersenyum simpul.


Kai mengendikkan bahunya. "Entahlah. Tapi kayaknya, sejak tadi aku belum mendengar kata itu."


"Ya udah. Makasih ya?" Ucap Dara akhirnya.


Kai terkekeh mendengar ucapan terima kasih Dara.


"Kok malah ketawa sih? Aku tulus nih." Dara sedikit tersinggung melihat Kai seakan meremehkan nya.


Kai membungkuk. Bertopang pada jendela mobil Dara yang terbuka. Dipandanginya wajah Dara dari jarak dekat.


"Yang bilang kamu nggak tulus siapa?" Tanya Kai santai. Menatap bola mata Dara intens.


Seketika Dara jadi salah tingkah. Bahkan degup jantungnya mendadak tak seirama. Menatap mata Kai dari jarak dekat seperti ini, entah kenapa malah membuat hatinya berdebar-debar.


Oh god!


Perasaan apakah ini?


"Besok-besok perhatikan lagi penampilan kamu. Jangan jadi gula yang selalu mengundang perhatian semut." Ujar Kai.


"Maksud kamu?" Dara mengernyit.


Kai mengulas senyumnya. "Kamu terlalu seksi." Ujar Kai setengah berbisik. Lalu pergi meninggalkan Dara yang dibuat tertegun dengan kalimat itu.


Dara pun tak bisa menahan senyumnya. Hatinya senang mendengar kalimat itu. Yang sebelumnya Kai malah menyebutnya mirip badut. Dan kini Kai mengatakan hal yang berbeda. Bagaimana hatinya tak merasa senang.


Oh God!


Debaran aneh itu datang lagi. Hingga tanpa sadar, Dara tersenyum-senyum sendiri. Mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Kai. Dan seketika, misi balas dendamnya pun terlupakan. Berganti dengan rasa yang tak pernah hadir dihatinya. Entah apa itu namanya, Dara dibuat bingung.


.


.


Sepulang dari kampus, Dara langsung menuju ke kafe Black Butterfly. Ia tak pulang dulu ke rumah walau sekedar untuk berganti pakaian. Sebab Yola semakin memburunya. Tak henti mengingatkannya akan tugas mencuci piring di kafe itu.


Begitu sampai di kafe, Dara langsung saja membawa langkahnya cepat menuju pantry. Diraihnya celemek yang menggantung di sudut pantry. Ia kenakan celemek itu dan bergegas menuju tempat mencuci piring.


Piring kotor sudah menumpuk. Dara pun menghela napas nya panjang. Seumur-umur, sejak ia kecil, tak pernah ia mencuci piring sebanyak ini. Meski cucian piring menumpuk di rumahnya, mama nya bahkan tak pernah memintanya mencuci piring.


Dan sekarang, di hadapannya ada bertumpuk-tumpuk piring kotor. Mau tak mau, suka tak suka, ia harus tetap melakukan tugasnya. Jika tak ingin terkena masalah nanti.


"Lama amat sih kamu, Dar." Seru Yola sembari menghampiri Dara yang mulai mengerjakan tugasnya. Dipandanginya heran tampilan Dara dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya. Sambil berdecak kagum.

__ADS_1


"Ck, ck, ck. Seksi amat kamu Dar. Emang tampilan kamu habis ngajar kayak gini? Sekilas kamu malah lebih mirip sekertaris pribadi deh. Itu Dar, sekertaris yang suka menggoda Bos nya."


"Jangan banyak bacot deh kamu. Aku baru aja dibilang mirip badut." Keluh Dara.


Yola melotot memandangi Dara. "Oh ya? Sama siapa?"


"Kucing got."


"Siapa itu?" Kali ini Yola mengerutkan dahi. Tetapi Dara tak menyahuti pertanyaan Yola yang satu itu.


Masa iya Dara harus mengakui kalau Kai benar-benar mirip si Kapten Amerika. Gengsi dong. Bahkan hingga detik ini, namanya saja Dara tak tahu.


"Ya udah, kerjakan saja tugas kamu dengan baik. Aku ke depan dulu ya. Banyak pelanggan soalnya." Ujar Yola kemudian meninggalkan Dara yang mulai bisa menerima nasib nya. Bahkan sudah mulai tampak telaten mencuci piring.


Memang tidak salah akan nasib buruk yang tengah menimpanya saat ini. Hal itu malah memberinya pengalaman. Bahkan merasakan seperti apa kesibukan mama nya di rumah.


Mama nya yang notabene nya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Setiap hari melayani suami dan putri semata wayangnya ini dengan tulus dan penuh cinta.


Semenjak ayah nya mengambil pensiun dini, mama nya kini tengah mencoba peruntungannya dengan berjualan kue via online. Hitung-hitung hanya sebagai tambahan untuk kebutuhan rumah tangga.


Sementara Dara berjibaku dengan cucian piring yang malah semakin menumpuk, sebab pengunjung yang datang silih berganti. Di salah satu meja di sudut ruangan kafe itu, Kai tengah duduk tenang seorang diri.


Dengan tenang pula Kai menyapukan pandangannya ke seisi kafe. Netra nya mencari-cari seseorang yang dikenalnya. Sahabat dekatnya.


Namun pandangannya justru tertumbuk pada seorang gadis yang berjalan gontai. Dan berhenti tak jauh dari kasir. Penampilan gadis itu, yang semula tampak rapi, kini awut-awutan.


Pakaian yang terlihat lusuh. Rambut yang terkuncir asal-asalan. Dan lagi, wajahnya yang tampak kusut. Seakan menampakkan rasa lelah yang teramat.


Ya.


Dara lantas melepas heels nya. Lalu memakai sandal jepit yang diberikan Yola. Yola tertawa-tawa melihat sahabatnya yang tampak tak bersemangat itu. Yang di hadiahi wajah cemberut Dara.


"Semangat Beb. Kamu pasti bisa. Lima hari lagi, kamu bebas dari hukuman ini." Ujar Yola menyemangati Dara.


Dara menyunggingkan senyumnya. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Yola. Yang selalu mengerti keadaannya. Meski terkadang Yola menyebalkan dan membuatnya kesal. Hanya Yola dan Ditha sahabat terbaik yang ia miliki.


Di seberang, Kai memperhatikan keduanya dengan seksama. Sampai kedua gadis itu menghilang dibalik dinding pantry, Kai masih senantiasa mengawasi keduanya.


Terdorong oleh rasa penasarannya, Kai pun beranjak dari duduknya. Dan membawa langkahnya menuju pantry.


Di pantry kafe itu, netra nya menangkap sosok Dara yang tengah berjibaku dengan setumpuk piring kotor. Sesekali Dara terlihat memukul-mukul pelan bahunya yang terasa pegal.


Melihat hal itu, dalam hati kecilnya, Kai merasa iba. Ia jadi merasa bersalah. Bahkan tak tega telah menjebak gadis itu dalam situasi yang tak diinginkannya.


"Semangat Dara. Kamu pasti bisa." Ujar Dara menyemangati dirinya sendiri. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Mengambil satu per satu piring kotor yang menumpuk dan mencucinya dengan telaten.


Sebab merasa iba dan merasa bersalah, Kai pun meraih celemek yang menggantung di pojok pantry untuk ia kenakan. Lalu ia melangkah menghampiri Dara.


Tanpa aba-aba, Kai mengambil alih pekerjaan Dara. Hingga membuat Dara tersentak kaget.


"Kamu?" Seru Dara kaget.


"Duduklah. Biar aku saja yang mencuci piringnya." Titah Kai. Tetapi Dara tak menghiraukan.


"Nggak bisa. Ini sudah menjadi tugasku. Lagian hanya seminggu kok. Pekerjaan seperti ini mah gampang." Ujar Dara menyombongkan diri.

__ADS_1


Kai menghentikan aktifitasnya sejenak. Lalu menoleh, menatap wajah lelah Dara.


"Mulai besok, kamu nggak perlu lagi datang mencuci piring." Ujar Kai.


Dara terkejut mendengarnya. "Maksud kamu?"


"Kurang jelas ya? Kamu nggak perlu lagi mencuci piring. Ini yang terakhir kalinya."


"Memangnya kamu ini siapa? Yang punya kafe ya?"


"Nggak usah banyak tanya. Dengarkan saja apa kataku."


Dara terkekeh. Ia seakan meremehkan ucapan Kai.


"Sorry ya, bukannya aku nggak mau nurut. Hanya saja aku_" kalimat Dara terpotong begitu saja. Sebab terdengar seseorang tengah berseru memanggil sebuah nama. Sembari berjalan menghampiri.


"Kai." Beno datang menghampiri Kai dan Dara.


Dahi dara mengerut melihat kedatangan Beno. Si pemilik kafe. Seketika, Dara pun teringat kembali pertemuan pertamanya dengan Kai di depan toilet bandara waktu itu.


"Ngapain kamu di pantry Bro?" Tanya Beno begitu menghentikan langkahnya di depan Kai dan Dara.


"Kayaknya sekarang aku baru ingat. Kita pernah ketemu sebelumnya di depan toilet bandara waktu itu kan?" Tebak Dara sembari menatap Beno dan Kai bergantian.


Beno mengulas senyum senyumnya. Sambil mengangguk kecil. "Kamu benar."


"Jadi, kalian ini sahabatan?"


Beno kembali mengangguk. Dara pun menghela napasnya panjang. Sekarang ia mengerti kenapa dengan entengnya Kai memintanya tak datang lagi mencuci piring di kafe. Rupanya pemilik kafe itu adalah sahabat Kai.


"Oh ya, kalian aku tinggal sebentar nggak apa-apa kan?" Tanya Beno.


"Nggak apa-apa."


"Oh ya Nona ..."


"Dara." Sahut Dara cepat.


"Kamu nggak perlu lagi datang ke kafe. Tugas kamu sebenarnya sudah selesai. Bukan seminggu, tapi sehari. Jadi mulai besok kamu nggak perlu datang lagi."


"Beneran nih?"


Beno mengangguk sembari mengulas senyumnya. Lalu pergi meninggalkan pantry. Sejujurnya, ia senang melihat Kai bisa dekat dengan wanita. Agar Kai setidaknya bisa move on dari masa lalunya.


Dara teramat senang mendengarnya. Karena sejujurnya, ia sudah tak mampu lagi menyelesaikan tugas mencuci piring itu.


"Apa aku sudah bilang maaf?" Tanya Kai sambil mulai melanjutkan pekerjaannya mencuci piring.


"Maksud kamu?" Dara tak mengerti maksud pertanyaan Kai.


"Maaf atas apa yang sudah aku lakukan."


Dara pun tersentak mendengar permintaan maaf Kai.


TBC

__ADS_1


__ADS_2