
Dara berlari membelah keramaian. Pandangannya menyapu ke segala penjuru, mencari sosok Kai diantara keramaian. Namun sosok itu tak terlihat di indera penglihatannya.
Ia masih terengah-engah saat kembali melangkahkan kaki, menjelajahi setiap sudut ruang tunggu. Siapa tahu Kai masih berada di bandara.
Namun suara pesawat yang baru saja take off tertangkap indera pendengarannya, mematahkan semangatnya seketika. Langkahnya terhenti, kembang kempis rongga dadanya menahan kekecewaan yang mendera. Sedih pun mulai menguasai.
Hingga air mata yang tak ingin ia tumpahkan lagi, jatuh berderai begitu saja. Detik berikutnya, isak tangis terdengar menyayat hati.
"Kamu ingkar janji. Meski janjimu padaku kamu ingkari, tapi senggaknya, janjimu pada Ken jangan pernah kamu ingkari," lirihnya disela isak tangis pilunya dalam perpisahan untuk yang kedua kali.
Ia masih terisak dalam linangan air mata saat tiba-tiba terdengar suara yang yang familiar dari balik punggungnya berkata,
"Siapa yang ingkar janji?"
Sontak ia menoleh ke belakang, lalu berbalik begitu melihat siapa yang berdiri di belakangnya. Menatapnya penuh arti.
Rasa haru seketika menyeruak. Membawa langkahnya berlari menghambur cepat ke dalam pelukannya.
Dalam isak tangis yang semakin menjadi, ia memukul-mukul brutal dada bidang Kai begitu pelukan ia lepas sejenak.
"Kamu jahat! Kamu tega!" serunya sambil terus memukuli dada Kai membabi buta.
Kai lantas menahan kedua pergelangan tangannya, menghentikan aksi brutalnya yang mengundang perhatian banyak pasang mata.
"Lebih jahat dan lebih tega lagi kalau aku menyeret kamu ke dalam masalah yang aku buat," ucap Kai mengunci tatapannya.
"Kenapa kamu lakukan ini?" tanya Dara dengan isak tangis yang tersisa.
"Aku yang menciptakan masalah. Jadi aku lah yang harus bertanggung jawab."
"Tapi nggak gini caranya. Sekarang kamu mau ke mana? Kamu mau ninggalin aku?" diliriknya sekilas koper Kai. Jelas pria itu akan pergi meninggalkannya. Ia tak bisa terima.
"Kamu tega!" Kembali ia memukuli dada Kai.
"Dara, dengerin aku dulu." Kai menahan tangan Dara yang menyerangnya membabi buta. Ditatapnya lekat sepasang mata yang masih meneteskan air matanya.
"Apa? Apa lagi yang harus aku dengar dari kamu? Kamu bilang kita akan berjuang sama-sama. Tapi kenapa, malah kamu sendiri yang mengingkarinya. Apa kamu pikir aku sanggup hidup tanpa kamu?" Dara kembali terisak. Tak peduli meski mimik wajahnya serupa dengan anak kecil.
"Lima tahun tanpa aku aja kamu sanggup." Kai malah menggodanya disaat seperti ini. Membuat wajah Dara kian cemberut. Lalu menghadiahkan satu cubitan di pinggangnya.
"Aw. Just kidding, Dear (becanda sayang)." Sembari terkekeh saat mendapat cubitan dari jemari lentik itu.
"Keterlaluan. Disaat seperti ini masih aja bercanda. Kamu keterlaluan," rajuknya semakin cemberut.
"Dara, dengerin dulu." Kai menangkup wajah mungil itu. Ditatapnya lekat bola mata indah Dara. Menampakkan keyakinan dan kesungguhan hati melalui sorot matanya.
"Apa yang harus aku dengar?" ia masih saja merajuk. Ia tak peduli tingkahnya seperti bocah. Asalkan bisa membuat Kai mempertimbangkan kembali keputusannya meninggalkan kota ini.
"Aku pergi bukan untuk meninggalkan kamu. Tapi aku pergi untuk memperjuangkan cinta kita. Aku akan menemui orang tua kamu. Tolong beri aku dukungan. Beri aku semangat," ucap Kai sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Kamu serius?" Entah mengapa ia malah meragu. Bukan terhadap Kai, melainkan pada orang tuanya sendiri.
"Seberat apapun dan sesulit apapun itu, kamu dan Ken adalah kekuatanku. So give me one belief, that your love is only for me (jadi beri aku satu keyakinan, bahwa cintamu hanya untukku)."
Dara terharu mendengar kalimat terakhir. Yang diucapkan Kai dengan tulus. Hingga senyuman pun terukir di bibirnya, disertai buliran air mata yang berjatuhan di pipinya.
Ia lalu mengangguk. "Tapi kamu harus janji," pintanya manja.
"Janji kalau kamu nggak akan pernah menyerah. Papa ku itu orang yang nggak mudah ditaklukkan," sambungnya.
"Apa boleh buat, aku sudah bertekad. Aku nggak mau menunda-nunda lagi. Menunggu keajaiban pun nggak akan mungkin. Kita harus berani maju menantang badai. Kalau berdiam diri di tempat terus, nggak akan ada hasilnya."
"Tapi ..." Dara meragu. Haruskah ia beritahu Kai soal rencana kedua orang tuanya yang sudah menemui kesepakatan dengan orang tua Riko?
Kira-kira akan seperti apa reaksi ayahnya nanti jika mengetahui soal hubungannya dengan Kai yang kembali terjalin?
Marah?
Atau akan memaklumi. Lalu pada akhirnya menyetujui?
Semudah itukah?
Mendadak ia merasa semua terlalu runyam. Jika ia membatalkan secara sepihak, imbasnya adalah nama baik keluarga. Yang sudah barang tentu akan ikut berimbas terhadap hubungan persahabatan ayahnya dengan Dokter Rudi.
Lalu ia harus bagaimana?
Mungkin iya.
Karena satu-satunya harapan yang tersisa adalah Riko. Semoga saja pria itu bisa mengerti dan memaklumi.
"Kamu nggak yakin padaku?" tanya Kai membuyarkan pikirannya yang mulai melambung.
"Kai, maaf, ada hal yang belum aku beritahu sama kamu."
"Apa?"
"Sebenarnya, Papa sama Mama sudah merencanakan pernikahanku dengan Riko. Pernikahannya akan diadakan dalam waktu dekat ini. Aku nggak bisa menolak. Maaf." Raut wajah Dara mendadak mendung.
Semendung wajah Kai lantaran Dara baru memberitahunya soal itu. Ia menghela napas sejenak. Sebelum akhirnya berkata,
"Doakan saja yang terbaik untukku. Janur kuning belum melengkung, itu artinya aku masih punya kesempatan. Semangati aku dong. Aku akan berjuang untuk kita," pintanya setengah bercanda.
Membuat ekspresi Dara manyun layaknya bocah. Lalu akhirnya menjatuhkan diri ke dalam pelukan Kai.
"Semua doa terbaikku hanya untuk kamu. Semoga Tuhan memudahkan segalanya untuk kita. Aku yakin kamu pasti bisa," ucapnya dalam pelukan Kai.
"Kita pasti bisa." Sembari mengusap-usap punggung Dara.
Mereka masih berpelukan saat banyak pasang mata melayangkan tatapan aneh. Namun mereka tak peduli. Ini adalah cara mereka mengekspresikan perasaan yang teramat dalam.
__ADS_1
.
.
Sudah tidak ada jadwal perkuliahan lagi untuknya. Setelah melepas kepergian Kai, Dara memutuskan membesuk Ken di rumah sakit.
Di dalam ruang rawat inapnya, Ken ditunggui Bibi dan juga Riko. Yang tengah duduk di tepian tempat tidur. Jemari kekarnya menggenggam jemari mungil Ken. Seakan mereka tengah saling memberi kekuatan.
"Mommy!" seru Ken begitu melihat kedatangannya.
"Ken, gimana keadaan Ken? Masih ada yang terasa sakit?" tanyanya berdiri di sisi tempat tidur. Memandangi Ken dengan senyuman.
"Ken udah nggak apa-apa. Kata Daddy Ko, Ken udah boleh pulang. Kata Daddy juga besok kita berangkat ke Kota A. Kita liburan di sana kata Daddy. Daddy juga udah ijin sama wali kelas Ken," sahut Ken gembira. Binar-binar kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Ken dan juga Riko.
Namun tidak dengannya. Karena ia sudah bisa menebak untuk apa mereka kembali pulang. Apalagi jika bukan karena rencana pernikahan mereka yang rencananya akan diadakan dalam waktu dekat ini.
Ia hanya bisa berdoa dan berharap, semoga Tuhan memberi kemudahan untuk ia dan Kai melalui jalanan terjal berliku ini demi mencapai impiannya.
"Oh ya?" Dan akhirnya hanya kata itu yang bisa terucap dari bibirnya.
"Daddy Ken mana, Mommy?" Ken tiba-tiba bertanya tentang Kai. Pertanyaan yang merubah raut wajah Riko seketika. Genggaman tangannya pun ia lepas.
"Ken, mana mungkin ada dua Daddy." Tiba-tiba Riko berkata ketus. Membuat Ken terkejut. Lalu menatapnya bingung. Ia lantas menarik lengan Riko. Mengajaknya menjauh sejenak, keluar dari ruangan itu.
"Tolong jangan berkata seperti itu terhadap Ken," pintanya memasang wajah memelas.
Riko menghela napas panjang, menghembuskannya kasar kemudian.
"Apa kamu tau gimana rasanya kehilangan?" tanya Riko tiba-tiba alih-alih menanggapi permintaan Dara.
Dara menatap Riko sendu. Sesendu lara di hatinya saat ini.
"Rasanya sakit. Bahkan lebih sakit saat aku tau kamu mengkhianatiku." Mata Riko tampak mulai berkaca-kaca.
Beberapa hari lalu Dara berbohong kepadanya. Dengan berkilah bahwa Dara sedang ada rapat hingga Dara pulang larut malam. Padahal malam itu Dara baru saja kembali dari hotel bersama Kai.
Saat Riko hendak menjemput Dara di kampus, tanpa sengaja ia berpapasan dengan seorang mahasiswa yang sengaja merekam aksi Dara dan Kai yang tengah berciuman di dalam kelas. Mahasiswa itu memutar videonya sembari bergumam bahwa video itu bisa menjadi berita yang menghebohkan kampus.
Riko lalu mencegahnya. Ia bahkan harus merogoh koceh dalam demi bisa melihat video itu. Tak sedikit nominal yang ia gelontorkan saat meminta mahasiswa itu menyebarkan videonya. Dengan maksud untuk mempermalukan Kai dan untuk menyingkirkan Kai.
Tidak masalah jika harus melibatkan Dara. Sebab ia tahu, Kai pasti akan menyelamatkan Dara.
"Salahkah jika sekarang aku nggak ingin itu terjadi lagi? Aku nggak mau kehilangan untuk kedua kali." Kemudian Riko berlalu. Tak peduli seperti apa ekspresi Dara saat ini. Bahkan ia tak peduli lagi dengan perasaan Dara.
Ia terlanjur sakit hati. Lalu siapa yang bisa memahami perasaannya saat ini?
Yang terlanjur terluka sebelum mengecap indahnya bercinta.
TBC
__ADS_1