You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 46


__ADS_3

"Gadis itu adalah gadis yang berdiri di depan kamu saat ini." Joanna menambahkan. Membuat Kai terdiam.


Bahkan Dara yang sedang menangis pun terdiam saat itu juga. Bagaimana bisa rahasia yang hanya diketahui olehnya dan ayahnya seorang, diketahui oleh orang lain.


Dara menggeleng tak percaya. Netranya bergantian memandangi Kai dan Joanna.


"Gadis itu yang sudah membuat hidup kita menderita. Kamu kehilangan keluarga kamu. Dan aku kehilangan sosok ayah yang baik bagi Ziyo," tambah Joanna memandang sinis ke arah Dara.


Kai memutar tubuh, menghadap Joanna yang tampak memerah menahan amarah.


"Kamu tau dari mana? Please, jangan asal nuduh kalau nggak punya bukti. Jangan sampai omongan kamu itu menyudutkan orang lain dan merusak nama baik orang," ucap Kai tak lekas mempercayai perkataan Joanna.


"Kamu bisa tanyakan sama orangnya langsung. Ingatanku ini nggak akan mungkin salah." Joanna berani menantang Kai. Sebab ia yakin, pria paruh baya yang berpapasan dengannya di rumah sakit tempo hari itu adalah Yuda Aditama.


Ada banyak jejak digital yang ditinggalkan saat kecelakaan itu. Yang menampilkan jelas wajah Yuda. Jadi Joanna tidak mungkin salah. Saat berpapasan dengannya di rumah sakit tempo hari, seorang gadis sedang menggandeng mesra lengan Yuda saat itu. Dan gadis itu adalah Dara.


Dari yang terlihat saat itu, mereka layaknya sebuah keluarga kecil. Jadi Joanna langsung menyimpulkan, gadis itu adalah putri Yuda Aditama.


"Tolong jangan asal bicara," tandas Kai meminta.


"Aku nggak akan mungkin menuduh orang tanpa bukti." Joanna pun mengambil ponsel dan mulai mencari-cari sesuatu.


"Ini ayah kamu kan?" Joanna bertanya sembari memperlihatkan foto Yuda kepada Dara. Agar Dara bisa melihatnya lebih jelas, Joanna pun menghampirinya. Lalu memperlihatkan foto di ponselnya di depan wajah Dara.


"Ini ayah kamu kan? Yuda Aditama. Pria yang memutar balikkan fakta. Yang menyembunyikan kebenaran atas kecelakaan itu," beber Joanna blak-blakan. Tak ingin menutupinya lagi. Dan Kai harus tahu yang sebenarnya.


Terdorong oleh rasa cemburunya, hingga Joanna pun mengungkap kebenaran yang bahkan tidak sepenuhnya ia mengetahui secara keseluruhan.


Dara tak langsung menggubris pertanyaan Joanna. Yang terang-terangan ingin menyudutkannya. Dipandanginya saja foto papanya dengan berurai air mata.


Melihat hal itu, Kai pun menghampiri. Sebab tak tega sekaligus iba melihat gadisnya tak henti meneteskan air mata. Rasa bersalah pun mendera disaat bersamaan.


"Dara," panggil Kai lirih.


Dara tak lantas menoleh. Ia menyusut hidung, lalu menghapus air matanya.


"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Dara akhirnya membuka suara. Setelah beberapa menit lamanya membungkam, bahkan kehilangan kata-kata.


"Tanggung jawab."


"Tanggung jawab yang bagaimana?"


"Jo, tolong jangan memfitnah orang sembarangan." Kai menyela lantaran tak tahan melihat keadaan Dara.

__ADS_1


"Aku tau dia pacar kamu. Tapi kamu juga harus tau siapa dia sebenarnya," sahut Joanna dengan emosi.


Dara kini menundukkan pandangan. Tak ingin memandangi Kai maupun Joanna. Yang Dara masih bingung akan hubungan mereka.


Ternyata benar, Jo yang sering di panggil Kai dalam tidurnya itu adalah Joanna. Dara pun hanya bisa menghela napas, menghembuskannya pelan. Agar rasa sakit itu tak semakin menusuk.


"Kamu pasti bertanya-tanya tentang siapa aku sebenarnya kan?" Joanna kembali melempar pertanyaan pada Dara. Memandangi gadis itu yang masih saja tertunduk.


"Joanna." Kai sungguh tak ingin memperkeruh suasana. Terlebih saat ini, Dara sedang terluka. Terluka oleh kenyataan yang baru saja terungkap.


"Aku ini adalah mantan pacarnya Kai. Cinta pertamanya," ungkap Joanna tak peduli perasaan Dara.


Dara pun akhirnya mengangkat wajahnya. Memberanikan diri menatap Joanna, yang menatapnya tajam dengan kilatan amarah dalam sorot matanya.


Mantan pacar?


Cinta pertama?


Bahkan mereka sudah memiliki buah dari cintanya.


Astaga.


Semakin sakit saja rasanya jika Dara membayangkannya. Namun sebisa mungkin ia menahannya.


"Sekarang kamu udah tau, gimana hubungan aku dengan Kai. Kami juga udah punya buah dari cinta kami. Dan sekarang aku minta sama kamu, tinggalkan Kai. Kembalikan Kai padaku. Hanya itu saja tanggung jawab yang aku minta dari kamu. Aku mohon kebesaran hati kamu, jika kamu nggak mau aku dan Kai membuka kembali kasus kecelakaan itu," ujar Joanna panjang lebar. Dengan amarah yang tertahan, karena tak ingin membuat keributan di rumah sakit.


"Joanna. Kamu ini apa-apaan sih? Kamu sadar nggak dengan apa yang kamu katakan? Kamu sudah menuduh orang sembarangan." Kai mencoba menengahi. Meski sejujurnya, ia pun mulai termakan omongan Joanna. Bahkan mulai mengingat-ingat kembali kejadian setahun yang lalu.


Saat ia menemui putri Yuda Aditama yang terbaring lemah di bangsal rumah sakit dalam keadaan penuh perban hampir di sekujur tubuhnya.


Mungkinkah yang dikatakan Joanna itu benar. Mungkinkah gadis yang ditemuinya saat itu adalah Dara?


Tapi, bagaimana bisa?


"Kalau kamu nggak percaya, silahkan kamu buktikan saja sendiri. Kamu kan pacarnya. Kamu juga pasti tau alamat rumahnya kan? Ya udah, kamu datangi aja langsung rumahnya." Joanna tampak semakin dikuasai amarah dan api cemburu.


"Dara ..." panggil Kai lirih.


Perlahan Dara menoleh, menatap Kai yang menatapnya sayu. Namun menuntut jawaban.


Dara sadar, posisinya saat ini semakin tersudut. Tak bisa lagi mengelak bahkan berbohong. Ia hanya tak menyangka, akan tiba di keadaan seperti sekarang ini. Ia bahkan menyesali apa yang sudah terjadi setahun yang lalu. Jika saja ia tahu, suatu hari kelak akan bertemu dengan Kai. Mungkin ia tidak akan membangkang setiap nasehat papanya saat itu.


Namun, segalanya terlambat. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Manalah tahu jika keluarga dari korban kecelakaan itu adalah pria yang sangat ia cintai.

__ADS_1


Oh Tuhan!


Takdir apa yang sedang ia jalani. Nasib buruk apa lagi yang menimpanya kali ini. Dara hanya bisa menjerit dalam batinnya.


Jika ia jujur, apakah Kai akan pergi meninggalkannya?


Tidak!


Dara tak ingin hal itu terjadi.


"Apa benar yang dikatakan Joanna?" tanya Kai lagi.


"Kamu bahkan belum kasih aku penjelasan tentang hubungan kalian. Dan sekarang, kamu juga ikut menyudutkan aku?" Dara tak mampu lagi membendung air matanya. Yang akhirnya jebol dan membanjiri wajahnya. Lantaran perih yang tak tertahankan.


Ia layaknya terpidana yang bahkan tak diberi ruang untuk bernapas.


"Kamu tega, Kai." Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Dara. Sebelum akhirnya ia pergi. Mengayunkan langkahnya secepat mungkin, meninggalkan Kai dan Joanna yang terus menyudutkannya.


"Dara ... Dara tunggu. Akan aku jelasin semuanya sama kamu," pekik Kai sembari melangkah panjang menyusul Dara.


Namun Dara tak menghiraukan. Ia tak peduli meski Kai berkali-kali memanggilnya. Ia berlari sekuat tenaga agar Kai kehilangan jejaknya dan berhenti mengejarnya.


"Dara, tunggu. Please, dengerin aku dulu," pekik Kai lagi demi menghentikan langkah Dara.


Dara masih tidak peduli. Ia bahkan tidak memalingkan wajah, walau hanya sekedar mengasihani Kai yang terus mengejarnya.


Suara guntur terdengar bergemuruh. Titik-titik air hujan mulai jatuh membasahi bumi. Lengkap dengan petir yang menggelegar, dan kilat yang menyambar-nyambar ganas.


Dara tak peduli meski basah sekujur tubuhnya. Ia berlari membelah rintikan hujan. Tak peduli arah dan tujuan. Ia hanya ingin berlari dan terus berlari. Menumpahkan tangis di bawah derasnya air hujan.


Kai masih mengejar Dara. Saat tiba-tiba saja gadis itu menghilang dalam sekejap mata. Kai pun menyusuri derasnya hujan, mencari-cari keberadaan Dara.


"Dara ... Dara ... Please, kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya sama kamu." Percuma saja Kai berteriak di bawah derasnya hujan. Suaranya justru teredam oleh gemuruhnya suara guntur yang menggelegar.


Dara tak terlihat di setiap penjuru arah. Kai bahkan sudah kelelahan menyusuri tempat parkir, bahkan sampai ke jalanan. Tetapi Dara, masih tak terlihat.


"Dara, maafkan aku." Kai hanya bisa menyesali dan merutuki kebodohannya. Menangisi apa yang telah terjadi.


Kai frustasi. Berkali-kali mendesah berat, masih dengan air mata yang berderai.


Sementara Kai mencari-cari keberadaan Dara, gadis itu diam-diam bersembunyi di balik mobil yang terparkir di parkiran terbuka, tidak jauh dari tempat Kai berdiri.


Dara meringkuk, memeluk lututnya erat, meminimalisir hawa dingin yang mulai menusuk, membuat sekujur tubuhnya hampir saja membeku.

__ADS_1


Untuk beberapa saat lamanya, Dari masih bersembunyi di tempatnya. Sampai tiba-tiba ia sudah tak sanggup lagi. Hingga akhirnya, gadis itu jatuh pingsan.


TBC


__ADS_2