You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 69


__ADS_3

Kai mendengus kesal begitu Dara memutus sambungan video call. Dara sukses membuatnya gelisah tak menentu malam ini. Mengingat sepanjang malam wanita itu tidur dalam satu kamar bersama pria lain.


Lima tahun Dara hampir membuatnya gila. Mencari-cari keberadaannya yang menghilang bagai ditelan bumi tidaklah mudah. Ia bukanlah pria yang punya cukup kekuasaan, bahkan uang, hingga bisa dengan mudahnya menemukan Dara. Butuh usaha dan kerja keras untuk ia bisa meraih apa yang ia inginkan. Termasuk menemukan Dara.


Ia lantas bangun dari tempat tidur. Kemudian keluar dari kamar menuju ke dapur. Secangkir kopi panas mungkin bisa menjadi teman terbaiknya, menemaninya bercengkrama dengan layar laptop untuk menghabiskan malam. Demi mengikis rindu hingga gelisah yang membuatnya resah.


Rasa cemas masih tak bisa menjauh darinya. Bayangan Dara yang bercumbu dengan Riko pada malam itu masih membayanginya. Hingga rasanya begitu sulit baginya memejamkan mata. Belum lagi Dara malah menonaktifkan ponselnya. Membuat kecemasan itu kian menggunung.


Hah, Dara ...


Kenapa sih wanita itu masih saja seperti dulu. Meski kini tampilannya lebih dewasa, tetapi sifat kekanakannya masih terbawa-bawa.


"You make me crazy, Dear (kamu membuat aku gila, sayang)" desahnya dalam keresahan memandangi foto Dara pada layar ponselnya.


.


.


Keesokan hari.


Tampil maksimal sudah hal yang lumrah bagi seorang dosen seperti dirinya. Dengan kepercayaan diri tingkat dewa, Kai melangkah menyusuri koridor kampus menuju ruang dosen Fakultas Bahasa dan Sastra.


Kehadiran Kai laksana medan magnet yang menarik kutub berlawanan untuk mendekat. Pesona yang dimilikinya sudah cukup menyita perhatian banyak mahasiswi. Belum lagi, senyum yang ia ukir di bibir sensualnya membuat berpasang-pasang mata hanya tertuju kepadanya.


Seperti saat ia memasuki ruang dosen. Mata dosen-dosen yang masih berstatus single terpukau dengan pesona yang ia pancarkan.


"Morning (pagi)," sapanya mengulum senyum termanis, sembari mengambil duduk di salah satu meja yang memang disediakan untuknya.


Ruangannya masih menyatu bersama dua orang dosen wanita. Yang satunya masih single, dan salah satunya masih ...


Entahlah.


Mungkin keberuntungan hingga ia bisa berada dalam satu ruangan bersama Dara.


"Morning Mr. Kai (pagi Pak Kai)," sapa Nadira genit. Salah satu dosen muda yang mejanya berada di sebelahnya. Sedangkan Dara, berada tepat di depannya.


Nadira lalu bangun dari duduknya, menghampiri meja Kai, menaruh kopi yang dibelinya saat perjalanan ke kampus.


"Itu kopi untuk Pak Kai. Di minum ya? Pagi-pagi begini enakan ngopi, biar nggak ngantuk. Saya bela-belain beli loh, spesial untuk Pak Kai. Diterima ya?" Terang-terangan Nadira menunjukkan perhatiannya. Membuat seorang dosen lagi melirik kesal ke arahnya.


Dara.


Begitu Kai memasuki ruangan itu, hatinya sudah dibuat berbunga-bunga. Sama seperti saat pertama kali ia menyukai pria itu. Tetapi malah dibuat kesal lantaran Kai sama sekali tidak melirik ke arahnya atau sekedar menyapa.


Dan sekarang, lihatlah pria itu. Malah menyunggingkan senyum menawannya kepada Nadira. Membuat Nadira malu-malu kucing. Dan lihat wajah Nadia, sudah persis ketimpuk blus on menor. Norak!


Sungguh mengesalkan.


"Thankyou so much (terima kasih banyak). Tapi maaf, saya nggak ngopi di pagi hari," tolaknya halus sembari melirik Dara yang memasang wajah cemberut.


"Disimpan aja kalau gitu, buat sebentar setelah ngajar." Nadira pantang menyerah demi meraih perhatian Kai. Malah senyumannya dibuat semanis mungkin. Bahkan wangi parfumnya bisa tercium dari jarak seratus meter. Hingga membuat Kai sesekali memalingkan wajah. Kadang juga Kai menyeka hidungnya.


Sontak hal itu mengundang tawa Dara yang tertahan lantaran tak enak hati bila menyinggung Nadira nanti.


Dan lagi, lihat tuh gincu di bibirnya. Sejak kapan Nadira suka memakai lipstik berwarna merah terang. Biasanya juga Nadira lebih sering menggunakan lipstik berwarna peach. Tapi semenjak ada Kai, bukan hanya lipstiknya, bahkan gaya berpakaiannya pun berubah drastis.

__ADS_1


Dari yang semula santun, menjadi lebih seksi. Sungguh Kai membawa perubahan besar dalam hidup Nadira. Membuat Dara muak saja.


Satu kata yang lebih cocok untuk Nadira saat ini.


Penggoda.


Dara semakin kesal saja, saat Nadira malah menarik kursinya, untuk ia duduk lebih berdekatan dengan Kai.


Dara tak bisa lagi menyembunyikan rasa kesalnya. Saking kesalnya, akhirnya ia angkat kaki. Kebetulan sudah waktunya ia mengisi mata kuliah.


"Ada kelas Bu Andara?" sapa Kai sebelum Dara menghilang di balik pintu.


"Ada. Tapi nggak lama. Setelah ini saya langsung pulang," jawabnya ketus lantaran cemburu.


"Bu Andara mau ke rumah sakit setelah ini?" Nadira malah ikut-ikutan nanya.


"Memangnya Bu Andara sakit apa?" tanya Kai.


"Bukan Pak Kai. Suaminya Bu Andara itu dokter. Setiap pulang ngajar, Bu Andara pasti ke sana. Menemani suaminya melayani pasien. Romantis banget ya Bu Andara. Istri setia lagi." Nadia malah berseloroh. Membuat senyum di wajah Kai memudar seketika.


Dan hal itu menerbitkan senyum kemenangan di bibir Dara. Ia senang, karena Kai cemburu. Sangat jelas terlihat dari raut wajahnya.


"Saya jadi iri deh sama Bu Andara. Rasanya jadi kepengen cepat-cepat punya pasangan."


Nadira melirik Kai dengan senyum menggodanya. Dan Kai malah menyunggingkan kembali senyumnya. Bukan kepadanya, malah kepada Nadira.


Bagaimana Dara tidak kesal?


Akhirnya Dara meninggalkan ruangan itu dengan membuang muka. Mengibas rambut panjangnya, serta menghentakkan kakinya. Kesal sungguh kesal.


Beruntung, Nadira sudah tidak berada di ruangan itu. Hingga Dara bebas membanting buku yang ia bawa di meja. Membuat Kai tersentak. Lalu memandanginya keheranan.


"Kamu kenapa?" Kai malah melayangkan pertanyaan. Bukannya datang menghiburnya.


"Senang ya digodain," kesalnya dengan wajah masam.


Kai tersenyum-senyum. Ia tahu Dara cemburu. Tak membalas ucapan Dara, Kai malah bergegas hendak keluar ruangan. Sebelum Kai keluar, cepat Dara beranjak hendak mendahului Kai. Namun tangan kekar Kai dengan cepat pula mencekal lengannya. Hingga langkah cepatnya yang mengayun terhenti seketika.


"Kamu mau ke mana?" tanya Kai setengah berbisik. Sembari waspada dengan keadaan sekitar. Sebab fatal akibatnya jika ada yang melihat mereka terlalu dekat.


"Pulang," jawabnya ketus.


"Jangan pulang dulu. Tunggu aku sebentar lagi. Nggak lama."


"Buat apa? Untuk memperlihatkan kemesraan kamu dengan Nadira?"


Kai tersenyum simpul. Tampang cemburu Dara sungguh membuatnya gemas.


Bukannya menjawab pertanyaan Dara, Kai malah memberinya kunci mobil.


Dara mengernyit bingung memandangi kunci mobil di tangannya.


"Tunggu aku di mobil. Nggak lama kok," titah Kai.


"Nggak mau. Aku harus ke bandara nganterin Mama Papa."

__ADS_1


"Jam berapa emangnya?"


"Tiga jam lagi."


"Nanti aku antar kamu ke bandara."


"Nggak perlu repot-repot." Masih saja ketus Dara menyahuti ucapan Kai. Membuat Kai tersenyum-senyum menatapnya.


"Kamu cemburu ya?" Sekarang Kai mulai menggodanya.


Dara malah membuang muka. Tak ingin Kai melihat wajahnya yang semakin bersemu merah lantaran malu.


"Siapa yang cemburu?" kilahnya.


"Ya sudah. Turuti saja apa kataku. Tunggu aku di mobil. Aku nggak akan lama." Kemudian Kai berlalu. Melenggang pergi meninggalkannya tanpa peduli lagi seperti apa ekspresi wajahnya saat ini.


Akhirnya Dara menurut saja. Kini ia tengah menunggu di dalam mobil Kai. Menghidupkan mesin, pendingin udara, berikut ia menyetel musik bernada lembut agar menunggu tidak membosankan baginya.


Semalam ia tidak bisa tidur nyenyak. Tidur bersama Riko dalam satu kamar membuatnya tak nyaman. Alhasil, ia sering terjaga.


Lantunan syahdu lagu berirama lembut itu membuat rasa kantuk menyerang perlahan. Ia menguap beberapa kali, suara musik mulai sayup-sayup terdengar, pandangan pun mulai samar. Hingga akhirnya ia tak tahu lagi apa yang terjadi.


"Dara ..." sayup telinganya mendengar suara yang memanggil namanya.


"Hei, Dear. Wake up. (hei, sayang. Bangun)." Kini suara itu terdengar jelas di telinganya. Disertai sentuhan lembut di pipi kanannya.


Perlahan ia pun membuka mata. Wajah Kai terpampang jelas di depan matanya. Tersenyum menatapnya. Senyum yang membuatnya selalu berdebar. Bahkan sampai membuatnya tergila-gila.


"Kai?" Dara mengucek mata, menguap sekali lagi. Lalu melihat ke luar jendela mobil.


"Kita ada di mana sekarang? Bukannya tadi di parkiran ya?" Dara tersentak begitu melihat pemandangan di luar jendela yang jauh dari suasana tempat parkir. Malah terlihat seperi mereka berada di depan rumah.


"Kita sampai di rumah," ucap Kai.


"Rumah? Rumah siapa?"


"Rumah ku."


"Kita mau ngapain di sini?" Dara mulai was-was. Dilihatnya Kai malah tersenyum menggoda.


"Aku masih rindu kamu. Masih ada waktu dua jam lagi. Aku antar kamu ke bandara setelah selesai."


"Selesai apanya?"


"Nggak usah pura-pura nggak tau gitu."


"Kamu apaan sih? Apa maksudnya?"


Kai lebih mendekat. Lalu berbisik di telinga Dara,


"Aku masih sangat merindukan kamu. Semalam kamu udah buat aku kesal. Dan sekarang, kamu harus tanggung jawab. Ayo, aku udah nggak tahan lagi sayang."


Astaga!


Kedua mata Dara membola. Ia terkejut dengan bisikan sensual Kai. Namun sukses membuatnya berdebar-debar.

__ADS_1


TBC


__ADS_2