You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 27


__ADS_3

Dara turun dari mobil Kai malu-malu. Gelagatnya layaknya gadis polos yang masih bau kencur.


Sedangkan Kai memandangi Dara dengan seksama. Menelisik tampilan gadis itu, yang meski sederhana dengan t-shirt hitam miliknya, namun tetap cantik.


Hati kecil Kai tak memungkiri. Dara memiliki pesonanya sendiri. Yang entah kenapa malah membuatnya seakan tak ingin berpaling.


Hadirnya Dara, membuat Kai bingung akan perasaannya. Perasaannya begitu menggebu-gebu terhadap Joanna. Tetapi hati kecil, tak ingin jauh dari Dara.


Mungkinkah Kai mulai terpikat akan pesona gadis itu. Tetapi tak tahu dan tak ingin salah menafsirkan?


Cinta tak sebegitu mudahnya dipahami. Mungkin saja hanya buaian angin lalu saja. Yang akan hilang tertiup angin. Apakah perasaan Kai terhadap Dara hanya sebatas kagum saja?


"Makasih ya?" Ucap Dara mengulum senyum manisnya menatap lekat sorot mata Kai. Yang juga menatap lekat sorot matanya.


"Sama-sama. Bilang aja kalau misalkan kamu nggak nyaman sama kaos itu. Nanti biar aku cari yang lebih nyaman. Di dekat sini banyak toko pakaian kok. Aku bisa beli buat kamu."


"Nggak usah. Nggak perlu repot-repot. Ini udah nyaman banget kok." Dara semakin tersenyum lebar. Yang dibalas Kai dengan senyum manisnya pula.


"Syukurlah."


"Oh ya, nanti kaos nya aku balikin lagi. Pas nyampe rumah, langsung aku cuci. Biar bau keringat dan bau ketek nya nggak nempel." Dara meringis malu. Body languange nya begitu jelas menampakkan ketertarikannya terhadap Kai.


Kai tergelak mendengar ucapan Dara. "Nggak, nggak perlu. Kaos seperti itu aku punya banyak."


"Mana bisa begitu. Akan aku balikin setelah aku cuci bersih nanti. Plus pake pewangi. Kata Mama, nggak baik loh menyimpan barang orang di rumah. Apalagi kalau barang itu punya seorang pria." Dara mulai berkilah demi meraih perhatian Kai.


Kai pun mengernyit. "Memangnya kenapa?"


"Bisa-bisa aku kumisan. Kalau lebih lama lagi nyimpannya, bisa tumbuh jenggot."


"Ha ha ha ..." Kai tak bisa menahan tawanya mendengar jawaban nyeleneh Dara.


"You are so funny (kamu sangat lucu)." Tambahnya. Masih dengan mode terbahak-bahak.


Dan tentu saja Dara sangat senang mendengarnya. Setidaknya, ia bisa menghibur Kai. Ia bisa melihat Kai tertawa-tawa. Setidaknya situasi canggung yang tercipta sejak kemarin lantaran khilaf yang tak sengaja, perlahan mulai mencair.


"Tapi apa benar bisa begitu?" Tanya Kai penasaran.


Dara semakin tersenyum lebar. "Menurut kamu?" Sembari menatap Kai berbinar-binar.


"Beneran, aku serius nanya. Bisa tumbuh jakun juga nggak?"


"Ha ha ha ..." Kali ini malah Dara yang tergelak.


Wajah cantik Dara yang terbahak-bahak, entah kenapa malah menarik perhatian Kai. Menelisik raut yang justru makin menarik disaat tertawa bahagia, membuat hati Kai berdebar-debar.


"Jadi kamu percaya?" Celetuk Dara. Seraya tertawa kecil.


"Menurut kamu?" Tantang Kai.

__ADS_1


Senyum dan tawa Dara memudar. Dengan raut serius ia menatap sorot mata Kai dalam-dalam. Seraya berkata,


"Nggak juga. Bukan seperti itu." Ucap Dara.


"Lalu? Seperti apa?"


Dara menghela napas sejenak. Menghembuskannya perlahan. Dengan nada pelan, seraya menatap Kai dalam-dalam, ia kembali berkata,


"Dengan menyimpannya, sama saja dengan kita menyimpan kenangannya. Yang berarti kenangan itu terlalu indah untuk dilupakan. Sama seperti aku. Walau aku nggak nyimpan barang kamu sekalipun, semua tentang kamu akan selalu aku kenang. Karena kamu adalah yang pertama dan satu-satunya yang mengisi hatiku."


Teriring perasaannya yang mendalam, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Dara. Hingga membuat Kai tertegun. Menatap sorot mata Dara dalam-dalam, membuat darahnya berdesir. Hingga menghadirkan debaran yang semakin menggila. Yang membuatnya bingung akan perasaannya saat ini.


Kai menghela napas panjang. Menghembuskannya perlahan, sembari memahami kata hati kecilnya.


"Maksud kalimat terakhir kamu? Aku kurang ngerti." Ucap Kai semakin menelisik raut Dara. Yang tampak serius, bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Dara pun terhenyak. Menyadari ucapannya yang meluncur bebas dari mulutnya, tanpa mampu ia kendalikan.


"Oh, itu, maksudku kamu orang pertama yang bertanya tentang itu. Padahal aku ngarang aja loh.  Nggak serius." Dara salah tingkah lagi.


Kai tersenyum. Tetapi entah kenapa, seakan ia merasa Dara bersungguh-sungguh dengan omongannya.


.


.


Berdiri di meja kasir, Beno menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruang kafe. Memandangi setiap pengunjung yang tengah menikmati suasana kafe dan hidangan yang tersaji di hadapan.


Beno mengernyit, saat pandangannya menangkap sosok yang familiar tengah melangkah memasuki kafe. Berdampingan bersama seorang pria tampan ber jas.


Mereka memilih mengambil duduk di pojok ruangan. Meja yang berjauhan dengan meja yang lain. Sehingga pelanggan yang menempati tempat duduk itu tidak akan terganggu dengan pengunjung yang lain.


Setelah memesan menu yang diinginkan, Joanna bangun dari duduknya. Hendak ke toilet sebentar.


Langkah kaki Joanna terhenti saat tiba-tiba Beno mencegatnya.


"Joanna." Panggil Beno. Sembari menghampiri Joanna yang memalingkan wajahnya. Menatap Beno dengan kernyitan di dahinya.


"Aku Beno. Sahabat Kai." Ujar Beno memperkenalkan diri. Sudah lama sejak hubungan Kai dan Joanna berakhir. Joanna mungkin tak mengenalinya lagi.


"Oooh ..." Sahut Joanna singkat. Kemudian membetulkan posisi berdiri, menghadap Beno.


"Maaf, aku hampir nggak kenal kamu lagi. Kamu tampak berbeda. Oh ya, ada yang bisa aku bantu?" Tanya Joanna kemudian.


Beno menghela napas panjang. Menghembuskannya perlahan. Lantas mengalihkan pandangan pada pria yang datang bersama Joanna sejenak.


"Ini tentang sahabatku." Beno kembali berpaling, menatap Joanna dengan seksama.


"Kai? Ada apa dengan Kai?"

__ADS_1


"Kamu tau, Kai sangat mencintai kamu."


"Maaf, aku nggak mau bahas soal ini lagi. Itu sudah lama berlalu. Itu sudah berakhir."


"Bagi kamu, mungkin. Tapi bagi Kai?" Beno kembali menghela napasnya panjang. Seakan beban yang mengganjal hati belum lah luruh. Hingga meninggalkan kegelisahan yang terasa mengusik ketenangan.


"Aku tau betul seperti apa perasaan Kai terhadap kamu. Dan hanya aku satu-satunya orang yang tau dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana hancurnya Kai saat itu. Saat kamu lebih memilih Revan, kakaknya." Tutur Beno panjang lebar.


Joanna masih terdiam. Menyimak setiap ucapan Beno dengan hati gelisah.


"Sampai detik ini pun, Kai nggak tau loh, apa alasan kamu tiba-tiba mengakhiri hubungan kalian begitu saja. Dan kenapa harus Revan? Sementara saat itu hubungan kalian baik-baik saja. Kalian hanya terkendala jarak dan waktu. Hubungan jarak jauh itu bukan jadi alasan atas berakhirnya hubungan kalian."


"Beno. Langsung saja pada intinya. Sebenarnya kamu mau ngomong apa. Aku nggak punya banyak waktu."


"Tolong jauhi Kai. Biarkan dia menjalani hidupnya dengan tenang. Dia juga berhak bahagia."


"Aku tau. Aku sudah berusaha menjauhi Kai. Tapi Kai masih saja datang menggangguku."


"Sebenarnya apa sih masalah kamu? Kenapa kamu melakukan ini pada sahabatku. Sudah berapa lama kamu selingkuh dengan kakaknya?" Cecar Beno tak sabar lagi.


"Aku nggak selingkuh. Kalian salah jika menilai hubungan aku dengan Revan atas dasar selingkuh. Maaf, aku nggak punya banyak waktu." Joanna hendak berlalu. Dan Beno kembali mencegatnya.


"Joanna."


"Beno. Tolong, aku nggak mau bahas ini lagi." Joanna tampak mulai kesal.


"Ya udah. Kalau begitu, tolong bebaskan Kai. Dia terlalu terobsesi dengan masa lalunya."


"Itu urusan dia. Kenapa harus aku?"


"Karena kamu penyebabnya. Kamu masalahnya. Please dong Jo. Tolongin sahabat aku."


"Aku sudah berusaha menjauhi dia. Jadi jangan terus menyalahkan aku. Aku juga sebenarnya nggak mau bertemu Kai lagi. Aku ingin dia pergi jauh dari hidupku. Sejauh mungkin."


"Tapi kenapa?" Cecar Beno penasaran. Ia tak peduli meski Joanna kesal.


"Karena ada hal yang kalian nggak tau. Dan kalian nggak perlu tau." Ujar Joanna dengan nada meninggi. Membuat Beno terdiam.


"A ... Aku ... Aku harus pergi. Maaf." Mendadak Joanna salah tingkah. Bahkan tergagap. Seakan ada sesuatu yang tengah ia sembunyikan.


Joanna lantas bergegas meninggalkan Beno yang membisu dan membeku di tempatnya. Tak ingin lagi pria itu mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang tak ingin ia jawab.


Dari kantong celananya, terdengar dering ponsel berbunyi. Beno merogoh kantongnya, mengambil ponsel yang berdering dari dalam sana. Yang menampilkan jelas nama Kai.


"Halo." Sapa Beno tak bersemangat.


"Where are you (kamu di mana)?" Tanya Kai dari seberang.


TBC

__ADS_1


__ADS_2