
Joanna tak menghiraukan. Ia memilih hendak meninggalkan ruangannya.
Namun, belum sempat tangan Joanna memutar handel pintu, Kai menarik lengannya kuat. Detik itu juga, sapuan hangat bibir Kai mendarat di bibir Joanna. Kai mulai memagut nya lembut. Hingga membuat Joanna terkesiap.
Dorongan kuat di dada Kai tak cukup membuat Joanna mampu menghindari ciuman itu. Kai mengunci pergerakan Joanna dengan satu tangannya merangkul erat pinggang Joanna. Sementara satu tangannya menahan tengkuk Joanna.
Sembari menekan pelan tengkuk Joanna, Kai semakin memperdalam pagutan nya. Bahkan kini Kai semakin rakus, terbawa perasaannya yang teramat dalam terhadap Joanna.
Terbuai akan permainan Kai, Joanna pun membalas pagutan itu. Saling mencerup dalam, saling mengulum mesra. Saling menikmati perasaan yang tersisa.
Sampai tiba-tiba ciuman itu terhenti saat terdengar suara tangis Ziyo.
Joanna mendorong tubuh Kai menjauh. Bergegas ia menghampiri Ziyo. Lalu meraih anak kecil itu ke dalam gendongannya.
"Ziyo sayang, jangan menangis Nak." Bujuk Joanna demi menenangkan Ziyo.
Mengerti akan keadaan, Kai pun mencoba membantu Joanna untuk menenangkan Ziyo. Kai mengambil alih Ziyo ke dalam gendongannya. Detik berikutnya Ziyo tampak mulai tenang.
"Ziyo mungkin kangen Papa nya." Ucap Kai.
Joanna menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan kemudian. Ucapan Kai tidak salah. Sejak Revan meninggal, Ziyo tak pernah lagi mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Wajar jika berada dalam dekapan Kai membuat Ziyo tenang.
"Mungkin sudah saat nya kamu memikirkan masa depan Ziyo." Tambah Kai.
"Maksud kamu apa sih? Kamu pikir aku bekerja keras selama ini, bukan untuk masa depan Ziyo?"
"Aku tau. Kamu bekerja keras, banting tulang. Semua itu kamu lakukan demi Ziyo. Tapi, apakah kamu juga pernah berpikir, bukan hanya materi saja yang Ziyo butuhkan saat ini."
"Aku masih bisa memberinya kasih sayang yang berlimpah."
"Jo. Please, jangan egois. Apa kamu nggak kasihan dengan Ziyo? Ziyo butuh kasih sayang seorang ayah."
Joanna membuang muka. Menghindari tatapan Kai yang semakin menelisik dalam. Sejujurnya, ia juga menyadari akan hal itu. Akan tetapi, memulai hubungan baru, ia masih belum siap.
Kepergian dan kehilangan Revan telah cukup membuatnya trauma. Kepergian Revan yang tiba-tiba telah cukup membuatnya begitu terpukul. Telah cukup meninggalkan kesedihan yang teramat dalam baginya. Hingga ia tak ingin kembali menjalin kasih.
Joanna ingin lebih fokus untuk mengurus dan membesarkan Ziyo. Meski seorang diri. Ia yakin bisa memberi Ziyo kasih sayang lebih.
"Joanna." Panggil Kai lirih.
Joanna masih berpaling. Tak ingin menatap Kai yang menatapnya sendu. Ia hanya tak ingin benteng yang ia bangun kokoh, runtuh begitu saja.
__ADS_1
"Jo. Tolong kamu katakan dengan jujur." Kai semakin menelisik dalam, menatap sorot mata Joanna yang kini telah memalingkan wajahnya. Dan balas menatapnya.
"Are you still love me (apa kamu masih mencintaiku)?" Tanya Kai kemudian. Membuat Joanna terdiam detik itu juga.
Namun, di detik berikutnya Joanna menggeleng. Lalu meraih Ziyo dari dekapan Kai. Membawanya keluar dari ruangan. Demi menghindari pertanyaan Kai yang tak ingin ia jawab. Karena memang ia tak tahu mesti menjawab apa.
Sementara Kai, mengekor di belakang Joanna. Berharap Joanna akan memberi jawaban seperti yang ia harapkan. Sebab ia bisa merasakan seperti apa perasaan Joanna saat mereka saling memagut beberapa saat yang lalu.
"Joanna. Answer my questions. Tell me to be honest. I know, you still have the same feelings (Joanna. Jawablah pertanyaan ku. Katakan padaku sejujurnya. Aku tahu, kamu masih memiliki perasaan yang sama)." Cecar Kai. Hingga Joanna pun menghentikan langkahnya. Lalu berbalik menatap Kai.
"Please, jangan ungkit masa lalu." Joanna tampak tengah menahan emosi.
"Kai. Aku sibuk. Kamu lihat sendiri kan, hari ini banyak pelanggan. Lain kali saja kita bicara. Tolong kamu pergilah dari sini. Aku harus memberi makan Ziyo dulu." Tambah nya, lalu beranjak meninggalkan Kai yang masih berdiri mematung memandangi punggungnya.
Kai membuang napas berat. Ia tahu, ia telah lancang. Tidak seharusnya ia menanyakan itu pada Joanna. Yang jelas-jelas statusnya adalah janda kakaknya.
Memang, sebelum Joanna memilih menikahi Revan, Joanna adalah kekasih Kai. Akan tetapi, hubungan mereka terkendala jarak dan waktu. Kai yang saat itu tengah menimba ilmu di luar negeri, otomatis tak bisa meluangkan waktu lebih untuk Joanna. Hubungan jarak jauh pun terpaksa mereka jalani.
.
.
"Makasih ya Dar." Ucap Yola begitu turun dari mobil Dara.
Sengaja Dara menjemput Yola pulang kerja hanya untuk mengajaknya makan malam di luar. Dara sangat suka menyantap bakso di malam hari. Usai makan, mereka mampir sebentar membeli martabak untuk Yuli, adik Yola.
"Belakangan ini kok Ditha makin sibuk ya? Dia jadi jarang ngumpul bareng kita." Ujar Dara mengingat Ditha, sahabat mereka yang terkepo.
"Udah punya pasangan kali dia. Makanya dia jadi jarang ngumpul bareng kita. Makanya Dar, kamu juga cari pasangan dong. Sepatu kamu aja ada pasangannya. Masa kamu enggak." Celetuk Yola.
"Sialan kamu. Ngeledek nih?" Sungut Dara hingga Yola cekikikan. Tampang kesal Dara malah terlihat lucu jadinya.
"Ya udah. Aku balik dulu deh. Bye Yola." Pamit Dara kemudian tanpa menghiraukan Yola lagi. Dan Yola pun masuk ke rumah nya begitu Dara hilang dari pandangannya.
Setengah perjalanan, Dara mampir sebentar di minimarket. Ia hendak membeli minuman dingin kesukaannya. Tangannya sudah terulur hendak mengambil minuman dingin itu di lemari pendingin. Belum sempat ia meraih minuman itu, tiba-tiba saja sebuah tangan kekar telah lebih dulu mengambilnya.
"Kurang ajar. Siapa sih yang iseng?" Desis Dara, lalu memalingkan wajahnya. Dan mendapati seorang pria tampan tengah berdiri memegang minuman dingin itu.
"Kamu?" Sapa pria itu, yang tidak lain adalah Kai.
Dara yang semula kesal dengan emosi yang mulai tersulut, mendadak adem, begitu tahu siapa yang telah mengambil minuman dingin itu.
__ADS_1
Dara menyunggingkan senyum manisnya. Dan mencoba bersikap kalem dan anggun.
"Eh, Kai?" Sapa Dara.
"Sorry. Buat kamu aja deh." Kai menyodorkan minuman dingin itu kepada Dara.
"Nggak usah. Buat kamu aja. Biar aku ambil yang lain."
"Ya sudah. Thanks."
Dara menyunggingkan senyum manisnya dengan tatapan berbinar-binar menatap Kai.
Tak jauh dari minimarket itu, ada sebuah taman kecil. Dara dan Kai kini tengah duduk di bangku kecil di taman itu. Setelah membeli keperluan masing-masing.
"Kamu ngapain malam-malam keluyuran sendirian?" Tanya Kai setelah meneguk minuman yang ia beli di minimarket.
"Habis nganterin Yola pulang." Jawab Dara sekenanya.
"Teman kamu yang bekerja di kafe?"
Dara mengangguk. "Iya."
"Jadi kamu kembali lagi ke kafe?"
Dara kembali mengangguk malu. "Iya."
Kai pun terkekeh. Hingga membuat Dara mengernyit. Sebab ia merasa tak ada yang lucu dari setiap jawaban yang ia beri. Ia sudah menjawab sesuai pertanyaan Kai.
"Bukannya tadi mobil kamu mogok?" Tanya Kai. Sebab dilihatnya mobil Dara yang terparkir bersebelahan dengan mobilnya.
UPS!
Sontak Dara memalingkan wajahnya. Ia pejamkan matanya rapat-rapat. Ia baru sadar, dari setiap jawaban yang ia lontarkan, rupanya Kai sedang menilainya. Itu artinya, aksi bohong nya siang tadi ketahuan.
Oh my God!
What will you do now (apa yang akan kamu lakukan sekarang)!
Dara ... Dara ... Bikin malu saja.
Dara hanya bisa merutuki kebodohannya. Mengumpat kecerobohannya sendiri dalam hati.
__ADS_1
Sementara Kai, semakin tersenyum lebar. Lantaran tingkah Dara yang begitu menggemaskan.
TBC