You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 19


__ADS_3

Joanna's Flower.


Siang itu tampak ramai. Joanna dengan ramah melayani pelanggannya satu per satu. Diantara pelanggan Joanna, ada Ditha. Sahabat Dara.


Ditha tampak sedang memilih-milih bunga. Saat Joanna datang menghampirinya.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Joanna sembari mengulas senyum.


"Iya. Saya mau beli bunga mawar merah." Jawab Ditha.


Tanpa bertanya lebih, Joanna mulai memilih-milih bunga mawar merah terbaik. Ditha mengekor di belakangnya.


"Bunga nya sebagai ucapan selamat ulang tahun Mbak. Trus, selipin kartu ucapan nya juga ya Mbak?" Pinta Ditha.


"Iya. Kalau boleh tau bunga nya untuk siapa?"


"Bunga ini pesanan atasan saya untuk istri nya yang berulang tahun hari ini."


"Oooh ..."


Joanna melakukan apa yang Ditha minta. Seikat bunga mawar merah dengan kartu ucapan selamat terselip di bunga itu. Ditha merasa senang sebab Joanna membuatnya sesuai seperti apa yang diinginkannya.


"Waaah ... Rangkaian bunga nya cantik sekali. Makasih ya Mbak." Ucap Ditha senang.


Joanna mengulum senyum. "Sama-sama."


Seorang karyawan Joanna tiba-tiba datang menghampiri bersama seorang anak kecil dalam gendongannya. Anak kecil itu sedang menangis.


"Bu Joanna, Ziyo mungkin ngantuk Bu. Sejak tadi dia rewel." Ucap karyawan sembari menyerahkan Ziyo kepada Joanna.


"Anak nya ya Mbak?" Tanya Ditha kepo.


"Iya. Anak saya. Namanya Ziyo." Jawab Joanna seadanya.


"Nama yang bagus. Sama seperti orangnya. Ziyo cakep ya, Ziyo ya? Anak cakep nggak boleh nangis. Nanti cakep nya ilang loh." Ditha sok sok an membujuk Ziyo agar berhenti menangis.


Joanna hanya mengulas senyum mendapat perhatian dari Ditha. Tetapi tangis Ziyo belum juga mereda. Sampai tiba-tiba terdengar suara berat seorang pria menyapa Ziyo. Sembari menghampiri.


"Ziyo." Sapa pria itu.


"Sini, biar aku gendong. Kamu lagi banyak pelanggan kan?" Tambah pria itu sembari mengulurkan tangannya hendak mengambil Ziyo dari gendongan mama nya.


"Nggak usah, Kai. Biar aku aja. Lagian ada karyawan yang membantu." Tolak Joanna halus.


Ditha memandang kagum pria itu, Kai, dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


"Gila. Cakep banget. Pantesan anak nya cakep, lah bapak nya juga cakep." Gumam Ditha membatin.


"Nggak apa-apa. Mumpung hari ini aku punya waktu luang. Jadi Ziyo biar aku yang jaga." Ujar Kai.

__ADS_1


"Tapi_"


"Udah, nggak apa-apa." Kai tak peduli penolakan Joanna. Ia lantas meraih Ziyo ke dalam gendongannya. Lalu menjauh, mencari tempat yang bisa ia duduki demi menenangkan Ziyo.


Rupanya, begitu Ziyo berada dalam gendongan Kai, perlahan Ziyo sudah mulai tenang. Dan tampak tertawa-tawa saat Kai mengajaknya bermain.


Ditha yang menyaksikan hal itu menjadi kagum akan sosok Kai.


"Mungkin Ziyo kangen Papa nya ya Mbak. Tuh, dia udah bisa diem saat digendong Papa nya." Ujar Ditha sok tau.


"Oh, bu_" tetapi kalimat Joanna terputus lantaran ada karyawannya yang memanggil nya.


"Maaf, Bu Joanna. Ada pelanggan yang minta dilayani langsung oleh Bu Joanna." Ujar karyawan sembari menunjuk seorang pria dengan setelan jas sedang berdiri memandangi bunga-bunga.


"Maaf, saya tinggal dulu." Ucap Joanna lantas meninggalkan Ditha seorang diri.


Tanpa berlama-lama, Ditha pun bergegas membayar buket bunga mawar yang dibelinya di meja kasir. Lalu ia beranjak meninggalkan toko bunga itu.


.


.


Pelanggan toko bunga Joanna yang satu ini sedikit mengusik perhatian Kai. Pria dewasa dengan setelan jas. Rapi dan tampan. Pria itu seperti tampak akrab dengan Joanna.


Kai senantiasa mengamati setiap gerik dan gelagat pria itu. Dari sorot mata dan dari cara pria itu menatap Joanna, Kai bisa melihat, bahkan bisa mengira seperti apa perasaan pria itu terhadap Joanna. Begitu kentara menampakkan ketertarikannya terhadap Joanna.


Kai yakin akan hal itu. Dan tentu saja, ada rasa cemburu yang mendera hati saat ini. Kai pun seketika melupakan tujuannya, hendak mengajak Joanna mengunjungi makam Revan.


"Ehem ... Ehem." Deheman Kai membuat Joanna dan pria itu tersentak kaget dan buru-buru mengalihkan pandangan pada Kai. Yang tengah berdiri di belakang mereka.


Kai menitipkan Ziyo yang telah tertidur pada karyawan Joanna. Lalu menghampiri Joanna yang tampak asik mengobrol dengan pria itu.


"Sudah dapat bunga yang anda inginkan?" Tanya Kai menatap tak suka pria itu.


Pria itu mengulum senyum nya. "Sudah. Bunga nya cantik." Sembari melirik Joanna.


Kai mengerti maksud pria itu. Bunga yang dimaksud tidak lain adalah Joanna.


"Ee ... Kai, kenalkan, ini Jack, teman semasa kuliah ku dulu." Ucap Joanna.


Pria yang bernama Jack kembali mengulum senyum. Sembari mengulurkan tangannya, hendak bersalaman.


Namun Kai malah memandangi uluran tangannya. Tak ia hiraukan itikad baik Jack.


"Jack, kenalkan, ini Kai, adik ipar ku." Ucap Joanna kemudian. Mengambil inisiatif atas canggungnya suasana.


Kai masih tak menghiraukan uluran tangan Jack. Sikap Kai benar-benar menampakkan rasa tak nyaman dan rasa tak suka nya terhadap Jack.


"Mantan adik ipar?" Tebak Jack dan terdengar seakan meremehkan Kai.

__ADS_1


Kai menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis.


"Bunga nya sudah dapat kan? Jadi, silahkan." Kai menjulurkan tangan kanannya. Mempersilahkan Jack meninggalkan toko.


Jack terkekeh. "Maaf, aku ini pelanggan. Bukankah seharusnya aku mendapat perlakuan yang baik?"


"Hari ini toko nya ramai. Joanna harus melayani pelanggan yang lain. Dia tidak punya banyak karyawan. Jadi hari ini dia agak sibuk." Sahut Kai sembari mengedarkan pandangannya pada pelanggan yang hari itu memang cukup ramai.


"Kai, kamu kenapa sih?" Tanya Joanna yang merasa aneh akan sikap Kai.


Kai tak menghiraukan pertanyaan Joanna. Ia lebih peduli terhadap Jack yang seolah enggan pergi dari toko. Kai tahu betul, gelagat Jack. Gelagat seorang pria yang menyukai seorang wanita. Itu yang tampak dari gestur Jack.


Jack mengangguk paham. "Baiklah. Aku mengerti. Lain kali aku datang lagi. Kalau begitu, aku permisi dulu."


"Maaf ya Jack." Ucap Joanna sembari melangkah, mengantar Jack sampai ke ambang pintu.


"Nggak apa-apa. Aku permisi." Ucap Jack lalu beranjak menuju mobil nya yang terparkir.


Joanna melambaikan tangannya mengiringi kepergian Jack. Hal itu membuat hati Kai terasa panas.


"Kai, kamu ini kenapa sih?" Tanya Joanna menghampiri Kai.


"Walaupun dia teman ku, tapi dia juga pelanggan. Ya, wajar dong kalau aku melayani pelanggan." Tambahnya.


"Pelanggan? Tapi kayak nya dia nggak membeli bunga apa pun. Aku ragu kalau dia datang untuk membeli bunga." Ujar Kai.


"Terserah kamu deh Kai. Aku jadi nggak ngerti dengan sikap kamu." Sembari beranjak menjauhi Kai.


Joanna memilih masuk ke ruangan pribadinya. Dimana Ziyo tengah tertidur pulas di tempat tidur kecil yang ada di ruangan itu.


Kai menyusul Joanna sampai ke ruangannya.


"Jo. Kita harus bicara." Pinta Kai.


"Pelankan suara mu. Ziyo sedang tidur."


"Joanna."


"Cukup Kai. Cukup. Apalagi yang perlu kita bicarakan?" Sentak Joanna.


"Banyak hal. Banyak hal yang bikin aku bingung. Salah satu nya, kenapa harus Kak Revan yang kamu pilih. Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan nya di belakang ku?"


Joanna beranjak dari duduknya dan menghampiri Kai.


"Kai. Kamu tuh nyadar nggak sih? Diantara kita udah nggak ada apa-apa lagi. Hubungan kita sudah berakhir. Dan kenyataan nya sekarang, kita hanyalah mantan ipar. Aku masih menghormati dan menghargai kamu sebagai paman nya Ziyo. Selain itu nggak ada lagi. Kamu ngerti kan?" Terang Joana lirih, agar tak mengganggu tidur Ziyo.


"Aku mengerti. Tapi pernahkah kamu memikirkan perasaanku? Kamu ngerti nggak apa yang aku rasakan saat kamu memutuskan menikahi Kak Revan? Kamu ngerti nggak gimana perasaanku saat itu?" Cecar Kai semakin terbawa perasaan.


Joanna tak menghiraukan. Ia memilih hendakĀ  meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


Namun, belum sempat tangan Joanna memutar handel pintu, Kai menarik lengannya kuat. Detik itu juga, sapuan hangat bibir Kai mendarat di bibir Joanna. Kai mulai memagut nya lembut. Hingga membuat Joanna terkesiap.


TBC


__ADS_2