You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 11


__ADS_3

"Oh ya? Trus kamu ini apa?" Tanya Kai penasaran.


"Kamu nggak perlu tahu. Yang jelas aku bukan mahasiswi." Jawab Dara ketus.


"Lalu kamu ini apa kalau bukan mahasiswi? Atau kamu rektor mungkin? Tapi mana ada rektor ceroboh seperti kamu?" Celetuk Kai hingga membuat raut wajah Dara semakin masam.


"Terserah. Yang jelas, aku nggak suka melihat kamu."


Kai tersentak. Mengangkat kedua alisnya tak percaya. Detik berikutnya ia terkekeh. Sebab melihat dahi Dara yang tampak memar akibat terantuk dinding.


"Kenapa tertawa? Memangnya ada yang lucu?" Kesal Dara semakin menjadi.


"Enggak. Nggak ada yang lucu. Hanya saja, sepertinya sudah lama aku nggak pernah melihat badut lagi sejak aku berusia sepuluh tahun." Kelakar Kai dengan senyum uang terkesan meledek.


"Badut? Maksud kamu?"


Kai tak menjawab. Dipandanginya Dara dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


"Oooh ... Jadi maksud kamu aku mirip badut gitu?" Sentak Dara semakin kesal.


Lagi-lagi Kai tak menjawab. Ia malah mengendikkan bahunya. Lalu kembali masuk ke kelas. Dan menutup pintu kelas itu rapat.


Dara yang kesal setengah mati pun akhirnya memilih meninggalkan tempat itu dengan sejuta amarah yang tertahan.


Kai sempat mengintip sejenak begitu Dara membawa langkahnya beranjak dari tempat itu. Sebuah senyum pun terukir di wajahnya melihat tingkah Dara yang seperti anak kecil itu.


.


.


"Waaah ... Makasih banyak loh Dara bunganya. Bunganya cantik sekali." Ucap Bu Nadia dengan senyum bahagianya saat Dara memberikan buket bunga itu.


Bu Nadia tampak tengah bersiap untuk urusan yang mendadak pagi ini. Saat Dara menemui wanita paruh baya itu di ruangannya.


"Saya nggak tahu Bu Nadia sukanya bunga jenis apa. Tapi saya senang ternyata Bu Nadia suka dengan bunganya."


"Jelas suka dong. Ini kan bunga favorit saya. Tulip putih." Ujar Bu Nadia mantap. Lalu membawa langkah kakinya menghampiri satu meja kecil di sudut ruangan dan menaruh buket bunga di meja kecil itu.


"Oh ya, Dar." Sembari melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya.


"Bentar lagi kelasnya mulai. Kamu langsung saja ke ruangannya. Kamu sudah siap kan?" Tambah Bu Nadia memastikan.


"Siap, Bu."


"Ya sudah, silahkan. Kebetulan saya ada rapat penting pagi ini. Kamu saya tinggal dulu, nggak apa-apa kan?"


"Nggak apa-apa Bu." Dara mengulas senyum manisnya memandangi kepergian Bu Nadia.


.


.


Langkah panjang Dara terhenti di satu ruangan yang tak jauh dari ruangan tempat Kai mengajar. Dara menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan. Mencoba mengatur degup jantung yang mulai tak beraturan.


Sudah lama semenjak ia lulus kuliah. Wajar jika saat ini ia gugup. Bahkan rasa gugup itu terasa dua kali lipat.

__ADS_1


Dengan mencoba menyingkirkan rasa gugup nya, Dara melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas tersebut. Dengan percaya diri, ia berdiri di depan kelas, menyunggingkan senyum manisnya sembari mengedarkan pandangannya. Memandangi satu per satu mahasiswa dan mahasiswi dalam kelas tersebut.


"Selamat pagi semuanya." Sapa Dara mantap.


"Pagi Bu ..." Serentak para mahasiswa dan mahasiswi membalas sapaan Dara.


"Sebelumnya, perkenalkan ... Saya Andara Leandra Aditama. Mulai hari ini saya yang akan mengisi mata kuliah Bahasa Indonesia, mewakili Bu Nadia." Ujar Dara.


Di pojok ruangan, seorang mahasiswa mengacungkan telunjuknya.


"Saya boleh nanya nggak nih, Bu?" Tanyanya.


"Silahkan."


"Bu Andara kok cakep banget sih Bu." Goda mahasiswa tersebut berbasa-basi.


"Emang aku cantik. Baru nyadar ya?" Gumam Dara membatin sembari berusaha menahan senyum senangnya lantaran mendapat pujian yang menyenangkan indera pendengarannya.


"Ada pertanyaan lain lagi?" Dara melempar pertanyaan pada mahasiswa tersebut.


"Bu, Bu Andara tau nggak bahasa yang membuat hati kita senang?" Pertanyaan nyeleneh mahasiswa itu, Dara sungguh enggan menjawabnya. Mahasiswa tingkat satu, tapi sudah berani menggoda dosennya. Sungguh jaman benar-benar sudah berubah. Anak muda jaman sekarang tak lagi mengenal etika dan sopan santun.


Dara menatap tak suka mahasiswa itu. Akan tetapi, mahasiswa itu justru terlihat santai sambil memasang senyum genitnya.


"Saya tidak tau bahasa apa itu. Tapi tolong, selama mengikuti kelas saya, gunakan bahasa yang baik dan benar. Tunjukkan kalau kalian benar-benar seorang mahasiswa. Ada pertanyaan lain lagi? Saya tidak mau mendengar pertanyaan tidak berbobot seperti ini lagi."


"Sok banget sih, Bu. Cuma asisten juga." Cibir mahasiswa itu tanpa sopan santun lagi.


Otomatis Dara sedikit tersinggung mendengarnya. Hati nya mulai memanas. Raut wajahnya mulai tak enak dipandang mata. Mahasiswa itu malah tersenyum-senyum dan terkesan meremehkan Dara.


Tanpa mempedulikan mahasiswa itu lagi, Dara pun memulai materinya. Sesekali Dara memutar tubuhnya memunggungi. Detik berikutnya terdengar siulan genit dari mahasiswa.


SUIT SUIT SUIT


Dara berhenti sejenak memaparkan materinya. Ia kembali memutar tubuhnya, memandangi mahasiswa itu satu per satu.


Semuanya bungkam. Membuat Dara harus menebak-nebak siapa yang bersiul dan berlaku tak sopan padanya.


Kembali Dara memutar tubuhnya memunggungi. Untuk kedua kalinya terdengar siulan genit itu.


Disaat yang bersamaan, Kai tengah berjalan melewati kelas Dara. Saat mendengar siulan itu, sontak langkah Kai terhenti. Dipandanginya kelas dengan pintu yang tertutup rapat itu.


"Tolong bersikaplah dengan sopan. Kalian ini mahasiswa. Kalian sudah dewasa. Tentu saja kalian tahu apa itu etika."


Terdengar suara Dara yang mulai emosi akan tingkah mahasiswa dalam kelas itu. Kai bisa mendengarnya dengan jelas di luar.


"Sayang sekali, kami nggak tau Bu. Barangkali Bu Andara bisa mengajari kami." Ujar salah seorang mahasiswa.


"Ha ha ha ..." Kalimat itu disambut oleh gelak tawa mahasiswa yang lain.


Dan sudah tentu, hal itu semakin memicu amarah Dara.


"Sayang sekali ini hari pertama ku. Kalau enggak, sudah aku bikin perkedel kamu." Geram Dara membatin.


"Kalian masih punya orang tua kan? Apa kalian tidak merasa kasihan dengan orang tua kalian? Saya yakin, orang tua kalian pasti sangat sedih melihat kelakuan anaknya seperti ini." Ujar Dara tak mampu menahan emosi lagi.

__ADS_1


"Tolong jangan bawa-bawa orang tua, Bu. Justru anda yang tidak punya etika lagi." Sahut seorang mahasiswa tak terima dengan ucapan Dara.


"Ha ha ha ..." Kembali terdengar gelak tawa memenuhi ruangan itu.


"Kurang ajar. Berani sekali dia mengatai ku tak punya etika." Dara kembali membatin geram.


Sementara di luar ruangan itu, Kai masih berdiri. Menyimak apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Tetapi, lama kelamaan ia merasa penasaran.


Terdorong oleh rasa penasarannya, akhirnya Kai pun memberanikan diri untuk menyaksikan langsung apa yang sedang terjadi.


Pelan Kai mendorong daun pintu itu, hanya sampai membuat sedikit cela untuk ia bisa mengintip. Diamatinya sejenak keadaan dalam kelas itu. Lalu pandangannya bergulir pada Andara yang berdiri di depan kelas dengan raut wajah menahan amarah.


Kai mengernyit. "Kucing betina?"


Kembang kempis di dada lantaran menahan amarah yang semakin membuncah. Dara masih bisa menggunakan akal sehat nya, mengingat ini adalah hari pertamanya dalam mengajar. Ia tak ingin membuat kesalahan.


Namun, kelakuan mahasiswa itu pun tak bisa ia terima begitu saja. Mahasiswa itu sudah sangat keterlaluan.


"Kamu." Dara menunjuk mahasiswa yang tak punya sopan santun itu.


"Kemari lah. Maju ke depan. Kamu mau saya mengajari kamu etika kan? Ayo, kemari. Saya akan ajari kamu apa itu etika." Tambahnya tak kuasa lagi menahan amarah.


Kai sontak mengangkat kedua alisnya, sembari bergumam, "dia cukup berani juga. Aku penasaran, seperti apa caranya menghadapi mahasiswa seperti itu."


Mahasiswa yang ditunjuk Dara tak menghiraukan. Ia masih duduk terpaku di tempatnya.


"Kamu yang ke sini atau saya yang ke situ." Ujar Dara menantang.


Mahasiswa itu pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Dara. Ditatapnya remeh Dara yang tengah menahan kesal setengah mati.


"Silahkan Bu Andara ajari saya." Ujar mahasiswa itu.


Dara menarik napas dalam. Rahangnya kian mengetat saking menahan emosi. Dara pun melangkah menghampiri meja. Lantas mengambil ponselnya dari dalam sana. Dan kembali berhadapan dengan mahasiswa tersebut.


"Beritahu saya nomor yang bisa saya hubungi." Pinta Dara sembari mulai menghidupkan ponselnya.


"Maksud anda?"


"Nomor telepon orang tua kamu. Mungkin orang tua mu harus tahu seperti apa kelakuan kamu di kampus."


Mahasiswa itu terkekeh. Ia tak menggubris permintaan Dara. Dan justru terlihat meremehkan Dara.


"Kamu menolak memberitahu saya?" Selidik Dara.


Mahasiswa itu tersenyum remeh. Disertai tatapan tak suka pada Dara.


Dara tak terima diremehkan seperti ini. Siapa pun mahasiswa itu, mau dia anak pejabat sekalipun, Dara tak peduli.


"Kamu_" ucapan Dara terpotong lantaran terdengar siara aneh dari balik pintu.


"Hatcih!"


Sontak Dara memalingkan wajahnya. "Siapa itu?"


TBC

__ADS_1


*Nama Universitasnya otor ngarang aja ya๐Ÿ™„ gak tau apa ada Universitas dengan nama itu๐Ÿ™„


__ADS_2