You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 68


__ADS_3

"Mommy ..."


Suara yang tengah memanggil itu disertai suara ketukan pintu.


Mendengarnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Serta aliran darahnya berdesir.


"Ken, my boy (putraku)?" gumam Kai dengan hati berdebar-debar.


Di kamarnya, Dara hendak turun dari tempat tidur begitu mendengar suara Ken memanggil.


"Kai, tunggu sebentar. Kayaknya Ken belum tidur. Aku tutup teleponnya ya?" Dara mulai beranjak dari tempat tidur.


"Jangan Dara. Biarkan saja. Aku ingin mendengar suaranya."


"Oke." Sembari berjalan menuju pintu.


Kai masih berusaha meminimalisir degup jantungnya saat Dara membukakan pintu kamar. Ponselnya menempel di dada agar tak terlihat oleh Ken.


Namun begitu pintu terbuka, bukan hanya Ken yang berdiri di sana. Ada Riko yang mengalihkan pandangan entah kemana.


Ken tengah menggandeng tangan Riko. Memandanginya kesal.


"Ken, ada apa sayang? Kok kamu belum tidur?" tanyanya.


"Tadi Ken haus. Bibi lupa bawain air minum ke kamar Ken. Jadi terpaksa Ken ambil sendiri," jawab Ken.


"Trus? Kok malah ke kamar Mommy?" Dara was-was. Sebab Kai tengah menyimak obrolan mereka. Ia cemas jikalau nanti Ken berkata yang bukan-bukan. Tahulah, omongan anak kecil itu hampir setara dengan orang dewasa.


"Itu dia masalahnya."


Dara sontak meninggikan alis. Apalagi kali ini? Baru saja Ken meminta agar ia dan Riko tidak berpisah. Lalu sekarang apa lagi kali ini?


Riko menunduk memandangi ujung kakinya. Seolah-olah ia tengah meminta bantuan Ken. Memasrahkan keadaan kepada anak kecil itu.


"Waktu Ken ke dapur, Ken nggak sengaja lihat Daddy tidur di sofa. Emang Mommy dan Daddy berantem ya? Kok Mommy tega biarin Daddy tidur di sofa?" papar anak kecil itu tak ubahnya orang dewasa.


Dan Dara, bagaimana reaksi Dara mendengarnya?


Tentu saja terkejut. Dan lebih terkejut lagi saat Ken kembali melanjutkan kalimatnya.


"Biarin Daddy tidur sama Mommy. Kasihan, Daddy kedinginan di luar. Banyak nyamuk lagi," sambungnya dengan wajah kesal.


Dara termangu, dengan mata dan mulut membulat.


Tuh kan? Anak kecil itu omongannya persis orang dewasa. Terkadang Dara sampai bingung bagaimana cara meladeninya. Dan hanya Riko yang selalu bisa menghadapinya.


"Ken ... Mommy ..." Dara bingung harus berkata apa. Bukan salah anak kecil itu jika ia kini berkata seperti itu. Sebab ia tidak pernah tahu kalau Mommy dan Daddy nya tidak pernah sekamar.


Dara kini menggulir pandangan kepada Riko. Yang terkesan membuang-buang muka. Berharap Riko bisa menanggulangi situasi ini.


"Daddy sama Mommy nggak berantem kan?" tanya Ken menuntut.


"Enggak, tapi ..."

__ADS_1


"Ya udah. Kalau gitu Daddy tidur sama Mommy aja."


"Ken, tapi Mommy ..." Lagi-lagi Dara bingung harus berkata apa. Jika ia tidak mengijinkan, sudah pasti Ken akan marah padanya. Dan jika ia mengijinkan, ia hanya takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan.


Astaga.


Bagaimana ini?


"Daddy, ayo masuk. Mommy udah ngijinin," titah anak kecil itu tak ubahnya orang dewasa.


Tanpa membantah, Riko masuk begitu saja. Kemudian melempar senyum pada Ken. Yang dibalas Ken dengan acungan jempolnya.


Sedangkan Dara, hanya bisa termangu. Tak percaya dengan jalan pikiran Ken.


Ia hanya bisa mendesah berat begitu Ken menutup pintunya.


"Maaf, aku nggak bisa menolak keinginan Ken." Memang ia tidak bisa membantah ucapan anak kecil itu. Karena jika tidak, mungkin ia sendiri yang akan menyesalinya nanti. Sebab ia begitu menantikan saat seperti ini. Saat-saat bisa bersama Dara, berada begitu dekat dengannya.


"Tapi kamu kan bisa cari alasan. Sejauh ini kamu yang paling bisa menghadapinya, kenapa sekarang kamu malah dikendalikan oleh Ken? Atau jangan-jangan kamu ..." Dara kesal, dan berpikir mungkin Riko ingin memanfaatkan situasi.


Ponselnya masih menempel di dada. Ponsel itu masih dalam mode on terhubung panggilan video call dengan Kai. Di seberang, Kai menyimak obrolannya.


"Iya, kamu benar. Aku nggak bisa menolak karena ini yang aku inginkan. Tidur dalam satu ranjang bersama kamu. Sudah lama aku menginginkan hal ini." Cepat Riko menyela ucapan Dara. Membuat Dara kembali termangu.


"Maaf, Dok. Tapi aku mungkin nggak akan nyaman. Kalau begitu biar aku saja yang tidur di sofa."


"Dara, berapa lama lagi kamu mau menguji kesabaranku?"


Ya ampun!


Dara mulai salah tingkah. Tidak mungkin ia mengajak Riko meributkan hal itu. Sementara sekarang ini ada orang tua mereka.


"Maaf, aku mau ke toilet dulu." Dara hendak keluar kamar saat Riko menahan pergelangan tangannya.


"Di kamar kamu juga ada toilet. Ngapain keluar kamar?" Sembari melirik ponsel Dara yang menempel di dada. Ia merasa Dara tengah menyembunyikan sesuatu.


Terpaksa Dara membawa langkah berat kakinya menuju toilet di sudut kamar. Demi melunturkan kecurigaan Riko yang berlebih.


Ia kunci rapat pintunya begitu masuk ke toilet. Ia lantas dibuat terkejut saat mendapati wajah penuh amarah Kai memenuhi layar ponselnya.


"Senang ya bisa tidur bareng?" goda Kai dengan wajah merah padam menahan emosi.


"Ssst ... Pelankan sedikit suaranya." Sembari melirik-lirik pintu kamar mandi. Lalu membuka keran air demi meredam suara obrolannya dengan Kai.


"Kenapa? Takut ketahuan? Kenapa nggak jujur aja? Kalau kamu nggak bisa, biar aku yang beritahu dia."


"Iya, aku akan jujur. Tapi bukan sekarang." Setengah berbisik Dara menyahuti ucapan Kai. Yang tampak menahan kesal di seberang sana.


"Kenapa?"


"Bukan waktu yang tepat."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Jangan tanya kenapa. Beri aku waktu."


"Atau jangan-jangan kamu mau kasih dia kesempatan biar lebih dekat dengan kamu."


"Enggak. Kamu salah. I just loving you (aku hanya mencintai kamu)."


Tampak di layar ponselnya, Kai tersenyum lebar.


"Ya udah, sekarang kamu keluar. Memangnya kamu mau tidur di kamar mandi?"


Dara malah mencebik sebal menekuk wajah cemberutnya. Membuat Kai terkekeh di seberang.


"Kamu mau aku tidur dengan dia?" godanya demi melihat Kai cemburu.


"Kamu bisa kan cari alasan?"


Dara menggeleng pelan dengan wajah cemberutnya. "Aku nggak jamin kalau aku bisa jaga diri. Kamu tahu kan dia tampan?"


"Dara, kamu ..."


Dara langsung menutup panggilan saat terdengar suara ketukan pintu. Ia tutup kerannya, lalu keluar. Dan mendapati Riko tengah berdiri di depan dengan raut wajah yang ia sendiri sulit mengartikan.


Riko menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan. Jujur, ia sangat kecewa dengan penolakan Dara. Sejauh ini ia berpikir akan mudah meraih cinta wanita itu begitu mereka berada lebih dekat.


Namun ternyata ia salah. Justru terasa jauh lebih sulit. Dara malah semakin menjauhinya.


"Dokter?" sapa Dara gugup. Cemas pun mendera. Bagaimana jika Riko mendengar obrolannya dengan Kai? Apa yang harus ia lakukan jika Riko bertanya.


Mungkinkah ini saatnya ia jujur? Agar Riko tidak salah mengartikan kedekatan mereka saat ini?


Hah, Dara. Ternyata masih sulit rasanya. Ia sungguh tak tega mengkhianati kebaikan Riko. Ia sungguh tak tega menyakiti perasaan Riko yang tulus mengasihinya. Bahkan selama lima tahun ini ia membebani pria itu.


Belum lagi, mama papa nya lebih menyukai Riko dibanding Kai. Terlebih lagi, ayahnya Riko adalah teman dekat papa nya.


Lalu ia harus bagaimana?


Keputusan yang akan ia ambil nantinya akan menyakiti banyak orang.


"Kita akan tetap tidur dalam satu kamar. Tapi nggak dalam satu ranjang. Aku akan tidur di bawah." Riko mengerti kegelisahan Dara. Ia pun tak ingin memaksa. Jika memang Dara masih membutuhkan waktu untuk bisa menerimanya, ia hanya harus lebih bersabar lagi. Mungkin dengan cara itu, lambat laun, perlahan hati Dara akan luluh. Dan sudi membalas cintanya.


"Nggak usah takut. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu," ucapnya lagi meyakinkan Dara.


Belum sempat Dara membalas ucapannya, ia sudah beranjak. Berjalan mendekati tempat tidur, mengambil selimut dan bantal. Selimut itu ia gelar di lantai sebagai alas untuk ia tidur.


Dara pun bisa bernapas lega. Lalu menyusul ke tempat tidur. Naik perlahan lalu merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Ponsel ia nonaktifkan agar Kai tidak menghubunginya.


Riko tidur membelakanginya, hingga ia hanya bisa melihat punggungnya saja. Ia tak tak tahu apakah pria itu telah tertidur.


Dara mulai memejamkan mata. Meski hati masih diselimuti cemas.


Namun ada sepasang mata yang masih belum terpejam. Sepasang mata itu menitikkan air mata. Mungkin Dara tidak mengetahui, sebetulnya Riko mendengar obrolannya di kamar mandi.


Kini ia pun tahu alasan Dara menghindarinya. Rupanya ia akan menghabiskan malam dengan perasaan hancur dan kecewa.

__ADS_1


TBC


__ADS_2