
Di dalam mobilnya, Kai berusaha menghubungi Yola, sahabat Dara. Setelah tidak berhasil menemukan Dara, Kai pun memutuskan untuk mencari Dara. Ia berpikir, mungkin Dara pergi ke rumah sahabatnya. Nomor kontak Yola ia dapat dari Beno.
"Halo, Yola. Ini aku, Kai," sapa Kai begitu telepon tersambung.
"Iya, ada apa Kai? Ada yang bisa aku bantu?" jawab Yola dari seberang.
"Aku cuma mau nanya, apa Dara datang menemui kamu?"
"Enggak. Dara nggak datang kemari. Memangnya kenapa?"
"Enggak, nggak ada apa-apa. Oh ya, bisa tolong kamu tanya sama teman kalian yang satu lagi."
"Ditha?"
"Iya, Ditha. Tolong tanyakan, apa Dara datang menemuinya. Tolong kabari aku secepatnya ya."
"Iya, iya. Akan aku tanyakan dulu. Nanti aku kabari kamu secepatnya. Tapi kalian baik-baik aja kan? Nggak lagi berantem kan?"
"Oh, enggak. Nomornya Dara susah di hubungi. Aku cuma kangen aja."
"Oooh ... Ya udah. Kalau gitu aku hubungi Ditha dulu ya?"
"Kabari aku secepatnya." Kai pun mengakhiri sambungan teleponnya.
Sebelum menghubungi Yola, sebelumnya Kai sempat menghubungi nomor Dara. Tetapi tak aktif. Berkali-kali hanya suara operator yang menyambutnya.
Dan kini, hanya tinggal satu pilihan yang akan ia lakukan untuk menemukan Dara. Setelah beberapa detik lalu Yola memberi kabar, bahwa Dara pun tidak sedang bersama Ditha.
Mungkin lain waktu ia akan kembali untuk menjenguk Ziyo. Saat ini yang terpenting baginya adalah menemukan Dara. Dan menyelesaikan masalah yang terjadi.
Untungnya Kai masih hafal alamat rumah Dara. Jadi ia tidak kesulitan menemukannya. Dan kini, Kai sedang berdiri di depan pintu rumah Dara. Yang disambut oleh Mama Maya antusias.
"Maaf, Tante. Boleh saya bertemu dengan Dara?" ijin Kai meminta.
"Dara belum pulang sejak pagi tadi. Katanya hari ini dia ngajar. Tapi sampai sekarang, dia belum pulang juga. Dia juga nggak ngabarin ada di mana sekarang," ungkap Mama Maya cemas.
Bukan hanya Mama Maya, Kai pun cemas luar biasa memikirkan Dara. Entah di mana gadis itu sekarang. Bahkan Kai sudah bertanya pada Yola dan Ditha, ke mana tempat yang sering di datangi Dara disaat-saat seperti ini. Tetapi hasilnya pun nihil. Selain kedua sahabatnya itu, tidak ada tempat lain lagi.
Kai mendesah frustasi. Ia bahkan saat ini dalam keadaan basah kuyup.
"Kamu bukannya teman Dara yang nganterin dia pulang waktu itu?" tanya Mama Maya sembari mengamati wajah Kai.
"Iya, Tante. Saya Kai."
"Oooh ... Iya, iya, bener."
"Maaf, Tante. Mungkin saya harus berterus terang. Sebenarnya saya ... Adalah pacarnya Dara." Kai pun akhirnya jujur akan hubungannya dengan Dara.
Tentu saja Mama Maya terkejut mendengarnya. Dan tak menyangka putrinya bisa berpacaran dengan pria setampan Kai. Wanita paruh baya itu pun mengulas senyum bahagianya.
__ADS_1
"Tante sudah menyangka sebelumnya. Hanya Dara saja yang nggak mau jujur. Oh ya, ngomong-ngomong kamu basah kuyup. Ayo, mari masuk dulu. Baju kamu harus di ganti. Kalau enggak, nanti kamu sakit loh. Ayo masuk."
Kai pun membawa langkah kakinya memasuki rumah itu. Mengekor di belakang Mama Maya.
"Tunggu sebentar ya, Tante ambilkan baju ganti dulu." Bergegas Mama Maya ke kamarnya.
Tak berapa lama Mama Maya kembali dengan sepasang baju ganti yang ia berikan kepada Kai.
"Ini pakaian suami saya. Memang sih ukurannya agak kecil, tapi semoga saja bisa cocok," ujar Mama Maya.
"Makasih banyak, Tante." Sembari menerima pakaian itu dengan mengulas senyum tipis.
"Ganti bajunya di kamar Dara saja. Ayo ..." Mama Maya mengambil langkah lebih dulu disusul oleh Kai.
Langkah Mama Maya terhenti di depan kamar Dara.
"Nah, ini dia kamarnya Dara. Silahkan."
Kai masih ragu masuk ke kamar itu. Ia hanya merasa malu dan tak enak hati.
"Nggak apa-apa. Masuk saja. Nanti kamu kedinginan, entar sakit. Ayo, silahkan." Mama Maya mengerti Kai mungkin malu.
Kai tak bisa menolak. Ia akui, ia kedinginan saat ini. Kalau ia tidak segera mengganti pakaiannya, bisa-bisa ia nanti jatuh sakit.
Kai pun akhirnya memilih masuk ke kamar Dara. Kamar yang berukuran kecil, namun sangat nyaman. Kamarnya tertata rapi dan bersih.
Kai hendak keluar dari kamar itu, saat tiba-tiba netranya tertumbuk pada sebuah foto yang tertata rapi di nakas kecil, di sisi tempat tidur.
Hanya sebuah foto keluarga kecil dimana ada Dara, ayah dan ibunya. Akan tetapi ada sesuatu dari foto itu yang mengusik atensinya.
Perlahan Kai mendekat, meraih foto itu. Mengamatinya dengan seksama. Berusaha mengingat bahkan mengenali seseorang yang ada dalam foto itu.
Seorang pria paruh baya yang berdiri di samping Dara, dengan Dara menggamit manja lengan pria paruh baya itu. Yang tidak lain adalah Yuda Aditama. Pria yang ia kenal setahun yang lalu setelah kecelakaan itu terjadi.
Apa yang dikatakan Joanna beberapa saat lalu di rumah sakit, mungkin saja benar. Sebab, putri Yuda Aditama yang saat itu pernah Kai temui dalam keadaan berbalutkan perban hampir di sekujur tubuhnya, itu adalah Dara.
Astaga!
Apa yang terjadi?
Mengapa bisa sampai seperti ini?
Takdir apakah ini?
Jika apa yang dikatakan Joanna benar, bahwa penyebab kecelakaan itu bukan Yuda seperti yang diberitakan, melainkan Dara lah penyebabnya. Lalu apa yang harus ia lakukan?
Kai tercengang, lalu membekap mulutnya tak percaya. Dengan tangan gemetaran, ia letakkan kembali foto itu ke tempatnya semula. Kemudian bergegas ia keluar kamar.
"Sudah selesai ganti bajunya? Tante sudah buatkan kamu teh hangat. Ayo, kita minum teh dulu. Biar badan kamu hangat, nggak bakalan masuk angin nanti," ajak Mama Maya.
__ADS_1
Namun Kai hanya membisu. Tak langsung menanggapi ajakan Mama Maya.
"Mah ... Ada tamu ya? Siapa?" Tiba-tiba Papa Yuda datang dari arah dapur.
Sontak Kai menoleh. Pandangannya langsung tertuju pada Papa Yuda. Yang seketika itu juga tertegun menatap Kai.
Sama hal nya dengan Kai, ia terdiam dan terpaku menatap Papa Yuda. Hampir saja ia berhenti bernapas saat itu juga. Terkejut dan tak percaya dengan apa yang disaksikannya saat ini.
Jadi benar, Yuda Aditama yang ia kenal ternyata adalah ayahnya Dara.
"Pah ... Kenalin, ini temannya Dara. Namanya Kai," ucap Mama Maya memperkenalkan.
"Ini suami saya. Papanya Dara," tambahnya sembari menarik lengan suaminya untuk lebih mendekat.
Entah Kai harus bersikap bagaimana saat ini. Ia sangat terkejut, tetapi tak tahu harus berbuat apa. Jujur, ia mulai meragukan kebenaran yang diketahuinya selama setahun. Omongan Joanna pun kembali terngiang di telinganya.
"Temannya Dara?" Papa Yuda memastikan.
"Iya, Pah. Teman dekat. Lebih tepatnya, pacar," tegas Mama Maya.
Papa Yuda pun terkejut mendengarnya.
Pacar?
Astaga!
Lelucon macam apa ini?
Kenapa harus pria itu yang menjadi pacarnya Dara?
Ya Tuhan!
Papa Yuda hanya bisa menghela napas panjang.
Sungguh, Kai bingung harus berkata apa. Perasaannya tak karuan saat ini. Antara cemas akan menghilangnya Dara, cemas akan keadaan Ziyo. Dan kini, satu kenyataan lain terungkap. Yang membuat perasaannya semakin tak karuan saja.
Jujur, Kai masih belum bisa melupakan kecelakaan itu.
Di lain tempat, Dara yang jatuh pingsan di bawah derasnya hujan, di temukan oleh seseorang. Dan orang itu membawanya masuk ke rumah sakit. Orang itu pun meminta bantuan suster yang bertugas untuk memberikan penanganan segera kepada Dara.
TBC
Assalamu Alaikum🙏
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga reader diberi kesehatan biar puasanya lancar☺️
Salam hangat dari...
Otor Kawe😘
__ADS_1