
Seketika ada perasaan aneh yang menghinggapi hati Dara. Bukan hanya tertegun mendengar permintaan maaf Kai tiba-tiba. Bahkan Dara terdiam. Tak tahu harus berkata apa.
Dalam sekejap, dalam kurun waktu yang singkat, Kai mampu mencuri perhatiannya. Yang semula hatinya begitu menggebu-gebu lantaran keinginannya untuk membalas sakit hatinya pada Kai, kini tergantikan dengan perasaan aneh yang justru membuat hatinya berbunga-bunga.
"Sorry, i have troubled you (maaf, aku sudah bikin kamu susah)." Ucap Kai tulus sekali lagi.
"Emm ... Nggak apa-apa." Sahut Dara lirih. Disertai senyum tipisnya. Entah kenapa, mendadak ia merasa canggung.
"Jujur, sebenarnya aku jadi nggak enak sama kamu. Karena aku, hari-hari mu jadi sulit."
"Ah enggak kok. Beneran nggak apa-apa. Baru dua hari juga. Justru aku sudah terbiasa. Dan aku malah ingin berterima kasih sama kamu. Karena kamu, aku jadi tahu seperti apa repot nya Mama di rumah. Yang setiap harinya harus mencuci piring."
"Oh ya?"
Dara mengangguk mantap. "Ternyata, jadi ibu rumah tangga itu nggak mudah ya?"
Kai pun terkekeh mendengar ucapan Dara. Namun seketika ia malah teringat pada Joanna. Sang mantan kekasih yang harus menyandang status janda di usia pernikahannya yang masih seumur jagung.
"Ada apa?" Tanya Dara bingung. Sebab dilihatnya mendadak Kai tampak murung.
"Nggak ada apa-apa. Oh ya, piring kotornya malah makin numpuk nih. Kamu istirahat saja, biar aku yang menyelesaikan ini."
"Nggak usah, biar aku aja. Aku bisa kok."
"Aku tau kamu capek. Kelihatan tuh dari muka kamu."
"Gimana kalau aku bantuin kamu aja. Kamu yang cuci, aku yang mengelap nya. Gimana?"
"Ya sudah."
Kai pun mulai mengerjakan pekerjaan nya. Setiap piring yang telah selesai di cuci, Dara mengeringkannya dengan kain lap. Sambil sesekali ia melirik Kai yang tampak serius mencuci piring.
Sekali lagi, entah kenapa, menatap paras Kai menimbulkan debaran aneh di dadanya. Tanpa sebab, tanpa alasan, hatinya begitu berbunga-bunga jika menatap Kai. Dan entah kenapa, mendadak ia diserang rasa gugup. Bahkan hati kecilnya seakan menolak jika Kai menjauh darinya.
Berada di dekat Kai membuat Dara seakan lupa segalanya. Dan serasa tak ingin jauh sedikit pun. Entah ini perasaan aneh apa, Dara sungguh tak mengerti.
Yang ia tahu, perasaan ini datang begitu saja. Tanpa ia menginginkannya. Tanpa ia mampu mengendalikan.
Dara masih mencuri-curi pandang pada Kai yang tampak tak terusik. Dengan telaten, Kai menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu singkat. Lalu menoleh, menatap Dara.
Tanpa terduga, tatapan keduanya saling bertemu. Saat Dara kembali mencuri pandang. Hingga membuat Dara salah tingkah. Bahkan piring yang sedang ia keringkan hampir saja terlepas dari tangannya.
"Hati-hati." Ujar Kai.
Dara tersenyum kikuk. Malu ketahuan sering mencuri pandang Kai.
__ADS_1
"Kamu capek? Biar aku selesaikan. Kamu istirahat saja. Udah selesai juga kan?" Titah Kai. Dan langsung dipatuhi Dara. Tanpa bantahan apapun lagi. Dan Kai pun melanjutkan pekerjaan Dara yang ia tinggalkan.
.
.
Dara dan Kai melangkah bersama menuju tempat parkir. Tugas mencuci piring telah mereka selesaikan sebelum jam tutup kafe itu. Dan kini, mereka bisa pulang lebih awal.
"Makasih ya kamu sudah menolong ku di kampus tadi. Dan makasih juga kamu sudah membantu ku mencuci piring." Ucap Dara sungkan dan malu-malu sambil melangkah menuju mobilnya yang terparkir tak jauh.
Kai menghentikan langkahnya sejenak. Begitupun Dara. Dipandanginya Kai sesaat. Lalu cepat ia menundukkan wajahnya, lantaran jantungnya yang mendadak berdebar aneh.
"Oh ya, kita sudah beberapa kali bertemu. Tapi kita nggak saling kenal satu sama lain." Ujar Kai, lalu mengulurkan tangannya.
Dara yang tertunduk grogi pun mengangkat wajahnya. Ditatapnya sejenak tangan Kai yang terulur di depan wajahnya, lalu tatapannya bergulir pada Kai yang menatapnya intens.
"Boleh aku tahu nama mu?" Tanya Kai.
Dara menelan saliva nya dalam-dalam. Perlahan tangan kanannya pun mulai terangkat. Hendak menyambut uluran tangan Kai. Tetapi mendadak ia grogi dan gugup luar biasa.
Entah kenapa.
Alhasil, Dara malah menatap bengong tangan Kai.
"Aku Kaivan. Panggil saja Kai." Ujar Kai mendahului.
"Andara. Panggil saja Dara." Ucap Dara.
Setelah saling menyebutkan nama, Kai pun melepas genggaman tangannya. Lalu mengamati tampilan Dara yang mengenakan sandal jepit. Sementara heels nya ia tenteng di tangan kirinya.
Pakaian Dara yang terlalu ketat sedikit mengganggu penglihatan Kai. Hingga Kai pun tanpa berpikir panjang lagi melepas jaket yang ia kenakan. Lantas memakaikan jaket pada Dara. Untuk menutupi tubuh bagian atas nya yang terlalu kentara.
Dara pun tersipu malu menerima perhatian Kai. Wajah putih nya kini bersemu merah. Ia tundukkan wajahnya dalam-dalam. Tak ingin Kai melihat rona wajahnya.
"Sorry, bukannya aku lancang. Tapi, menurut ku kamu membutuhkan jaket itu sekarang." Terang Kai agar Dara tidak salah mengartikan sikap nya.
Dara menganggukkan kepalanya. Masih dengan wajah tertunduk malu.
"Makasih." Ucap Dara singkat.
"Sorry, are you a lecturer (maaf, apa kamu dosen)?" Tanya Kai santun.
Dara menggeleng pelan. "Aku hanya Asisten Dosen."
"Maaf sekali lagi. Aku nggak bermaksud meremehkan atau pun menyinggung kamu. I admit you are beautiful (aku akui kamu cantik). Tapi akan jauh lebih cantik lagi jika kamu berpakaian yang santun."
__ADS_1
Dara terhenyak. Lalu mengangkat wajahnya, menatap Kai yang menatapnya dengan seksama. Detik berikutnya Kai mengulum senyum manisnya. Membuat Dara semakin berdebar-debar.
"Seorang wanita tidak harus tampil seksi agar terlihat cantik dan menarik." Tambah Kai.
Dan ucapan Kai kali ini justru membuat Dara malu. Lantas menurunkan pandangannya. Memandangi tampilannya sendiri yang berbalutkan busana ketat dari atas hingga ke bawah.
"Aku nggak bermaksud menyinggung kamu. Aku hanya mengingatkan kamu, agar hal seperti tadi di kampus nggak akan terulang lagi. Jujur, aku cemas jika hal seperti tadi terjadi lagi sama kamu." Terang Kai.
Dara mengangguk pelan. Lalu kembali mengangkat wajahnya, memandangi Kai.
"Aku ngerti kok. Makasih sudah mengingatkan aku." Ucap Dara.
Kai mengulum senyum manisnya. Hingga membuat Dara tertegun menatapnya. Bahkan untuk kesekian kalinya ia dibuat terpesona akan sikap Kai.
"Syukurlah kamu mengerti maksudku. Tapi menurut aku, kamu tampil seperti apa pun, akan tetap terlihat cantik."
Entah Kai sedang menyindir atau memujinya saat ini, Dara sungguh senang mendengarnya. Seperti ada angin segar yang menerpa hatinya tiba-tiba. Wajah nya pun semakin bersemu merah. Bak tomat matang yang siap dipetik.
Oh God.
Perasaan apa ini?
Degup jantung Dara terasa dua kali lebih cepat.
Degup jantung itu bahkan berdetak berkali-kali lipat lebih cepat, saat tanpa sengaja ada seseorang yang berjalan terburu-buru dan tanpa sengaja menyenggol Dara kuat. Hingga Dara tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.
Alhasil, Dara pun terjatuh membentur dada bidang Kai. Dan Kai pun, refleks mendekap tubuh Dara.
Dug Dug Dug
Oh my God.
Dara dibuat semakin gugup jadinya. Degup jantungnya pun semakin gaduh. Bahkan mungkin ia gemetaran saat ini.
Berada dalam dekapan Kai, entah mengapa terasa begitu nyaman. Ingin rasanya Dara membalas dekapan itu dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Kai. Tapi mungkin, hal itu hanya akan menjadi angannya saja.
Please, someone tell me. Am i in love? (Tolong, seseorang katakan padaku. Apakah aku jatuh cinta)?
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Kai menurunkan pandangannya.
Dara pun menaikkan pandangannya, menatap sepasang mata teduh Kai. Meresapi setiap rasa yang merasuki setiap aliran darahnya. Hingga tanpa sadar ia berucap,
"Ya Tuhan, lama-lama aku bisa gila."
"Apa?" Kai terkejut mendengar ucapan Dara tanpa sadar.
__ADS_1
TBC