
Di bandara kota A.
Papa Yuda dan Mama Maya hendak naik taksi yang sudah mereka pesan melalui aplikasi begitu mereka menginjakkan kaki di bandara kota ini, harus urung sejenak saat terdengar suara sapaan seseorang. Seseorang yang audah sangat mereka kenal.
"Yuda."
Suami istri itu menoleh ke arah sumber suara. Dan ternyata Dokter Rudi yang datang menyapa. Mereka mengira dokter Rudi sudah lebih dulu meninggalkan bandara.
"Dokter Rudi? Saya pikir Dokter sudah pulang lebih dulu." Mama Maya sebenarnya merasa kurang enak hati dikarenakan putrinya yang masih saja menyusahkan Riko, putra bungsu Dokter Rudi.
Dokter Rudi mengulum senyum.
"Sebenarnya saya sudah di jemput. Tapi ada hal yang harus saya sampaikan lebih dulu. Nggak enak rasanya kalau hanya melalui sambungan telepon. Mumpung kita masih di sini, ya ... meskipun sebenarnya tempatnya kurang tepat."
"Wah ... kira-kira, apa yang bisa kami bantu Rud?" tanya Papa Danu.
"Saya hanya ingin menyampaikan keinginan saya pribadi saja. Kalau bisa, pernikahan Riko dan Dara dipercepat saja. Sebelum kabar tentang hubungan mereka yang sebenarnya tersebar.
Kalian sendiri kan tau, di kota itu mereka sudah cukup memiliki nama yang baik. Belum lagi orang-orang mengenal mereka sebagai sepasang suami istri. Bukankah nggak baik kita sebagai orang tua membiarkan hal itu terjadi berlarut-larut? Bukankah lebih baik, secepatnya kita nikahkan saja mereka?" Panjang lebar Dokter Rudi mengutarakan niatnya. Yang diangguki paham oleh Papa Yuda dan Mama Maya.
"Iya. Kamu benar Rud. Lebih cepat lebih baik. Sebelum semuanya terlambat," ucap Papa Yuda.
"Iya. Apalagi mereka sudah lima tahun tinggal bersama. Nggak mungkin kalau mereka belum memiliki ketertarikan. Waktu lima tahun bersama, saya rasa cukup untuk mereka saling mengenal satu sama lain." Mama Maya ikut menimpali.
"Syukurlah kalau kalian setuju. Untuk masalah persiapan pernikahannya, biar keluarga saya yang mengaturnya." Dokter Rudi sangat berantusias.
"Loh, kok, malah jadi merepotkan Dokter?"
"Nggak apa-apa Bu Maya. Hitung-hitung, biar anak saya nggak kelamaan menjomblo nya. Nanti malah nggak laku-laku dan jadi bujang lapuk lagi."
Celotehan Dokter Rudi membuat mereka tergelak. Obrolan singkat itu pun tanpa disangka menemukan kesepakatan. Yaitu, pernikahan mereka akan digelar seminggu lagi.
Di dalam taksi yang mereka tumpangi, Mama Maya berusaha menghubungi Dara atas desakan Papa Yuda. Yang sudah tidak sabar lagi ingin segera melihat sang putri menikah. Mengingat status sang putri yang memiliki seorang anak di luar pernikahan.
Yang sudah pasti akan menimbulkan berbagai macam pandangan terhadap Dara. Dan sudah tentu akan merusak nama baik keluarga. Jadi alangkah lebih baik, jika Dara secepatnya menyandang status ISTRI.
"Udah di jawab belum Mah?" tanya Papa Yuda tak sabaran.
"Belum, Pah." Sekali lagi Mama Maya berusaha menghubungi ponsel Dara.
"Udah tersambung?"
"Sabar, Pah. Mungkin Dara sibuk."
__________
"Om. Om mau nggak menolong Ken?" pinta anak kecil itu memelas.
"Om akan bantu Ken, apapun itu. Memangnya Ken butuh bantuan apa?"
"Tolong bantu Ken mencari Daddy kandung Ken."
Kai terkesima mendengar permintaan Ken. Yang sukses membuat aliran darahnya berdesir. Ia pun merasa terharu. Ternyata Dara membesarkan putranya dengan baik. Anak kecil seumuran Ken, sudah bisa mengerti hal-hal yang hanya dipahami oleh orang dewasa saja.
__ADS_1
Tetapi anak kecil ini, memiliki pemikiran yang hampir setara dengan orang dewasa.
Kai sungguh ingin, memberitahu Ken secara langsung, bahwa dirinya adalah Daddy kandungnya. Namun, jika ia mengatakan hal itu sekarang, kira-kira akan seperti apa reaksi Ken nanti?
Mungkinkah ini adalah waktu yang tepat?
"Ken. Maafkan Daddy sayang. Ayo, kita bicara sebentar. Daddy ingin mengatakan sesuatu pada Ken," rayu Riko demi meraih kembali perhatian Ken. Sembari lebih mendekat, perlahan.
"Nggak mau. Daddy udah bohongin Ken. Bukannya tadi Daddy bilang ke Mommy, kalau Ken bukan anak kandung Daddy." Ken bersikukuh dengan apa yang diinginkannya saat ini. Yaitu mencari Daddy kandungnya.
"Ken salah paham. Maksud Daddy bukan seperti itu."
"Ken, ikut Mommy sayang. Mommy mau bicara sama Ken." Dara merayu agar Ken ikut bersamanya. Anak kecil itu memang sudah seharusnya mengetahui siapa ayah kandungnya. Tetapi bukan seperti ini caranya.
"Nggak mau. Mommy jahat. Mommy juga udah bohongin Ken." Ken tetap saja kekeh.
Seperti itulah Ken. Yang sedikit mewarisi sifat keras kepala Mommy nya. Bahkan Kai sedikit kewalahan dengan sifat Dara yang satu itu. Jika sudah seperti ini, lalu siapa yang bisa membujuk anak kecil itu?
"Dara, Ken sama seperti kamu. Keras kepala. Lebih baik, biarkan saja dia ingin mencari Daddy kandungnya." Kai mencoba menawarkan solusi.
Lalu bagaimana tanggapan Dara?
Menyetujuinya?
Atau malah Dara sendiri yang akan menolak keinginan Ken?
Dara belum menanggapi ucapan Kai. Diliriknya Riko yang berwajah muram. Sedih, bahkan kecewa atas apa yang ia terima hari ini.
Sedih ternyata kasih sayang yang ia curahkan selama ini tak kan bisa terganti oleh ikatan darah.
Meskipun ia sudah berusaha menjadi ayah yang baik, tetap saja sosok seorang ayah kandung tak bisa tergantikan.
Lalu apakah ia harus mengalah?
Bersabar menerima kenyataan yang tak seperti harapannya?
Lima tahun sudah ia telah bersabar. Lalu berapa lama lagi ia harus bersabar?
Haruskah sampai batas kesabarannya tergerus waktu?
Tidak!
Ia tidak mau usahanya selama lima tahun ini berakhir sia-sia. Biarkan kali ini ia menjadi egois. Dara dan Ken, tidak akan pernah ia biarkan pergi dari hidupnya.
"Ken adalah putraku. Keinginan Ken nggak akan mendapatkan ijin dariku. Aku ayahnya." Kali ini Riko tidak akan tinggal diam. Cukup sudah kesabarannya dipermainkan seperti ini.
"Ken. Dengarkan Daddy. Ayo masuk." Riko tidak bisa melihat Kai mengambil alih Ken darinya nanti. Ia yang telah merawat dan membesarkan Ken. Jadi, ia lah yang berhak atas Ken.
"Nggak. Ken nggak mau." Ken masih saja membantah.
"Ken. Daddy minta sekali lagi, sebelum kesabaran Daddy habis. Ayo masuk."
"Nggak mau. Ken mau ikut Om."
__ADS_1
"Om itu orang jahat. Ken sudah lupa apa kata Daddy. Orang asing itu nggak semuanya baik. Bisa saja mereka punya niat jahat. Nggak terkecuali Om itu." Entah apa yang ada dalam benak Riko saat ini. Ia merasakan kekecewaan yang mendalam. Ia hanya tak ingin kehilangan dua orang yang berharga dalam hidupnya.
"Dok, tolong jangan berkata seperti itu pada Ken." Dara pun tak bisa membiarkan Riko mendoktrin pikiran Ken tentang orang asing. Terlebih orang asing itu adalah Kai. Ayah kandung Ken.
"Aku hanya memberi dia pengertian. Nggak semua orang asing yang dia temui itu berniat baik, Dara."
"Iya, tapi nggak di depan Kai. Kamu tau sendiri kan, kalau Kai itu..."
"Siapapun orang itu, Dara. Nggak terkecuali. Siapapun orang yang Ken temui selain kita, itu adalah orang asing. Dan Ken nggak boleh terlalu dekat dengan sembarang orang. Mengerti?" Riko menyela cepat ucapan Dara. Sebelum Dara khilaf dan mengatakan yang sebenarnya.
"Tapi, Dok..."
"Nggak ada tapi-tapian Dara."
"Aku rasa kamu harus tau batasanmu, Dokter." Amarah Kai mulai terpancing. Tapi ia masih bisa menguasai, mengingat ia hanyalah seorang tamu di rumah ini.
"Batasan? Batasan yang mana. Bukannya kamu yang seharusnya tahu batasanmu di mana? Kamu sendiri yang sudah menyia-nyiakan mereka. Disaat mereka sudah punya kehidupan yang layak, disaat mereka sudah bahagia bersamaku, untuk apa kamu datang mengusiknya? Seharusnya kamu berterima kasih padaku.
Karena aku, nama baik mereka terselamatkan. Karena aku harga diri Dara sebagai seorang wanita terselamatkan. Bukankah aku pantas mendapatkan ucapan terima kasih dari kamu?"
Oh, ya ampun! Situasi seperti apa ini?
Wajar jika Riko marah. Sebab ia terlampau kecewa. Kebaikannya malah dikhianati seperti ini. Oleh wanita yang ia cintai.
"Hanya terjadi kesalahpahaman diantara kami. Dan kamu nggak berhak ikut campur," ucap Kai.
Riko menghela napas panjang. Kesabarannya sedang diuji saat ini. Dan ia tidak boleh menyerah.
"Ken, sini sayang. Ikut Mommy. Mommy akan beritahu semuanya sama Ken." Sekali lagi Dara merayu. Tetapi bagaimana Ken merespon rayuan Mommy nya?
"Tentang siapa Daddy kandung Ken?" Ken tidak mudah dirayu.
Dara mengangguk. "Iya. Akan Mommy beritahu siapa Daddy nya Ken." Mungkin hanya dengan cara seperti ini Ken akan menurutinya.
Dara mengambil langkah mendekat. Diraihnya lengan Ken. Bermaksud membawa Ken masuk ke dalam. Tidak seharusnya anak kecil seperti Ken berada di situasi seperti ini.
Namun, belum sempat Dara membawa Ken masuk. Dengan cepat Kai menahan pergelangan tangan Dara.
"Biarkan Ken ikut bersamaku, Dara," pinta Kai. Menatap tajam Dara. Entah sampai kapan Dara akan terus menghindar. Tidak pernah mau mengabulkan permintaannya.
"Kai, tolong pahamilah situasi ini. Aku tau apa yang kamu rasakan. Aku tau apa yang kamu inginkan. Tapi, tolong, jangan sekarang. Ini terlalu mendadak bagi Ken."
"Ini sudah waktunya Dara."
"Kai, please (aku mohon)." Dara kembali hendak membawa Ken masuk. Membuat Kai berada di ambang batas kesabarannya.
"Sampai kapan Dara. Sudah saatnya Ken tahu, kalau aku ini ayah kandungnya." Kai tak bisa bersabar lagi. Hingga lidahnya tergelincir dan mengatakan yang sesungguhnya.
Lalu bagaimana reaksi Ken mendengarnya?
TBC
Pelan-pelan aja menuju ending ya☺️
__ADS_1