You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 55


__ADS_3

"Kai?" panggil Dara dengan mata mulai berkaca-kaca.


Kai yang tengah berciuman mesra dengan Joanna pun terkejut mendengar suara Dara yang memanggil namanya. Cepat ia menoleh. Dan mendapati Dara tengah berdiri dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Dara?"


Sontak Kai mendorong pelan tubuh Joanna yang nyaris menempel. Rangkulan Joanna di pundaknya pun otomatis terlepas.


Sungguh perih hati Dara menyaksikan pemandangan itu dengan mata kepalanya sendiri. Terlebih jika melihat beberapa kancing baju Joanna yang terbuka di bagian atasnya.


Dara tahu betul apa yang akan terjadi jika ia tidak datang ke rumah ini. Sudah pasti aktifitas panas mereka berdua akan berakhir di tempat yang seharusnya.


Dara tertawa perih disertai buliran air mata yang tak terbendung lagi.


Astaga!


Dara hanya tak menyangka, Kai sungguh tega melakukan ini. Lantas kemana janji-janji manis yang pernah dia ucapkan dulu?


Kai membawa langkahnya pelan menghampiri Dara yang berdiri bagai orang tak waras. Tertawa-tawa sambil berderai air mata.


Sementara Joanna, memperhatikan tanpa ekspresi. Seakan pemandangan ini sedikitpun tidak menarik di matanya.


"Dara, kamu..." ucap Kai. Tetapi terhenti, lantaran Dara menyelanya cepat.


"Ternyata selama ini aku salah menilai kamu. Kamu sama saja dengan laki-laki lain di luaran sana," sela Dara dengan amarah menggunung yang tertahan. Sembari menyusut hidung dan menyeka air matanya.


"Kamu salah paham, Dara. Aku..."


"Salah paham kamu bilang? Salah paham gimana, orang jelas aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kamu sedang..." Dara kembali menyela, tetapi tak sanggup menuntaskan kalimatnya.


"Kai, kamu itu ternyata kamu adalah laki-laki paling bejat yang pernah aku kenal. Kamu brengsek." Cepat Dara memutar tubuhnya setelah mengumpat Kai. Ia lantas mengayunkan langkahnya cepat meninggalkan Kai. Rasanya tak sanggup lagi ia berlama-lama di rumah itu.


"Dara ..." panggil Kai demi menghentikan langkah Dara.


Dara tak menghiraukan Kai. Ia malah semakin mempercepat langkahnya ingin keluar dari rumah itu.


Tak ingin kehilangan Dara, bergegas Kai menyusul langkah Dara. Secepat apapun Dara mengayunkan langkahnya, Kai masih bisa menyusulnya.


Kai menarik kasar pergelangan tangan Dara. Hingga langkah Dara pun otomatis terhenti. Tepat di ambang pintu rumah itu.


"Lepasin!" pekik Dara kencang, menghempas kasar cengkeraman tangan Kai.


"Dengerin aku dulu," pekik Kai pula.


"Apa yang harus aku dengar dari kamu."


"Banyak. Banyak hal yang harus kamu tau."


"Soal banyaknya kebohongan kamu?"

__ADS_1


"Dara, kamu..."


"Trus, yang aku lihat tadi itu apa? Oh, apa jangan-jangan kamu berniat kembali sama perempuan itu? Apalagi setelah kamu tau kalau kamu punya anak dari dia? Baj*ngan kamu."


"Memangnya kenapa? Kenapa kalau aku balikan lagi dengan Joanna?" tantang Kai tak bisa menahan emosi lagi.


"Apa kalian juga berencana untuk menikah?"


"So why (memangnya kenapa)?"


Dara terdiam. Apa yang ingin ia ucapkan serasa tercekat di kerongkongan. Lalu kemudian tertelan begitu saja tanpa sempat ia ucapkan. Dan berganti dengan rasa perih yang serasa meremas jantung.


"Lagian, selama sebulan ini kamu ke mana? Bukannya kamu sendiri yang selalu menghindari aku? Itu artinya kamu ingin hubungan kita berakhir. Trus kenapa kalau aku kembali pada Joanna?" sambung Kai dengan emosi menggunung.


Astaga!


Belum pernah Dara melihat Kai dalam keadaan marah seperti ini. Ini bahkan di luar batas amarahnya. Dara sampai tertegun melihat kilatan api amarah dalam sorot mata Kai yang kian menajam.


"Aku menyesal kenal kamu, Kai. Aku sungguh menyesal. Ternyata kamu laki-laki yang tidak bertanggung jawab." Dara benar-benar sudah tak tahan lagi.


"Lalu kamu sendiri? Mana tanggung jawab kamu setelah membunuh keluargaku?" Kalimat itu, entah kenapa terlontar begitu saja dari mulutnya tanpa mampu ia cegah. Kalimat yang sukses melukai hati Dara semakin dalam. Dan Kai baru menyadari setelah kalimat itu terucap.


"Me ... Membunuh? Ja ... Jadi kamu menganggap aku pembunuh?" Dara bahkan sampai tergagap. Saking terkejutnya.


Dan ternyata inilah pandangan Kai terhadapnya. Tidak lain dari seorang pembunuh.


Astaga!


Kata PEMBUNUH begitu menikam jantungnya dalam. Hingga serasa jantung itu berhenti berdetak. Sekujur tubuhnya pun bahkan terasa lemas.


Tak sepatah kata pun mampu ia ucapkan saat ini. Hanya derai air matanya yang serasa berbicara. Betapa ia kecewa, betapa ia sakit, sungguh sakit. Dianggap pembunuh oleh pria yang ia cintai, sungguh membuat hatinya perih, berdarah-darah.


Sungguh tega!


"Dara ..." panggil Kai lirih. Rasa sesal telat menghampiri. Dara telah terlanjur terluka dalam. Belum sembuh luka akan pengkhianatan Kai, kini pria itu kembali menorehkan luka yang sama. Sama-sama menyakitkan.


"Seandainya Tuhan mengabulkan permintaanku. Aku ingin Tuhan mengambil nyawaku saat itu. Kalau saja aku tau, suatu hari aku akan bertemu denganmu," bergetar bibir Dara berucap. Berdesir perih dalam darahnya. Sungguh ia tak tahu harus berkata apa lagi.


Kai mengharapkan tanggung jawab Dara atas kematian seluruh keluarganya. Lantas, tanggung jawab seperti apa yang diinginkan Kai darinya?


"Baik. Aku akan bertanggung jawab. Kamu mau aku melakukan apa? Kamu mau aku mendekam di penjara? Silahkan!" tambahnya sembari menyeka air matanya.


"Dara, dengerin dulu. Aku..."


"Cukup!" sela Dara cepat. Ia kemudian mengambil secarik kertas kecil hasil USG dari dalam tas kecilnya.


"Mulai sekarang, jangan pernah mencariku lagi. Aku muak bertemu dengan kamu. Silahkan jalani kehidupan kamu yang baru. Aku doakan, semoga kamu bahagia. Sampaikan salamku untuk calon istri kamu." Dara meraih tangan kanan Kai. Ia letakkan secarik kertas itu di telapak tangan Kai yang terbuka. Kemudian cepat ia membawa langkahnya meninggalkan rumah itu.


Kali ini, entah kenapa Kai tak mengejar Dara lagi. Dipandanginya secarik kertas dalam genggaman dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


Tangan Kai gemetaran memegang secarik kertas itu. Secarik kertas yang membuatnya bingung bahkan penasaran.


"Kai?" Joanna datang menghampiri. Diambilnya kertas itu dari tangan Kai.


"Gadis itu sedang hamil?" gumam Joanna tak percaya. Ia tentu tahu betul kertas itu. Kertas yang menunjukkan hasil USG.


"Apa? Hamil?" Kai tersentak kaget. Detak jantungnya semakin kencang. Ia kini baru menyadari, mungkin kedatangan Dara adalah untuk memberitahu soal kehamilannya. Kai sungguh menyesal membiarkan gadis itu pergi begitu saja.


Tanpa berpikir panjang lagi, Kai berlari keluar pagar, hendak menyusul Dara. Berharap gadis itu belum pergi terlalu jauh.


"Kai, kamu mau ke mana?" teriak Joanna kencang. Yang jelas tak mendapat sahutan dari Kai.


Kai terengah-engah menyusuri jalanan mencari-cari keberadaan Dara. Namun gadis itu, menghilang dalam sekejap mata.


"Dara, maafkan aku Dara. Aku menyesal. Aku sungguh menyesal sudah menyakiti kamu." Kai hanya bisa menyesali apa yang sudah terjadi.


.


.


Sementara Kai merutuki kebodohannya dan menyesali perbuatannya. Dara kini menangis tersedu-sedu dalam taksi yang ditumpanginya.


"Ke mana, Neng?" tanya supir taksi.


"Nggak tau, Pak."


"Loh, gimana sih Neng. Kalau Neng nggak punya tujuan, kenapa malah naik taksi Neng? Kenapa nggak jalan kaki aja?" keluh supir taksi.


"Sebentar, Pak." Dara mengambil ponsel dari dalam tas. Mencari-cari siapa kira-kira yang bisa ia hubungi. Yola dan Ditha tidak mungkin. Kai sudah pasti akan mencarinya di tempat Yola dan Ditha. Apalagi Yola adalah pacar Beno, sahabat Kai.


Lama mencari, hingga akhirnya jemari Dara berhenti menggulir layar ponsel saat tatapannya terpaku pada satu nama.


"Halo?" sapa seseorang dari seberang saat panggilan tersambung.


Dara terisak begitu mendengar suara itu. Suara berat namun teduh, serasa menenangkannya.


"Dara?" sapa orang itu lagi, menerka dari suara yang tak asing lagi.


"Biarkan kali ini aku menjadi Elsa," ucap Dara di sela isak tangisnya.


"Dara, kamu kenapa?"


"Aku ingin ikut dengan mu," ucap Dara tanpa basa-basi lagi. Membuat orang itu terdiam. Hanya helaan napasnya yang kini terdengar.


"Tolong biarkan aku ikut denganmu," pinta Dara dalam tangisnya.


"Apa kamu serius?"


Dara mengangguk, meski orang itu tidak melihatnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2