
Karena terbawa perasaan, entah kenapa langkah kaki Dara justru terhenti di tempat yang tak seharusnya. Hati malah merasa tenang pada seseorang yang tidak sepantasnya.
Bukan orang itu, melainkan ia sendiri lah yang merasa tidak pantas mendatangi orang itu.
Riko.
Pria tampan yang satu ini, entah mengapa tak bisa menolak jika Dara membutuhkan bantuannya saat Dara berkata ingin ikut bersamanya. Hatinya tak menolak, meski ia tahu, mungkin saja gadis itu hanya bercanda. Atau mungkin saja karena kebimbangan. Hingga tak menyadari ucapannya.
Dara tengah duduk dengan wajah tertunduk malu di sofa ruang tamu rumah Riko. Betapa ia malu, tanpa berpikir panjang mendatangi pria itu di rumahnya.
Riko yang tengah beberes untuk persiapannya berangkat keluar kota petang nanti pun tak bisa mengabaikan Dara. Terlebih lagi di keadaan Dara yang terluka seperti ini. Tak tega rasanya jika ia biarkan gadis itu menanggung kesedihannya sendiri. Setidaknya ia bisa jadi teman berbagi.
"Silahkan diminum dulu tehnya. Keburu dingin," ucap Riko yang duduk di depan Dara.
"Makasih." Kemudian meraih cangkir teh itu. Menyeruputnya dalam keadaan hangat memang nikmat. Diletakkannya kembali cangkir teh itu setelah merasa cukup.
Riko memandangi Dara yang masih setia menunduk. Jika boleh jujur, ia cemas melihat keadaan Dara yang tampak kacau. Entah apa yang dialami gadis itu, hingga tanpa berpikir panjang ingin ikut bersamanya keluar kota.
"Maaf, sekali lagi aku merepotkan kamu," ucap Dara akhirnya setelah beberapa saat bungkam. Malu mengutarakan niatnya. Apa yang sempat terucap dari bibirnya, sejujurnya ia bersungguh-sungguh.
"Den Riko, semua barangnya Den Riko sudah siap." Seorang asisten rumah tangga datang mengagetkan Riko.
"Oh iya. Makasih ya Bi?" ucap Riko.
"Mau saya pesankan taksi sekalian buat ngantar Den Riko ke Bandara?"
"Nggak usah, Bi. Biar saya pesan sendiri."
Asisten rumah tangga itu pun bergegas kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Kamu udah mau pergi sekarang?" tanya Dara.
"Empat jam lagi. Kenapa?"
"Aku..." Dara malu mengutarakan kembali niatnya yang sempat terucap beberapa saat lalu.
"Kamu ingin menghindari masalah lagi? Kamu serius?" tanya Riko memastikan kalau gadis itu tidak sekedar bercanda.
Dara mengangguk. "Aku ingin ikut bersama mu, kemanapun kamu pergi."
Riko diam sejenak. Menelisik raut wajah Dara yang jelas menampakkan keseriusannya.
"Dara, aku hanya bercanda menawari kamu. Aku nggak serius."
"Tapi aku mau. Tolong, ijinkan aku ikut dengan kamu."
"Tapi Dara..."
"Please (aku mohon)."
Riko menghela napas panjang. Hati mengijinkan, namun akal sehatnya menolak. Bagaimana bisa ia membawa serta anak gadis orang. Apalagi ia pergi bukan untuk waktu yang singkat. Kepergiannya bisa saja memakan waktu hingga bertahun-tahun lamanya karena tugas.
"Orang tua kamu sudah tau tentang ini?" tanya Riko memastikan.
Dara menggeleng. "Belum. Aku belum memberitahu mereka."
"Ya ampun Dara. Apa kamu sudah gila? Kamu ingin ikut dengan pria asing?"
__ADS_1
"Aku kenal kamu dan kamu juga udah kenal aku kan? Jadi kamu bukan orang asing lagi."
Riko kembali menghela napas panjang. Ia sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran Dara kali ini.
.
.
Sementara di lain tempat.
Setelah tidak berhasil menyusul Dara, bahkan kehilangan jejak gadis itu. Kini Kai berniat hendak mencari keberadaan Dara dimanapun dan kemanapun. Di semua tempat yang mungkin dia datangi.
Kai terburu-buru mengenakan jaket. Membawa langkahnya tergesa-gesa tanpa mempedulikan Joanna yang terus berusaha menghentikannya.
"Kai, kamu mau ke mana?" tanya Joanna demi mencegah kepergian Kai.
"Aku harus mencari Dara. Aku harus bertemu dengannya."
"Tapi, Kai. Bukannya Dara sendiri yang selalu menghindari kamu? Artinya dia nggak mau lagi bertemu dengan kamu. Buat apa sih ngejar orang yang udah nggak menginginkan kamu lagi," cecar Joanna tanpa henti. Tak peduli perasaan Kai saat ini. Yang didera penyesalan. Hingga ketakutan mulai menghantui. Takut kehilangan Dara dan calon bayinya.
Ya.
Kai sungguh takut kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya. Terlepas dari masa lalu, tak bisa ia menampik, Dara sungguh berarti dalam hidupnya.
Kai membuka pintu mobil terburu-buru. Ia sudah tak sabar lagi ingin bertemu Dara.
Kai mulai menghidupkan mesin mobil, saat Joanna memukul-mukul kaca jendela demi menghentikannya.
"Kai, kamu dengerin aku nggak sih? Buat apa kamu mengejar gadis itu lagi? Bukannya kamu udah janji, kita akan memulai hidup kita yang baru lagi?" Joanna memekik tak sabaran.
Kai pun memacu mobilnya keluar dari pekarangan rumah dengan kecepatan tinggi. Joanna kali ini bagai makhluk tak kasat mata. Kai benar-benar tak menghiraukan wanita itu lagi.
"Kai ... Kai ... Jangan pergi. Kamu dengerin aku dulu," pekik Joana sekencangnya. Namun percuma. Sebab Kai tak peduli lagi.
Kai mendatangi kafe Beno, dimana sahabat Dara sedang bekerja. Sebab setahu Kai, selain sahabat-sahabatnya, tidak ada tempat lain lagi yang akan Dara datangi.
Kebetulan, Beno, Yola, Ditha dan pacarnya sedang makan siang bersama di kafe itu. Hingga Kai tak perlu lagi repot-repot mencari keberadaan Dara. Sahabat-sahabat Dara sudah tentu tahu dimana gadis itu berada saat ini.
"Sorry Kai. Aku nggak tau Dara ada di mana," ucap Yola penuh sesal.
"Sama. Aku juga nggak tau Dara ada di mana. Selain kita berdua, nggak ada tempat lain lagi yang akan didatangi Dara saat dia punya masalah. Tapi, bukannya kalian baik-baik aja? Dara nggak pernah cerita kalau kalian punya masalah." Ditha menimpali.
Kai sungguh frustasi. Ia sungguh menyesali perbuatannya. Tak seharusnya ia menyakiti Dara. Apalagi saat ini Dara sedang hamil.
"Kamu sudah cari ke rumahnya?" tanya Beno.
"Belum. Tapi mana mungkin dia pulang ke rumahnya. Dia pasti tau, kalau aku tentu akan mencarinya," jawab Kai dengan wajah cemasnya.
"Emang ada apa sih, Bro? Kalian berantem lagi? Sudah sebulan ini kalian nggak ada kabar."
"Nanti saja aku cerita. Saat ini aku hanya ingin menemukan Dara."
"Ya udah, kalau gitu kita cari aja bareng-bareng." Yola menawarkan.
Kai berkali-kali mendesah frustasi. Sungguh ia tak menyangka, Dara bisa senekat ini. Ini yang kedua kalinya Dara melakukan hal ini.
.
__ADS_1
.
Hampir empat jam lamanya Kai seperti orang gila. Mencari-cari keberadaan Dara di setiap tempat. Dimanapun, meski itu adalah tempat umum sekalipun.
Kai bahkan tak henti meneteskan air matanya lantaran tak bisa menemukan gadis itu. Nomor ponsel Dara yang baru, yang didapatnya dari Yola pun sulit dihubungi.
Kai sungguh menyesal.
Kai benar-benar menyesal.
Sementara Kai bagai orang tak waras, Dara kini tengah menunggu jadwal keberangkatannya yang hanya tinggal beberapa menit lagi.
Setelah memberi penjelasan, saat mama papanya mendatanginya di rumah Riko, kini Dara mantap ingin pergi meninggalkan kota kelahirannya untuk ikut bersama pria yang baru saja dikenalnya.
Riko.
Pria itu tengah berpamitan dengan sang ayah yang mengantarnya ke bandara bersama orang tua Dara. Segera ia memesan tiket Dara begitu mendapat ijin.
"Papa titip putri teman Papa. Tolong jaga dia baik-baik. Papa tau, kamu suka sama dia kan?" Dokter Rudi malah menggoda sang putra yang tampak malu-malu.
Perihal kehamilan Dara, Papa Yuda dan Mama Maya sudah mengetahuinya. Hanya Dokter Rudi yang tidak tahu menahu tentang gadis itu. Yang ia tahu, Dara adalah putri teman lamanya. Jadi, sudah tentu gadis itu adalah gadis baik-baik. Terlepas dari masa lalu ayah dan anak yang diketahuinya kala itu.
"Papa, apaan sih." Riko tersipu malu sembari melirik Dara yang tengah berpamitan dengan orang tuanya.
Tak bisa ia berbohong, sejak pertama bertemu, ia memang telah jatuh hati. Akan tetapi, sayang, gadis itu telah lebih dulu mencintai yang lain.
Dan kini, seakan mendapat kesempatan, ia sungguh bahagia bisa bersama gadis itu. Meski kini keadaannya berbeda. Ia tak peduli seperti apapun keadaan Dara.
Bak gayung bersambut, orang tua Dara pun seakan memberi sinyal menyetujui apabila mereka menjalin hubungan.
Setelah berpamitan dengan suasana mengharu biru. Setelah melepas kepergian Dara, Papa Yuda dan Mama Maya pulang ke rumah.
Namun terkejut saat mendapati sosok Kai tengah berdiri di depan rumah dengan wajah sendu.
"Maaf saya mengganggu kenyamanan Om dan Tante. Tapi saya harus bertemu dengan Dara," ujar Kai. Sudah satu jam lamanya ia berdiri di depan pintu rumah itu. Berharap Dara bermurah hati mau menemuinya.
"Maaf, Nak. Dara nggak ada di rumah ini," ucap Mama Maya.
"Maksud Tante?"
"Kamu nggak akan bisa bertemu dengan Dara lagi. Karena Dara sudah pergi dari kota ini," ucap Papa Yuda berterus terang.
"Apa? Dara pergi dari kota ini? Kemana?"
"Maaf, kami nggak bisa memberitahu kamu. Sebaiknya, mulai sekarang, kamu lupakan Dara. Dara akan segera menikah," kilah Papa Yuda demi membalas sakit hatinya akan perbuatan Kai.
Kai terkejut bukan kepalang mendengarnya. Bagaimana bisa Dara menikahi pria lain sementara gadis itu tengah mengandung anaknya.
Kai benar-benar menyesal telah menyakiti Dara. Namun, betapapun ia menyesalinya, semua sudah terlambat. Dara sudah pergi meninggalkannya.
Kai frustasi. Dan hanya bisa menyesalinya di meja bartender sebuah klub malam. Dalam keadaan mabuk berat.
Beruntung Beno, sahabatnya, menemukannya dalam keadaan mabuk. Bergegas Beno membawanya pulang.
Bahkan dalam keadaan mabuk pun, Kai terus saja meracau memanggil-manggil Dara.
TBC
__ADS_1