You Make Me Crazy

You Make Me Crazy
Ch. 30


__ADS_3

Menelisik paras cantik Dara menghadirkan desiran aneh dalam darahnya. Membuat hatinya berdebar-debar. Membuat degup jantungnya bertalu-talu bak genderang yang saling bersahutan.


Kai menelan salivanya sepat melihat bibir merah Dara yang menggoda. Membuat bayangan kekhilafan malam itu berkelebat sepintas lalu.


Kai merasa ada yang aneh dengan dirinya saat ini.


"Sorry." Kai menarik diri, kembali menegakkan punggung. Berpaling muka sejenak, sembari berdehem.


Degup jantung yang kian tak seirama, tak mampu Kai menormalkan kembali. Rasa yang perlahan hadir tak mampu ia hindari. Sebab hati hanyalah seonggok daging yang bersemayam dalam diri, namun mampu menyimpan sejuta rasa.


"Makasih." Canggung bahkan malu-malu Dara berucap. Sesekali matanya melirik Kai yang masih berpaling muka.


Tak biasanya suasana seperti ini tercipta. Walau mulai terbiasa, namun canggung lebih mendiminasi. Seakan jarak mulai tercipta, memisahkan dua insan yang perlahan mulai memiliki rasa.


Dara sungguh tak berani bertanya tentang Joanna. Meski rasa penasaran kian membuncah.


Ibarat ranting yang patah. Mungkin seperti itulah perasaan Dara saat ini. Saat melihat Joanna untuk pertamakali. Wanita anggun yang tak sebanding dengannya. Wanita yang menjadi idaman Kai.


Mungkin.


Sebab ia tak tahu pasti. Tetapi hadirnya wanita itu mampu membuat darahnya berdesir-desir nyeri. Apakah ini yang dinamakan cemburu?"


.


.


Di lain tempat.


Papa Yuda yang tengah asik membaca buku di ruang tengah, dikejutkan oleh Mama Maya yabg datang menyuguhkannya secangkir teh hangat dan beberapa potong kue.


Wanita baya itu menaruh nampan di meja. Lalu mengambil duduk di samping suaminya.


"Ngeteh dulu Pah." Menyodorkan secangkir teh kepada suaminya. Yang disambut sang suami dengan senyum ramahnya


"Makasih Mah." Lantas menyeruput teh nya sedikit demi sedikit. Setelahnya kembali memberikan cangkir teh itu ke tangan Mama Maya.


"Dara ke mana ya Mah? Dari tadi Papa belum melihat putri Papa itu." Kernyitan di dahi Papa Yuda menunjukkan kecemasannya.


"Ke kampus."


"Ke kampus? Ngapain?"


"Papa masih ingat Bu Nadia, dosen Dara dulu?"


"Bu Nadia ..." Papa Yuda tengah mengingat-ingat. Detik berikutnya ia mengangguk, "iya, Papa masih ingat. Memangnya kenapa dengan Bu Nadia?"


"Bu Nadia meminta Dara jadi Asdos nya."


"Oh ya?" Papa Yuda memiringkan tubuh. Lalu menatap serius Mama Maya.


"Iya Papa." Sembari mengangguk.

__ADS_1


"Syukurlah." Papa Yuda membuang napas lega, sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Se nggak nya, Dara punya aktifitas. Papa cuma khawatir saja, kejadian setahun lalu masih menyisakan trauma." Tambahnya.


"Enggak lagi Pah. Mama yakin itu. Soalnya, Mama lihat, akhir-akhir ini Dara kelihatan senang banget. Nggak tau deh kenapa."


"Masa sih?"


"Iya Pah. Dara tuh tingkahnya udah kayak orang yang lagi jatuh cinta aja deh Pah. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan ..." Mama Maya mengingat-ingat saat Kai mengantar Dara pulang.


Sejak saat itu, tingkah Dara mulai tampak berubah. Bahkan terkesan tak biasa.


"Mama tahu sesuatu tentang putri kita? Apa sekarang dia lagi dekat dengan seseorang?" Papa Yuda antusias dengan rasa penasaran yang mendominasi. Maklumlah jika seorang ayah mencemaskan putri semata wayangnya.


"Mama nggak yakin sih..." Mama Maya menggeser duduknya, lebih mendekat. Lalu setengah berbisik di telinga suaminya,


"Orangnya cakep loh, Pah."


"Oh ya? Siapa orangnya?"


"Namanya ... Eumm ..." Mama Maya kembali memasang tampang sok mikir keras.


"Namanya siapa? Dari keluarga baik-baik nggak?"


"Aduh si Papah. Ya jelas dari keluarga baik-baik lah. Masa anak kita berteman dengan cowok begajulan. Udah pasti Mama nggak bakalan setuju lah. Tapi kalau yang ini tuh beda banget Pah. Cakeeeep banget. Mama setuju banget kalau Dara bisa dekat dengannya." Mama Maya berbinar-binar antusias.


"Iya, iya. Tapi namanya siapa?" Desak Papa Yuda makin penasaran.


"Namanya itu ... Eh, Dara ..." Belum sempat Mama Maya menyebut nama Kai, tiba-tiba Dara datang dari arah depan dengan wajah murung.


"Dara!" Seru Mama Maya saat Dara lewat begitu saja di depannya dan Papa Yuda yang memandanginya heran.


Dara pun tersentak. Ia hentikan langkahnya segera. Lalu menoleh, menatap mamanya.


"Mama manggil aku?" Tanyanya bingung.


"Ck, ck, ck ... Jadi kamu ngelamun ya?" Sembari menggeleng. Lalu bangun dari duduknya menghampiri Dara.


"Kamu kenapa sih Dar? Kok murung? Anak Mama nggak seperti yang biasanya. Kamu ada masalah?" Tanya Mama Maya cemas.


Papa Yuda pun ikut cemas, lantas bangun menghampiri putrinya.


"Kamu kenapa Dar? Ada masalah?" Tanya Papa Yuda.


Wajar jika seorang ayah juga mencemaskan putrinya. Apalagi Dara adalah putri semata wayangnya. Yang dua puluh empat jam selalu mereka awasi.


Dara membuang napas pelan.


"Enggak Papa, Mama. Aku nggak apa-apa. Aku cuma capek aja kok Mah, Pah." Dara menatap mama papanya bergantian. Sembari mengulum senyum. Demi meluruhkan kecemasan kedua orang tuanya.


"Benar kamu nggak apa-apa?" Tanya Mama Maya lagi, semakin menunjukkan wajah cemasnya.

__ADS_1


Dara mengangguk pelan. "Iya, Mah. Mama sama Papa nggak usah cemas gitu deh. Beneran aku nggak apa-apa."


"Ya sudah. Kamu istirahat aja di kamar." Titah Papa Yuda.


Tak berkata-kata lagi, Dara pun mengayunkan langkahnya menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang tengah.


Dara menghempas tubuhnya di tempat tidur empuknya. Merebahkan diri memandangi langit-langit kamar. Dengan pikiran yang semakin berkelana.


.


.


Setelah makan siangnya bersama Dara, Kai menyempatkan diri mengunjungi makam Revan, almarhum kakaknya.


Pemandangan yang pertama kali tertangkap matanya di pusara kakaknya itu membuat rasa iba dan rasa bersalahnya kembali tumbuh.


Joanna, tengah duduk bersimpuh di pusara almarhum suaminya. Dengan air mata bercucuran. Sesekali wanita itu terlihat menyusut hidung, lalu menyeka air mata yang semakin deras membasahi wajahnya.


Pemandangan itu membuat Kai trenyuh. Darahnya berdesir perih saat memandangi Joanna yang tampak larut dalam kesedihan. Sedih kehilangan seseorang yang teramat berarti.


Kai perlahan menghampiri.


"Revan pria yang sangat baik. Aku hanya merasa, nggak adil jika Tuhan mengambil dia secepat ini. Ziyo bahkan belum sempat melihat Papanya." Ujar Joanna sedih. Lantas berdiri.


"Kamu menyalahkan takdir?"


Joanna menatap Kai tajam. Tatapan yang menyiratkan ada amarah yang terpendam.


"Nggak. Aku nggak menyalahkan takdir. Aku nggak menyalahkan Tuhan yang menakdirkan ini. Hanya saja ..." Joanna menghela napas sejenak.


Mengingat kejadian itu, membuka kembali luka lamanya. Ada sesuatu hal yang masih terasa mengganjal hatinya hingga detik ini. Tetapi tak berani mengungkapnya. Apalagi menuntut penjelasan lebih.


"Bukan hanya kamu saja yang merasa kehilangan Jo. Kamu hanya kehilangan Kak Revan. Sedangkan aku?" Kai pun menunjukkan rasa kehilangannya yang teramat dalam.


"Aku kehilangan semuanya. Semua keluargaku karena kecelakaan itu. Harusnya saat itu mereka tidak pergi ke bandara untuk menjemputku." Tambahnya mengingat kembali kecelakaan yang menimpa keluarganya. Revan, dan kedua orang tuanya.


Joanna tak tahu, hingga detik ini pun, Kai masih menyalahkan dirinya atas kecelakaan itu. Ia yang mengabarkan akan kembali ke negerinya di hari saat kecelakaan itu, tiba-tiba ia batalkan. Lantaran ada sesuatu hal yang harus ia selesaikan terlebih dahulu di negeri orang.


Keluarganya yang sangat senang mendengar kabar itu, begitu antusias ingin menjemputnya dan menyambut kepulangannya.


Namun naas, kecelakaan hebat tak bisa dihindari saat itu. Hingga merenggut nyawa keluarga yang ia cintai begitu tragisnya.


"Sampai detik ini, ada yang aku nggak mengerti. Kenapa kamu nggak mau menghukum pelakunya. Orang yang sudah menyebabkan kecelakaan itu?" Akhirnya Joanna berani menanyakan hal itu.


"Itu murni kecelakaan tanpa disengaja."


"Apa karena penyebab kecelakaan itu adalah seorang gadis?" Tatapan Joanna kian menajam. Sungguh ia penasaran kenapa Kai dengan begitu mudahnya memberi maaf. Padahal, jelas-jelas ia telah kehilangan keluarganya karena kecelakaan itu.


"Seorang gadis?" Kai mengernyit.


TBC

__ADS_1


Hadeeeeh ... makin lelet aja thor updatenya🙄


Gak apa-apa lah, dari pada hiatus🤔


__ADS_2